
Operasi berjalan dengan lancar, meskipun sebelumnya sempat terkendala oleh stok darah yang menipis, tetapi ternyata golongan darah Raina dan Dimitry memiliki kesamaan dan kecocokan, keduanya sama-sama memiliki golongan darah AB.
Ucapan syukur tak henti-hentinya di rapalkan Aksa dan Cheyra, Cheyra yang telah mengetahui melalui cerita Arick tentang pertemuan dan penyelamatan yang dilakukan Raina, membuat Cheyra begitu terenyuh dan semakin kagum terhadap gadis yang hingga saat ini masih berada di tempat teristimewa di hati Aksa.
Dimitry menunggui Raina dengan cemas, meskipun kondisinya juga sedang lemah karena baru saja mendonorkan darah yang cukup banyak. Dia memaksa perawat untuk mengambil sejumlah darah yang diperlukan Raina. Meskipun pada akhirnya kondisinya melemah, tetapi itu bukanlah hal yang besar bagi Dimitry. Dia menginginkan keselamatan Raina diatas segalanya saat ini.
Arick yang juga meminta pada kedua orang tuanya untuk dirawat didepan kamar Rawat inap Raina, dia ingin sewaktu-waktu saat Raina tersadar dia berada di sana. Arick tidak ingin melewatkan waktu saat Raina tersadar pasca operasinya.
Dokter berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang di lengan sebelah kiri Raina, kondisinya saat ini sudah mulai stabil meskipun dia belum bisa dikatakan sudah melalui masa kritisnya, pasalnya kondisinya saat ini masih sangat rentan dan mendapatkan pengawasan dokter selama dua puluh empat jam.
"Mom, bisakah kau mericharge ponsel ini." Ujar Arick dengan tangan mengulurkan ponsel berwarna putih itu.
Cheyra merasa bingung, pasalnya Arick tidak membawa ponsel saat peristiwa sebelum penculikan, lagi pula itu bukan ponsel seri terbaru yang dimiliki Arick.
"Ini, ponsel siapa sayang?"
" Itu ponsel yang milik kak Raina, yang telah menyelamatkan kami berdua." Jawab Arick sembari mata kecilnya menerawang kejadian buruk itu. Dia berusaha mencari sinyal ponsel meskipun harus memanjat.
"Y-ya, berikan pada mommy." Tanpa mengulur waktu Cheyra segera mericharge ponsel Raina.
......
"Bagaimana? apakah menurut mu gangster kelas gangnam mampu melakukan ini sendirian Max?" Tanya Allard yang saat ini sedang membahas masalah penculikan Arick, bersama dengan Maxime, Alle dan juga Aksa.
Meskipun sebenarnya dia ingin mengajak Dimitry, tetapi Dimitry menolak karena dia harus memastikan Raina dalam keadaan baik-baik saja.
"Menurut ku pasti ada kelompok lain yang membantunya."
"Aku memang sedikit lengah karena menyerahkan Arick bersama mommy tanpa pengawalan yang ketat," Jawab Alle. "Aku kira kelompok lain tidak akan melakukan tindakan sejauh ini Dad," Ujar Alle dengan raut tidak percaya jika sang putra mengalami penculikan.
"Kau terlalu teledor Son." Balas Maxime menatap tajam kearah Alle. "Sudah ku katakan jangan terlalu santai, harusnya kau sadar siapa kami berdua dan juga diri mu di dunia hitam. Meskipun kalian berdua sudah mengatakan keluar, tapi lihat lah kenyataannya sekarang, Arick menjadi korban. Aku tidak mau tau, jangan sampai kejadian seperti ini terulang kembali. Pasang tameng kemana dan dimana pun lagi mulai sekarang." Tutur Maxime ketus.
__ADS_1
Alle hanya mengangguk patuh disertai kedua tangannya yang mengepal kuat, tanda dia sudah sangat emosi saat ini. Awalnya dia meremehkan pengawalan yang di anjurkan sang daddy, tapi kali ini dia menyesalinya.
"Aku kira ini ada hubungannya dengan mafia vietnam yang kembali tumbuh saat ini dad." Celetukan Aksa membuat ketiga orang itu melotot tajam menatap kearahnya.
"Mafia Vietnam? kau yakin? Tapi kenapa Alejandro tidak mengatakan apa pun pada ku sebelumnya?" Cecar Allard menggebu pada Aksa.
