
Mengudara selama nyaris lima jam membuat Ananta Atmaja dan Alexander Avram sedikit lesu, dia menuruni anak tangga jet pribadinya, terlihat Avram meraih pinggang Ananta, dia benar-benar memastikan jika sang istri tidak tergelincir saat menuruni anak tangga.
"Sayang apakah kau ingin bertemu dengan kolega mu?" Ujar Ananta sembari berjalan menuju mobil Mercy yang sudah terparkir didepannya.
"Nanti, kau akan tau saat kau tiba di sana."
"Mengapa perasaan ku menjadi ragu saat kau tidak menjawabnya dengan jujur." Tukas Ana sembari cemberut.
Wanita berparas anggun yang mengenakan dres marun selutut itu melangkah dengan mengaitkan tangannya di lengan berotot milik sang suami Alexander Avram, keduanya beriringan menuju mobil yang sudah tersedia.
....
Aksa pergi keluar saat ponselnya berdering, dua lebih memilih menjawab panggilan itu diluar, di dekat dinding kaca rumah sakit yang memperlihatkan sore kota Seoul yang padat.
"Waalaikumsalam Ya Lin, ada apa?" Aksa memasukkan tangan kirinya kedalam salah satu saku celana, sembari bersandar pada tiang di sebelahnya.
"Maaf, aku sedikit sibuk mencari keberadaan Arick, ada apa?"
"Dia alhamdulillah sudah ditemukan, dalam keadaan baik, tetapi saat ini dia harus menjalani perawatan."
"Baiklah, jaga diri mu jangan lupa makan dan istirahat yang benar."
"Oke, Waalaikumsalam."
"Huffttt....." Aksa menghela nafas lelahnya, entah sampai kapan dia akan bersikap seperti ini pada Alina Parveen, terkadang dia merasa bersalah karena sikapnya yang terlalu dingin dan jarang memberi kabar pada tunangannya. Tetapi disisi lain hatinya tidak menginginkannya, ini sungguh penyiksaan batin yang luar biasa bagi Aksa.
Dia menatap kearah luar pandangannya kosong, entah apa yang membuat pria berusia dua puluh tujuh tahun itu terlihat murung, semua rasa campur aduk, berjauhan dengan Raina, nyatanya sama sekali tidak membuat hatinya melupakan gadis itu. Tetapi malah semakin menumpuk rindu.
Terlebih saat dia melihat Raina yang sekarang menggunakan hijab, hatinya kian tergelitik, paras ayu itu masih terlihat meskipun dengan wajah dan tubuh yang bersimbah darah. Aksa menghela nafasnya kasar, hatinya merindukan gadis itu, dia berjalan mengikuti kata hatinya.
Langkahnya terhenti didepan ruang rawat Raina, dia ragu apakah ingin masuk atau tidak, saat dia hendak membuka pintu tangannya mengambang karena pintu sudah terbuka lebih dulu. Terlihat Dimitry berdiri di sana dan sepertinya hendak keluar.
__ADS_1
"Kau, ..... "
"Maaf aku..... "
"Masuklah jika ingin melihatnya, jaga dia sebentar untuk ku, aku akan turun ke loby sebentar." Tutur Dimitry seraya menatap tajam kearah Aksa yang hanya bisa mengangguk.
"Segera hubungi aku jika ada apa pun. Aku mengandalkan mu. "
"Oke." Jawab Aksa singkat, dia juga tidak tahu, terlalu bingung dan bimbang membuatnya memilih diam.
Dimitry turun ke bawah untuk menemui Luke, sementara Aksa melangkah masuk ke dalam ruang rawat Raina.
Pandangan matanya menatap nanar gadis yang sedang terbaring lemah, wajahnya pucat, tubuhnya dipenuhi selang yang terpasang meskipun tertutup baju rumah sakit dan selimut, tetapi banyaknya alat yang berada disekitarnya membuat perasaan Aksa kacau.
Gadis kecil bertubuh kurus itu sedang berjuang untuk hidupnya, setidaknya dia harus memberikan semangat bukan. Pandangan Aksa tertuju pada kepala Raina yang tertutup kerudung, Aksa memicing dia mengenali kerudung itu, tapi segera dia tepis pikirannya.
Apakah mungkin sang mommy yang mengenakannya, karena Raina terlihat tidak memiliki baju ganti. Bahkan semua identitasnya pun tidak ditemukan kecuali ponsel yang memang dibawa Arick.
