Rasa Yang Tak Usai

Rasa Yang Tak Usai
Jurang yang Terlalu Dalam


__ADS_3

Raina sedang bersiap, meskipun jam masih menunjukkan pukul tiga dini hari, tetapi karena dia hari ini mendapat job panggilan dari salah satu MUA ternama di kota Semarang, untuk turut membantu merias beberapa pagar ayu dan keluarga pengantin.


Hari ini salah satu pengusaha tekstile ternama di Semarang akan menikahkan anak sulungnya, jadi begitu banyak pagar ayu dan keluarga mempelai yang akan dirias, Raina mengendarai motor maticnya denga kecepatan sedang.


Sebenarnya terkadang dia merasa takut saat harus berkendara malam sendiri, karena kota Semarang termasuk kota besar yang juga banyak pemuda yang sedang nongkrong dijalanan.


Sering pada saat lampu merah Raina terpaksa harus tetap melaju, dia terlalu takut karena banyaknya preman, kebetulan juga karena keadaan sedang sepi membuat Raina melanggar rambu lalu lintas demi keamanannya sendiri.


Sampai di hotel yang dituju, Raina langsung menuju kamar yang digunakan stay untuk para brides maid. Dia langsung memulai pekerjaannya tanpa menunggu, karena terlalu banyak yang harus dia rias, membuatnya takut tidak cukup waktu.


Tepat jam tujuh pagi semua pekerjaannya sudah selesai, Raina mengikuti sang MUA senior di acara ijab qobul maupun resepsi nanti malam. Hari ini pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan sama sekali membuatnya terlambat makan malam.


Saat semua tamu sudah pulang, Raina juga sudah selesai dengan pekerjaannya, dia pulang mengendarai motor maticnya sampai didepan hotel seseorang menurunkan kaca mobil dan menyapanya.


" Hai Rain, mau kemana? "


Raina menoleh kesamping kanan dia menemukan sosok pria yang telah bersamanya seharian kemarin.


" Mas Aksa, dari hotel juga? "


" Ya aku baru menghadiri resepsi salah satu klien ku "


" Ah... ya.... "


" Kamu dari mana? "


" Aku juga baru selesai merias mas "


" Oh jadi kamu yang ngerias di acara tadi? "


" Iya mas, ikut andil meskipun bukan perias pengantinnya "


Aksa mengangguk,


" Bisa kita bicara sebentar? "


Akhirnya Aksa mengantarkan Raina ke kos-kosan-nya dan mengajak Raina menikmati malam kota Semarang di salah satu angkringan yang sedang hits saat itu.


" Besok aku pulang ke Kosel, "


Aksa membuka percakapan, karena dia melihat Raina yang hanya diam saja.

__ADS_1


" Besok? kerjaan disini sudah selesai mas? "


Aksa mengangguk, dengan terus menatap ke arah Raina yang terlihat gelisah, karena bola matanya yang terus bergerak ke sana kemari.


" Ada apa? kenapa melihat ku seperti itu? "


" Kamu capek? "


Raina tersenyum manis, hal seperti ini sudah biasa baginya, berangkat dini hari pulang dini hari lagi, pekerjaannya tidak mengenal waktu.


" Sedikit "


Aksa tersenyum memandang gadis tangguh didepannya, sangat terlihat wajah lelahnya, tetapi dia sama sekali tidak mengeluh. Menunjukkan seberapa keras hidup yang dia jalani selama ini. Aksa memberanikan diri menggenggam tangan Raina.


Sementara Raina terperanjat diperlakukan seperti itu, karena selama ini tidak ada seorang pria yang memperlakukannya dengan sebaik dan seperhatian ini.


" Aku tau semua ini tidak masuk akal, tapi sejak kita bertemu malam itu, aku merasa kau mempunyai magnet yang membuat ku selalu ingin melihat kearah mu, "


Raina hanya terdiam karena dia tidak tahu harus menjawab apa, saat ini isi kepalanya terlalu penuh memikirkan ucapan Aksa.


" Ku rasa aku mencintai mu Rain "


Raina terbelalak mendengar ucapan Aksa. Jantungnya berdetak cepat, perasaannya menjadi gusar, dia menatap kedalam netra coklat tua milik Aksa, seolah mencari pembenaran dibalik ucapannya.


Aksa menggeleng kuat saat Raina mengutarakan apa yang ada dalam benaknya.


