Rasa Yang Tak Usai

Rasa Yang Tak Usai
Memmories of Mandu


__ADS_3

Raina mengambil penerbangan pagi, sejak semalam dia sengaja menonaktifkan ponselnya setelah makan malam yang hanya membuatnya merasa terhina, Raina kembali ke kamarnya dan memilih menyibukkan diri dengan menata semua keperluannya yang akan dia bawa pulang besok, dia sama sekali tidak menghiraukan apakah Aksa akan menghubunginya atau tidak.


Tapi satu yang dia pahami bahwa Aksa sama sekali tidak berkunjung ke kamarnya, dan baginya itu sudah cukup untuk menjelaskan semuanya jika dia memang hanya mempermainkan perasaan Raina.


Terbiasa menjalani kehidupan yang menyakitkan membuat Raina tak lagi meratapi hatinya yang saat ini sedang terluka, dia memilih menyibukkan dirinya dengan hal apa pun yang membuatnya lupa pada apa yang baru saja dia alami.


Raina tiba di bandara Incheon, dia turun dari taksi, menengadahkan kepalanya keatas, memandang birunya langit pagi, menghirup udara di negeri ginseng untuk yang terakhir kalinya di tahun ini, yang mungkin saja akan dia rindukan nanti.


Menatap begitu megahnya bandar udara membuatnya tersenyum miris, selama hidupnya, baru kali ini dia jatuh cinta, tapi dia sudah dua kali merasakan patah hati dengan orang yang sama, Raina tersenyum mengejek pada dirinya sendiri. Semenyedihkan ini kah kisah cintanya.


Raina melangkahkan kakinya pelan, menuju terminal dua bandara untuk melakukan chek in terlebih dahulu. Tatapan matanya sendu meskipun wajahnya terlihat datar. Terluka untuk kesekian kali dalam hidupnya yang terbilang muda, membuat hatinya mengeras, terbiasa menjalani kehidupan yang keras membuatnya seolah mati rasa dengan rasa sakit, wajah datar dan senyum palsu yang tersungging dibibirnya, menutupi semua luka dan penderitaan yang selama ini dia alami.


Ceria, itu bukan dirinya, ah... lagi-pagi dia teringat ucapan ibu dari Aksa, Lagi.. Raina membandingkan dirinya dengan sosok Alina Parveen, dia bagaikan berlian, yang sangat cantik dan memiliki keindahan yang terpancar sempurna, sementara dirinya hanyalah kerikil yang dijadikan sebagai bahan dasar bangunan.


Alina sadar diri siapa Aksa dan dirinya, dia memilih mundur, sebab dia tahu tidak akan mampu jika bersaing dengan sosok Alina Parveen. Lagi pula Alina sangat cocok dengan ibunda Aksa, keduanya terlihat serasi Alina sangatlah agamis, tidak seperti dia yang bahkan jauh dari kata sholehah.


Dia hanya dibesarkan oleh ibu yang ternyata juga bukan ibu kandungnya, meskipun Alina memiliki akhlak yang baik karena sang ibu selalu mengajarkan itu.


Saat Raina berjalan menuju keterminal dua yang merupakan tempat keberangkatan, matanya tertuju pada rombongan yang dikawal ketat oleh bodyguard, Raina membelalakkan matanya saat dia mengenali siapa dua pria yang saat ini dikawal ketat dalam Iring-iringan masuk.


Yah, dua pria yang satu merupakan pria paruh baya, yang sempat dia temui beberapa waktu lalu, dan pria satunya lagi merupakan pria muda yang sempat dia tabrak malam tadi. Wah... mulut Raina sampai terbuka melihat sebegitu keren iring-iringan itu, dia baru tahu ternyata pria yang tidak sengaja dia tabrak itu merupakan orang yang sangat berpengaruh.


Tapi jika melihat visualnya Raina yakin jika mereka bukanlah orang korea, Raina sempat tertegun sedikit lama saat tidak sengaja matanya bertatapan dengan mata indah Dimitry, tetapi kemudian dia menundukkan kepalanya saat beberapa bodyguard ikut menatap kearah pandangan mata sang tuan. Membuat nyalinya menciut saat itu juga, sepuluh bodyguard dan dua asisten sudah cukup membuatnya terlihat seberapa berkuasa dua pria itu bahkan di negara orang.


Setelah rombongan pergi, Raina kembali berjalan masuk, sembari berjalan Raina membeli makanan dan minuman sebagai pengganjal perut, sebab dia belum sempat sarapan sama sekali.

