
"Sorry, I'm sorry." Ujar Dimitry sembari mengulurkan tangannya berniat untuk membantu Raina berdiri.
Sambil meringis Raina mencoba bangun dan memungut tas yang isinya berhamburan keluar, Dimitry membantunya memungut isi tas Raina, dia mengambil ponsel, lip balm, dan kunci kamar kos milik Raina.
Saat dia hendak bangun pandangan matanya tertuju pada leher Raina yang terjulur kalung emas dengan ciri khas yang sangat tidak asing baginya. Setelah terdiam sesaat Dimitry akhirnya membantu Raina bangun, dan berulang kali memohon maaf atas ketidaksengajaannya.
"Maaf, aku tidak menyadari keberadaan mu." Ucapan Dimitry membuat Raina mematung, tubuhnya kaku saat dia menyadari jika yang diucapkan Dimitry adalah bahasa Indonesia.
Tidak seperti tadi saat dia belum menyadari siapa yang dia tabrak dan meminta maaf menggunakan bahasa dan aksen Inggris yang fasih. Membuat Raina benar-benar terkejut, ternyata pria yang beberapa kali ditemuinya secara tidak sengaja itu bisa berbahasa Indonesia.
"Hey, kenapa melamun hem?" Dimitry melambaikan tangannya didepan wajah Raina yang sedang terbengong.
"Ah... hem... maaf," Jawab Raina tidak jelas karena dia tersentak dari lamunannya. Membuat Dimitry tersenyum miring seketika melihat betapa lucunya tingkah gadis didepannya ini.
"Anda bisa bahasa Indonesia ternyata tuan, .... maaf."
"Alexander Dimitry, em....just Dimitry." Ucap Dimitry sembari mengulurkan tangan dan langsung disambut oleh Raina dengan menyebutkan namanya juga.
"Raina Ghiska Zoya, just call me Raina." Balasnya sembari menyambut uluran tangan Dimitry. "Maaf, saya tidak melihat jalan dengan benar." Kata Raina lagi.
"Y-ya, aku juga tidak sengaja, Baiklah ini tas mu." Ujar Dimitry sembari mengembangkan senyuman yang terlihat sangat menawan dan manis, membuat Raina terpesona akan hal itu.
"Apakah tadi aku membuat mu terluka?" Tanya Dimitry khawatir karena dia sempat melihat Raina meringis, sesaat baru saja terhempas ke lantai yang keras.
"No,...Y-ya sedikit," Jawab Raina terbata, dia masih saja mengamati sosok pria bule bernetra biru didepannya. Mata itu jika dia melihatnya entah kenapa bisa begitu merasakan damai. Tetapi Raina segera menepis rasa itu, dan menggeleng cepat.
"Maaf, aku benar-benar tidak memperhatikan langkah ku nona."
__ADS_1
"Ya, it's oke" Balas Raina dengan senyum ramahnya. Dan Dimitry tersenyum melihat itu.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu," Pamit Raina undur diri karena dia belum menaruh kopernya, tetapi saat dia akan melangkah kakinya terasa sakit dan sedikit pincang, membuatnya meringis meskipun dia sudah berusaha menahannya.
"Kau terluka nona, biar ku bantu, dimana kamar mu hem?" Dimitry terlihat panik, dia berusaha meraih koper Raina dan memapahnya.
"No tuan tak apa saya baik-baik saja, hanya sedikit terkilir." Raina menepis tangan Dimitry, dia meraih kopernya dan berusaha berjalan, tetapi badannya limbung, dengan segera Dimitry memapah Raina.
Meskipun awalnya menolak, namun karena dia memang membutuhkan bantuan Dimitry akhirnya dia menurut saat Dimitry menyentuh pundak dan tangannya dan segera memapahnya menuju kamar yang telah dipesan oleh Raina.
Dimitry membuka pintu dengan kartu akses masuk dan segera memapah Raina menuju ranjang king size, ya Raina mendapatkan kamar hotel mewah karena sudah direservasikan oleh clientnya.
