Rasa Yang Tak Usai

Rasa Yang Tak Usai
Tragedi Secret Hotel


__ADS_3

Tepat jam enam pagi, Raina dan Lita sampai di bandara Ahmad Yani Semarang, dia melakukan check in terlebih dahulu, meskipun penerbangannya masih empat puluh menit lagi, Raina terlihat sibuk mengabari cliennya, karena beberapa gaun pesanan sudah siap digunakan untuk acara tertentu dan beberapa orang juga akan melakukan fitting gaun pengantinnya.


Raina mantap meninggalkan galery miliknya karena dia memiliki lima karyawan yang akan selalu siap untuk me makeover setiap client yang datang, dia juga menambah sepuluh orang pegawai tetap sebelum dia berangkat hari ini.


"Lit, keburu nggak ya?"


"Insyaallah mba, berdoa aja, mudah-mudahan kita belum terlambat, meskipun jadwalnya sangat mepet."


Raina mencari penerbangan yang paling pagi, tetapi dia tetap harus transit di bandara Soetta terlebih dahulu, sampai di Korsel keduanya juga langsung harus siap bekerja, karena waktunya sangat sedikit.


Gadis dengan pasmina yang diikat kebelakang leher, memakai celana jins hitam yang dipadukan dengan kemeja putih dan dibalut dengan long cardi sebetis warna plum serta sepatu sneakers putih itu terlihat mondar mandir, ini pengalaman pertamanya bekerja dengan seseorang yang sangat berpengaruh di Korea membuatnya sedikit gelisah.


"Ini mba, minum dulu," Ujar Lita yang terlihat ikut tidak tenang ketika melihat Raina demikian. Dia menyodorkan air mineral botol pada Raina, sementara itu, Raina menerimanya dengan senyum mengembang, lagi-lagi Lita berusaha menenangkannya ketika dia sedikit gugup.


"Makasih ya Lit." Raina duduk, dia membuka segel botol dan segera meneguk air mineral itu yang langsung tandas nyaris seperempat.


.............


"Kau yakin dia berada pada penerbangan berikutnya?" Tanya Dimitry pada sang asisten.


"Ya tuan, saya sudah mengkonfirmasi nama dan penerbangannya pada orang suruhan kita di bandara."


"Good, aku suka cara kerja mu Luke."


Dimitry sedang berada di ruang tunggu bandara Soetta, dia terbang satu jam lebih pagi dari pada Raina, menggunakan pesawat jet miliknya, dia sengaja berangkat lebih dulu, agar bisa menemui Raina di Seoul.


"Kau bawa semua data yang kita punya kan luke?"


"Ya tuan, termasuk sampel dari kedua orang tua dan milik anda sendiri, jika tuan menginginkan tes DNA secepat mungkin."


"Bagus, tapi aku tidak ingin terburu-buru dan membuatnya terlalu terkejut, kita ikuti saja alurnya, perlahan tapi pasti nanti semuanya akan terjawab."


........

__ADS_1


Cheyra tampak berjalan mondar mandir sembari menggigit kukunya yang baru kemarin dia manjakan di salon kecantikan. Meskipun nyatanya dia mampu menyewa bahkan memiliki terapis dari salon kecantikan yang sering dia kunjungi, tetapi Cheyra lebih suka berkunjung sembari mendengarkan berita yang berkembang di luar.


"Sayang, aku harus apa?" Ucapnya gugup.


"Hey, woa woa, tenang sayang, bukan kau yang sedang menanti kekasih mu datang, jadi kenapa kau yang terlihat tidak sabar dan gugup?" Alle sengaja menggoda Cheyra supaya busa mencairkan sedikit suasana yang aneh ini.


"Kau tau kita semua menantikan kedatangannya untuk suatu hal penting, bagaimana bisa aku tenang."


"Bersikaplah seperti biasanya, aku yang akan bekerja untuk Aksa dan Alexander, kau cukup lihat saja nanti."


"Apa dia tidak akan takut saat melihat mu nanti?"


"Takut? why? aku bukan manusia pemakan sesama."


"Maksud ku, sadari status mu, bisa saja dia mengenali wajah mu."


"Saat itu usianya bahkan belum genap dua tahun sayang, jadi aku yakin dia sama sekali tidak akan mengingat ku."