" Enggak mungkin mas, mencintai bisa secepat dan sesingkat ini "


" Untuk mencintai mu tidak butuh waktu lama Rain, tapi aku yakin, perasaan ini cinta, bukan belas kasihan "


Raina tersenyum samar, kehidupannya jauh berbeda, dengan kehidupan Raina.


" Kita enggak mungkin bisa bareng mas, aku sama kamu, itu seperti bumi dan langit, terlalu jauh, "


" Rain.... dengar.... rasa ini tidak memilih kepada siapa dia akan berlabuh. "


" Kita berbeda mas, aku enggak mau semua ini hanya membuang waktu dan saling menyakiti pada akhirnya, kehidupan kita berbeda mas, bagaimana pun usahanya, bumi dan langit itu tetap tidak akan pernah bisa bersatu. "


Aksa tercengang mendengar kalimat yang keluar dari bibir Raina, secara tidak langsung, dia mengerti bagaimana perasaan Raina. Dia menatap mata indah Raina yang saat ini digenangi cairan bening.


" Rain, kita belum mencobanya bagaimana bisa kamu menyerah? "

__ADS_1


" Karena aku tau akan seperti apa akhir kisah ini jika kita tetap bersama "


" Izinkan aku untuk tetap bersama mu, sampai nanti takdir yang akan menentukan semuanya "


Raina menunduk dalam, dia benar-benar bingung dengan ini. Bagaimana menjelaskan keadaan ini pada orang yang sedang jatuh cinta, semuanya hanya sia-sia.


" Rain, ku mohon, aku tersiksa dengan rasa ini "


Raina mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Memantapkan hatinya untuk berbicara.


" Begini saja, kalau suatu saat kita dipertemukan lagi, aku menganggapnya takdir untuk kita bisa bersama, tetapi jika kita tidak bertemu lagi, berarti kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama "


Dengan berat hati Aksa menggenggam erat kedua tangan Raina, hatinya sungguh sakit dan resah saat mendengar jawaban gadis dihadapannya ini.


" Baiklah, kalau suatu saat kita bertemu lagi, kau harus jadi milik ku, tidak ada alasan apa pun lagi "


Raina mengangguk lemah, seolah hatinya tidak rela jika ternyata harus sampai disini perasaannya, tidak bisa dipungkiri, dia juga mencintai sosok pria dihadapannya saat ini.


Pria yang sangat perhatian dan pengertian padanya, tetapi kenapa harus dengan perbedaan yang teramat jauh.


" Baiklah aku menghapus nomor mu dari ponsel ku, karena aku yakin kita pasti alan dipertemukan lagi dengan takdir baru. "


Raina tersenyum pahit, hatinya terasa sakit saat pada akhirnya dia tidak bisa bersama, meskipun cukup singkat pertemuan mereka, tetapi nyatanya, untuk mencintai tidak butuh waktu yang lama.


Keduanya pulang, Aksa mengantar Raina ke kos-kosannya, kemudian pulang ke rumahnya, karena besok pagi-pagi dia akan melakukan penerbangan.


Dengan berat hati, Raina melepas kepergian Aksa, meskipun gundah dan gelisah memenuhi dadanya, tetapi dia selalu berusaha mengingat, jika dia bukanlah siapa-siapa, jika harus bersama Aksa, itu bagaikan pungguk yang merindukan bulan.


Setitik air mata turun saat Raina sudah masuk kedalam kamarnya, badannya meluruh tangis itu akhirnya pecah, kenapa saat dia benar-benar mencintai pria, jurang pemisah yang berada dihadapannya terlalu dalam.


Raina memeluk lututnya, membenamkan wajahnya diantara kedua lutut, menahan suara agar tidak terdengar penghuni kos lain, sekali lagi batinnya tersiksa dengan keadaan.


Kenapa hatinya justru berlabuh pada sosok pria yang sangat sulit untuk digapai, mengapa harus Aksa, Pria dengan segala kesempurnaannya, Raina menertawakan dirinya sendiri, yang terlalu jauh berangan-angan.


.......... Bersambung ..........


Hai semua... aku Up lagi... yuk mulai seru babnya nih jangan lupa kepoin spoilernya di soamed ku ya...


FB : Fayna Rahma


Tik-tok : @fayna_rahma

__ADS_1


IG : zantica1992


__ADS_2