Rasa Yang Tak Usai

Rasa Yang Tak Usai
Kondisi Raina


__ADS_3

Dimitry meloncat turun dari halycopter diiringi teriakan memanggil Raina, membuat semua mata yang berada di sana melebar, tak terkecuali Aksa, dia menyipitkan matanya menatap tajam kearah berangkar yang semakin menjauh dan dibawa turun melalui lift.


Dimutry berlari menyusul Raina, dia tak menghiraukan sapaan dari rekan bisnisnya termasuk Allard dan Maxime yang baru saja tiba. Dokter membawa Raina ke ruang tindakan, tubuhnya segera dipenuhi kabel, semua perawat dan beberapa dokter terbaik rumah sakit berada diruangan itu tanpa ada yang berpangku tangan, semuanya sibuk dalam waktu yang bersamaan.


Ada perawat yang memasang infus, ada yang memasang oksigen, ada yang mengambil sampel darah dan ada yang menggunting baju untuk memasang selang ditubuhnya, semua dikejar waktu, mengingat sudah selama hampir 20 jam Raina tertembak dengan terus mengucurkan darah, kondisinya sangat kritis, denyut nadi sangat lemah dia juga mengalami hipotermia dan kekurangan cairan.


Tubuhnya tidak lagi beraksi saat tim dokter mencoba memacu jantungnya dengan defribrilator. Semua yang berada di sana sangatlah panik, terlebih saat Arick memberontak bersi keras untuk masuk kedalam ruangan.


"Biarkan aku masuk, ku mohon."


"Dokter tolong selamatkan dia, lakukan yang terbaik."


"Kak, bangun kak please, kakak harus bangun."


Teriakan-teriakan pilu Arick disertai dengan derai air mata itu membuat seisi gedung lantai lima itu terenyuh, dia terus saja memanggil Raina dengan sebutan kakak.


Merasa berhutang nyawa Arick bahkan menolak pengobatan dari dokter, dia malah menyuruh dokter yang menanganinya untuk segera masuk ke dalam dan membantu penanganan Raina.


"Dokter, masuklah kedalam, bukankah kau dokter terbaik di rumah sakit ini sekaligus teman Grandpa, kau harus menolongnya, dia yang sudah menyelamatkan ku saat aku disekap para penculik biadab itu."


Ucapan terakhir Arick membuat semua mematung tak terkecuali Alle, dia yang baru menyadari jika sosok wanita itu merupakan Raina, gadis yang dicari oleh Alexander Avram dan putranya Dimitry.


"Tuan muda, anda juga harus mendapatkan perawatan, tubuh anda lemah." Dokter masih saja membujuk Arick tetapi Arick menggeleng dan berontak.


"No, I'm oke, pergilah kedalam, selamatkan dia terlebih dahulu, aku berhutang nyawa padanya." Arick bersikeras hingga membuat Alle dan Cheyra frustasi dan akhirnya menyuruh dokter Harry untuk masuk kedalam.

__ADS_1


Cukup lama sekitar empat puluh menit, para tim dokter berjuang menangani Raina, wajah putihnya sudah pucat pasi, kehilangan banyak darah membuatnya terlihat seperti mayat.


Selama waktu itu Arick sama sekali tidak meninggalkan ruangan tindakan tempat Raina, dia terus berada didepan sembari mengintip dari luar aktifitas para dokter yang sedang berjuang menyelamatkan Raina.


Tubuh Dimitry meluruh saat alat pacu jantung itu terlihat tidak lagi berfungsi. Dia belum mencari tahu kebenarannya, Dimitry menggeleng hebat sembari berteriak.


"No, Raina sadarlah, kau tidak boleh pergi, bangunlah Raina." Teriakan Dimitry membuat semua irang tak terkecuali Aksa menatap heran kearahnya.


Aksa yang sedari tadi hanya mampu terdiam, dia masih mencerna apa yang terjadi mengapa bisa Arick bersama Raina, meskipun begitu Jantungnya terus berdetak cepat. Hatinya mencelos menyadari jika yang sedang berjuang itu merupakan satu-satunya wanita yang dia cintai setulus hati tanpa pamrih.


Dalam hati kecilnya Aksa terus berdoa dan berucap. "Bangunlah Rain, banyak hal yang harus kau jelaskan pada ku. ku mohon sadarlah." Tanpa terasa Air matanya mengalir deras. Saat alat monitor itu berbunyi "titttttt" Semua orang saling pandang, tetapi tidak untuk ketiga pria beda usia yakni Dimitry, Aksa fan Arick. Ketiganya berteriak dalam waktu bersamaan, membuat kegaduhan. Suasana terlihat mencekam saat tim dokter bekerja lebih keras lagi.


