Rasa Yang Tak Usai

Rasa Yang Tak Usai
Secret Story Raina Ghiska Zoya


__ADS_3

Satu malam Dimitry menginap disalah satu penginapan di kebun teh terpencil itu. Sembari mencari sang adik, rupanya diam-diam dia menikmati sejuknya udara pegunungan, dengan hamparan teh yang luas, turun sedikit dia melihat hamparan tanaman sayur-sayuran, udara yang masih sangat asri dan terjaga membuatnya merasa nyaman hingga dia dikejutkan dengan dering ponselnya, memang di sana sinyal ponsel sedikit sulit.


"What! Kau serius?"


"Oke aku akan segera menyusulnya sekarang."


Dimitry mendapatkan kabar, jika Raina saat ini tengah memesan tiket penerbangan menuju Korsel. Dengan kuasanya dia bisa meminta anak buahnya mendapatkan informasi dari pihak bandara jika nama Raina terdaftar dalam penerbangan.


Secepat kilat Dimitry meninggalkan penginapan, sebelumnya dia berpesan pada warga setempat yang dia percayai, untuk melaporkan padanya jika Raina terlihat pulang ke kampung.


"Wait me Raina, ku mohon.... "


Perjalanan panjang yang cukup melelahkan bagi Dimitry karena dia harus menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam untuk menuju kota Semarang. Biasanya jika di negaranya dia akan menempuhnya menggunakan helicopter, karena disini dia sedikit kesulitan mendapatkan akses itu.


........


"Lit, tiket sudah dipesan kan dari pihak Client kan?"


"Sudah mba, hanya untuk kita berdua sementara disini besok bisa di handel sama anak-anak yang udah bisa dipercaya."


"Oke deh, kemarin dia minta satu gaun dari kita yang udah ready, dan untuk ukuran Audy karena memang tubuhnya ukuran model, jadi kita gampang nyesuain ukurannya."


"Iya mba, untuk gaun pernikahannya juga minta dari kita satu kan selain dari buatan desainer ternama yang udah dipesan calon suaminya."


"Iya, skets-nya udah aku buat tinggal jahit dan pasang accesories, tapi kita garap nanti pulang dari Korsel."


"Iya mba, istirahat aja dulu, kantung mata udah tebel banget gitu mba."


Raina hanya tersenyum mendengar ucapan Lita, dia salah satu karyawan sekaligus teman dekat yang dia miliki saat ini. Perhatiannya terkadang membuat Raina terenyuh. Jarang diperhatikan oleh siapa pun membuatnya mudah terharu ketika ada yang memperhatikannya.

__ADS_1


.......


Ting nong..


Ting nong


"Lama sekali membuka pintu, aku mencoba beberapa kali pun gagal." Cheyra tampak kesal melihat sikap sang adik yang sekarang terlihat lebih dingin dari pada dulu. Sejak peristiwa satu tahun lalu membuat Aksa menjadi pria yang lebih tertutup dan sering menetap di penthouse-nya. Mansion Allard dan Ica terasa dingin, karena canda dan tawa itu tak lagi ada, berbeda saat Aksa masih tinggal di sana.


Tanpa merasa bersalah Aksa dengan tatapan datarnya kembali melangkah masuk, setelah sebelumnya membukakan pintu untuk sang kakak ipar dan kakak perempuannya yang bawel.


"Ada apa berkunjung?" Tanya Aksa dingin, membuat Cheyra sedikit terkejut dengan sikap adiknya, ternyata benar cinta yang tidak tersampaikan membuat seseorang berubah menjadi kejam. Berbeda dengan sang istri, Allessandro terlihat santai duduk menyilangkan kakinya, dan tersenyum miring saat Aksa bertanya ketus.


"Pergilah membuat minuman dingin sayang, aku merasa haus." Titah Alle pada Cheyra, dan dia segera melangkah ke pantry untuk membuat apa yang diminta sang suami, dia juga mencari camilan yang tersedia di kulkas seorang bujang. Setelah kepergian Cheyra, Aksa membuka percakapan dengan Alle.


"Kau berhutang penjelasan pada ku kak." Ucap Aksa dingin. Dan disambut anggukan mantap oleh Alle.


"Ya memang, maka dari itu aku kemari tanpa anak-anak, tapi maaf kakak mu tidak mau ditinggal."


"Kau tau Alexander Avram? pengusaha perhiasan Rusia itu bukan?" Dan Aksa hanya mengangguk menunggu penjelasan selanjutnya dari Alle.


