Rasa Yang Tak Usai

Rasa Yang Tak Usai
Raina Terbangun


__ADS_3

Netra dengan bulu mata tebal itu perlahan-lahan membuka, dan berdiam sebentar kemudian kembali memejamkan mata cantiknya, beberapa saat kemudian terbuka kembali dengan pandangan yang sudah semakin siap menerima pencahayaan lampu.


Perlahan tapi pasti Raina benar-benat terbangun dari tidur panjangnya yang nyaris dua hari tidak sadarkan diri. Awalnya dia terlihat bingung, apa lagi di sana hanya ada Alexander Avram dan seorang wanita yang belum dia kenal sebelumnya.


Kemudian Dimitry mendekat dan tersenyum padanya dengan mata berbinar, Malam yang semakin dingin Dimitry menaikkan suhu pemanas dalam ruang rawat Raina.


"Di mana ini?" Tanya Raina pada Dimitry, dia masih bingung, kemudian sesaat dia memejamkan matanya kembali dan mengingat peristiwa terakhir kali saat sebelum dia benar-benar tak sadarkan diri.


Dia hanya mampu mengingat saat itu Arick sedang berusaha memanggil bantuan, hanya sampai disitu yang mampu dia ingat dalam kepalanya. Karena kondisinya saat itu sudah benar-benar memburuk.


"Di rumah sakit Rain." Jawab Dimitry seraya duduk di kursi yang baru saja dia ambil.


"Rumah sakit?" Tanya Raina kembali, tetapi kemudian dia tersadar karena melihat tangan kanannya tertancap infus serta tangan kirinya yang berdenyut nyeri, karena bius pasca operasi sudah hilang.


"Akh...... " Raina memekik tertahan saat dia mencoba untuk bangun dengan menggerakkan tangan kirinya, seketika kedua bola matanya membola saat melihat lengan kirinya yang terbalut perban.


"Hey,,,,, tenanglah, kau ingin apa?" Ujar Dimitry panik sementara kedua orang tuanya hanya melihat interaksi keduanya dengan penuh rasa haru dan mata berkaca-kaca.


"A-aku haus," Ujar Raina sembari menatap wanita paruh baya yang sejak tadi terus melihatnya tanpa henti.


"Ini, minumlah perlahan." Tukas Dimitry seraya menyuapkan minuman mineral dalam botol yang telah dia buka kemasannya sebelumnya.


"Terimakasih t-tuan... "

__ADS_1


"No, just Dimitry... "


Raina hanya mengangguk pelan menjawab ucapan Dimitry.


"Mereka?" Tanya Raina ragu-ragu sembari melihat kearah kedua orang tua Dimitry dengan pandangan bingung.


"Perkenalkan, mereka adalah kedua orang tua ku." Jawab Dimitry dengan mata menatap lekat kearah Raina.


"Ah,.... ya, senang berjumpa dengan anda tuan, nyonya. Saya Raina." Ujar Raina dengan menganggukkan kepalanya perlahan.


"Saya Alexander Dimitry dan ini istri saya."


"Ananta Atmaja." Sahut Ana dengan mata berkaca-kaca. Dan saat itu Raina hanya bisa terdiam bingung mau menanggapi seperti apa, karena dia tidak mengenal dekat sosok Dimitry.


"Mereka sedang ada perjalanan bisnis kebetulan sedang ingin menjenguk cucu rekan bisnisnya yang baru saja terkena musibah." Dimitry sengaja menjawab seperti itu agar tidak menimbulkan kecurigaan Raina.


"Cucu? siapa?" Tanya Raina penasaran.


"Anak laki-laki yang telah kau selamatkan itu, merupakan cucu dari tuan Dennison Allarick Lee."


Raina tak langsung menjawab, dia terlihat terkejut dengan membuka matanya lebar, seraya menggeleng tak percaya. Jika yang dia selamatkan adalah keponakan Aksa.


"Di-dia merupakan Cucu tuan Allard? berarti anak dari kakak perempuan tuan Aksa bukan?"

__ADS_1


"Ya, kau benar Rain, dia keponakan dari mantan kekasih mu." Ujar Dimitry sengaja seolah ingin memberikan informasi pada kedua orangtuanya.


Sontak kedua orang tua Dimitry menatap kearah Raina dan Dimitry seraya bergantian. Sementara Raina hanya bisa tersipu dan kedua pipinya tampak memerah, tetapi kemudian dia tersadar jika itu sudah berlalu dan membuat kedua bola matanya meredup. Hal itu tidak luput dari perhatian Avram dan Ana.


.........


Rombongan dokter dan perawat segera berbondong-bondong menuju kearah ruang rawat Raina, dan hal itu membuat semua orang yang berada di ruang rawat Arick seketika dilanda penasaran.


Alle, Aksa, Allard dan Ica mendekat dan mencari tahu ternyata Raina sudah tersadar. Arick yang mendengar jika Raina sudah sadar seketika itu juga segera ingin diantarkan menuju ruang rawat Raina. Dia ingin melihat kondisi Raina, karena dia merasa berhutang nyawa pada Raina.


Dokter Harry dan beberapa perawat segera memeriksa kondisi Raina, saat dirasa semua sudah membaik dan hanya memerlukan perawatan untuk lukanya membuat semua orang yang berada di sana seketika itu juga merasa sangat bersyukur.


"Kak, kau sudah sadar? Oh syukurlah... " Ucap Arick antusias dan saat itu juga Raina menoleh ke arah sumber suara, bibirnya mengukir senyum pada Arick.


"Kau baik-baik saja Arick?"


"Of course. Bahkan aku jauh lebih kuat dari mu. Aku mampu bertahan hingga akhir." Jawab Arick sembari bergurau, membuat semua orang yang berada di sana menjadi tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Hahaha... oke aku mengaku kalah pada mu. Kau puas???" Jawaban Raina juga mampu membuat suasana menjadi cair saat itu.


...... Bersambung ......


Hay.... maaf ya dikit lambung ku agak enggak enak ini... bsok2 up seperti biasa lg.. mksih... 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2