Rahasia Lain Suamiku

Rahasia Lain Suamiku
Penyesalan


__ADS_3

Andi melajukan mobil keluar gedung, diawal perjalanan kami lancar tanpa hambatan namun saat 100 meter kedepan kondisinya jadi berbeda lalu lintas menjadi padat, bahkan hampir 10 menit kami tidak berjalan secentipun tetap terkunci dengan posisi saat ini, tak lama mobil kami bisa melaju namun pelan dan sekali kali kami berhenti, terlihat seorang polisi mengarahkan kami, aku penasaran dengan apa yang terjadi karena tidak biasanya jalanan yang biasa kulalui ini macet seperti ini, saat kami berada disamping polisi yang sedang mengatur jalanan aku membuka jendela dan bertanya padanya


"Ada apa ya pak kok tumben macet banget"


"Baru saja terjadi kecelakaan didepan pak, untuk itu bapak ikuti arahan kami saja"


lalu kamipun mengikuti arahan dari polisi itu aku bergeser kesisi lain, dan saat mobil kami melewati TKP kulihat motor yang sepertinya pernah kulihat


"Bukannya itu motor yang dipake sm ojek yang menjeput Airin tadi ya Ndi?" pandanganku masih diluar lalu kulihat korban yang sedang dimasukkan ke ambulans dan yang satu masih tergeletak, ternyata seorang wanita...dan


"Aairinn..." teriakku yang membuat Andi menghentikan mobilnya secara mendadak


"Apa maksudmu" tanya Andi penasaran


"Aku melihat Airin tergeletak dipinggir jalan, korban itu adalah Airin" Aku bergegas membuka pintu mobil dan keluar, aku berlari kearah kerumunan orang dan masuk kedalamnya lalu kulihat Airin tergeletak lemas tak sadarkan diri, banyak darah yang keluar dari tubuhnya, kuhampiri dan ingin kupeluk dia namun salah satu petugas menahanku dan menyuruhku untuk menunggu ambulans datang, aku memberontak, tapi dia menjelaskan efek yang akan terjadi jika aku memaksanya


"Dia istri saya pak,..kenapa saya tidak boleh mengangkat dan memeluknya apa hak bapak" aku berteriak pada petugas itu


"Anda harus tenang pak, kami tau kekhawatiran bapak, tapi istri bapak mengalami benturan yang sangat keras, diduga ada patah tulang apalagi istri anda masih sempat menolong korban yang lain sehingga dapat memperparah kondisinya, jika anda memaksa maka bisa kemungkinan istri anda mengalami cacat permanen" penjelasan yang sangat panjang dari petugas itu mengurungkan niatku tapi semakin membuat aku panik


"Lantas kemana ambulan yang akan membawa istriku, kenapa lama sekali" disela marahku Andi menghampiriku dan memelukku


"Sebentar lagi ambulan akan datang pak, dan jangan khawatir kami sudah melakukan pertolongan pertama" aku memegang tangan Airin kucium dalam tangannya, aku semaKin menyesal sangat menyesal telah memberikan kekecewaan padanya


"Maafkan aku sayang, aku mohon bertahanlah, aku menciintaimu Airin"


wiiuuu...wiiuuu...wiiuuu...


Suara ambulan sudah mendekat aku mulai sedikit lega, ku melihat beberapa petugas keluar dari dalam dan mengeluarkan tempat tidur beroda lalu menghampiri kami, aku mundur dari posisiku, beberapa petugas dengan sigap memindahkan Airin ketempat tidur itu, mereka membawa Airin masuk kedalam tak lama salah satu petugas menghampiriku dan menanyakan bahwa aku suaminya


"Bapak suami korban"

__ADS_1


"Benar pak saya suaminya" jawabku dengan suara serak karena menangis


"kalo gitu bapak ikut kami kerumah sakit silahkan naik kedalam"


Sebelum aku naik kedalam ambulan aku berpamit pada Andi


"Ndi, tolong kamu handle semuanya, aku menemani Airin, aku tidak mau menyesal seumur hidupku" tangisku pecah lalu Andi memelukku dan akupun masuk kedalam ambulan lalu kami berangkat menuju rumah sakit terdekat.


Didalam Ambulan aku menangis dan memegang tangan Airin, aku tak ingin kehilangan Airin, dan tiba tiba pandanganku tertuju pada darah yang ada dikaki Airin, aku heran karena luka parah yang dialami Airin ada pada kepala, lalu aku bertanya pada petugas yang ada didalam ambulan


"Mbak apa kaki istri saya juga terluka"


"Laporan yang kami terima luka dikepala di punggung, dan dikaki retak tapi tidak ada luka luar" petugas itu menjelaskan padaku


"Lantas itu darah apa?" tanyaku khawatir.


petugas itu memeriksa darah pada kaki Airin dan dibukanya baju Airin sedikit keatas lalu menutupnya kembali,..


