
Raina bangun pagi ini, saat jam menunjukkan pukul enam, meskipun sedikit terlambat dia tetap menjalankan kewajibannya, entah jam berapa semalam dia tertidur yang dia ingat dia menjalankan sholat isya dan saat itu jam menunjukkan pukul dua dini hari. Dengan linangan air mata yang belum juga berhasil dia surutkan, dalam sujudnya dia hanya meminta untuk segera bisa tercapai mimpinya dan dipertemukan oleh keluarga kandungnya.
Meskipun egonya mengetakan dia tidak akan mau bersama Aksa, tetapi hatinya berkata lain, dia merasakan sakit yang hebat, juga hatinya yang terasa kosong membuatnya tidak ingin meminta apa pun pada Tuhan, dia hanya membiarkan rasa sakit menggerogoti hatinya saat ini.
Dia yakin bisa melupakan Aksa meskipun harus melalui masa sulit ini seorang diri. Raina memilih menerima dan berusaha menikmati semua prosesnya. Meskipun dalam hati kecilnya dia tidak yakin bisa melupakan sosok Aksa dalam hidupnya.
Raina melipat mukena parasitnya, kembali meringkuk didalam selimut, entah sudah berapa kali dia mengabaikan ketukan dipintu, dan telepon hotel yang masuk, dia tahu Aksa akan melakukan itu. Dengan mata merah dan membengkak, hidung memerah dan rambut yang sudah tidak beraturan Raina kembali bersembunyi dibalik selimut, pagi ini udara sangat dingin karena menjelang subuh hujan turun sangat lebat, seolah berlomba dengan air matanya yang hingga saat ini belum menyusut.
Semalam sebelum dia terlelap karena lelah menangis, Raina sempat memblokir nomor ponsel Aksa, dia tidak ingin membicarakan apa pun, katena itu hanya akan menyakiti hatinya lebih dalam lagi.
Saat mata sayunya ingin kembali mengeluarkan liquid bening, Raina dikejutkan dengan beberapa pesan yang masuk dalam aplikasi percakapannya. Disana tertulis jika sang senior kembali menerima job untuknya, merias anak dari seorang pejabat daerah kota Semarang.
Raina menyibukkan diri dengan membalas beberapa chat yang masuk, dia sengaja mengalihkan perasaannya yang sedang terluka. Dan dia bertekad untuk menyudahi air matanya, kembali fokus dalam dunia nyata yang berada didepannya.
Mengabaikan rasa sakit di hatinya, dia bersiap membereskan semua baju dan barang bawaannya, pergi mandi untuk menyegarkan diri, mengabaikan sarapan dan hanya minum teh hangat yang dia pesan. Raina beranjak untuk turun ke lobi meninggalkan hotel yang telah menorehkan luka kenangan yang menyakitkan.
Raina berjalan dengan masih terpincang karena kakinya belum sepenuhnya pulih, saat dia ingin masuk kedalam lift, sepasang mata menatapnya penuh kekhawatiran, Raina yang hari ini memakai outfit kaos putih dipadukan dengan blezer santai serta celana jeans hitam dan sneaker putih itu terlihat berjalan dengan tatapan kosong. Hingga dia tidak sadar ada yang memperhatikannya sedari dia keluar dari kamarnya.
"Are you oke?"
"Hem? ah.. I-iya aku baik."
Jawab Raina terbata, dia mengulas senyum pada Dimitry yang juga terlihat mengenakan kaos santai, Raina sedikit heran, pasalnya dia baru melihat Dimitry menggunakan pakaian casual, tidak seperti saat dia bertemu sebelum-sebelumnya.
"Mau sarapan bersama ku? aku kemari sendiri jadi masih kurang mengerti apa pun, aku juga jarang berkunjung ke Indonesia."
"Baiklah tuan," Setelah menimbang cukup lama, akhirnya Raina mengiyakan ajakan Dimitry setidaknya sebagai ucapan terimakasih karena sudah membantunya beberapa kali.
__ADS_1
Raina dan Dimitry berjalan berdampingan, keduanya menuju restoran, setelah sebelumnya Dimitry membawa koper Raina dan dititipkan di loby, meskipun sejujurnya Raina enggan sarapan.
