Rasa Yang Tak Usai

Rasa Yang Tak Usai
Rasa Sayang Zantica


__ADS_3

Raina menjelaskan apa yang terjadi padanya di hari saat dia tersesat, Lita beberapa kali berteriak histeris karena dia baru mendengar langsung jika ada penculikan anak, selama ini dia hanya mendengar di berita TV atau pun media sosial, tetapi kali ini dia mendengar langsung dari Raina. Bahkan Lita histeris saat Raina mengatakan lengan kirinya terkena tembakan oleh para penculik.


Lita tidak meninggalkan Raina barang sebentar pun, dia terus menjaga sang Bos yang lengan kirinya tengah terluka, dia berusaha melayani Raina dengan sebaik mungkin. Raina benar-benar merasa tidak enak pada Lita, jika biasanya dia mampu menyembunyikan rasa sakitnya seorang diri, karena kali ini lukanya terlihat membuatnya sama sekali tidak bisa menyembunyikan sakitnya.


Ana, Avram dan juga Dimitry meninggalkan rumah sakit saat malam hari dan datang lagi pada pagi harinya, tetapi terkadang mereka juga keluar untuk urusan bisnis, karena beberapa dari bisnisnya bekerjasama dengan milik Allard dan Aksa. Juga dengan calon suami Audy.


Lebih tepatnya keluarga Alexander memberikan kenyamanan pada Raina, karena dia merasa Raina sedikit tidak nyaman dengan keberadaan mereka. Rasa canggung juga menyertainya karena bagi Raina sosok Dimitry dan keluarganya hanyalah orang yang beberapa kali tidak sengaja ia temui baik di Seoul maupun di Indonesia.


Aksa tidak lagi pernah menampakkan diri dan mengunjungi Raina sejak perdebatannya dengan sang ayah, Raina menyangka jika Aksa telah benar-benar bisa melupakan dirinya, malam itu saat semua orang berkumpul setelah dia tersadar, Raina tidak benar-benar memperhatikan keberadaan Aksa, karena banyaknya orang dan juga dirinya yang masih bingung setelah pingsan selama dua hari.


"Mba, tuan Dimitry belum kesini lagi yaa."


"Kenapa, kau merindukan pria dingin itu Lit?" Jawab Raina sarkas, melihat betapa dia mengharapkan kedatangan Dimitry.


"Bukan merindukan orangnya mba, tapi biasanya dia membawa makanan Indonesia yang bisa dimakan, lidah ku belum terbiasa memakan makanan Korea, jadi ngerasa nggak kenyang." Jawab Lita sembari mengerucutkan bibirnya.


"Ku kira kau merindukan pria itu Lit."


"Eh mba, tapi dia emang ganteng sii,"


"Tuh kan baru juga aku bilang, kamu pasti kesengsem sama dia."


"Nggak berani lah mba, aku cukup sadar diri siapa aku, kalau nggak kerja sama mba Raina aja aku nggak bisa ke luar negri kan."

__ADS_1


Seketika air muka Raina berubah, karena nasibnya pun sama seperti dia, mau tidak mau apa pun alasannya, kedudukan dan kasta memanglah berperan penting dalam percintaan zaman sekarang.


"Kamu bener Lit, cari yang selevel sama kita aja, biar nggak terlalu menyakitkan saat kita putus karena perbedaan status." Tutur Raina dengan mata menerawang jauh, seolah dia menilik sudut hatinya yang masih saja terasa sakit karena perasaannya yang belum bisa move on.


.......


Pembicaraan keduanya nyatanya didengar oleh Ica yang saat itu ingin menjenguk Raina, entah mengapa hatinya justru terasa sakit mendengar ucapan Raina, apakah Raina menganggap jika kedudukan dan tahta adalah sumber utama dia tidak menyetujui hubungannya dengan sang putra.


Ica melihat kedalam ruangan melalui kaca dipintu, terlihat Lita berjalan ke kamar mandi, sementara Raina menarik nafas panjang sembari menyeka sudut matanya yang basah. Nyatanya perasaannya begitu dalam pada Aksa, entah sampai kapan dia bisa melupakan pria itu.


Raina menyentuh lengan kirinya, dan yang terasa berdenyut, rasa sakit itu memang kerap hadir jika dia belum meminum obatnya. Raina beranjak turun, kaki kecil dan putihnya terlihat menggapai lantai, saat telah menginjak lantai, dia meringis, karena kondisi kakinya yang mengalami beberapa luka gores.