"Delapan belas tahun lalu, dia kehilangan seorang anak perempuan saat dia berusia kurang lebih satu setengah tahun. Dalam peristiwa berdarah di mansion pribadinya, peristiwa itu membuatnya melarikan diri beserta anak dan istrinya, sayangnya, sang pengasuh dan balitanya tertangkap, saat itu dia sudah melarikan diri karena serangan mendadak dari musuhnya. Tanpa persiapan apa pun membuat Alexander kalah telak karena kelicikan musuhnya saat itu. Dia yang sudah putus asa akhirnya meminta bantuan pada ku untuk menyelamatkan anak bayinya. Aku berhasil menyelamatkannya, tetapi sayangnya saat aku ingin membawanya pada Alexander, sang pengasuh justru pergi membawa bayi kecil itu, karena dia masih dilanda ketakutan yang teramat sangat. Alhasil dia kabur dan membawa serta bayi Alex, melewati jalur laut dan sampai di Indonesia."


Aksa tampak terkejut mendengar penjelasan kakak iparnya, tanpa dia duga. Ternyata kabar burung itu benar dan kakak iparnya ada andil besar di sana.


"Tunggu, jadi kakak mencurigai Raina adalah anak dari Alexander Avram?" Tanya Aksa menggebu.


"Ya, tapi itu belum bisa dipastikan, maka dari itu kita butuh melakukan tes DNA terlebih dahulu."


"Kak, sebenarnya dia juga pernah bercerita tentang kebenaran keluarganya. Dan gelang itu juga... "

__ADS_1


"Aku memegang kalungnya, karena saat menyelamatkannya dulu, aku merebutnya dari tangan musuh, membuat kalung itu terlepas, beruntung gadis kecil itu tidak terluka."


Jadi benar kalung dan gelang itu kak?"


"Ya, aku masih sangat ingat kedua perhiasan itu. Aku juga masih ingat tatapan mata gadis kecil yang saat itu menangis, sebelumnya aku tidak pernah menyentuh bayi, tapi waktu itu tatapan mata dan tangisan pilu nya membuat ku terenyuh untuk menggendongnya, sampai akhirnya dia tertidur dalam gendongan ku." Alle menceritakan bagaimana kronologi kejadian yang memisahkan anak dan orang tuanya.


Aksa tampak tidak bisa berkata, matanya berkaca-kaca, dia tahu betul bagaimana kehidupan Raina selama ini. Sekarang perasaannya menjadi semakin merindu dan sangat ingin bersama gadis pujaan hatinya. Tetapi kenyataan yang berada dihadapannya tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan.


"Kau masih mencintainya Aksa?" Alle melihat tatapan mata Aksa yang menyiratkan rindu mendalam, tatapan itu mengingatkannya pada saat dia masih berjuang mendapatkan cinta Cheyra selama tiga tahun menikah dan baru bisa bersama istri kecilnya itu setelah tiga tahun berjuang menahan rindu yang menyiksa. Seolah jatuh cinta sendiri.


"Berjuanglah, seperti apa yang ku lakukan dulu, entah mengapa aku memiliki keyakinan kau bisa bersamanya jika kau mau berjuang lagi Aksa."


"Hehehe...." Aksa tertawa miris meratapi nasibnya. "Kau yakin kak? padahal mommy dan daddy sudah melakukan segalanya,"


"Why not?" Jawab Alle mengedikkan bahunya cuek.


"Kalian ngobrol apa terlihat sangat serius. Tapi biar ku tebak, kali ini bukan bisnis kan?" Cheyra kembali dengan membawa tiga minuman dingin, dan beberapa camilan pancake dan buah.


"Apakah tidak ada wine disini?" Tanya Alle cuek sebenarnya dia tahu jika Aksa sama sekali tidak mengkonsumsi itu, tetapi dia melakukan itu untuk mencairkan suasana.


"Apa kau ingin Aksa digantung daddy sayang?" Ketiganya tertawa bersamaan dengan sedikit guyonan receh Alle.


........


"Kau yakin, dia memesan hotel kita?"


Cheyra tampak terpaku saat mendengar laporan dari sang manager secret hotel yang seharusnya dikelola, tetapi dalam tiga bulan ini menjadi tanggungjawabnya, karena Aksa sedang disibukkan dengan beberapa resort di pulau pribadi miliknya.


.......... Bersambung ..........

__ADS_1


Malem All,, Gimana kabarnya, komenan sepi amat... terkadang hal yng membuat penulis semangat nulis itu salah satunya komenan dari kalian... kalau sepi itu berasa males karena kalian g antusias gitu.... 😞😞😞


__ADS_2