
Nadhif menatap wajah sendu dan pucat istrinya, tenang namun terlihat aura kesedihan yang tersirat, dengan penuh rasa khawatir akan kondisi istrinya Nadhif menggenggam tangan Airin dan mengecupnya berkali kali tak putus pula panjatan doa dari mulutnya, sedangkan Mila masih terlelap disofa kini wajahnya sudah mulai tenang
Airin mulai mengerjapkan matanya perlahan, cukup lama Airin pingsan hampir satu jam, dilihatnya suaminya yang sedang terlelap disamping tempat tidur dengan berbantal lengan dan satu tangannya masih menggenggam tangannya
"Kak..." seketika Nadhif terbangun saat mendengar suara istrinya memanggil namanya
"Iya sayang... gimana kondisi kamu sudah enakan belom..?" dengan sigap Nadhif bangun membantu Airin yang hendak memposisikan diri duduk bersandar pada sandaran tempat tidur lalu mengambilkan segelas air untuk istrinya
"Sayang kamu dah baikan?" Mila yang sudah terbangun dan merasa lebih baik menghampiri menantu kesayangannya
"Alhamdulillah...ma Airin sudah baikan, gimana mama dan papa?" ucap Airin pelan dengan wajah yang masih pucat dan mata yang bengkak
"Kamu jangan terlalu memikirkan itu, mama dan papa kamu sudah dalam perjalanan kerumah untuk disemayamkan" Mila menjelaskan pada Airin, hanya diam respone yang didapat dari Airin tapi tidak ada air mata yang turun, mungkin air mata itu sudah habis atau mungkin Airin yang sudah menerima takdir kepergian kedua orang tuanya secara bersamaan, yaa...tidak ada satupun manusia yang bisa melawan takdir dan tugas manusia hanyalah bertawakal dan berserah diri menerima takdir itu
"Sayang kamu minum ya" Nadhif membantu Airin meminum air yang dia ambil tadi, dipandangnya wajah senduh istrinya ada rasa sakit yang luar biasa melihat istrinya tak berdaya dengan penuh kesedihan kehilangan orang yang sangat disayang bahkan 2 orang sekaligus ditambah adik yang kini masih belum jelas keadaannya
Mungkin saat ini adalah ujian untuk keluarga mereka terurama Airin sebagai umat tuhan yang taat untuk menjadi manusia yang lebih baik dan mendapatkan tempat yang lebih tinggi dimata Allah SWT...sekali lagi kita sebagai manusia hanya bisa bertawakal dan berserah diri dan yakin bahwa Allah SWT akan memberikan cobaan kepada umatnya sesuai kemampuannya
"Kamu istirahat dulu, kalau sudah siap kita pulang kerumah mama papa semua sudah menunggu kita disana" ucap Nadhif setelah meletakkan kembali gelas dan diangguki oleh Airin...
"Astaghfirullah..kak baby Najj mana? ya Allah ...bagaimana bisa sampai aku melupakan anakku, aku bukan ibu yang baik, aku terlalu larut dalam kesedihan sampai melupakan anakku yang saat ini pasti membutuhkan aku" Nadhif memeluk Airin erat dia tau apa yang ada dirasakan istrinya bahkan dia sendiripun juga merasakan hal yang sama karena dia juga sempat melupakan malaikat kecilnya karena rasa khawatir pada istrinya. . ya mereka hanyalah manusia
"Kamu tenang saja sayang, baby Najj saat ini sudah ada dirumah, ada bu sum dan sahabat sahabat kalian yang menjaganya" Mila mencoba menetralkan suasana karena dia juga tau jika Nadhifpun juga merasa bersalah
__ADS_1
"kalau kamu sudah baikan lebih baik kita segera pulang karena semua sudah menunggu kita untuk memakamkan jenasah kedua orangtua kamu" tambah Mila
Nadhif memanggil dokter untuk memeriksa keadaan istrinya, setelah semua dinyatakan baik Nadhif menyelesaikan administrasi tempat istri dan ummanya dirawat sementara dan mampir sebentar untuk memantau kondisi adik iparnya yang masih berada di ICU
"Ok semua sudah selesai, gimana sayang kamu sudah siap pulang?" Airin mengangguk dengan mantap, dia turun perlahan karena rasa nyeri dari bekas jahitan saat melahirkan kembali menyerang, karena memang baru 2 minggu dia melahirkan tentu saja jahitan itu belum pulih secara sempurna
Nadhif, Airin dan Mila berjalan meninggalkan rumah sakit menuju mobil yang sudah terpakir didepan Lobby memang Nadhif sudah menyiapkan mobilnya didepan Lobby agar kedua wanita yang disayangnya tidak terlalu lama menunggu
