
Dokter menyarankan kepada Arick supaya kembali ke kamar rawatnya sendiri, karena dia juga butuh istirahat, meskipun Arick sebenarnya masih ingin berada di dekat Raina. Alle yang saat itu menyusul bersama Aksa, akhirnya memboyong Arick untuk segera masuk ke kamar rawatnya.
Ica terlihat berulang kali mengusap lembut kepala dan tangan Raina, dia ingin beranjak tapi hatinya seolah tertinggal di ruangan ini. Entah karena rasa bersalah atau apa, hingga membuat Ica ingin terus bersama Raina.
Meskipun akhirnya Ica juga pamit bersama dengan Cheyra yang terlihat terus menatap suaminya, karena sedari tadi Alle terus menatap kearah Raina. Hingga membuat Cheyra sedikit cemburu dibuatnya.
Sepeninggal keluarga Del Cano dan juga Dennison, Raina mengingat akan ponselnya yang tadi diberikan oleh Arick, ponsel yang sebelumnya kehabisan daya itu dihidupkan kembali oleh Raina. Tak lama baru hitungan lima menit Raina mengecek ponselnya karena banyaknya panggilan dan juga pesan yang masuk dalam ponselnya.
Raina membuka pesan yang entah sudah berapa ratus diponselnya. Dia melihat pesan yang dikirimkan Lita padanya, di sana Lita berulang kali mengirimkan pesan yang nyaris sama, yakni menanyakan keberadaan dirinya.
Tepat saat dia sedang membaca pesan dari Lita, ponselnya berdering, tertera nama Lita di sana. Raina menyiapkan tenaga dan suaranya untuk menjawab pertanyaan dari Lita.
"Assalamualaikum Lit,"
"Waalaikumsalam mba... oh Alhmdulillah ya Allah, mba dimana mba?" Suara Lita terdengar parau, dia berusaha menahan rasa harunya saat ini. Pencariannya selama dia hari selesai sudah dg mendengar suara Raina membuat Lita seketika merasakan rasa syukur yang teramat dalam.
"Aku di Seoul Lit, maaf sempat menghilang selama dua hari."
"Mba baik-baik aja kan? gimana bisa mba menghilang tanpa jejak? mba kemana kemarin sama siapa, kita semua nyariin mba sampai sekarang." Tanya Lita bertubi-tubi.
Raina menarik nafasnya panjang kemudian menjawab pertanyaan Lita. "Maaf Lit kemarin aku tersesat, ceritanya panjang, kamu kesini bisa Lit, bawain aku baju ganti dan sekalian kerudung ku ya. Nanti aku ceritain disini."
"I-iya mba, mba dimana share lock aja lokasinya ya mba."
"Oke Lit."
Raina tidak ingin mengatakan apa pun diponsel, dia ingin Lita datang terlebih dahulu, karena dia merasa kurang nyaman berada ditengah orang-orang yang dia anggap asing, seperti saat ini keluarga Alexander pun masih berada di ruang rawatnya, membuat pergerakannya menjadi tidak nyaman.
__ADS_1
Raina memilih berdiam diri tanpa banyak bicara, tubuhnya masih terlalu lelah dan lemah, juga karena dia merasakan lengan kirinya yang berdenyut membuatnya memilih untuk diam dan kembali memejamkan mata. Meskipun tatapan tiga orang yang berada di sana selalu mengawasinya.
.........
"Aksa daddy ingin bicara pada mu nak," Seru Ica dan benar saja saat dia datang menemui Allard, dia terlihat sudah menunggu dengan tidak sabar.
"Duduk!" Titah Allard, dan Aksa hanya duduk tanpa banyak bicara dia mempunyai firasat tidak baik saat orang tuanya memanggilnya kali ini.
"Apa pun yang terjadi pada gadis itu, tugas mu bukanlah menghawatirkannya son," Tukas Allard dengan tegas, membuat Aksa seketika menatap kedua netra daddy-nya.
"Apa maksud daddy?" Aksa yang tidak begitu faham dengan jalan pikiran daddynya, membuat dia berpikir keras.
"Gadis itu bukan lagi tanggungjawab mu, Berhenti untuk menemuinya secara diam-diam dibelakang mommy dan daddy." Ujar Allard keras, kali ini dia tidak lagi menggunakan kalimat yang lembut. Bahkan terkesan memerintah.
Aksa hanya terdiam sambil menatap kedua netra sang ayah, dengan pandangan seolah tidak setuju dengan apa yang dikatakan Allard.
"Ingat, status mu sudah bertunangan dengan Alina Parveen Aksa! Kau tak lagi bisa seenak hati mengunjungi mantan kekasih mu, dan memberikan harapan padanya."
