Rasa Yang Tak Usai

Rasa Yang Tak Usai
Campur Tangan Cheyra


__ADS_3

Pagi hari di kota Moscow, ini merupakan hal baru pertama kali bagi Raina menjalani rutinitasnya yang jauh dari kata sibuk, biasanya dia akan bangun nyaris dini hari untuk mulai pekerjaannya, tetapi kali ini dia bisa sedikit lebih santai dari biasanya.


Semalam Raina belum bisa tidur dengan nyenyak, pikirannya penuh, membuatnya hanya tidur dalam waktu tiga jam saja, sebelum subuh dia sudah terbangun, Raina pergi kekamar mandi, dia memilih melakukan sholat sunnah dan berzikir sejenak untuk membuang rasa gundah yang sejak tadi malam bersarang dihati dan pikirannya.


Setelah sholat subuh, Raina membuka tablet pintarnya mencoba menyelesaikan sketsa gaun yang dia buat melalui aplikasi pintar, tetapi pikirannya terus saja penuh, membuatnya memilih menutup aplikasi itu dan mencoba keluar kamar.


Sedikit bingung awalnya tetapi akhirnya Raina memilih menuruni lantai demi lantai menggunakan tangga, meskipun di mansion orang tuanya tersedia lift. Tetapi Raina ingin menjelajah mansion besar tersebut.


Sampai dilantai dua pandangan matanya tertuju pada taman samping yang dipenuhi berbagai macam dan jenis bunga dan tanaman hias. 'Ah, rupanya kesukaannya terhadap bunga dan tanaman diturunkan dari orang tuanya.' Batin Raina sembari tersenyum kecil.


Raina turun ke lantai satu meskipun matahari baru saja akan menampakkan diri. Tetapi semua sudah terlihat terang, Raina berkeliling melihat taman yang dipenuhi berbagai jenis dan macam bunga, serta terdapat kolam ikan hias yang memanjang mengelilingi taman dan ditengahnya terdapat jembatan kecil yang membelah kolam ikan itu.


Gemericik air membuatnya betah berada di taman, Raina duduk disalah satu kursi yang terbuat dari kayu, menikmati pemandangan dan bau segar embun pagi yang khas. Mencoba mengalihkan gundah dalam dirinya.


Bukan tanpa sebab, karena setelah pertemuannya dengan aksa tadi malam, hatinya terus bergejolak. Apakah nantinya dia mampu benar-benar membiarkan Aksa menikahi Alina, apakah hatinya akan sekuat itu.


Ditengah lamunannya dia dikejutkan dengan kehadiran sang mommy yang pagi ini sedikit cemas karena saat Ana terbangun setelah bersiap dia pergi ke kamar Raina, tetapi sama sekali tidak menemukan keberadaan putrinya, membuatnya seketika panik dan mencarinya kesana kemari.


Samapi akhirnya dia melihat sang putri yang sedang menikmati suasana pagi di taman buatannya, dia merasa lega dan segera menghampiri sang putri dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Sayang... apa yang kau pikirkan, pagi-pagi sudah melamun." Tegurnya dengan mencium kedua pipi Raina kemudian duduk sejajar dengannya.


Raina tersenyum, menyambut kedatangan sang ibu dengan ciuman di kedua pipinya, Ibu yang selama ini selalu dia rindukan. "No mom, aku hanya menikmati udara sejuk pagi hari."


"Benarkah? hanya itu?" Telisik Ana tidak percaya dengan jawaban sang putri, pasalnya sebelum dia benar-benar menghampirinya, Ana sempat memanggil Raina beberapa kali, tetapi Raina masih sibuk dengan pikirannya.


"Ya... tentu saja. " Jawab Raina dengan senyum mengembang. Dia menatap dalam netra ibunya dengan tatapan rindu yang sampai saat ini belum mampu hilang di hatinya.

__ADS_1


"Mommy selalu memimpikan mu selama dua tahun ini sayang, di dalam mimpi mommy, kau terlihat sendiri, dengan kesedihan yang mendalam, mommy tahu ini sangat cepat untuk kita berbagi kisah, mommy tidak akan memaksa mu untuk berbagi, hanya saja jika kau membutuhkan teman mengobrol, mommy siap kapan pun itu." Tutur Ana dengan mengusap lembut kepala Raina yang terbalut hijab instan.


Raina hanya mengangguk dengan senyum mengembang, kemudian dia masuk kedalam dekapan Ana, tanpa sepatah kata pun, tetapi saat itu Raina hanya ingin benar-benar merasa tenang dan damai. Berada dalam pelukan ibunya, tanpa ia sadari air matanya meleleh hingga isakan kecil terdengar.


"it's oke sweetie, mommy here, menangislah sepuas yang kau mau, lepaskan semua beban mu selama ini, it's oke, semuanya akan baik-baik saja."


Bukannya berhenti, tangisan Raina justru semakin keras terdengar, membuat Ana tak kuasa menahan ketegarannya dan berakhir mereka menangis bersama.


Tanpa keduanya sadari, Avram dan Dimitry melihat semuanya, keduanya hanya bisa terdiam, tetapi mereka saling tahu jika pagi ini telah berbeda dengan pagi yang selama delapan belas tahun mereka impikan.


