
3 hari telah berlalu, namun Airin masih belum sadar, dan aku masih setia disampingnya. Semua tanda vital pada layar monitor terlihat Normal tapi aku masih belum mengerti mengapa Airin, belum bangun dari tidurnya, dokter mengatakan kemungkinan tubuhnya terlalu lelah, umma dan mama juga bergantian datang, mengantarkan makanan untukku, sedangkan Andi bolak balik dari Rs - kantor membawakan berkas berkas yang harus kutandatangani, dia yang menghandle semua pekerjaan yang ada.
****
Airin
****
"MasyaAllah indah seekali taman ini? tapi dimana ini aku belum pernah datang ketaman yamg seindah ini" Saat ini aku sedang berjalan ditaman yang sangat indah dengan menggandeng seorang anak laki laki yang sangat tampan, yang tak tau dari mana asalnya. Sekilas jika kulihat anak ini mirip dengan Nadhif, ada rasa rindu dengannya tapi aku juga merasa nyaman berada disini, semua sudah tersedia, aku bermain berlari bersama anak itu, sungguh bahagia yang belum pernah aku rasa sebelelumnya.
Terdengan sayup sayup seseorang memanggilku rasanya aku pernah mendengar suara yang memanggilku, tapi aku tak lihat seorangpun yang ada disana selain aku dan anak itu aku, lalu aku berjalan terus kedepan, aku terhenti dan kulihat sebuah pintu gerbang yang sangat indah dan terlihat taman dan yang jauh lebih indah dan luas dari yang aku lewati tadi, tiba tiba anak laki laki itu menarik tanganku dan memanggilku
"Umi...kita kembali saja, lihat semua sudah menunggu kita, aku ingin bertemu dan berkumpul dengan mereka" kulihat ada senyum dan binar binar indah dimata anak laki laki itu lalu kualihkan pandanganku kembali kearah kami datang kulihat Nadhif, mama, papa, Adit, umma, abu dan masih banyak orang orang yang kukenal melambaikan tangan kepadaku, lalu anak laki laki itu menarikku dia berlari kearah Nadhif dan yang lain berkumpul, aku mengikuti langkahnya hingga ada pintu lagi namun lebih kecil, aku tak melihat lagi Nadhif dan yang lain dan anak laki itu mengatakan sesuatu padaku
"Umi masuklah melalui pintu itu maka umi akan bertemu dengan mereka"
"Anak baik... siapa namamu? dan mengapa kamu memanggilku umi?" tanyaku padanya sambil berjonggkok dan memegang pipinya, rasanya aku sangat sayang pada anak ini
"Namaku Najjad umi?, aku akan datang dikehidupan umi dan Abi" ucap anak itu
"Tunggu aku umi, aku akan bertahan karena aku ingin lahir dari rahim umi, jadi umi juga harus bertahan, ingatlah aku sebagai penguatmu, sampaikan salamku pada abi" senyuman yang sangat hangat dan menyejukkan hatiku yang keluar dari bibirnya, aku memeluk erat Najjad lalu kucium pipinya dan kupeluk lagi, berat rasanya aku meninggalkannya
"Umi ingin disini bersama kamu sayang, bolehkah umi menemani kamu?" aku bertanya padanya, Najjad hanya menggeleng gelengkan kepala dan tersenyum
__ADS_1
"Mereka sedang menunggu umi sekarang, mereka sayang umi, jika umi ingin bersamaku pergilah, dan tunggu aku, Najjad sayang umi dan abi" aku berdiri dan membuka pintu yang ada didepanku ada secercah cahaya yang sangat menyilaukan, sebelum masuk kupandang lagi Najjad dia hanya melambai dengan tersenyum dan berkata
"Tunggu aku ummi" akupun berjalan lurus melangkah kearah cahaya itu, pintu yang kubuka tertutup perlahan dan...
Aku merasakan tangan hangat dan kekar menggenggamku, kubuka mataku perlahan masih ada rasa pusing dikepalaku, aku menarik tanganku yang digenggam tadi dan memegang kepalaku untuk menahan rasa sakit
"Aaggghhh"
"Sayang ...kamu sudah bangun, alhamdulillah...ya Allah terima kasih engkau telah mendengar doaku" Nadhif terlihat bahagia , dia mencium tangan dan pipiku berulang kali lalu memencet bel memanggil perawat dan dokter jaga.
"Kak, apa yang terjadi, kenapa aku ada disini?" tanyaku kebingungan yang melihat tubuhku terbaring ditempat tidur dengan alat bantu, Nadhifpun menceritakan apa yang terjadi kulihat airmatanya meleleh, aku merasa sedih melihat dia menangis karena seorang Nadhif adalah orang yang kuat dimataku dia selalu. tegar dalam menghdapi masalah apapun, tapi kali ini dia menangis untukku.