60 menit sudah perjalanan yang ditempuh, sedikit lambat dari biasanya karena kondisi lalu lintas yang lumayan padat, dan merekapun sampai diarea rumah kedua orang tua Airin, mobil mereka diparkirkan sedikit jauh dari rumah karena banyaknya kendaraan dari tamu yang datang untuk mengucapkan rasa duka mereka terparkir didekat rumah
"Assalamualaikum...." ucap ketiganya saat memasuki pekarangan rumah yang sudah terpasang tenda dan kursi yang sudah dipenuhi tamu
"Waalaikumussalam..." jawab semua tamu yang ada disana, termasuk Ramdhan yang sedang duduk menemani para tamu yang datang
Saat memasuki rumah ketiga orang itu disambut oleh para sahabat dan keluarga juga beberapa tamu, hal yang sama yang didapat ucapan rasa duka, pelukan dan dukungan juga semangat untuk lebih tegar
Nadhif mengantarkan Airin yang masih lemah kedalam kamar yang tentunya sudah berpamitan pada semua yang ada, awalnya dia menolak tapi dengan kondisi yang masih lemah dan alasan Baby Najj yang membutuhkannya, sehingga membuat Airin menyerah dan mengikuti nasehat suami dan teman temannya untuk istirahat didalam kamar
"Sayang...anak umma maafin umma ya" kalimat pertama yang diucapkan Airin saat melihat malaikat kecil yang baru saja dilahirkan olehnya yang sedang dalam gendongan bu Sum
"Nak Airin ..." bu Sum menghampiri Airin lalu menyerahkan Baby Najj yang digendongnya pada Ibunya, lalu memeluk dan memberikan semangat pada orang yang sudah menolong keluarganya
"Nak Airin sabar ya, ibu yakin kamu wanita yang kuat, anak yang berbakti pada kedua orang tua, jadi jangan terlalu larut sedihnya pastinya kedua orang tua nak Airin tidak ingin melihat nak Airin bersedih terus ...ingat semua ini adalah takdir yang ditentukan Allah dan masih banyak orang yang sayang yang mendamingi nak Airin" Airin mengangguk dan melebarkan senyum, bu Sum memang sudah seperti ibu sendiri banyak juga nasehat nasehat darinya yang mbuat Airin dan Nadhif menjadi lebih dewasa
__ADS_1
"Terima kasih bu..." Airin tersenyum lalu berjalan menuju tempat tidur mengistirahatkan tubuhnya disamping malaikat kecilnya yang masih tertidur.
"Ibu keluar ya ..mau siapin untuk pemakaman bapak dan ibu" Airin mengangguk
***
"Sayang ...bangun yuk, ini kita mau antar papa dan mama kepemakaman, kamu juga antar mama dan papa untuk terakhir kali ya" Nadhif membangunkan Airin yang terlelap disamping baby Najj, ya tubuh yang lemah, kasur yang empuk dan rasa nyaman saat disamping malaikat kecilnya itu membautnya cepat terlelap dan itu cukup lama
Airin bangun dari tidurnya merapikan diri dan menggendong baby Najj keluar untuk mengantarkan jenasah kedua orang tuanya
"Kak aku ikut antar kepemakaman ya" ucap Airin
"Sayang kamu dirumah aja ya, kondisi kamu masih lemah dan kasihan baby Najj kalo ditinggal lagi, biar kami yang mengantar mama dan papa, ada Lina dan Lia yang menemani kamu disini ya, ini juga mau disholatkan dulu dimasjid kompleks baru kepemakaman" perlahan Nadhif menjelaskan takut jika emosi sang istri yang belum stabil
Airin mengikuti apa yang dikatakan suaminya, dia tetap tinggal dirumah bersama 2 sahabatnya, bu Sum dan beberapa kerabatnya, Airin mengantar kepergian kedua orang yang dicintainya hanya sampai pintu rumah, hanya doa yang selalu dia panjatkan didalam hatinya untuk mengiringi kepergian orang tuanya
Saat ini sudah tidak ada tangisan dari Airin, dia sudah ikhlas melepas kepergian orangtuanya, Airin sadar dengan menangis bisa membuat kepergian orang tuanya tidak tenang, kini dia berlapang dada dan menguatkan diri untuk menapaki jalan hidup kedepannya masih ada Allah yang tidak pernah meninggalkannya dan banyak orang orang yang sayang dan peduli padanya yang selalu mandampinginya dan juga masih ada seorang adik yang sedang membutuhkannya yang saat ini masih belum jelas keadaannya, masih terbaring koma dan satu lagi yang menjadi penyemangatnya adalah baby Najj, malaikat kecil yang hadir ditengah tengah kesedihan Airin ....
Assalamualaikum...maaf baru up..semoga episode kali ini tidak mengecewakan
terima kasih buat semua yang masih setia baca novelku jangan lupa like, vote dan komennya ya kritik dan saran masih ditunggu...
selalu jaga kesehatan dan kebersihan
__ADS_1