Keduanya masih saja berdebat, Cheyra yang sangat antusias karena ternyata pengusaha berlian itu memboking hotel untuk menginap Raina di secret hotel. Cheyra belum memberitahukan hal ini pada Aksa. Dia khawatir Aksa tidak bisa menahan diri dan melakukan tindakan bodoh.


Raina menginjakkan kakinya di bandar udara Incheon, dia menghirup udara dingin kota Seoul yang memang saat ini sedang bersalju, dan menghirup dalam-dalam oksigen yang membuatnya sedikit sesak karena udara dingin itu menyeruak masuk melalui hidungnya yang saat ini terlihat memerah.


Dia berputar, tidak menyangka bisa kembali berada disini untuk yang ketiga kalinya, rasa senang, bangga, haru dan sedih membaur menjadi satu saat ini. Matanya terlihat berkaca-kaca. Dia memasuki mobil yang telah dipesankan. Berjalan menuju secret hotel dengan dikendarai oleh driver khusus.


"Apa kabar mas? ku harap kau baik-baik saja, aku rindu sampai rasanya sangat sesak, tapi aku tidak bisa melakukan apa pun, meskipun saat ini kita sangat dekat." Ucap Raina dalam hati, sembari menitikkan bulir bening dalam kedipan matanya.


Hatinya terasa perih saat melewati jalan yang pernah dia lewati bersama Aksa, batinnya sungguh sangat tersiksa saat ini. Andaikan Aksa belum memiliki ikatan, ingin rasanya dia berlari menemui Aksa, memeluk pria itu dengan mencurahkan rindu yang telah menggunung.


Tapi lagi-lagi Raina hanya bisa tersenyum kecut, dia ingat seberapa berartinya Aksa untuk mommynya yang sangat menyayanginya, dan Raina tidak bisa mengabaikan itu.


Raina memotret tangan kirinya yang memakai cincin pemberian Aksa, dia menaruh tangannya di kaca jendela mobil dengan latar belakang jalanan korea yang bersalju. Dia kemudian mempostingnya dalam status WA pribadinya dengan caption.


"Aku merindukan tempat dan momen ini, seperti satu tahun yang lalu"

__ADS_1


Raina kemudian memilih istirahat, terus melihat ke jalan, akan semakin membuat perasaannya tersiksa karena rindu, membuat Raina memilih duduk bersandar dan memejamkan matanya yang lelah, istirahat beberapa menit akan membuatnya sedikit lebih baik saat bekerja nanti.


........


"Mas, aku akan menyusulkan Arick ke secret hotel, Cheyra sudah terlalu lama meninggalkan anaknya," Ucap Ica seraya berkemas, tetapi anak berusia tujuh enam tahun itu terlihat cuek dengan tatapan mata tajam, sepertinya dia mewarisi sikap keren keluarga Del Cano.


"Sayang, ayo kita susul mommy mu, sudah seharian, bahkan dia lupa menelpon mu." Ica memang sedikit bawel jika menyangkut dua cucu tercintanya, meskipun dia sangat senang karena dititipi cucunya tetapi Cheyra tidak boleh terlalu lama bekerja dan mengabaikan anaknya, itulah tujuan sebenarnya Ica.


Ica turun melalui pintu samping dan berjalan menggandeng Arick, tetapi tanpa sengaja dia menabrak seorang wanita yang membuat cluth Ica terjatuh.


"Maaf, maafkan saya nyonya." Ujar sang wanita yang memakai pakaian serba tertutul meskipun tidak berhijab itu.


"Ya, lain kali berhati-hatilah." Jawab Ica ramah meskipun dia sudah ditabrak oleh wanita itu.


Sementara dari kejauhan tiga orang oria dengan tubuh tinggi besar dan berotot tampak sedang mengawasinya, salah satu pria bahkan terlihat menggunakan teropong untuk melihat lebih jelas lagi.


"Sepertinya memang itu target kita."


"Kau yakin?"


"Sangat."


"Ambil anak laki-lakinya, secepat mungkin. Abaikan perempuan paruh baya itu."


"Baik tuan, sesuai perintah." Jawab laki-laki yang sedang berjalan menuju kearah Ica dengan membawa beberapa papper bag ditangannya.


"Kau, alihkan perhatian wanita itu selly."


"Baik tuan."


"Akh........ "


......... Bersambung ..........

__ADS_1


Hayo siapa coba yang punya niat buruk ini....


Cuz jawab di komen... makasih buat semua pembaca setia ku β˜Ίβ˜ΊπŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜


__ADS_2