Raina masih terdiam dengan mata terpejam. Dia sama sekali tidak terusik dengan keberadaan Aksa yang sudah satu tahun ini berusaha dia lupakan dengan susah payah.
"Bangun Rain, aku tidak bisa berjanji membuat mu bahagia, tapi aku berjanji akan membantu mu menemukan keberadaan keluarga mu." Aksa tak lagi kuasa menahan laju air mata yang sudah sejak tadi menumpuk dipelupuk matanya.
Hatinya terasa sakit saat melihat kondisi Raina sekarang, dia bahkan sempat memikirkan hal yang seharusnya dia pikirkan. Tetapi batinnya bergolak saat melihat kondisi Raina yang mengenaskan dan menyedihkan seperti ini.
Aksa menggenggam tangan Raina erat, meskipun dia tahu jika gadis ini tersadar, dia yakin Raina bahkan mungkin tidak akan mau menemuinya. Saat itu jemari Raina bergerak sedikit demi sedikit, meskipun matanya masih terpejam, tetapi jemarinya balas menggenggam tangan Aksa kuat. Aksa terkejut saat mendengar pintu ruang rawat terbuka, dia melihat keberadaan Alle di sana.
"Apa yang kau lakukan di sini Aksa? jika mommy dan daddy tau kau di sini, itu akan lebih menyulitkan gadis ini." Tutur Alle lembut seraya duduk di sebelah Aksa. Dia tahu jika Aksa masih sangat mencintai gadis kecil ini, melalui sorot matanya saat dia menatap Raina. Tetapi dia juga tidak bisa membantu jika itu sudah menjadi keputusan kedua mertuanya.
"Dia gadis kecil yang menyedihkan kak, sejak kecil dia sudah terbiasa hidup menderita." Ujar Aksa dengan tidak melepaskan genggaman tangannya di jemari Raina.
"Tapi jangan lupa, dia gadis yang kuat, dia bahkan mampu menyelamatkan Arick, meskipun dia harus mendapatkan tembakan. Aku berhutang nyawa padanya." Balas Alle dengan tatapan sendu kearah Raina.
__ADS_1
Tak bisa dipungkiri jika dia merasa kasihan pada Raina, jika memang benar gadis ini yang dia selamatkan delapan belas tahun yang lalu, itu artinya takdir Tuhan yang membimbing mereka untuk bertemu.
.....
"Dimana dia son?" Ucap Avram dengan nafas sedikit keras, karena dia berusaha berjalan cepat bahkan nyaris menarik Ananta.
"Dia dilantai lima dad, empat jam yang lalu, dia menjalani operasi, dan sekarang dalam pantauan dokter." Jelas Dimitry seraya melangkah lima kedua orang tuanya menuju lantai lima.
"Kenapa dia bisa seperti ini? Sebenarnya apa yang terjadi." Tanya Avram penasaran.
"Entahlah dad, ceritanya panjang, tapi yang jelas saat dia tersesatdia malah bertemu dengan Arick dan dia berusaha menyelamatkan Arick, putra dari tuan Allessandro del Cano yang diculik,"
Langkah Avram terhenti seketika mendengar ucapan Dimitry, sementara Ananta yang bingung karena tidak memahami pembicaraan suami dan anaknya segera bertanya dengan wajah herannya.
"Sebenarnya siapa yang kalian bicarakan ini? dan apa hubungannya dengan kita." Ucap Ana ketus karena dia merasa jedua orang ini sejak tadi sengaja mendiamkannya dan tidak menjawab pertanyaannya sama sekali.
"Sabarlah Mom, kau akan segera tahu ayo kita temui dia." Ujar Dimitry seraya tersenyum kecil, dengan kesal Ana mengikuti langkah Dimitry dan suaminya naik menggunakan lift khusus.
......
Pintu diketuk dari luar, Aksa dan Alle segera berdiri dan menggeser kursi yang mereka duduki. Pintu terbuka dan masuklah tiga orang yakni Dimitry beserta kedua orang tuanya. Saat itu juga jantung Aksa dan Alle serasa berhenti berdetak.
Sementara itu Ananta yang tidak sabar segera berjalan mengikuti Dimitry mendekat menuju ranjang, seketika itu juga tatapan matanya melebar dan langkahnya terhenti.
Deg.......
Tubuh Ana bergetar hebat saat tatapan matanya tertuju pada wanita yang terbaring di atas ranjang pesakitan.
....... Bersambung ......
Sambil nungguin Up ku, coba mampir ke novel temen ku yg ceritanya juga seru bgt, dan sayang untuk dilewatkan.. cuz kepoin...
__ADS_1