
tepat pukul 22.30 Nadhif dan Airin tiba dirumah Nadhif turun dari mobil dan membuka pagar lalu memasukkan mobilnya ke halaman rumah dan menutupnya lagi Airinpun turun dari mobil dan menunggu Nadhif disamping mobil, setelah Nadhif menutup dan mengunci pagar dia menghampiri Airin lalu menggandeng tangannya dan mereka melenggang masuk kedalam rumah bersama
Suasana rumah kembali sepi karena keluarga pak Juki pulang kampung sejak kemaren karena ada keluarganya yang menikah dan baru akan kembali kerumah sabtu depan
"Sayang kamu tadi bilangkan mau bayar aku sampai puas kan" goda Nadhif saat mereka memasuki kamar
"duh ingat aja ya kalo urusan itu, dasar laki laki" bathin Airin
"Oo jadi tadi gak ikhlas ya ngajak aku jalan, sekarang pake bayaran gitu" sengaja Airin menjawab seperti itu untuk mengerjai Nadhif
"bukan seperti itu sayang, aku ikhlas kok tadi, bahkan aku seneng banget, nanti kita jalan jalan lagi ya bahkan lebih sering" bujuk Nadhif yang mengira Airin salah sangka padanya sambil memeluk tubuh Airin dari belakang dan dikecupi leher Airin yang masih tertutupi oleh jilbabnya
"Enggak ah...yang ada nanti minta bayaran lagi ke aku, padahal uang dah banyak perusahaan dimana mana, masa masih aja minta bayaran sih" ucap Airin sambil melepas jilbab yang dipakainya dan meletakkan kedalam keranjang tempat baju kotor
"Duh.. istriku ini Kok jadi ngambekan sih, ya udah gak jadi deh minta bayarannya" Nadhif perlahan melepas pelukannya dengan lemas dia berjalan menuju tempat tidur dan duduk dipingginya, Airin tersenyum melihat wajah Nadhif yang kecewa
"Tuh yang ngambek siapa aku apa kamu yang" Nadhif tersenyum tipis dan Airin berjalan menuju kamar mandi
"Jadi bener ni nggak mau dibayar, sepuasnya loh.. hehehehe.." Airin berlari kecil menuju kamar mandi lalu menutup pintunya, Nadhif yang mendengarnya Tersenyum senang dan segera beranjak menuju kamar mandi
dibukanya pintu kamar mandi yang ditutup tadi namun terkunci
tok tok tok...
"Sayang kok dikunci sih, buka donk" pinta Nadhif dengan nada lembut
"Tadi katanya gak jadi, kesempatan dah hilang ya"
"Tadikan karna kamu bilang aku gak ikhlas pergi sama kamu, aku akan gak mau dibilang begitu" kilah Nadhif supaya Airin membukakan pintu
"G bisa... aku gak mau kasih kesempatan kakak lagi" ucap Airin dari balik pintu dengan menutup mulutnya dengan tangan menahan ketawanya
"Ok aku ngerti kok ya sudah aku langsung tidur aj ya" Nadhif melangkahkan kakinya menuju tempat tidur namun kembali dengan berjalan pelan menuju pintu kamar mandi menunggu Airin membukakan pintunya karena dia sadar kalo istrinya itu sudah mengerjainya
__ADS_1
Dibalik pintu Airin mendengarkan langkah Nadhif yang menjauh namun tak terdengar langkah kembali lagi, merasa bersalah dan penasaran akhirnya Airin membuka pintu kamar mandi dan keluar mencari Nadhif saat kakinya melangkah keluar Nadhif dengan cepat menyergap Airin yang kaget didepan pintu
"Nah kena juga kan kamu, hahahah" dengan girang Nadhif bisa menangkap Airin
"Ihhh bikin kaget aja ya kak Nadhif, untung aku gak jantungan, lagian kasian kan dedeknya" Airin memukul pelan dada Nadhif lalu memegang perutnya dengan lembut begitupun juga Nadhif
"Maafin abu ya sayang, umma kamu ni ngerjain abu, sekarang kita mandi yuk" Nadhif menggiring Airin yang masih berada dipelukannya masuk kedalam kamar mandi dan merekapun mandi bersama, hanya mandi bersama
Airin keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk kimononya juga dikepalanya ang membalut rambutnya yang basah begitupun Nadhif namun hanya menggunakan handuk kimononya
Nadhif mengajak Airin duduk disofa tepatnya dipangkuan Nadhif karena sofa yang ada dikamar Nadhif hanya sofa tunggal dan melepas handuk yang ada dikepala Airin lalu mengeringkan rambutnya
"Jadi gimana mo bayar sekarang gak?" tanya Nadhif sambil memgeringkan rambut istrinya yang duduk dipangkuannya
"Emmm, jadi gak ya" jawab Airin sambil menggoda Nadhif
"Jadi donk, yaaa... please.." Nadhif memohon sambil memberikan wajah imutnya, tanpa menjawab Airin langsung mengalungkan tangannya dileher Nadhif, dan mulai mengecupi wajah suaminya itu, Nadhif tersenyum lalu membalasnya dengan lembut, diangkatnya tubuh Airin ke tempat tidur dibaringkannya perlahan dipandangnya wajah cantik istrinya lekat lekat dan merekapun melakukan aktivitas malamnya yang berpahala, entah berapa kali mereka melakukannya namun kali ini Nadhiflah yang kewalahan tapi masih bisa melayani istrinya jika diinginkan, karena malam ini Airin berbeda dari biasanya, lebih agresif, setelah puas dan lelah merekapun terlelap
