
Riana Alexa, nama bayi perempuan cantik yang tertulis indah dibelakang foto seorang bayi perempuan yang sedang tertawa lepas, foto itu memperlihatkan bayi perempuan berumur tujuh bulan, berpipi chuby dan berhidung mancung tetapi mungil, matanya membelalak indah berwarna coklat tua.
Ana terus saja mengusap foto bayi itu, meskipun masih terlalu pagi untuk menumpuk rindu yang kian menggunung, air mata perempuan cantik itu menggenang, semalam dia kembali memimpikan sosok seorang gadis yang tengah menangis berada dipinggir pantai, ana tidak terlalu jelas melihatnya, tetapi tubuh gadis itu terlihat berguncang.
Saat Ana ingin mendekatinya tiba-tiba saja didepannya membentang jurang yang sangat dalam, meskipun jaraknya dan jarak gadis itu hanya lima meter, tetapi jurang pemisah diantara mereka terlalu dalam. Ana menoleh ke kanan dan kiri, tetapi dia sama sekali tidak menemukan siapa pun di sana, hingga saat itu Ana melihat ada pohon yang tumbang, dia mengambilnya dan berniat membuat jembatan untuk bisa sampai pada gadis itu.
Ana bertekad melangkah sedikit demi sedikit untuk sampai ditempat gadis itu berada, dia berusaha dengan susah payah karena harus menjaga keseimbangan tubuh. Entah mengapa hatinya ingin sekali menghampiri gadis itu, Hanya tinggal beberapa langkah lagi untuknya sampai di sebrang, tetapi tiba-tiba saja kakinya terpleset hingga akhirnya dia terjatuh, dan pada saat itu dia terbangun dari mimpinya. Dengan setengah berteriak.
Hingga menjelang pagi dia sudah tidak bisa lagi memejamkan matanya, karena terus teringat mimpi buruknya, Ana heran mengapa akhir-akhir ini dia terlalu sering memimpikan gadis ini, apakah ini merupakan sinyal atau hanya bunga tidur belaka.
"Mom, masih terlalu pagi untuk melihat foto lawas itu mom." Ujar Dimitry mengejutkan Ana yang masih saja memandangi foto bayi mungil itu. Dia menghampiri sang Ibu, mencium pelipisnya, dengan senyum lebar.
"Dim, Kau sudah bangun?" Jawab Ana, sembari tersenyum lebar meskipun dimatanya masih terdapat genangan bening.
"Aku ada pertemuan dengan semua dewan direksi perusahaan mom, daddy membuat ku tak bisa bersantai pagi ini." Dimitry mengambil foto lawas yang berada ditangan sang mommy, menaruhnya di atas nakas dan membimbing sang ibu untuk turun ke lantai satu, karena ternyata Avram sudah menunggunya untuk sarapan pagi.
Ana menurut saja diperlakukan sedemikian rupa oleh sang putra, dia menatap dalam netra Dimitry, sosok anak laki-lakinya sudah berubah menjadi pria dewasa, tetapi terkadang Ana seolah lupa jika dia sudah memiliki anak yang sudah sebesar itu.
Dimatanya Dimitry masih saja dia anggap sebagai anak kecil yang selalu membutuhkan dirinya. Dan jika dia teringat hal itu Ana akan terharu dia menertawakan sikap bodohnya.
"Apakah drama pagi ini sudah selesai Dimitry?" Ucap Avram menyinggung Ana yang sepagi ini sudah terlihat sedih. Dia sengaja menyuruh Dimitry untuk membawa sang mommy turun, karena hanya Dimitry yang ampuh menghibur Ana saat dia sedang merindukan sang princes.
"Seperti biasa dad, sedikit melodrama akan tambah membuat greget suatu cerita bukan?" Jawab Dimitry menggoda mommy-nya yang tampak kesal karena kedua pria itu kompak menggoda dirinya sepagi ini.
__ADS_1
"Teruskanlah persekongkolan kalian, nanti jika aku menemukan Princes, maka kalian semua akan tidak tampak didepan ku." Balas Ana dengan bibir mengerucut yang sontak membuat kedua pria beda usia didepannya menjadi tertawa bersamaan.
Makan pagi itu tampak sedikit hangat setelah Dimitry mencairkan suasana, jika hanya berdua saja, sudah bisa dipastikan jika Ana hanya akan termenung dan menangis jika teringat anak perempuannya.
....
Raina diantarkan oleh Aksa ke kos-kosannya menjelang sore hari, meskipun sebenarnya Aksa masih sangat merindukan Raina, tetapi dia juga harus mengingat jika Raina sejak tadi belum istirahat, terlebih tadi malam dia pulang larut.