"Aku tidak pernah memberikan harapan apa pun padanya dad, aku hanya menjenguknya, lagi pula tidak ada hubungannya antara pernikahan dengan hal ini, meskipun aku tau sampai saat ini perasaan ku untuknya masih tidak berubah, dan malah bertambah besar."
Bugh.....
Pukulan keras mendarat di pipi Aksa. Membuatnya terhuyung dan ambruk ke lantai, dengan sudut bibir pecah dan mengeluarkan darah.
"Mas...... " Ica berlari menghampiri Aksa yang dipukul oleh Allard, tetapi saat itu juga dia menepis tangan Ica. Baginya kedua orang tuanya sama saja tidak ingin mengerti sedikitpun tentang pendapat dan perasaannya.
"Daddy tidak pernah mengajarkan pada mu untuk menjadi laki-laki pecundang." Ucap Allard final.
__ADS_1
Aksa tidak lagi mau membuka mulutnya dia hanya tertawa sinis kemudian melangkah keluar, tanpa mau mendengarkan apa pun lagi yang akan dikatakan kedua orang tuanya.
Dia berjalan keluar dari kamar perawatan Arick, yang memiliki sekat dengan ruangan tempatnya berdebat dengan ayahnya, di sana terlihat Alle dan Cheyra yang menatapnya penuh iba. Tetapi dia tidak menghiraukan hal itu, dia terus berjalan sembari menyeka sujud bibirnya yang pecah karena terkena bogem mentah sang ayah. Dia turun dari lantai lima menuju basement dan menaiki mobilnya dengan kecepatan tinggi. Membelah malam kota Seoul, panggilan pada ponselnya pun dia abaikan dan tidak dia perdulikan sama sekali.
Pikirannya kacau, hatinya juga sedang tidak baik-baik saja, sudah satu tahun dia berusaha menerima takdirnya dan berusaha melupakan Raina dengan mencintai Alina, tetapi nyatanya dia sama sekali tidak bisa mencintai wanita cantik yang dulu pernah dia kagumi, bahkan rasa kagum itu pun perlahan terkikis dengan sikap keras Alina, dia memang memiliki pendirian dan kemauan yang kuat, itu membuat Aksa kewalahan.
Layar ponselnya terus berkedip-kedip kali ini merupakan panggilan dari Indonesia nama Alina tertera di sana. Tapi Aksa tak bergeming sama sekali, dia mengabaikan panggilan itu dan menambah laju kecepatan mobilnya hinga sampai dibawah jembatan panjang sungai Han. Aksa turun dan melangkah mendekat kepinggiran sungai.
"Haaahhhhh......."
Berulang kali dia berteriak, Aksa merasa kesal pada kondisinya yang sama sekali tidak berdaya saat ini, harusnya dia dulu menolak pertunangan itu, tapi sekarang dia menyesalinya. Dia pikir dengan bertunangan dengan Alina mampu membuat kedua orang tuanya tak lagi menuntut apa pun padanya, tapi nyatanya tidak. Kedua orang tuanya bahkan nyaris membuatnya gila karena selalu menanyakan kapan dia siap untuk menikahi Alina.
.......
"Mba, Mba Raina kenapa bisa disini mba?" Lita tak lagi kuasa menahan air matanya, dia berlari memeluk Raina, rasa syukur dan juga sedih bercampur menjadi satu.
"Kamu nggak tersesat Lit? padahal kamu baru kali ini ke Korsel ya." Berbeda dengan Lita yang histeris, Raina justru terlihat lebih tenang.
"Nggak mba, ada orang tadi katanya suruhan mba Raina jemput aku di hotel." Tutur Lita masih dengan wajah polosnya, dia tercengang saat seorang pria berbadan tinggi dan berotot menjemputnya dengan menunjukkan vidio call Raina yang sedang tertidur membuat Lita percaya dan mengikutinya.
Mendengar penuturan Lita, Raina seketika menatap kearah Dimitry dengan penuh tanya. Tapi Dimitry menjawab dengan wajah datarnya.
"Pria ini yang kau maksud? dia Luke, asisten ku." Tutur Dimitry dan itu semua orang yang berada di sana membuat Lita semakin bingung dan sungkan.
"Dia asisten tuan Dimitry, teman ku." Ucap Raina pada Lita. Yang membuat Lita bertambah bingung.
........ Bersambung ........
__ADS_1
Hay All... met pagi,, nulis satu bab ini dari semalem sampe pagi g kelar-kelar 🤭🤭 ternyata aku ketiduran hohoho maafkan author mu yaa...
jangan lupa vote, like n comen yaa.. aku suka bgt bca komenan dan ku jadiin bahan SW 😘😘😘🙏🙏🙏☺☺