
Ruang tamu mansion Alexander tiba-tiba disulap dengan banyaknya dekorasi bunga hidup. Di sana juga sudah terpasang dekorasi khas mini pelaminan untuk acara pertunangan. Dekorasinya bukan seperti kebanyakan dekorasi acara pertunangan pada umumnya, akan tetapi lebih banyak bunga serta kursi berbeda yang tersedia.
Kursinya hanya merupakan busa dengan sofa lesehan, tanpa kursi sofa yang menggunakan kaki. Di sana juga telah duduk ayah beserta seluruh keluarga besar Allard, tak terkecuali kedua anak dari Cheyra, yang salah satunya sempat dia selamatkan satu tahun yang lalu.
Di sana tersedia berbagai macam parcel mulai dari makanan hingga seluruh barang yang dikenakan wanita pada umumnya, mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Sepuluh menit berlalu dengan pikiran yang berkecamuk didalam kepalanya. Membuat Raina benar-benar frustasi. Saat dia menoleh ke arah sang mommy, hanya dibalas dengan anggukan dan senyum meneduhkan.
Dia enggan menoleh kearah ibunda Aksa, karena itu akan semakin membuatnya canggung. Acara pun segera dimulai. Tanpa adanya pembawa acara, karena memang Aksa menginginkan hal sederhana.
Raina tersentak saat dengan lantangnya Aksa mengucapkan kalimat yang saat itu juga mampu membuat degup jantung Raina berhenti seketika, tetapi setelahnya berdegup lebih kencang seolah ingin berloncatan keluar.
"Mr.Alexander Avram, dengan mengucap Bismillahirrahmanirrohim, Izinkan malam ini saya melamar putri biologis anda, Raina Ghiska Zoya atau dengan nama lain Riana Alexa dengan segenap kekurangan yang saya punya."
Aksa berkata dengan tegas, meskipun ada getaran dalam kalimatnya, menandakan emosi dan kegugupan yang tercipta saat itu. Sementara itu, Avram beralih kearah Raina kemudian dia berucap, "Semua keputusan ini, aku serahkan sepenuhnya pada putri ku Raina, karena dia yang berhak menjawab apa yang dia inginkan." Avram menatap lekat kedua netra cantik putri satu-satunya dengan anggukan mantap.
Masih dengan degup jantung yang tak beraturan, Raina yang kebingungan itu membuka mulutnya tetapi suaranya tercekat. Hingga beberapa kali Ana terlihat merangkul bahu sang putri dan mengelus punggungnya. Tersenyum meneduhkan seraya mengangguk.
"Dengan mengucap Bismillahirrohmanirrahim, Saya menerima pinangan dari mas Aksa Dennison Lee." Raina mengucapkan kalimat itu dengan suara yang bergetar, meskipun ucapannya lirih, tetapi karena dia memakai microphone klip yang diselipkan di kerudungnya membuat ucapannya terdengar jelas di pengeras suara. Setelah itu Raina tak lagi bisa berucap, bibirnya terlalu kelu. Tenggorokannya terasa tercekat.
Kegugupan serta kebingungan melanda, meskipun dia baru saja menerima pinangan dari Aksa, tetapi karena semua ini serba mendadak dan sungguh membuatnya terkejut. Hingga berulang kali dia menanyakan pada hatinya. Benarkah apa yang saat ini terjadi.
Rasa senang, haru dan shock karena semuanya terbilang tiba-tiba, membuat Raina tak ayal meneteskan air matanya. Akhirnya apa yang selalu menjadi harapan dan doanya selama nyaris dua setengah tahun ini menjadi kenyataan, impiannya untuk bisa bersama orang yang dia cintai akhirnya menjadi kenyataan.
__ADS_1
Semua ucapan syukur dari semua yang hadir di sana membuat Raina tak henti meneteskan air mata haru. Tak terkecuali kedua orang tua dan sang kakak. Seketika itu Ana memeluknya erat disertai air mata bahagianya.
Aksa mengucap syukur atas jawaban yang Raina ucapkan. Janjinya untuk menunggu dia tiga hari yang lalu telah dia tunaikan saat ini. Saat Aksa memberikan cincin dengan bertahtakan berlian diatasnya pada sang mommy Ica, untuk memakaikannya dijari manis Raina.
Tetapi saat itu juga ponsel Alexander Avram berdenting, menandakan ada satu pesan yang masuk. Avram mengacuhkan itu, dan kembali fokus pada acara didepannya. Tetapi saat benar-benar Ica akan memasangkan cincin. Kembali ponsel Avram berdering. Kali ini merupakan panggilan dari nomor yang tidak tersimpan di kontak pribadinya.