Meskipun awalnya Raina bersikeras menolak diantar Aksa, dengan dalih dia membawa motor maticnya, akhirnya Aksa menyuruh supirnya untuk membawa motor milik Raina, dan dia mengajak Raina pulang dengan mengendarai mobil yang dia kemudikan sendiri.
Selana perjalanan Aksa tak henti-hentinya menggenggam tangan Raina, meskipun awalnya Raina merasa kikuk, tetapi lambat laun dia menyukai apa yang dilakukan Aksa.
"Makasih ya mas, sudah mengantarkan ku pulang." Ujar Raina setelah kendaraan berhenti tepat didepan kos-kosan Raina.
Kotak Beludru berwarna hitam itu terbuka, dan memperlihatkan cincin emas putih berhiaskan berlian di atasnya, tetapi yang membuatnya unik adalah cincin itu juga berfungsi sebagai jam, dengan dikelilingi berlian kecil-kecil di pinggirnya.
Cincin itu merupakan hasil desain Aksa sendiri, yang dia minta pada Dimitry untuk membuatkan cincin itu. Terlihat unik dan sangat elegan. Aksa mengambilnya, dia meraih jemari tangan kiri Raina, dan memasangkan cincin itu di jari manis Raina.
"Jangan pernah lepaskan cincin ini, dan juga jangan pernah kembalikan pada ku, apa pun yang terjadi aku ingin kau terus memakainya Rain, karena aku akan terus berjuang untuk bisa terus bersama mu, hem." Aksa meyakinkan Raina sekali lagi, dia berusaha membuktikan bahwa ucapannya bukan semata isapan jempol belaka.
Raina hanya mampu tersenyum lebar dan mengangguk, matanya berbinar indah, dia merasa sangat bahagia hari ini, perasaannya menjadi lega setelah Aksa menyampaikan hal yang sangat dikawatirkan Raina.
"Cincin ini hanya ada satu di dunia Rain, aku mendesain sendiri, dan meminta bantuan teman ku untuk membuatnya, itu sebabnya jangan pernah menjualnya apa pun yang terjadi." Ucap Aksa dengan gurauannya karena dia merasa suanana saat ini terasa canggung.
__ADS_1
"Wah... benarkah mas? mas Aksa enggak bohongkan?"
"Untuk apa aku membohongi mu Rain, kau bisa tanyakan sendiri padanya jika bertemu nanti." Jawab Aksa sembari mengusap pipi Raina, dia menatap lekat mata Raina, perlahan mendekat dan mendaratkan kecupan dikening Raina, yang saat itu langsung membeku karena ulah Aksa.
Tubuhnya mematung, jantungnya berdetak cepat dan jemarinya terasa dingin seketika. Membuat Aksa tersenyum melihat kepolosan Raina. Dia menjadi gemas dan mencubit pelan pipi chuby Raina.
"Kenapa menjadi patung, bukannya jika putri tidur akan segera sadar jika dicium? lalu, mengapa kau justru mematung Rain?" Ujar Aksa meledek sang kekasih. Membuat pipi Raina seketika memerah seperti tomat, dia mengerucutkan bibirnya, membuat Aksa semakin gemas melihatnya.
"Kenapa ciptaan mu yang satu ini sangat manis Tuhan?" Perkataan Aksa seketika membuat Raina yang tadinya tersipu menjadi melotot menatap kearahnya dengan tatapan heran. Ternyata Aksa bisa sereceh ini aslinya.
"Turunlah, istirahatkan tubuh mu, aku tau kau sangat lelah Rain, sayangi dirimu sendiri, jangan bekerja terlalu keras, ingat kesehatan mu juga, hem?"
Raina mengangguk membuka pintu mobil kemudian turun. "Makasih ya mas, untuk hari ini, terimakasih juga untuk ini." Ujar Raina sembari menunjukkan cincin dijari manisnya.
"Ya, nanti aku hubungi lagi, sebelum aku berangkat ke Korsel,"
Raina mengangguk pelan, mendengar ucapan Aksa, hatinya sedikit tidak rela karena Aksa mengatakan akan kembali ke negaranya. Membuat perasaannya menjadi gelisah, karena harus kembali menjalani LDR.
Tetapi dia tidak bisa berbuat apa pun saat ini, dia juga sadar siapa Aksa, dia tidak bisa meninggalkan tanggungjawabnya yang begitu besar hanya untuk bersamanya disini.
........ Bersambung .........
Hai... selamat malam, Alhmdulillah novel ini sudah mulai kontrak yaa, dan ternyata covernya diganti sama pihak NT, tapi aku pribadi kurang suka, nanti aku ganti dengan yang baru besok ya karena prosesnya g bisa instan.
__ADS_1
jangan lupa tinggalin jejak kalian kasih vote, like n comen ya.. makasih... βΊβΊπππ