Perlahan akupun mulai mengingat kejadian saat kecelakaan dan kuingat mas ojek online yang juga terluka saat itu, lalu aku menanyakan kondisinya pada Nadhif
"Kamu memang istimewah, masih sempat kamu memikirkan kondisi orang lain tanpa berpikir bagaimana kondisimu sendiri"
"Alhamdulillah...mas ojek itu juga selamat, lukanya tidak terlalu parah," jelas Nadhif padaku.
"Aku telp Umma dan mama dulu ya"
"Jangan kak, ini sudah terlalu malam, biarkan mereka istirahat, besok pagi saja ya" aku mencegah Nadhif, karena aku memang tidak ingin mengganggu istirahat mereka, karena pastinya mereka bolak balik ke RS ini untuk melihat kondisiku
Tak lama dokter dan perawat jaga datang keruangan, mereka mengecek Kondisi vitalku, dan alhamdulillah semua baik saja, dokter itu menjelaskan pada Nadhif
__ADS_1
"Alhamdulillah, semua tanda vital Nona Airin dalam keadaan normal, namun ada beberapa hal yang nantinya akan dijelaskan oleh dokter fauzan" setelah menjelaskan kondisi dari Airin dokter dan perawat itupun pergi meninggalkan kami
"Kak, aku haus..." ucapku sambil memegang leherku, dengam sigap Nadhif membantuku bangun keposisi duduk, dinaikan sandaran tempat tidur dan menyandarkanku pada sandaran, lalu dia berjalan ke sudut ruangan dan mengambil air untukku, dia kembali kesisiku dan membantuku meminum air drngan perlahan, kuangkat tanganku sebagai tanda sudah cukup, dan Nadhifpun meletakkan gelas itu kembali kemeja,.
Tiba tiba aku teringat sesuatu dan kupegang perutku, Nadhif melihatku dan bertanya padaku
"Ada apa sayang? kenapa dengan perutmu?" Nadhif terlihat sangat kuatir dan ikut memegang perutku,
"Pasti aku sudah keguguran, aku g bisa melindungi anakku sendiri, maafkan umma sayang" bathinku, masih kupegang perutku dan ku elus perlahan namun air mataku mengalir perlahan, aku tidak berani bilang, karena Nadhif tidak tau kalo aku hamil, biarlah lebih baik dia tidak tau, karena jika nantinya dia meninggalkan aku, saat dia memilih Fanda dibanding aku, tidak akan menjadi beban buatnya.
"Tenang sayang, anak kita selamat, dia anak yang kuat dan dia memilih berjuang denganmu, pasti dia sangat menyayangimu" Nadhif mengembangkan senyumnya dihadapanku, aku kaget ternyata nadhif sudah tau kalo aku hamil, lalu dia mengeluarkan testp*** yang dia simpan dikantong celananya, dia tersenyum bahagia. Ada rasa bahagia dihatiku, namun muncul lagi rasa takut, aku takut jika Nadhif meninggalkanku dalam keadaan hamil, bagaimana nasib anakku nanti.
Pikiranku kembali melayang tentang bagaimana kondisi anakku nantinya terutama kondisi psikisnya nanti saat ayahnya pergi meninggalkan kami, lalu kepalaku terasa sedikit sakit dan aku hanya meringis dengan memegang kepalaku
"Apa yang kamu pikirkan, untuk saat ini jangan memikirkan apapun, jaga kondisi kamu dan anak kita" sedih sekali mendengar perhatian yang diucapkan Nadhif padaku, karena sebentar lagi aku tidak bisa mendapatkannya lagu, tapi aku harus memberanikan diri untuk mengatakan apa yang aku pikirkan tadi
"Kak, jika suatu saat kakak ingin meninggalkanku, tunggulah sampai anak ini lahir, aku tidak ingin dia lahir tanpa ayah, pasti berdampak buruk untuknya, terutama psikisnya kak" aku melihat Nadhif tersenyum tidak ada rasa sedih dengan perkataanku, mungkin dia sudah bertemu dengan wanita yang sangat ia cintai itu dan segera meninggalkan ku, kini aku hanya bisa pasrah lalu kuhela nafas panjang
"Sayang...sayang...kok malah ngelamun" aku tersenyum kecut saat melihat dia melambai lambaikan tangannya.
"Kenapa aku harus meninggalkanmu, kenapa kamu sampai berfikir sejauh itu.
"Hmm masih saja dia tersenyum padaku, tidak tidak memikirkan perasaanku yang sudah setengah hancur, yaa aku harus menerima takdir yang ditulis buatku...
__ADS_1
Dukung terus ya readers...dan terima kasih ats dukungan kalian semua♥♥♥