
Dengan langkah lebar dan tergesa, Dimitry berusaha cepat menuju tangga, menepis kuat tangan Asahi yang masih memegang tangan Raina. "Jaga batasan mu di rumah ku tuan." Ucapnya dengan tatapan mengerikan.
"Pergilah kekamar mu Rain, dan jangan keluar tanpa ku panggil." Titahnya tak ingin dibantah. Raina mengangguk, kemudian dia mulai berjalan perlahan meniti tangga demi tangga, diikuti puluhan pasang mata yang menatapnya.
"Kita perlu bicara, tapi tidak disini. Ikuti aku." Tanpa rasa takut, Dimitry memerintah Asahi. Meskipun yang dihadapinya merupakan mafia, tetapi nama besar seorang Dimitry Alexander tak bisa dianggap remeh oleh Asahi.
....
Bugh....
Satu pukulan melayang bebas mengenai wajah Asahi. Membuatnya jatuh tersungkur hingga mengenai salah satu pilar penyangga mansion megah itu. Dimitry yang merupakan pelaku, tersenyum miring sembari mengibaskan tangannya.
"Apa seperti ini cara mu bertamu? dengan membuat kegaduhan dan mencoba bertindak kasar pada Raina?" Dimitry menarik kemeja Asahi yang saat itu juga langsung ditepis olehnya.
Bugh...
Dimitry tersungkur, mendapat pukulan dari Asahi pada wajahnya membuat dia sedikit meringis, tetapi dengan segera dia bangkit. Dan saat dia akan membalas perbuatan Asahi, semua anak buah Asahi yang berjumlah sepuluh orang itu mengacungkan pistol yang dibawa masing-masing pada Dimitry.
Tetapi tanpa rasa takut, Dimitry mendekat. Meraih kemeja Asahi yang tubuhnya kalah tinggi dengan Dimitry. "Kau yakin ingin menyerang ku?" Ucapnya sembari kedua matanya berotasi. Saat itu juga Asahi mengangkat tangannya, tanda bagi anak buahnya untuk menurunkan semua pistolnya.
__ADS_1
Dia melihat sekeliling, semua anak buah Dimitry telah mengacungkan pistol kearah mereka. Hal itu membuat Asahi tak ingin mati konyol dengan kalah jumlah. "Pergilah, dan jangan kembali lagi kemari." Dimitry mendorong keras tubuh Asahi hingga limbung dan segera ditangkap oleh asistennya.
Asahi menegakkan badannya, dengan wajah memerah menahan marah, dia pergi meninggalkan mansion Dimitry dengan berucap. "Aku akan tetap menagih janji mu Alexander."
"Persetan dengan perjanjian itu..." Dengan nafas menggebu Dimitry kembali kedalam, setelah sebelumnya berteriak "Tutup gerbangnya dan jangan biarkan dia menginjakkan kakinya disini."
.....
"****.... Siapkan langkah selanjutnya dan jalankan, dia pikir siapa dia, beraninya mengusirku." Asahi masih terus mengumpat dalam perjalanannya kembali ke apartment miliknya.
"Baik tuan, saya akan segera menghubungi Tuan besar." Jawab sang asisten patuh.
Entah apa yang mereka bicarakan melalui ponselnya, setelah sebelumnya dia merasa sangat kesal, akhirnya dia bisa tersenyum angkuh lagi. Mendapat persetujuan dari sang atasan, membuatnya besar kepala.
"Kau akan tahu siapa yang telah kau usir, ku pastikan kau merangkak dikaki ku." Ucapnya pongah. Dengan tawa khasnya dia segera memasuki kamar utama sembari menyeret kedua wanita yang telah berada di sana.
"Obati luka ku, dan segera puaskan aku, aku butuh pelepasan." Titahnya tak ingin dibantah. Dengan patuh kedua wanita itu menjalankan apa yang diperintahkan sang tuan.
Tak lama suara laknat terdengar memenuhi apartment dan membuat semua anak buah Asahi lebih memilih menunggu diluar apartment. Karena mereka sudah biasa dengan hal itu. Jika sang tuan telah bosan, maka dia bisa menggilir wanita bekas sang bos-nya itu, dengan senang hati.
__ADS_1
.....
"Rain... Buka pintunya sweetie. Ini mommy." Ana terus saja mengetuk pintu kamar Raina, tak lama Raina membuka pintu kamarnya, dengan pakaian rumahan ala Raina yang memilih daster lengan panjang. Dia mempersilahkan sang mommy masuk.
"Dia sudah pulang Rain, jangan takut, kakak mu berhasil mengusirnya." Ucapan Ana membuat Raina mengangguk. Dia menghela nafasnya lelah. Sesungguhnya Raina telah mengetahui, karena sejak tadi dia berusaha mencari tahu dengan melihat kebawah, melalui jendela kamarnya.
Ana memeluk Raina sayang. "Jangan takut, Daddy dan kakak mu pasti akan menjaga mu dengan baik. Dia tidak akan membiarkan Asahi menginjakkan kakinya ke mari lagi. Raina mengangguk patuh dan membalas pelukan sang ibu dengan hangat.
"Rain..... " Dimitry berlari menaiki tangga dengan nafas memburu, memasuki kamar Raina tanpa mengetuknya dan langsung berjalan kearah Raina yang berada di atas ranjang king size dengan sang mommy. Dia meraih Raina dan melihatnya dengan seksama, meneliti semua tubuh Raina bahkan hingga memutar tubuh gadis itu.
"You okay? heum?" Tanyanya dengan cemas. Dia terlalu menghawatirkan adik kecilnya itu. Bahkan mengabaikan luka yang berada dipipinya yang saat ini telah berubah jadi membiru. Raina tercengang mendapati perlakuan sang kakak. Dia menyentuh luka yang didapat Dimitry sembari meringis sendiri.
"Aku baik kak, aku nggak papa. Kakak pipinya luka," Dengan senyuman tersungging di wajah ayunya, setelah sebelumnya kepanikan terlihat jelas dimatanya setelah melihat wajah sang kakak yang membiru. Dimitry gemas dengan hal itu. Dia meraih tubuh mungil itu, membawanya kedalam pelukan. Melayangkan kecupan di dahi dan pelipisnya.
Hingga membuat Raina engab. "Kak, udah ih.... " Sembari mendorong tubuh Dimitry pelan.
Dimitry mengacak pelan rambut Raina yang kali ini tidak tertutup hijab, karena dia berada di kamarnya sendiri. Membuat Raina mengerucutkan bibirnya karena saat ini rambutnya begitu berantakan.
....... Bersambung .......
__ADS_1
Malem All.... jan lupa tinggalin jejak yaa... βΊβΊπππ