
Tiba saatnya mereka memasuki gedung teater, suasana bioskop masih tampak sepi mereka diarahkan oleh penjaga teater menuju kursi yang ada ditengah sesuai dengan nomor kursi yang ada pada tiket, tak berapa lama kemudian bangku bangku kosong sudah dipenuhi para penonton
Kali ini mereka menonton film genre horor judulnya Makmum , awalnya Nadhif enggan nonton film horor, karenan dia lebih suka film action atau komedi yang lebih menghibur entah kenapa dengan berbagai alasan Nadhif tetap tidak merubah keinginannya nonton film action atau komedi, hingga Airin mengeluarkan jurus bahwa nonton film horor adalah keinginan debay diperutnya dengan lemas dan tidak bersemangat akhirnya Nadhif mengikuti kemauan istrinya.
Saat ini Nadhif dan Airin sedang duduk bersandar pada badan kursi, menunggu iklan yang sedang tayang sambil memakan popcorn dan cemilan yang dibelinya tadi maklum semenjak seminggu yang lalu pola makan Airin semakin bertambah, ditambah lagi kalo makan cemilan kesukaannya bisa bisa habis beberapa bungkus sekaligus
Suara menggema kencang didalam teater, tanda film mulai diputar, diawal suasana saja sudah mulai tampak seram dentuman suara musik yang dibuat senada dengan situasi yang digambarkan pada film tersebut bisa membuat bulu kuduk naik terasa merinding, Nadhif memegang dan menggenggam tanganku erat dia memandang Airin dan mengecup kepalanya, Airin hanya tersenyum dalam kegelapan lalu kembali fokus pada layar bioskop dan dan popcornnya
Semakin lama semakin terasa aura seram didalam teater, tiba tiba terasa ada yang berjalan dipunggung Airin dan berhenti dipundaknnya saat dilihat ternyata tangan Nadhif yang dilingkarkan dibadan Airin diarahkan pandangan Airin kesamping untuk melihat suaminya dan tersenyum dalam cahaya minim yang hanya berasal dari layar boiskop yang tidak dapat membuat Airin jelas melihat wajah tampan suaminya Nadhif dan tiba tiba
"Aaaggghhh"
Dengan cepat Nadhif memeluk Airin erat dan membenamkan wajahnya bahu istrinya, menutup matanya dengan badan yang gemetar ketakutan dan memejamkan matanya sambil beristighfar, Airinpun kaget mendengar teriakan dan melihat tingkah laku Nadhif, lalu melihat kesekeliling, memang tidak terlihat jelas namun Airin merasa banyak mata yang melihat kearah mereka, lalu tak lama kemudian dia tertawa kencang dan tanpa sadar Airin kembali membuat semua mata penonton tertuju padanya, karena sudah merasa tidak nyaman akhirnya mereka berdua memutuskan untuk mengakhiri kegiatan nontonnya
blammm
pintu teater tertutup mereka sudah berada diluar gedung teater melalui pintu keluar
Airin yang masih belum bisa menahan tawanya meletakkan kedua telapak tangannya dimulutnya yang sedari tadi terbuka dengan lebar
"Puas kamu sayang.."
