
Ica terlihat termenung dikamar rawat Arick yang memiliki sekat dengan pintu geser, dia menatap senja kota Seoul yang sore ini masih dengan udara yang dingin, dia mengeratkan kaitan tangannya, saat tiba-tiba hatinya berdenyut, memikirkan pertemuannya dengan Raina.
Ya, saat Dimitry sedang melakukan tes dan sekaligus diambil darahnya untuk didonorkan pada Raina, dia masuk kedalam ruang rawat Raina, memakaikan kerudung yang sebelumnya dilepas oleh tim dokter karena semuanya sudah sangat kotor, Ica tau jika di rumah sakit ini tidak tersedia kerudung oleh karenanya, dia meminta Mila sang asisten pribadinya untuk kembali ke mansion dan mengambil kerudung miliknya.
Ica memakaikan kerudung itu dengan sangat terampil, meskipun hanya kerudung instan yang dia pakaikan supaya lebih mudah, karena dia tahu jika saat nanti Raina tersadar tidak memakai kerudung dia pasti akan kecewa.
Terlebih banyak pria yang berlalu lalang, baik dokter maupun perawat, dia juga segera meminta pada sang sahabat untuk mengganti semua perawat dan dokter yang bertugas masuk menangani Raina untuk semuanya berjenis kelamin wanita, terkecuali dokter Harry yang memang tugasnya tidak bisa digantikan untuk saat ini.
Ica menyeka pelan bibir Raina yang terlihat lebam dibagian kanannya, entah apa penyebabnya mungkin saat dia sedang dalam pelarian bersama cucunya dia sempat terjatuh atau menabrak sesuatu.
Rasa kasihan dan haru kian menumpuk dalam hatinya, "Benarkah aku sudah terlalu egois pada kalian?, maaf, maafkan tante Raina."
Saat itu juga sekelebat bayangan dalam mimpinya kembali hadir, wanita itu memang mengenakan kerudung tetapi dia masih tidak bisa melihat wajahnya. Membuat Ica meragu, kemudian dia memandangi lekat wajah tirus gadis dihadapannya ini.
Rasa bersalah kian menggerogoti jiwanya kala dia melihat lingkar hitam di sekitar mata Raina, "Gadis ini juga terlihat lebih kurus dari saat terakhit kali aku melihatnya. Sesulit itukah kehidupan mu Rain, maaf tante egois dengan memisahkan kalian berdua."
Ica mengenang lagi saat Aksa bercerita tentang gadis pujaan hatinya saat itu dia bercerita dengan binar kebahagiaan dimatanya, tetapi sejak saat itu Ica tak lagi melihat binar dimata Aksa, padahal waktu itu dia bercerita tentang seorang gadis yang sangat menderita tetapi dia kuat meskipun kehidupannya sangatlah keras.
__ADS_1
Ica mengingat kembali sejak satu tahun yang lalu, tempramen Aksa juga sangat buruk, dia lebih memilih diam saat suaranya tak lagi dianggap oleh Allard, lebih tepatnya Aksa menjadi sosok boneka hidup yang hanya menurut dan lebih memilih diam dari pada membuka suaranya.
Hubungannya dengan Alina pun ica tidak melihatnya sebagai hubungan layaknya pasangan tunangan pada umumnya, memang benar Aksa memperhatikan Alina, tetapi seperti hanya untuk sebuah formalitas saja.
Ica menarik nafasnya dalam, dia menatap sekali lagi wajah Raina, gadis ini merupakan gadis yang mampu membuat putranya berubah, dia juga mengingat ucapan Raina pada Aksa saat sebelum Raina meninggalkan Aksa tepat setelah pertunangannya dengan Alina.
Dia lebih memilih meminta Aksa untuk tidak meninggalkan ibunya, kata-kata itu selalu berhasil mengusik perasaan Ica, setiap dia mengingat hal ini hatinya bergetar, sungguh gadis ini merupakan gadis yang baik, dia mengerti sopan santun dan tata krama serta lebih mendahulukan adabnya dari pada egonya.