Meskipun semalam tidur telat dan tubuh yang lelah Nadhif dan Airin selalu menjalankan sholat subuh tepat waktu, yaa pernah sih telat tapi itu gak sering, Selesai sholat Airin mencium punggung tangan suaminya dengan lembut, Nadhif melihat Airin tanpa berkedip dan tersenyum Nakal dengan niat menggoda istrinya yang kembali polos
"Lupakan yang semalam dan jangan ungkit lagi aku malu kak" Airin menundukkan wajahnya kebawah sambil merapikan mukena yang habis dipakainya
"Kok dilupakan sayang, gak bisa donk itu moment spesial dan jarang jarang loh kamu seperti itu"Goda Nadhif yang semakin membuat Airin malu
"Udah ah aku mau beres rumah dulu" Nadhuf tersenyum senang melihat tingkah istrinya
"Aku bantu ya, aku yang beres beres rumah kamu yang masak biar cepat dan kamu gak terlalu capek kasian nanti dedeknya"Airin mengangguk dan turun kebawah untuk melakukan tugas yang biasa dikerjakan sebelum keluarga pak Juki datang yaitu beres beres dan masak namun kali ini ada Nadhif yang membantunya
Pukul 7 tepat mereka telah siap berangkat kerja, mereka menuruni tangga bersama sama sambil berpegangan tangan dan berjalan menuju mobil yang mengantarkan mereka berdua ke kantor
Masih seperti biasa saat mobil Nadhif berhenti didepan lobby sudah ada bawahannya yang menyambut kami turun dari mobil termasuk Andi dibarisan pertama membungkukan badannya sebagai tanda hormat, mereka melenggang berjalan memasuki lobby dan berjalan menuju lift khusus, Airin tidak canggung lagi dengan perlakuan semua yang ada disana, emreka lebih hormat dan kagum pada sosok Airin yang supel dan tidak semena mena sebagai istri seorang presdir, kini mereka sadar kenapa wanita seperti Airin bisa menjadi istri Nadhif yang bisa dikatakan hampir sempurna
Sesampainya diruangan mereka masuk dan mengambil posisi dimeja masing masing
__ADS_1
diatas meja Nadhif sudah ada setumpuk berkas yang harus diperiksa dan ditandatangani begitu juga Airin ada beberapa laporan keuangan yang harus dikerjakan dan revisi sebelum dilaporkan pada bu Irene
Saat membuka berkas pertama Nadhif terdiam lalu meletakkan pena yang tadi dia pegang lalu berjalan kesofa dan memanggil Airin untuk duduk disebelahnya
"Sayang apa pekerjaanmu banyak?" tanya Nadhif sebelum memanggil Airin
"Lumayan memangnya kenapa?" tanya Airin.
"Bisakah kamu duduk disampingku sebentar ada yang ingin ku katakan?" ajak Nadhif sambil menepuk sofa disampingnya
Airin menghentikan aktivitasnya dan berjalan kearah suaminya lalu duduk disampingnya sesuai perintahnya
"Seharusnya aku menagatakannya semalam tapi aku lupa" Nadhif memang ingin jujur pada istrinya tapi tingkah agresif istrinya ini membuatnya lupa segalanya, Airin mendengarkan dengan seksama
"Kamu ingatkan saat aku menerima telp keluar" Nadhif berhenti sejenak lalu melanjutkan kata katanya kembali
"Telp itu berasal dari papa Nadhia, perempuan yang kamu temui saat berdua denganku restoran fast food yang membuat kamu menghilang, beliau menawarkan kerjasaman dan proyek ini termasuk proyek besar yang menjadi rebutan" Nadhif kembali berhenti
"Terus apa yang buat kamu bimbang kak?"
"Yang bikin aku berpikir ulang adalah Nadialah yang memegang proyek itu dan aku tau dia masih sukap adaku dan ingin menghancurkan rumah tangga kita, aku takut kamu cemburu dan memikirkan yang tidak tidak, kamu taukan dia bisa melakukan apapun untuk membuat kita slaah paham"
Airin mengangguk lalu memeluk erat
"Ambil aja kak proyek itu, pikirkan mana yang lebih banyak keuntungan atau kerugian dari sisi kamu dan perusahaan ini jangan sampai karyawan kamu juga kena imbasnya karena kamu memikirkan sisi pribadimu aja, kalo banyak untungnya InshaAllah ak ngerti kok, kan kakak dah jelasin ke aku, tapi kakak juga harus ingat ada aku dan anak kita diperitku jadi jangan terlalu dekat kalo perlu usahakan gak usah ketemu sama dia" awalnya ada sedikit rasa kecewa Nadhif karena dengan mudah Airin menyetujuinya namun rasa kecewa itu tergantikan dengan senyum bahagia saat Airin menunjukkan rasa cemburunya
"Makasih sayang kamu emang the best, aku jadi jatuh cinta lagi sama kamu" Airin tersipu malu
"Kak Nadhif lama lama jadi raja gombal ya, dah ah aku mau kerja dulu" Sebelum beranjak Airin mengecup pipi Nadhif dan dibalasnya dengan kecupan dibibir lalu mereka sama sama kembali kemeja masing masing
ceklekkk
Pintu terbuka dan tiba tiba ada seorang wanita nyelonong masuk dan dia adalah Nadia
__ADS_1
"Haaiii bbeeeiibbb" Nadia langsung menghampiri Nadhif dan duduk disudut meja dengan satu tangan menopang tubuhnya
Nadhif kaget karena Nadia masuk tanpa permisi, dia melirik kearah istrinya yang juga terlihat kaget