"Hahahahahah...puuffftt" kembali Airin menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya dan menahan rasa ingin tertawanya
"Maaf kak, habisnya aku gak nyangka aja kalo seorang Nadhif Ramdhan Putra presdir dari PT.Surya PermanaTunggal ternyata takut nonton film horor....hahahah...hap" kali ini tangan Nadhif yang menutup mulut Airin
"Kan tadi aku gak mau nonton film horor tapi kamunya maksa terus" kilah Nadhif
"Ya kalo kak Nadhifnya jujur aku pasti ngertiin, tadi kan kak Nadhif gak bilang alasannya sama aku" ucap Airin setelah melepas bekapan tangan suaminya
__ADS_1
"Aku malu sayang..." Nadhif mencubit hidung Airin dan menusap usap kepalanya, Airin masih dengan tertawa kecilnya entah kenapa susah sekali untuk berhenti walaupun wajah tampan suaminya berubah menjadi merah menahan malu
"Kak aku lapar, kita makan yuk" Airin menarik tangan Nadhif dan mereka memasuki salah saru resto kali ini khas masakan indonesia, Nadhif yang sudah menyadari nafsu makan istrinya yang bertambah hanya mengikuti langkah Airin
Airin mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, dia mencari sofa yang biasanya tersedia diresto itu, setelah menemukannya mereka menuju sofa tersebut. Tak lama seorang pramusaji menghampiri mereka memberikan 2 buku tamu pada masing masing orang
Airin membolak balikkan buku menu itu terlihat dia kebingungan memilih, naluri ingin memakannya sudah memuncak, Nadhif yang sudah paham dengan sikap istrinya hanya mengeleng gelengkan kepalanya
"Pilih yang kamu suka jangan terlalu banyak nanti mubazir" ucap Nadhif sambil mengeluarkan ponselnya
"Kakak mau makan apa?" tanya Airin pada Nadhif dengan mata yang masih fokus pada buku menu dia masih membolak balikkan mencri menu yang dirasa paling menggugah seleranya
"Kak, kak Nadhif makan apa?" Airin mengulangi pertanyaannya tadi yang tak kunjung dijawab Nadhif
"Emm aku makan Ayam penyet aja sm cah kangkung balacan, minumnya jus mangga ya" setelah menyebutkan pesanannya Nadhif kembali fokus pada ponselnya, Airin melihat Nadhif yang kembali fokus pada ponsel merasa bersalah karena tau bahwa kesibukan suaminya tidak bisa ditunda namun dia sebagai istri malah memaksanya keluar mengikuti kemauan manjanya
"Baik saya ulangi kembali pesanannya, ayam penyet 2, iga penyet 1, cah kangkung balacan 1, es cendol es jeruk dan jus mangga 1 ya, jika ada yang ingin ditambahkan silahkan panggil kami kembali" setelah mengulang pesanan tamunya pramusaji itu meninggalkan meja tersebut.
Airin melihat suaminya itu namun masih sama masih fokus dengan ponselnya, merasa sedikit bosan, Airin hanya menghela nafas lalu mengeluarkan ponselnya, dia memainkan salah satu game yang ada diponselnya sambil menunggu pesanannya datang, diawal Airin merasa terhibur sambil sekali sekali melirik suaminya yang juga fokus pada ponselnya dan masih fokus tanpa sedikitpun melihat ke arah Airin
"Maaf dah ganggu waktu kak Nadhif, setelah ini kita pulang" tanpa sadar Airin mengucapkan kata kata itu dia merasa bahwa saat ini pekerjaan itu lebih penting dari dirinya, Airin sendiri heran dengan perasaannya, memang benar apa yang dikata orang hamil bisa membuat mood seseorang berubah ubah dan saat ini Airin sedang mengalaminya
"Kenapa aku seperti ini, padahal aku tidak pernah mempermasalahkan, kesibukannya ada hal biasa buatku, tapi sekarang aku merasa ingin mendapatkan perhatian lebih darinya" kata dalam hati Airin yang membuatnya kembali menghela nafas namu kali ini nafas yang diambil sedikit berat karena ada kecewa pada diri sendiri, tanpa disadari Nadhif memperhatikannya sedari tadi.
Makanan yang mereka pesan akhirnya datang saat hendak meletakkan Airin mengatakan untuk dibungkus saja
"Mbak makanannya take away aj ya, maaf" sambil tersenyum pada pramusaji itu
"Gak jadi mbak, ditaruh aja makanannya dimeja gak jadi take away" ucap Nadhif yang bingung kenapa harus dibungkus makanannya, sebenarnya dia menyadari perubahan mood Airin.
