
Saat Ica sedang memungut barang-barangnya yang terjatuh, saat seorang pria berperawakan tinggi mencoba menarik tangan Arick dengan cepat, tak sempat berteriak karena Arick saat itu mulutnya langsung dibekap oleh laki-laki dengan memakai hody lengkap dengan topi berwarna hitam.
Arick ditarik paksa sampai pada tempat parkir depan hotel, saat dia nyaris dimasukkan kedalam mobil van hitam, Ica memanggil namanya dan saat itulah dia mencoba berontak, meskipun telah dibekali beberapa bela diri yang diajarkan sang ayah, tapi nyatanya tubuhnya yang kecil bukanlah lawan yang seimbang bagi ketiga pria didalam mobil van hitam yang saat itu juga langsung menancap gas dan meninggalkan Secret Hotel.
Ica yang melihat Arick dibawa oleh sekelompok pria itu pun hanya bisa berteriak histeris sembari berlari keluar dan mencoba mengejar hingga dia terjatuh bersimpuh, mobil van itu meluncur dengan kecepatan tinggi menembus jalanan kota Seoul yang sebagian tertutup salju.
.........
Menempuh perjalanan yang cukup jauh, Raina akhirnya sampai dilokasi tempat foto prewed Audy, dia segera bergegas karena hari sudah semakin sore, Raina dan lita bergegas menyelesaikan tugasnya, sang calon pengantin wanita ini menyukai senja dipinggir pantai saat musim dingin. Dia akan merasa puas jika impiannya berfoto di pulau itu bisa terwujud.
Tidak mengulur waktu lagi, Lita mempersiapkan gaun, meskipun sore ini udara sangat dingin, tetapi Audy bersedia memakai gaun yang sangat tipis dengan lengan terbuka. Menahan dingin saat selesai sesi pertama dia lekas memakai jaket bulu dan selimut yang telah disiapkan oleh managernya.
"Mba, pas banget ini sebentar lagi menuju petang, kita ambil beberapa foto lagi dengan gaun yang berbeda setelah itu selesai." Ucap manager Audy pada Raina yang terlihat kedinginan, hidungnya memerah dan tangannya membeku, dia yang jarang berada di udara dingin itu merasa kaget karena belum terbiasa.
"Iya mba akan saya bantu mengganti gaunnya, tutur Raina,"
"Tempatnya juga sedikit bergeser ke hutan ya mba, soalnya biar bisa dapet latar yang bagus."
"Oh, gitu iya mba saya ikut aja," Raina yang memang tidak ahli memfoto itu lebih memilih menurut, karena bagian dia adalah make up.
__ADS_1
Dia memboyong peralatannya ketempat yang sudah disetujui, udara semakin dingin, angin laut bertiup sedikit kencang membuat giginya bergemeletuk, Raina mengeratkan long cardy dan mengikatnya lebih kencang, perutnya yang lapar membuatnya semakin terasa kedinginan. Sebab saat makan siang tadi dia sama sekali tidak menyentuh makanannya karena menghawatirkan waktu.
"Selesai mba, saya tinggal kebelakang dulu ya mba, mau ketoilet nanti kalau butuh apa-apa panggil asisten saya saja." Tutur Raina yang memang sudah sangat ingin buang air kecil.
"Iya mba." Jawab manager Audy. Kedua calon mempelai pun mengambil beberapa sesi foto yang tampak indah dan pas dengan apa yang diinginkan oleh Audy.
Sementara Raina berjalan semakin jauh karena toilet yang seharusnya bisa digunakan ternyata airnya membeku karena cuaca yang sangat dingin. Dalam rintik salju yang turun kian lebat, dia berjalan semakin kebelakang, karena seorang cleaning service mengatakan digedung belakang tempat ini ada toilet yang bisa digunakan.
Raina berjalan menuju rumah kecil yang yang berada seratus meter dari rumah yang di gunakan sebelumnya. Rombongan Audy memang tidak menyewa tempat itu karena dia akan langsung pulang ke hotel yang letaknya sekitar satu jam perjalanan.