"Mulai saat ini, kau harus benar-benar menjaganya Son, lupakan dulu semua wanita yang kencani, fokus jaga adik mu, perasaan daddy sedikit kurang baik setelah kita mengumumkan kembalinya Riana." Ujar Avram sembari menepuk pelan bahu sang putra.


"I now dad, tapi entah mengapa perasaan ku menjadi senang, meskipun itu artinya hari-hari ku akan lebih sulit." Jawab Dimitry dengan senyuman dan dia terkekeh saat menyadari jika dia harus disibukkan dengan keberadaan adik perempuannya. Itu artinya kebiasaan buruknya one night stand dengan para gadis cantik tidak bisa dia lakukan selama beberapa bulan ini.


Keduanya kemudian beranjak ke meja makan yang berada dilantai satu. Sementara Ana juga membimbing Raina untuk sarapan bersama untuk mengisi energinya kembali setelah dihabiskan dengan menangis pagi ini.


Meja oval besar dengan cat putih itu diatasnya terhidang berbagai macam menu makanan mulai dari seafood sampai berbagai macam daging. Terkecuali daging yang memang diharamkan.


Tadi malam Ana menghubungi Rose dan meminta untuk sarapan ini, diusahakan semua menggunakan perabot khusus Raina, dan dengan menu yang halal semua. Keempat orang yang baru mengalami peristiwa penting dalam hidupnya semalam itu saling berbincang hangat.


Berbeda dengan para maid wanita yang sedang asik bergunjing tentang keberadaan Raina, terlebih Raina menggunakan hijab, berbanding terbalik dengan kedua orang tuanya. Raina tampak beberapa kali tersenyum menyambut candaan Dimitry yang terkadang membuatnya ingin membalasnya.


Tetapi Raina sadar, ini adalah sarapan yang paling sempurna selama hidupnya yang nyaris dua puluh tahun. Raina menatap haru ketiga anggota keluarganya secara bergantian, membuat Dimitry menyipitkan mata, dia menyadari perubahan sikap Raina.


"Apa ada yang salah? atau ada yang tidak kau suka dengan menunya?, katakanlah Rain." Ujar Dimitry penuh perhatian.


"Jika kau meragukan kehalalan makanan ini, mommy sudah jamin semua yang berada dihadapan kita saat ini merupakan menu halal semua sayang. Jadi jangan khawatirkan apa pun, makanlah semua yang kau inginkan." Sahut Ana dengan senyum mengembang.

__ADS_1


"No, aku hanya merasa senang, aku selalu memimpikan hal ini, sarapan pagi penuh dengan kehangatan dan formasi yang lengkap." Tutur Raina disertai mata yang berkaca-kaca.


"Oh sayang... Mommy kira kau memikirkan hal lain." Jawab Ana khawatir.


"Terimakasih, karena mommy, daddy dan juga kakak, sudah mau menerima ku, menjadi bagian dalam keluarga ini." Ucap Raina dengan bergetar dan mata yang sudah basah.


Seketika Ana berdiri dan menghampiri Raina, merengkuhnya dalam pelukan hangat sang ibu, membuat Avram dan Dimitry juga menyeka sudut matanya yang basah atas ucapan Raina.


'


"No sweetie, daddy yang salah, daddy yang terlalu terlambat menemukan mu. Maafkan daddy." Sahut Avram sembari meraih jemari Raina dan menggenggamnya erat.


...........


"Mau sampai kapan kau mengabaikan keberadaan calon mertua mu son." Allard sedikit geram saat Aksa dengan sengaja mengabaikan keberadaan orang tua Alina yang sengaja datang ke Korsel, setelah Alina menceritakan semuanya pada Kedua orang tuanya.


Sebagai orang tua mereka meminta kejelasan atas sikap Aksa yang terkesan tarik ulur sejak sebelum pertunangan digelar satu tahun yang lalu. Semua kerabat dan keluarga besar Alina sudah terus mempertanyakan hari pernikahan Alina, tetapi sampai saat ini belum ada tanda-tanda Aksa yang ingin segera meresmikan hubungan keduanya dalam ikatan pernikahan.


"Katakan saja yang sebenarnya dek, kalau memang kau keberatan dengan pertunangan ini." Cheyra yang tiba-tiba muncul membuat Allard dan Aksa menoleh secara bersamaan.


"Kau gila Cie? Mau ditaruh di mana muka daddy mu ini kalau kita membatalkan pertunangan mereka." Sambar Allard geram dengan sikap Cheyra.


"Aku tidak pernah ikut campur dalam urusan ini sebelumnya dad, tapi sebagai ayah, apa daddy tidak merasa bersalah telah bersikap seenaknya pada Aksa? Lihatlah dad, apakah dia bahagia selama ini? Atau memang ini tujuan daddy, dengan terus memperluas bisnis daddy?" Sahut Cheyra dengan sedikit menggebu. Dia sudah tidak tahan lagi dengan sikap diktator Allard yang telah membuat Aksa tertekan.


"Alcie Cheyra Dannish....... " Bentakan Allard menggelegar memecah kesunyian mansion megah itu. Membuat semua yang mendengarnya berjingkat.


........ bersambung .........

__ADS_1


Selamat sore... aku Up sorean gpp kan... jangan lupa kasih semangt author yaa... aku pasti bca komen kalian kok... meskipun jarang di bles.. dan maaf beberapa komen kalian aku jadiin SW dan Konten di **... β˜Ίβ˜ΊπŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2