__ADS_1
"Kenapa harus take away, bukannya kamu lapar tadi" Nadhif beralih pada Airin, disisi lain makanan sudah tersaji semua dimeja
"Gak papa biar cepat sampai rumah aja, lagi pula ak...." ucapan Airin terputus oleh Nadhif saat melambaikan tangannya lalu mengarahkan jari telunjuknya pada ponselnya meminta ijin dan beranjak untuk menerima telp ditempat lain. Airin hanya terdiam melihat Nadhif yang berjalan meninggalkannya, dia kembali mengarahkan pandangannya pada pramusaji yang berpamitan kembali ke dapur
"Makanan sudah tersaji semua dimeja, jika membutuhkan sesuatu silahkan panggil kami kembali, terima kasih" Airin menjawab dngan gelengan kepala dan tersenyum lalu pramusaji tersebut meninggalkan meja
Cukup lama Nadhif keluar menerima telp sedangkan Airin masih setia menunggu suaminya kembali untuk makan makanan yang sudah tersaji dimeja, makanan tersebut tak tersentuh sama sekali padahal perut Airin sudah menggema kembali, disela sela menunggu suaminya tiba tiba datang seorang pria yang berjalan mendekati Airin, Airin kaget melihatnya dia hanya diam terpaku melihat kedatangan pria itu yang kini sudah ada didepannya.
"Hai pa kabar rin?" ucap pria itu dengan menjabatkan tangannya namun Airin masih terdiam, dia bingung apa yang akan dia lakukan pada pria itu, debaran jatungnya makin kencang bukan karena jatuh cinta namun karena rasa kecewa dan pertemuan dengan pria yang tidak diinginkan itu, yaaa siapa lagi satu satunya pria yang ingin Airin hindari laki laki yang pernah menghianatinya tepat dihari pernikahannya dia adalah Rafidz
"Rin, pakabar?" tanya Rafidz kembali karena Airin hanya diam tak berkata apa apa, dan itu berhasil membuat Airin kembali tersadar
"Ohh...Alhamdulillah...baik, kamu sendiri bagaimana?" tanya Airin dengan nada datar, berat buat Airin untuk berbicara dengan pria yang sudah menghianatinya, menahan air mata yang sedari tadi meronta ingin keluar dari matanya, kembali dia menghela nafas, berusaha untuk bersikap biasa, tidak ingin dilihat bahwa dia sempat terpuruk karena ulahnya
"Aku alhamdulillah baik juga" tak lama datang seorang wanita manis berkulit kuning langsat menghampiri dan mengalungkan tangannya pada lengan Rafidz
"O ya kenalin ini istriku? kamu sudah menikah 2 tahun yang lalu tapi kami masih belum dikaruniai anak, ya mungkin kita disuruh pacaran dulu ya... sayang" Rafidz mengenalkan wanita itu ada Airin dan Airin mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan
"Saya Airin"
"Saya Naomi, istri mas Rafidz, ternyata kamu cantik sekali ya, bo*** sekali suamiku yang harus memilih Anissa cewek matre itu dibanding kamu yang baik dan cantik" kata kata Naomi membuat Airin kaget dan bingung, ya memang sedari tadi Airin ingin sekali bertanya pada laki laki itu, karena seingat dia wanita yang dinikahinya adalah Annisa Fitri Rahma dan yang Airin ingat bukan wanita yang kini dikenalkan sebagai istrinya
"Aku minta maaf Airin...sudah lama aku mencari carimu, aku hanya ingin meminta maaf padamu tidak ada niat lain, dihari itu juga Annisa meninggalkanku karena tau yang sebenarnya, aku sangat menyesal aku sudah menghianatimu, maafkan aku Airin" terlihat keseriusan dimata Rafidz
"Sudahlah kak Rafidz, aku sudah memaafkanmu dari dulu dan jangan buat istrimu menderita karena masa lalu"ucap Airin yang tak tega dengan perasaan Naomi
"Tenang Airin, mas Rafidz sudah menceritakan semua masalalunya padaku dan aku menerima apapun kekurangan suamiku ini aku bahagia bisa bertemu denganmu" ucap Naomi dengan senyum
"O ya kamu kemari dengan siapa? apa kamu sudah menikah?" Rafidz bertanya pada Airin, karena dia tidak ingin melihat wanita yang pernah dikhianati itu belum menikah, sebenarnya dia masih mencintai Airin namun dirinya sadar bahwa dia tidak pantas untuk wanita sebaik Airin.
__ADS_1