
Pesta telah usai malam telah larut, tamu undangan pun sudah kembali ke hotel masing-masing. Sebenarnya Raina masih sangat ingin bercengkrama dengan sang mommy dan daddynya tetapi Ana memilih menyuruhnya segera istirahat. Ana tidak setega itu membiarkan putrinya yang baru kembali setelah delapan belas tahun terpisah itu jatuh sakit, hanya karena ingin selalu berbincang tentang kehidupannya selama ini.
Ana mengerti jika sang putri sudah sangat lelah, matanya yang kuyu dan lingkar hitam terlihat jelas setelah dia pamit untuk menjalankan kewajibannya sholat isya, meskipun sedikit terlambat. Make up yang tadi menempel dengan sempurna menutupi lingkar hitam di area mata, kini terlihat jelas.
Raina dibimbing Ana dan Avram menuju kamarnya yang berada dilantai tiga, sementara kamar Avram dan Ana berada dilantai dua, kamar Raina berhadapan dengan kamar sang kakak Dimitry. sedangkan lantai empat merupakan tempat gim dan latihan fisik, yang dilengkapi dengan kolam renang. Lantai lima merupakan meeting room jika suwaktu-waktu diadakan pertemuan mendadak dan dirasa tidak bisa meeting diperusahaan maka disinilah tempat mereka meeting.
Kamar dengan nuansa putih itu terlihat sangat luas, bahkan dua ruko jika digabungkan menjadi satu, yang dia jadikan sebagai gallery luasnya akan sama dengan kamar pribadinya saat ini. Raina terperangah, ternyata keluarganya memang sekaya itu.
"Ini kamar mu sayang, Dimitry memberikan kejutan dengan mempersiapkan segala sesuatunya untuk mu. Tanpa memberi tahu mommy sama sekali." Dimitry meminta pelayan untuk mengganti semua seprai dan gorden, dengan yang baru, karena Dimitry tahu jika Raina merupakan gadis yang sangat menyukai kebersihan dan kerapian.
"Raina diantar oleh Ana room tour kamar pribadinya, mulai dari ranjang king size, meja hias, yang lebih membuatnya takjub di sana tersedia walk in closed yang sudah penuh dengan pakaian wanita, mulai dari kemeja, gaun dan kaos santai beserta dalaman yang sudah tertata rapi. Yang membuat Raina semakin spechless adalah ukuran semua pakaian itu pas dengan tubuhnya.
"Daddy tidak tahu selera mu seperti apa nak, jadi maaf jika kamar pribadi mu tidak sesuai dengan yang kau inginkan. Kau boleh menulis list barang-barang dan tata letaknya besok daddy akan memanggil penata ruang, supaya bisa sesuai dengan keinginan mu."
Avram mengatakan dengan terus menatap Raina, dia tidak menyangka jika Raina tumbuh menjadi gadis yang sangat santun, terlihat dari tutur kata dan bahasa tubuhnya. Avram sangat terharu akan hal itu.
Raina hanya terdiam, dia masih terus mengamati semua ruangan dalam kamar pribadinya, dia masuk ke kamar mandi yang dilengkapi dengan jacuzzi besar untuk berendam, kamar mandi saja luasnya sama dengan kamar pribadinya di Indonesia.
"Nak, bicaralah apa yang tidak sesuai, daddy tidak tahu selera mu seperti apa." Ucap Avram penasaran dengan sikap diam Raina.
"Dad, aku terbiasa hidup sederhana di Indonesia, bahkan sebelumnya kehidupan ku jauh dari kata layak, jadi melihat semua ini, apa lagi yang membuat ku masih kurang bersyukur?"
Ucapan Raina membuat kedua orang tuanya terperangah, meskipun dia dewasa seorang diri, tapi nyatanya dia tumbuh dengan baik, dan Ana sungguh sangat mensyukuri hal itu.
__ADS_1
"Rain, maaf aku belum bisa menyediakan tempat beribadah mu, seperti milik mu yang ada di Indonesia, tapi aku sudah memanggil arsitek dan penata ruang untuk memintanya membuat tempat itu untuk mu." Ujar Dimitry yang baru masuk dan langsung mengatakan hal itu.
