
Raina Berjalan terpincang-pincang, sungguh hatinya terasa sangat sakit, dia yang menyudahi hubungan ini, tetapi kenapa dia merasakan sakit yang hebat. Dadanya terasa nyeri, air matanya tumpah, membasahi dres selutut berwarna peach. Dia berjalan tak tentu arah karena perasaannya kacau.
Panggilan Aksa tak lagi dia dengar, dia hanya ingin semuanya usai sampai disini, perasaan ini miliknya, tetapi kenapa dia tidak bisa mengendalikannya sama sekali. Aksa bukanlah orang yang pantas untuknya, perbedaan itu terlalu jauh.
"Mom, dad setidaknya izinkan aku yang menyudahinya, aku merasa jadi pengecut mom, aku yang memintanya bertahan, tapi aku yang terus menerus menyakiti perasaannya, tidak bisakah kalian memberikan waktu untuknya hem? bahkan dia tidak bisa berjalan dengan benar saat ini. Aku merasa menjadi pria yang kejam untuk gadis lugu sepertinya mom."
Aksa tak lagi bisa meneruskan ucapannya dadanya terasa sakit, rasa sesak semakin membuatnya lelah.
Sementara Ica dan Allard hanya bisa duduk terdiam, dia tidak menyangka jika gadis yang dicintai putranya merupakan gadis baik-baik dan jauh dari yang dia bayangkan selama ini. Hatinya ikut terasa nyeri saat melihat keputusasaan dalam kalimat terakhir Raina, ditambah lagi kalimat yang Aksa ucapkan.
"Maafkan mommy sayang, dia bukan gadis yang tepat untuk mu, bukankan kau juga sudah melakukan shalat istikharoh? dan jawabannya merupakan gadis berhijab kan? sama seperti jawaban dalam mimpi mommy."
Ica berdiri dia berjalan mendekat kearah Aksa, dan memeluk erat sang putra yang terlihat putus asa. Dia tahu putranya tidak mengejar kekasihnya karena mungkin memang gadis dalam mimpinya merupakan gadis yang menggunakan hijab.
"Mommy hanya tidak ingin kalian membuang waktu dan saling menyakiti pada akhirnya, jika kalian harus berpisah nanti, kau mengerti maksud mommy kan sayang?"
Aksa hanya terdiam sembari terus mengeratkan pelukannya pada sang ibu. "Kenapa terasa sangat sakit mom, bagaimana dengan dia?"
"Kelihatannya dia gadis yang kuat son, dia pasti bisa melewati semua ini. terbukti dia masih bisa bertahan meskipun hanya berjuang seorang diri sejak kecil." Allard menyahut ucapan Aksa, dia juga merasa begitu bersalah, tapi jalan ini harus dia tempuh.
"Segera persiapkan diri mu untuk acara nanti malam son."
"Bahkan aku tidak mengucapkan kata perpisahan yang baik padanya dad, aku ingin melihatnya, aku ingin memeluknya saat ini, dia pasti sangat terluka."
"Sayang sudahlah, karena jalannya memang harus seperti ini. kuatkan hati mu hem?"
.........
__ADS_1
Raina masih tertatih, dia berusaha mencari jalan menuju kamar hotelnya tetapi karena pikiran dan hatinya kacau sampai saat ini dia belum bisa menemukan letak kamarnya, hingga kakinya terasa nyeri dan membengkak karena terlalu lama berjalan.
Raina tak lagi bisa menahan nyeri di kakinya, dia meluruh kelantai, disertai air matanya yang juga jatuh, saat ini dia terlihat sangat menyedihkan, patah hati dengan kondisi yang sangat mengenaskan, dia menepuk dadanya kuat, berusaha menghalau rasa sesak yang terasa menghimpit.
Hingga tanpa terasa sepasang tangan kokoh meraihnya, dan menggendongnya ala bridal style tanpa kata, pria itu membawanya dalam kamarnya, sementara Raina hanya bisa terdiam sembari menikmati rasa nyeri yang semakin menusuk.
"Kenapa jalan begitu jauh, kaki mu belum pulih sepenuhnya. Ini malah tambah membengkak."
Dimitry menidurkan Raina, dia mengambil obat pereda nyeri dan air mineral menyuruh Raina meminumnya, dan Raina hanya bisa menurut tanpa melakukan penolakan. Dia sudah terlalu lelah untuk segedar berbicara.
"Apa terlalu sakit, sampai kau terus menangis?"
Tanya Dimitry penuh perhatian.
"Yang terluka kaki ku, tapi mengapa disini yang terasa nyeri dan sesak." Jawab Raina sembari memukuli dadanya, rasa sesak dan nyeri membuatnya kesulitan bernafas.
Raina hanya terdiam dan semakin kencang terisak, elusan pada kepala dan punggungnya membuatnya terasa sangat nyaman. Hingga dia menumpahkan semua rasa sakitnya dengan menangis keras dalam pelukan Dimitry.
"Maaf, a-aku... " Raina tak dapat menyelesaikan ucapannya karena dia masih terisak lirih.
"It's oke, menangislah itu akan membuat mu merasa lebih baik Raina."
Jawab Dimitry penuh pengertian.
..........
Dua jam Raina menyudahi semua rasa sakitnya. Dia harus fokus karena ini saatnya dia bekerja, dia harus bisa menjadi orang yang profesional dalam keadaan apa pun. dia hanya berharap mood buruknya tidak mempengaruhi hasil pekerjaannya kali ini.
__ADS_1
"Sudah siap Rain? aduh kaki mu kenapa bisa terluka sih ceroboh banget deh."
Ucapan seniornya membuat Raina tersenyum dia sudah terbiasa mendengar ceramah dari seniornya ini.
"Tapi bisakan jalan?"
"Bisa mba tenang aja. Semua peralatan tempur ku juga udah dibawa asisten mu tadi."
"Bagus deh ayuk udah hampir mahrib ini dua jam lagi acara inti dimulai. Ini bisa jadi batu loncatan untuk mu kalau hasilnya bagus Rain."
"Emangnya siapa sih mba yang mau ku rias?"
"Ada deh pokoknya ayuk ikut, kamu pasti bakalan terkejut kalau tahu dia siapa."
Raina dan seniornya berjalan memasuki kamar hotel president suite dia berjalan mengikuti langkah seniornya dengan tertatih, dia membawa obatnya hingga nyeri tak lagi terasa menggigit.
"Sore mba Alina, ini nih MUA yang anda inginkan sidah disini. Rain ini kenalin mba Alina dia idola kamu kan? aku sengaja ngasih job dan surprise buat kamu, harus terimakasih sama aku loh kamu."
Deg....
"Alina, Alina Parveen?"
........... Bersambung ..........
Hayo loh yang dirias Alina nih... Tambah mewek g tuhh... ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
komen banyakin donk... cuma baca buat author jadi terasa ngenes.. 😓😓😓
__ADS_1