"No, Raina kau harus sadar," Teriak Dimitry.


"Raina..... Bertahanlah Raina." Ujar Aksa.


Ketiga pria yang memiliki hubungan yang berbeda-beda dengan Raina itu seolah kompak memberikan semangat pada Raina yang sedang berjuang.


Tubuh Aksa meluruh, dia terkulai lemah saat usaha yang dilakukan tim dokter belum juga membuahkan hasil. Air matanya mengalir deras disertai teriakan frustasi. Semua orang melihatnya pilu tak terkecuali Ica yang sontak berlari memeluk Aksa.


Tubuhnya yang terguncang hebat karena isak tangis Aksa membuat hati Ica terasa tersayat. Nyatanya hingga sampai detik ini sang putra masih mencintai Raina. Tanpa sadar dia juga ikut menangis bersama Aksa.


Setengah jam menunggu akhirnya monitor itu berbunyi normal kembali, para tim dokter mengucap syukur atas kembalinya Raina yang sempat anfal beberapa saat. Tak terkecuali Aksa yang langsung sujud syukur saat itu juga, membuat Allard terenyuh.


Sebegitu besar cinta putranya ini untuk gadis yang telah menyelamatkan cucunya. Entah bagaimana ceritanya Raina bisa bersama dengan Arick. Tapi yang jelas Allard sudah mengetahui dalang dibalik penculikan cucu kesayangannya itu.

__ADS_1


Tim dokter berusaha mengambil tindakan sesuai prosedur, dia lebih memilih fokus pada kondisi Raina terlebih dahulu, setelah dirasa membaik sekitar satu jam berlalu, barulah tim dokter meminta untuk disiapkan operasi untuk mengambil peluru yang masih bersarang di lengan sebelah kiri Raina, tetapi yang menjadi kendala adalah golongan darah Raina yang terbilang langka itu sempat membuat kepanikan.


Operasi harus segera dilakukan tetapi darah belum tersedia dan hanya ada beberapa kantong saja, dan itu tidak cukup, mengingat jika tindakan operasi terkadang membutuhkan darah yang cukup lumayan banyak.


Dokter terlihat membuka pintu dan Alle serta Dimitry segera berlari menghampiri dokter.


"Bagaimana dok kondisinya dok?" Ujar Alle dan Dimitry nyaris bersamaan.


"Masa kritisnya belum berakhir, meskipun tadi sempat anfal, tetapi syukurlah dia masih bisa bertahan. Kami akan melakukan operasi secepatnya jika kondisinya sudah membaik, tetaoi yang menjadi masalah adalah golongan darah pasien di RS ini langka, dan hanya ada beberapa kantong dan sudah dipakai oleh pasien, tetapi masih kurang, apa lagi jika harus dilakukan operasi."


"Apa golongan darahnya dok? bisakah saya mendonorkan darah saya?"


"Apa golongan darah anda, harus dipastikan terlebih dahulu juga apakan cocok atau tidak, sebaiknya tuan segera melakukan tes untuk mengetahui apakah cocok atau tidak. Silahkan ikut perawat kami."


Alle tidak lagi bisa mencegahnya, dia lebih baik menurut untuk seseorang yang telah menyelamatkan putranya. Dia tidak pernah melihat Arick sehisteris itu pada siapapun sebelumnya.


.......


Aksa berdiri dari bersimpuhnya, dia mendekat kepintu tempat ruang tindakan Raina, melihat kedalam tetapi dia tidak bisa melihat apa pun. Hatinya mencelos saat tidak sengaja dia melihat jari manis tangan kiri Raina yang di sana terdapat cincin pemberiannya yang masih bertengger di jemarinya.


Deg....


Jantungnya berpacu dengan cepat saat dia menyadari jika Raina masih memakai cincin pemberian darinya, meskipun satu tahun telah berlalu, tetapi nyatanya Raina masih saja mengingatnya. Seketika itu juga dia mengingat kembali perpisahannya satu tahun yang lalu, membuat Aksa saat itu juga menyentuh dan memukul pelan dadanya yang terasa sesak dan berat.


.......... Bersambung ..........

__ADS_1


Malem All... maaf ya baru bisa Up,, jangan lupa komennya, seru g sih konfliknya, btw kalian suka konflik ringan or berat? jawab ya di kolom komentar... makasih.. 😘😘😘


__ADS_2