Membuat Avram dan Ana mengernyit, tetapi ana kemudian tersadar, dia meraih bahu Raina. "Maafkan mommy yang tidak mengerti hal besar seperti ini sayang, bagi kalian hal ini sangat penting, mommy tahu, tapi maaf mommy belum terpikirkan hal itu." Ucap Ana menyesal.
"No mom, beribadah bisa dimana pun, asalkan tempatnya bersih dan suci. itu sudah cukup, tapi jika ada tempat khusus itu akan lebih baik lagi." Jawab Raina sembari tersenyum lembut.
"Rain, maaf semua baju-baju mu ada beberapa yang tidak tertutup, dan aku masih memesannya dari desainer terkenal Indonesia, supaya pas dengan selera mu. Untuk hijab mu juga aku sudah memesankannya mu."
Tes...
Tes...
Tanpa sadar Raina meneteskan air mata harunya, diperhatikan sedemikian rupa oleh semua keluarganya, hal yang selama ini dia nantikan akhirnya terkabulkan hari ini.
"Mommy di sini sayang, kami semua ada disini untuk mu mulai saat ini, katakan apa yang kau inginkan, apa yang kau suka dan tidak suka, supaya mommy bisa mengerti diri mu."
"No mom, ini semua sudah lebih dari cukup. Terimakasih telah menerima ku masuk dalam keluarga ini." Ucap Raina sembari menahan isak tangis.
Avram, Ana dan juga Dimitry sudah berbicara bersama, mereka memutuskan untuk tidak mempermasalahkan tentang keyakinan Raina, meskipun mereka tidak memiliki keyakinan, itu semua tidak menjadi masalah untuk Raina.
Ana yang dulu merupakan seorang muslim, sedikit lebih memahami apa yang boleh dan tidak boleh dalam islam. Tetapi nyatanya dia melupakan beberapa hal, yang membuatnya harus menghubungi beberapa teman lamanya untuk meminta saran dan mencari tahu.
Tidak berbeda dengan Avram yang terus menanyakan hal itu pada Allard, dan dia memutuskan untuk membeli semua perabot rumah tangga baru khusus untuk sang putri.
__ADS_1
Masakan yang akan dimasak dan semua perabotnya menggunakan yang baru, termasuk koki, malam itu Avram mencari koki yang handal dan yang mengerti tentang bahan masakan yang halal dan haram.
Hal itu membuat Raina terenyuh, seantusias itu keluarganya dalam menyambutnya ke mansion besar ini. Tetapi hatinya menjadi bimbang, dia juga tidak akan mungkin menetap lama di Moscow, karena pekerjaan dan rumahnya berada di Indonesia.
.........
"Tidak bisakah kau hanya melihat kearah ku mulai saat ini mas?" Ucap Alina dengan mata yang sudah dibanjiri liquid bening.
"Aku sudah berusaha dalam satu tahun ini untuk mencintai mu Alina. Tapi maaf, aku harus bicara jujur, sampai saat ini aku belum bisa membuat mu berada ditempat yang seharusnya," Jawab Dimitry penuh sesal.
"Berusaha lah mas, ku mohon, atau kita percepat saja pernikahan kita." Tukas Alina putus asa.
"Bagi ku, menikah tidak sesederhana yang kau pikirkan. Selamanya aku akan berdosa karena masih mencintai wanita lain Rain."
"Lalu kita harus bagaimana, aku sudah sangat menurunkan harga diri ku didepan mu mas. Aku merasa hina."
"Maaf Alina, aku tidak pernah bermaksud seperti itu, aku tidak pernah merendahkan mu, hanya saja aku belum bisa mencintai mu."
Obrolan keduanya tidak akan pernah menemui titik temu, jika hanya saling berdebat seperti ini. Aksa mengakhirinya dengan meminta maaf dan mengantarkan Alina ke bandara untuk pulang ke Indonesia.
Aksa meminta waktu enam bulan dari saat ini, jika dia belum bisa merubah kedudukan Raina dalam hatinya, dia akan menyerah, apa pun yang terjadi, karena dia tidak ingin terus melukai wanita yang menjadi istrinya kelak.
....... Bersambung .......
__ADS_1
Siang semua... aku Up lgi nih... buruan like n comen ya... syukur2 dikasih tips βΊβΊβΊππππ