"Aku mengikuti perkembangannya secara tidak sengaja, saat berkunjung ke negara itu, aku mendengar dan bahkan salah datu proyek ku harus berurusan dengannya, karena anak buah ku tidak memberi tempat dan kucuran dana sedikit pun pada kelompok itu." Jawab Aksa santai.
Rupanya diam-diam Aksa juga mengerti tentang dunia hitam, bahkan ketiga senior yang berada di depannya saat ini tidak mengetahui hal itu.
"Bukankah mereka hanya sekelompok kecil saja?" Alle merasa penasaran ikut bertanya pada Aksa. "Ku kira mereka masih hanya sebuah genk."
"Awalnya memang mereka kecil, tetapi karena kemenangannya saat di thailand membuat mereka besar kepala, dan apa pun yang bisa menguntungkannya dia akan merampasnya bagaimana pun caranya." Tutur Aksa panjang lebar.
"Jadi benar saat tuan Alexander mengatakan ada peperangan antar mafia di Vietnam dan Thailand? mungkin aku terlalu menganggapnya remeh." Sahut Alle dengan antusias.
"Ya, dia memang mengerti dan mengikuti perkembangan gank dan mafia di seluruh Dunia." Sahut Maxime dengan anggukan kepala mantap.
Sementara Aksa hanya mengangkat kedua bahunya cuek, dia bingung akan bersikap seperti apa pada Raina. Melihat perubahan Raina saat ini sudah cukup membuatnya terkejut.
"Gadis itu tumbuh menjadi gadis yang kuat, sesuai prediksi ku." Ujar Alle dengan mata menerawang ke depan.
"Gadis itu? maksud mu apa son?" Tanya Maxime sedikit bingung, karena dia tidak mengerti cerita tentang Raina sedari awal.
"Sepertinya dia gadis yang ku selamatkan delapan belas tahun yang lalu dad."
"What? kau serius? dia anak dari Alexander Avram?" Jawab Maxime antusias.
"Itu masih dugaan ku, kita lihat saja kebenarannya seperti apa. Dimitry masih berusaha mencari buktinya."
Aksa sedikit terperangah, dia sama sekali tidak menyangka, jika ternyata Raina merupakan adik dari Dimitry.
__ADS_1
........
"Dad, datanglah ke Korsel sekarang juga." Dimitry meminta Alexander untuk datang ke Korsel, dia tidak ingin mendiskusikannya via telepon.
"Ada apa? mengapa mendadak son?"
"Datanglah dad, aku tidak ingin membicarakan tentang Riana, lewat telepon." Jawab Dimitry seraya menghembuskan nafas lelahnya.
"Apa perlu mommy mu, ku ajak juga?"
"Bawalah serta mommy, biar dia memastikannya sendiri."
"Baiklah, kau dimana sekarang?"
"Rumah sakit dad."
"Rumah sakit? mengapa?"
"Gadis itu baru saja melalui masa kritisnya, bahkan menurut dokter dia masih berada di ambang itu. Cepat lah kemari."
"What? bagaimana bisa? oke baiklah daddy akan mengajak serta mommy mu sekarang juga."
Tutttttt... tuttttt....
Telepon terputus dan Dimitry segera membaringkan dirinya, dia meminta ranjang untuk ditaruh dikamar rawat Raina, untuk selalu bisa memantau perkembangan gadis berkulit pucat ini. Tubuhnya terlihat lebih kurus dari pada saat dia menemuinya satu tahun lalu. Penampilannya juga berubah, sekarang dia memakai penutup kepala, membuat Dimitry kesusahan saat mencarinya di Semarang beberapa bulan terakhir ini.
"Mengapa kau merubah penampilan mu Rain, apakah cinta membuat mu sesakit itu, hingga mampu membuat penampilan mu berubah?" Tanya Dimitry pada Raina yang sedang terbaring dengan masih banyaknya selang yang berada ditubuhnya.
"Aku berjanji, setelah ini tidak akan lagi mengabaikan mu, apa pun hasilnya nanti aku akan tetap menganggap mu adik ku Rain, kau harus terima itu." Dimitry beranjak dan menekan tombol darurat saat botol infus yang mengalir ke tubuh Raina nyaris kosong.
....... Bersambung .......
__ADS_1
Hay,,,, maaf ya belum sempat bles komenan, yg penti g Up dulu, tpi ttp ku baca kok tenang aja, makasih buat kalian yg udah ngedukung melalui vote, like n komen sayang kalian banyak-banyak... 😘😘😘😘