__ADS_1


.


"Haahhhh......."


Prang....


Disisi lain Aksa menggila saat mengetahui jika Raina sudah meninggalkan Seoul, padahal sepengetahuannya dia mengambil penerbangan siang, Aksa sengaja mendahulukan untuk menemui tamu pentingnya terlebih dahulu, kemudian dia akan menyelesaikan masalahnya pada Raina, tetapi ternyata semua sudah terlambat. Raina sudah kembali ke negara asalnya.


Malam tadi dia berusaha menghubungi Raina melalui ponselnya, tetapi hasilnya nihil, Raina mematikan ponselnya. Dia tahu wanita itu pasti marah dan kecewa, tetapi dia juga sama sekali tidak mengetahui rencana orang tuanya.


"****..."


Klontang... Pyar...


Dia membanting beberapa pernik hiasan yang tertata rapi di atas meja, di penthouse miliknya, dia kecewa sekaligus menyesali kebodohannya.


Begitu juga dengan pesan yang dia kirimkan, tidak terbalas bahkan dibaca pun tidak, membuat Aksa benar-benar merasa bersalah dan menyesal, harusnya tadi malam dia langsung menyusul Raina, tidak perduli apa pun yang terjadi.


Dia ingin sekali terbang menyusul Raina saat ini, tapi tanggungjawabnya sebagai CEO sekaligus pemilik beberapa perusahaan raksasa di negri ginseng itu membuatnya tidak bisa berkutik.


Jadwalnya sudah disusun secara rapi jauh sejak satu bulan yang lalu oleh asisten pribadinya. Membuatnya hanya bisa uring-uringan semua pekerjaannya kacau beruntung dia memiliki Ki Tae sang asisten yang sangat bisa diandalkan dalam kondisi apa pun.


Ki Tae hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah sang tuan. Baru kali ini dia melihat sang tuan sefrustasi ini, selama tujuh tahun dia membersamai Aksa. Meskipun dia mengetahui masalahnya tetapi dia juga tidak bisa berbuat banyak, mengingat jika tuan dan nyonnya besar lah yang saat ini menjadi sumber masalah pada tuan mudanya.


"Atur ulang jadwal ku untuk satu minggu kedepan, aku ingin ke Indonesia, kau tetap lah diaini menggantikan ku,"

__ADS_1


Titah Aksa tegas tanpa mau disanggah lagi, meskipun dia tahu kali ini sikapnya sungguh sangat tidak profesional, tetapi dia sama sekali tidak memperdulikan hal itu.


"Baik tuan akan saya usahakan"


"Good, aku percaya pada mu Ki Tae."


.


Sampai di kos-kosan, Raina merebahkan dirinya di kasur busa, tempat kembali ternyamannya sejak beberapa tahun belakangan, Raina berusaha memejamkan matanya dengan cara menaruh lengan tangannya di atas matanya, perlahan tubuhnya berguncang, isakan kecil terdengar dari bibir mungilnya, dia tidak bisa lagi pura-pura tidak terluka.


Air matanya terus meleleh kesamping, dadanya terasa sesak, cinta pertamanya harus kandas hanya dalam waktu beberapa hari saja. Perasaan bahagia hanya dapat dia rasakan sebentar.


Puas menangis, dia membasuh wajahnya, menuang kopi untuk mengurangi rasa pusing yang berdenyut di kepala. Raina menyesap white coffe dan membuka galeri ponselnya, dia melihat ada foto menu appetizer yang sempat dia abadikan sebelum kedatangan Aksa dan keluarganya.


Raina melihat foto makanan yang bernama Mandu dengan seksama, dia tersenyum kecut, kemudian mengunggahnya dalam media sosial IG nya dengan caption yang sangat menyentuh.


"Mandu, terlihat sangat enak dan menggiurkan, tetapi sayangnya aku hanya bisa melihat tanpa bisa mencicipinya, seperti hal nya dirimu aku hanya bisa melihat mu tanpa bisa memiliki mu. Terimakasih sudah memberikan kebahagiaan pada ku, meskipun dalam waktu yang cukup singkat."


Seoul, 1 Desember 2022.


........ Bersambung ........


Hay semua... maaf lagi-lagi maaf kesibukan real life ku membuat ku tak bisa mengetik cerita ini.. nanti setelah 20 Bab aku usahain Up tiap hari..


sehat-sehat kalian semua...

__ADS_1


makasih udah mau bca karya receh ku.. ☺☺☺


__ADS_2