"Aaarrgghh...betapa bod**nya aku, kenapa aki tidak peka sebagai suami, bagaimana bisa aku tidak tau kalo Airin sedang hamil" tangisku makin kencang kuciumi punggung tangan dan keningnnya


"Maaf Airin, maafkan aku"


Ambulan yang membawa kamipun memasukin pekarangan di salah satu rumah sakit swasta yang ada didekat lokasi kejadian. Pintu terbuka dari luar dan petugas menarik tempat tidur Airin lalu membawanya masuk kedalam, aku mengikuti petugas itu masuk kedalam ruang IGD, mereka masuk kedalam ruangan bedah sementara, aku tertahan diluar ruanngan itu, tak lama mereka memanggilku dan seorang dokter menjelaskan kepadaku tentang keadaan Airin sekarang


"Bapak suami pasien an. Khairin Hawwa Rafanda"


"benar dok, bagaimana kondisi istri saya"


"Kondisi istri anda masih dalam masa kritis, sepertinya pasien mengalami gegar otak ringan dan ada beberapa tulang punggung dan kaki yang retak akibat benturan, tapi karena istri anda sedang hamil maka kami sedang menunggu dari bagian kandungan untuk memeriksa istri anda terlebih dahulu, jika sudah ada hasil dari bagian kandungan, baru kami akan melakukan pemeriksaan lanjutan dan jika memungkinkan kami akan melakukan operasi dibagian kepala ..."


"Lakukan yang terbaik untuk istri saya", lalu dokter itu memberikan berkas administrasi kepadaku, aku langsung kebagian administrasi dan menyelesaikan pendaftaran

__ADS_1


"Tolong berikan kamar terbaik yang ada disini,.." kuberikan kartu debetku pada petugas administrasi..dan tak lama petugas itu mengembalikan kartu dan kwitansi padaku, aku kembali keruang tunggu IGD


tiba tiba kudengar suara umma dan abu


"Nadhif....bagaimana Airin" kulihat umma berlari kecil menghampiriku yang diikuti abu dan Andi dibelakangnya, wajahnya terlihat sangat khawatir


"Maafkan Nadhif umma, Nadhif tidak bisa menjaga Airin" aku menundukkan kepala lalu umma memelukku dan menguatkan aku


"Sabar Nadhif mungkin ini cobaan dari Allah buat kamu, semua sudah tertulis, kami harus kuat, banyaklah berdoa untuk kepulihan Airin, sekarang bagaimana keadaannya


"Masih kritis umma dan Aaiirriinnn ternyata sedang me...ngan...dung.."kembali tangisanku pecah,


"Nadhif belum sempat menjelaskan pada Airin, dia sudah tau siapa Nadhif sebenarnya tadi, dia pulang dengan rasa marah dan kecewa pada Nadhif, harusnya Nadhif pulang bersamanya, bukannya Nadhif malah mencari Fanda" umma masih memelukkubdan mengusap kepalaku


"Nadhif menyesal umma"


"Tidak ada yang perlu disesali, semua sudah terjadi nak, sekarang kamu harus bangkit dan berdoalah mohon ampun pada Allah, mintalah kesempatan untuk memperbaiki diri"


sreggg....


Pintu terbuka, lalu terdengar suara menyebutkan nama Airin...kami langsung berdiri dan bergerak mendekatinya, dari dalam ruangan terlihat seorang dokter menghampiri kami dan ternyata dia adalah dokter Nurma, salah satu dokter keluarga kami, dia menyalami kami


"Oh ...tuan besar, nyonya besar, dan tuan muda, apa pasien tersebut keluarga anda?" tanya dokter Nurma pada umma


"Dia istri saya dok, bagaimana kondisi kandungan istri saya"


"Alhamdulillah...sejauh ini janinnya terselamatkan, memang usiany masih terlalu muda baru 25 hari dan ada sedikit pendarahan, tapi janin itu kuat bertahan, pasti istri anda adalah orang yang kuat, setelah ini akan ada beberapa pemeriksaan lagi, sepertinya Nona muda juga harus menjalani operasi dikepalanya" aku menyimak semua perkataannya


"Lakukan yang terbaik untuk istri saya, kalo perlu kerahkan dokter bedah yang terbaik dirumah sakit ini"


"Tenang saja, ini sudah menjadi tanggung jawab kami dan kami pasti akan melakukan yang terbaik" dokter Nurma kembali kedalam

__ADS_1


sebuah surat pernyataan berkas administrasi yangbarus diselesaikan


__ADS_2