Tempat pemotretan itu memang terpencil, membuat orang jarang mengunjunginya. Raina menemukan toilet yang terlihat bisa digunakan dia menuntaskan keinginannya dan kemudian bersiap kembali. Tetapi saat hendak kembali, dia terlihat kebingungan mencari jalan pulang hingga tanpa sadar dia justru berjalan kearah berlawanan dan semakin masuk ke dalam hutan.
Pencahayaan yang sedikit dan hari yang semakin petang membuatnya kehilangan arah, dia menghidupkan ponselnya tetapi sayangnya ditempat itu dia tidak menemukan sinyal diponselnya sama sekali.
Dalam langkahnya yang semakin melemah, dia menemukan rumah yang terlihat seperti gubuk kecil, dia mendekat ketempat itu dengan sangat perlahan hingga tidak menimbulkan suara, dia mendekat dan melihat ada cahaya meskipun sedikit, itu artinya ada seseorang disana.
Raina melangkah maju mendekat dan mengintip dibalik lubang kecil yang dia temukan. Matanya menyipit tetapi kemudian terbuka lebar saat dia melihat ada seseorang yang di sandra di sana. Anak laki-laki sekitar enam atau tujuh taksirannya, dengan tangan dan kaki terikat sedang duduk di lantai yang dingin, dengan mulut yang tertutup lakban.
"Ya allah, siapa dia, kenapa bisa disini." Raina membaca keadaan diluar ada dua orang yang berjaga dan semuanya laki-laki bertubuh besar dan tinggi, dia menunggu beberapa saat, karena posisinya sangat tidak menguntungkan. Tidak ada pilihan lain, Raina harus menolong anak itu, karena dia juga tidak memiliki teman sama sekali.
__ADS_1
Tubuh anak laki-laki itu terlihat lemah, tetapi dia masih berusaha untuk melepaskan tangannya dan kakinya yang terikat. Raina melihat keadaan didepan lagi, menunggu beberapa saat hingga kedua pria itu tampak menjauh menuju kesamping, Raina mengira mereka membuat makanan.
Dengan sisa tenaga dan keberaniannya, Raina berjalan sangat pelan dan mencoba masuk, dia segera membuka pintu meskipun sangat sulit menemukan kuncinya, Raina membukanya dan saat dia berhasil tampak sepasang mata anak laki-laki itu membulat sempurna.
Raina memberi isyarat dengan menutup mulutnya dengan satu jari telunjuk membuat anak kecil itu mengerti dan menganggukkan kepalanya. Tanpa menunggu lama, Raina segera membuka ikatan tali pada kedua tangan dan kaki anak laki-laki itu.
Setelah terbuka Raina juga melepaskan lakban lada mulutnya dan dia langsung menarik anak itu untuk keluar, secepat yang dia bisa dia menarik anak laki-laki itu untuk berlari berbekal senter pada ponselnya dia berjalan dengan tidak tentu arah.
Hingga dirasa cukup jauh, dia baru beristirahat dibawah pohon besar, dia mencoba bernafas dengan benar dan melihat anak laki-laki itu yang juga terlihat kelelahan dan kedinginan.
Raina melepaskan jaket bulu pendek yang dia kenakan, hingga menyisakan long cardynya, dia memakaikannya pada tubuh anak laki-laki itu. Raina terkejut karena dia baru menyadari jika ternyata anak itu memiliki warna mata biru safir, yang menandakan jika dia bukanlah orang Asia.
"Hey, what is your name?" Tanya Raina yang memang bisa berbicara bahasa inggris meskipun masih terdengar kaku.
Anak laki-laki itu terlihat belum ingin membuka suara, hingga Raina mendengar langkah kaki dan suara teriakan beberapa kali disertai sorotan lampu senter, seketika itu juga dia kembali menarik tangan anak laki-laki itu, berlari secepat yang dia bisa tetapi tanpa diduga langkahnya masih bisa diikuti oleh kedua orang itu. Dan seketika itu juga dia melepaskan timah panas yang berada didenggaman tangannya.
Dor....
"Akh.... ".
__ADS_1
.......... Bersambung ...........
Met sore All, nanti kalau aku ada waktu luang, malam ini aku Up lagi... jan lupa komennya yaa... makasih... βΊβΊππππ