Ica mengelus pelan kepala Raina yang masih senantiasa terpejam, dia berdoa semoga Raina diselamatkan dari cobaan ini, dan semoga dia bisa segera menemukan kebahagiaannya meskipun tanpa sosok Aksa yang mendampinginya.
"Cepatlah sehat, cepatlah pulih dan temukan kebahagiaan mu Rain, tante mendoakan yang terbaik untuk mu, maaf tante masih sangat egois pada mu." Setelah itu Ica memilih keluar dan bergabung dengan Cheyra yang sedang menunggui Arick yang masih terlihat murung karena hingga saat ini dia masih belum mendengar kabar baik dari Raina.
"Biarkan mereka didalam, terlebih lagi kau sudah tidak pantas berada di dalam, jika mommy dan daddy mengetahui hal ini, aku yakin daddy pasti akan lebih keras lagi pada mu Aksa." Ujar Alle pelan sembari menepuk bahu Aksa, meskipun dia mendukung hubungan Aksa dengan Raina, tetapi bukan seperti ini cara yang dimaksud Alle, dengan menemui Raina secara diam-diam dan hanya seorang diri.
Sedikit banyak Alle mengetahui tentang hal ini, terbiasa bersama dengan mertua perempuannya membuat dia mengerti apa yang pantas dan tidak pantas dilakukan oleh pria yang sudah menghitbah wanita lain.
Tubuh Ananta bergetar melihat apa yang ada didepannya saat ini. Dia tidak menyangka jika dia bisa menemukan sosok wanita yang nyaris sama persis seperti dirinya saat sia masih berusia belasan tahun, hanya saja bentuk Alis dan bulu mata gadis ini sedikit tebal dari pada dirinya.
__ADS_1
Dia perlahan berjalan mendekat, kearah ranjang melihat dengan lebih dekat, tidak ada kata yang terucap dari bibirnya yang bergetar, dia hanya beberapa kali terlihat menggeleng disertai air matanya yang sudah membanjir saat pertama.
Semua pertanyaan dan kemungkinan-kemungkinan selama delapan belas tahun itu kembali berputar dalam pikirannya, Ananta menatap Alexander dan Dimitry secara bergantian, meskipun bibirnya tak lagi bisa berucap, tetapi melalui sorot matanya dia berusaha mempertanyakan tentang gadis ini pada keduanya.
Dimitry mengangguk mantap dan saat itu juga tangis Ana pecah, isakan yang sejak tadi dia tahan akhirnya keluar, tangisan Ana terdengar memilukan, bahkan Alexander dan Dimitry saat ini juga berusaha menghalau air mata yang lancang turun tanpa dia izinkan.
Aksa dan Alle yang mendengar dari luar hanya bisa terdiam, teriakan Anna membuat semua orang yang berada di ruang rawat Arick keluar secara bersamaan, mereka begitu penasaran dengan suara tangis dan jeritan wanita dari kamar rawat Raina.
Saat Ica dan Cheyra hendak menerobos masuk tubuh keduanya dihalau oleh Aksa dan Alle yang ingin memberikan waktu lebih pada keluarga Alexander untuk menemui Raina.
"Ada apa? siapa yang berteriak? apakah Raina sudah tersadar?" Tanya Ica beruntun.
"Bukan mom, mereka keluarga Alexander yang sedang menjenguk Raina, itu merupakan nyonya Ananta Alexander." Jawab Aksa lugas.
Bukannya puas mendengar ucapan Aksa, Ica justru bertanya-tanya mengapa keluarga Alexander bisa berada disini semuanya. Saat Ica dan Cheyra ingin bertanya lebih lanjut keduanya dibawa oleh Aksa dan Alle memasuki kamar rawat Arick.
Sementara itu Raina perlahan menggerakkan jari jemarinya saat digenggam erat oleh Ananta, msih dnegan isakannya dia terkejut dan saat itu juga dia meminta Dimitry untuk memanggilkan dokter karena respon Raina cukup bagus saat ini.
__ADS_1
...... Bersambung ......
Hay... gimna nih.. makin seru or makin garing ceritanya.. jawabnya ke kolom komentar... sayang kalian banyak-banyak 😘😘😘🙏🙏🙏