Saat melakukan pelarian bersama Arick dia kehilangan alas kakinya, membuat telapak kakinya terluka karena akar dan ranting pohon yang tajam. Meskipun sakit, dia tetap melangkah menghampiri nakas dengan tertatih.


Ica masuk kedalam sembari mengucapkan salam, kemudian dia memapah Raina dan mengambilkan air putih dan jatah makanan dari rumah sakit. Tanpa banyak bicara Ica mulai menyuapi Raina, yang terlihat berkaca-kaca. Perasaan campur aduk itu membuatnya tak kuasa menahan air matanya.


Ica dengan telaten menyeka air mata itu, menaruh makanan dan meraih tubuh Raina kedalam pelukannya. Dia berusaha menguatkan Raina. Dia mengerti perasaan itu, karena dia juga pernah berada diposisi ini, tetapi bedanya ada kakek dan bi surti yang selalu ada ketika dia membutuhkannya, tidak seperti Raina yang memang hanya sebatangkara.


"Di makan lagi makanannya Rain?" Tanya Ica lembut. Sembari menatap sayang Raina.


"Sudah cukup tante, sudah kenyang." Meskipun hanya beberapa suap, Raina merasa kenyang, karena memang nafsu makannya belum pulih benar.


"Makanannya nggak cocok ya, nanti siang insyaallah tante bawain makanan Indonesia ya, biar pas dilidah."

__ADS_1


"Nggak papa tante, ini aja, Raina nggak mau ngerepotin tante. Terimakasih sudah menyuapi Raina." Ucapnya terbata.


"Nggak papa Rain, tante senang bisa akrab sama kamu, kalau tante boleh tahu, apa yang membuat mu merubah penampilan nak?"


Raina menatap ke jendela luar dia mengingat kembali apa yang telah dia alami dan membuatnya berubah. "Raina sudah lama pingin memakai hijab tante, tapi belum benar-benar mantap, satu tahun yang lalu Raina memantapkan diri mengenakannya, banyak hal yang sudah Raina lalui sampai saat ini, dan hanya Allah yang tidak pernah pergi saat Raina dalam keadaan apa pun. Dia selalu ada untuk Raina." Tutur gadis itu dengan mata berkaca-kaca, semua yang dia lalui memang berat, tetapi dia merasa selalu tidak pernah ditinggalkan oleh penciptanya.


Ica hanya bisa mengangguk dengan mata yang basah, gadis ini gadis baik dan berhati lembut, membuatnya secepat itu merasakan rasa sayang pada Raina. Saat itu dia mengerti, mengapa sang putra dengan mudah jatuh cinta pada gadis dihadapannya ini.


.......


"Dim, cepatlah selesaikan pekerjaan mu, lalu kita ke rumah sakit jika kau tak mengizinkan mommy kesana terlebih dahulu, mommy sudah terlalu lama meninggalkan Raina." Ananta tampak gelisah berjalan mondar mandir didepan sang putra yang sedang menyelesaikan pekerjaannya.


"Sabarlah mom, kita juga harus terlihat normal, karena sampai saat ini hubungan ku dengan Raina hanyalah sebagai orang yang hanya bertemu beberapa kali. Akan terlihat aneh jika kita terus berada disana."


"Maka suruh dokter itu mengeluarkan hasil tes DNA dengan cepat, mommy sudah sangat tidak sabar untuk terus memeluknya Dim."


"Oke, baiklah aku akan membicarakannya dengan tuan Allard untuk meminta pada dokter pribadinya, sekaligus pemilik rumah sakit itu."


"Good, ayo cepat kita juga harus membawakannya beberapa makanan dan buah, dia terlihat sangat kurus dan menyedihkan, pasti dia sudah sangat menderita selama ini." Ucap Ana dengan suara bergetar, dia tak kuasa menahan pilu jika mendengar cerita tentang Raina dari Dimitry.


...... Bersambung ......


Hai semua.... aku Up pagi nih... biar masih fresh mumpung kerjaan dah kelar semua 😁😁☺☺ jangan lupa vote, like n comen yaa... juga kasih bintang donk biar author semangat...

__ADS_1


makasihhhh β˜Ίβ˜ΊπŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜


__ADS_2