Mau tak mau Avram mematikan panggilan itu. Tetapi berikutnya ponsel Dimitry yang berdering, membuat Dimitry melakukan hal yang sama. Nampaknya seseorang di sebrang sana tidak menyerah, dia kembali membuat ponsel Dimitry berdering dengan cukup keras. Membuat Dimitry akhirnya mengangkat panggilan itu. Tetapi saat itu juga kata-kata kasar dan tidak oantas keluar dari mulutnya.
"****... Fu*ck..... Apa yang kau inginkan.... " Sontak hal itu menyita atensi dari semua orang yang berada diruangan itu.
Dimitry menoleh lalu mengangguk kearah sang Daddy yang menatapnya dengan tajam. Tetapi sejurus kemudian dia melangkah cepat dengan kaki yang lebar. Memberikan ponselnya lada Avram setelah sebelumnya membisikkan sesuatu yang membuat Avram seketika mengutuk orang itu.
"Apa mau mu?.... " Dengan mata memerah dan kilatan pandangan tajam terlihat jelas jika saat ini Avram sedang mencoba menahan emosinya.
Ucapan dari seseorang di sebrang membuatnya benar-benar berdiri kaku dengan menjatuhkan ponsel Dimitry. Membuat semua yang hadir menatap penuh pertanyaan.
Sejurus kemudian Avram meminta pada Dimitry untuk mengajak Allessandro dan Aksa mengikuti langkahnya serta Allard yang dia ajak sendiri. kedalam ruangan yang lebih dalam dilantai satu.
Geraman masih terlihat jelas di muka Avram, dia akan meminta pendapat dari calon besannya. Kali ini dia tidak bisa memutuskan sepihak.
"Aksa, baru saja aku menerima panggilan dari Asahi, kau tau dia? dia menginginkan Raina untuk dijadikan istri."
Deg....
__ADS_1
Seketika kelima orang pria yang berada disana membelalakkan matanya. Mendengar ucapan Avram.
"Bagaimana bisa?.... maksud ku..."
Aksa tak lagi bisa meneruskan kalimatnya banyak kemungkinan-kemungkinan yang terpikirkan dibenaknya saat ini.
"Delapan belas tahun yang lalu, aku menjanjikannya sesuatu. Saat itu, aku frustasi karena tak juga bisa mendapatkan kembali putri ku yang hilang. Aku mendatanginya, dengan kekuasaan yang dia miliki saat itu, ku harap dia bisa menemukan keberadaan putri ku. Raina, dan aku menjanjikan satu hal padanya. Bahwa aku akan mengabulkan apa pun permintaannya jika dia berhasil menemukan keberadaan Raina dan mampu membuat ku mengembangkan kembali bisnis ku, meskipun pada akhirnya bisnis Ritel yang mendapatkan suntikan dana darinya akhirnya bangkrut. Meski dia tidak berhasil menemukan Raina saat itu, aku tetap menjanjikan hal itu. Karena aku yakin saat itu jika dia mampu menemukan putri ku dan membuat bisnis ku berkembang lagi setelah hancur karena penyerangan itu."
"Holly ****...... Dad... Are you crazy?" Teriak Dimitry yang tak mampu menahan emosinya. Sementara Aksa terlihat sudah mengepalkan kedua tangannya dibawah meja.
"Dulu aku sama sekali tidak berpikir akan jadi seperti ini son." Ucap Avram dengan bibir bergetar dan mata memerah.
"Lalu katakan saja padanya jika itu tidak berlaku, karena dia tidak berhasil menemukan Raina, dan tidak berhasil memulihkan bisnis anda tuan." Tutur Aksa. Tetapi Avram menggeleng lemah.
"Masalahnya dia tidak mempercayai bahwa bisnis perhiasan ku ini bukan bisnis yang dia beri modal. Dia mengira jika kesuksesan ku ini merupakan dari suntikan dana yang dia berikan. Meskipun aku sudah melunasinya lima tahun setelah kejadian buruk itu. Tetapi dia tidak ingin tahu dan mengancam akan membawa paksa Raina. Terlebih dia sudah melihat Raina secara langsung yang membuatnya semakin menginginkan Raina."
"What the F*ck.... " Alle mengumpat mendengar penjelasan Avram.
"Lalu kita harus bagaimana sekarang dad? Aku tak mau kehilangan Raina lagi. Lebih tepatnya aku tidak rela menyerahkan Raina pada Asahi. Mengingat seperti apa latar belakang dan perangainya."
"Tidak ada jalan lain kecuali...... " Ucapan Aksa membuat semua yang berada disana terbelalak tak percaya dengan ide gila Aksa. Yang memanfaatkan kesempatan dalam kepanikan ini.
Apa kira-kira ide gila Aksa????
__ADS_1
....... Bersambung .......
Yuk Ramein komennya donk... sad bgt komenan dikit amat... ☺☺☺☺