"Duduklah, aku akan melihat kaki mu," Ujar Dimitry penuh kekhawatiran, dia kemudian menaruh koper dan tas jinjing Raina, setelahnya dia bergegas duduk di ranjang dan melihat kondisi kaki Raina, terlihat biasa, tidak ada perubahan apa pun, tetapi Dimitry yakin jika kaki itu terkilir, terlihat saat dia berusaha menggerakkan kaki Raina ke kiri dan kanan Raina langsung meringis danatanya terlihat berkaca-kaca.
"Kaki mu terkilir nona, tapi jangan khawatir saya akan memanggil dokter kemari," Ujar Dimitry sembari mencari ponselnya untuk menelpon asisten pribadinya.
"Tidak apa tuan, tidak usah nanti juga membaik dengan sendirinya." Jawab Raina segan, tetapi Dimitry mengabaikan ucapan Raina.
"Baik tuan, saya segera kesana." Jawab sang asisten disebrang telepon.
"Tuan tidak apa, hanya sedikit terluka nanti juga membaik, pergilah sepertinya anda sibuk, terimakasih sudah membantu saya." Ucap Raina yang merasa tidak enak karena ponsel Dimitry terus saja berdering dan dia mengabaikan panggilan itu.
"No, ini bukan panggilan penting," Meskipun Dimitry ingin menerima panggilan dari sang mommy, tapi situasinya sedang tidak menguntungkan saat ini dan dia memilih mengabaikannya.
Dimitry menuju kamar mandi dan mengambil handuk kecil dia mengguyurnya dengan air hangat, diperas kemudian mengompreskannya pada kaki Raina yang sudah sedikit berubah warna menjadi memerah dan sedikit bengkak.
Menunggu sepuluh menit akhirnya sang asisten dan dokter yang memang dipekerjakan pihak hotel datang. Dokter memeriksa pergelangan kaki Raina yang saat terjatuh tertumpu oleh badannya alhasil menjadi terkilir.
__ADS_1
Dokter sedikit memutar kaki Raina tetapi melihat ekspresi Raina, dia menghentikannya, dia mengeluarkan perban general care elastic bandage dari dalam tas kerjanya, perban elastic yang dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman dan memulihkan kaki kesleo dan cidera otot. Serta memberi resep obat yang harus ditebus. Dokter pamit undur diri, sedangkan luke pergi menebus resep obat yang diberikan dokter.
"Saya sudah tidak papa tuan, anda bisa kembali ke kamar anda." Raina tidak sesakit itu untuk selalu ditunggu, tetapi tidak bisa dipungkiri perasaannya menghangat, di perhatikan dan di khawatirkan sedemikian oleh Dimitry membuat hatinya terharu, selama ini jika dia sakit, dia hanya meminum obat yang dibelinya di apotik, dan merawat dirinya sendiri.
"Apakah sudah tidak apa jika ku tinggal?".
"Ya tuan Dimitry, terimakasih bantuannya," Ujar Raina sembari tersenyum.
"Baiklah jika butuh sesuatu katakan saja pada ku, aku ada dikamar yang bersebelahan dengan mu. Kemarikan ponsel mu."
Dimitry meraih ponsel Raina dan mengetikkan nomor ponselnya kemudian mendial nomer itu. Setelah ponselnya berdering, Dimitry mematikan dan memgembalikan pada Raina.
"Aku sudah menyimpan nomor ponsel mu, hubungi jika ada hal mendesak." Ujar Dimitry. Dia kemudian pamit untuk pergi ke kamarnya.
.......
"Kapan kita bertemu kekasih mu son?"
"Aku akan menelponnya terlebih dahulu dad."
"Usahakan sore ini kita ketemu, karena nanti malam acara penting mu."
Tanpa menjawab dan hanya mengangguk patuh, Aksa kemudian beranjak untuk memberitahu Raina jika kedua orang tuanya ingin bertemu.
Raina terlonjak saat ponselnya berdering, dia mengambilnya dan bibirnya mengulas senyum saat nama Aksa tertera dilayar ponselnya.
"Assalamualaikum Mas, ...... "
__ADS_1
.............. Bersambung ..............
Hay... maaf Upnya agak telat aku usahain klo komen dan like banyak nanti sore atau maleman Up lagi... hayuk banyakin komen, ☺☺☺☺