Keduanya duduk berhadapan, dan memesan makanan, sedangkan Raina memesankan nasi goreng meskipun dia tidak yakin apakah bisa menghabiskan sarapannya hari ini.
"Makanlah Rain, kenapa kau hanya mengaduknya sedari tadi?" Dimitry membuka percakapan karena melihat Raina sama sekali belum menyuapkan makanan kedalam mulutnya, dia hanya menyesap lemon tea saja.
"Heemmm.... I-iya tuan."
Jawab Raina terbata, dia tampak tidak nyaman dan selalu terlihat merenung.
"Pakailah, ini akan membuat mu sedikit nyaman," Dimitry mengulurkan kaca mata coklat yang dia bawa pada Raina, dia tahu jika Raina tidak nyaman karena matanya yang membengkak dan lingkar hitam terlihat meskipun sudah tertutup dengan foundation yang dipakai Raina.
"Tak apa tuan."
"Pakailah, juga jangan memanggil ku tuan. Aku merasa tidak nyaman dengan panggilan itu."
Dimitry menaruh sendoknya, dia menatap netra Raina, mengambil kaca mata yang dia berikan dan memakaikannya pada Raina. "Panggil aku kakak jika begitu."
"Huh? kakak?"
"Ya, apa itu berlebihan?"
"Tidak tuan, emmm maksud ku k-kak."
"Good, itu lebih baik."
Keduanya melangsungkan sarapan dengan obrolan kecil, dan tanpa disadari dari jarak beberapa meter ada sepasang mata yang sejak tadi menatap tajam ke arahnya, memperhatikan apa pun yang dilakukan keduanya. Meskipun dia sedang bersama dengan keluarga besarnya.
__ADS_1
Raina terlihat nyaman melihat sekeliling, seolah dia bisa bersembunyi dibalik kaca mata coklatnya. Dia menoleh kekanan setelah mendengar suara tawa yang cukup riuh. Tetapi seketika itu juga hatinya kembali berdenyut nyeri.
Hingga rasa sakit itu terasa dalam setiap jemarinnya, dia menggenggam erat sendok dan garpu dalam tangannya. Membuka mulut untuk meraup oksigen, karena tiba-tiba dadanya terasa sesak.
Disana Aksa dan keluarganya sedang menikmati sarapan bersama keluarga Alina Parveen dan terlihat dengan jelas jika Aksa duduk berdampingan dengan Alina, Raina menundukkan kepalanya saat bulir bening itu kembali jatuh kepipinya. Dia seolah salah tingkah karena menyadari tatapan Aksa yang menghunus kearahnya.
Raina meneguk minumannya dan berpamitan pada Dimitry yang terlihat kebingungan karena tiba-tiba Raina berpamitan untuk segera pulang. Dan dia hanya bisa mengangguk pasrah dan mengucapkan beberapa kata pada Raina.
Dengan langkah cepat dan tertatih Raina pergi meninggalkan restoran dan menuju loby, setelah sebelumnya dia masuk kedalam toilet untuk menyeka air mata dan memperbaiki moodnya.
Raina berjalan terus menuju loby dan saat dia telah menuruni anak tangga terakhirnya, dalam ruangan yang sedikit lebar, tangannya ditarik kasar membuat Raina menghentikan langkahnya.
"Auh..."
"Kita perlu bicara Rain."
"Maaf, tidak lagi tidak ada yang perlu dibicarakan tuan Aksa."
Aksa mengernyit kala Raina memanggilnya dengan sebutan tuan.
"Rain, ku mohon, bukan hanya kau yang tersakiti disini."
Saat kata-kata itu keluar, Raina menatap nanar kearah Aksa, disertai senyum mengejek tetapi air mata yang kembali turun.
......... Bersambung .........
Lanjut g nih.... ???? ngantuk bgt authornya,, oh ya maaf dua hari ini g bisa Up rutin tiap mo nulis direcokin anak yang klo mati listrik malah g mau bobo. Dua hari ini hujan angin dan listriknya sering padam.. maafkan author mu yaa...
__ADS_1