
Hari-hari yang dilalui Raina semakin terasa cepat, dia semakin produktif bekerja nyaris siang malam, jika dia merasa lelah Raina kembali menyemangati dirinya sendiri, dia tidak akan cepat menyerah dan melupakan tujuannya meraih mimpi terbesar dalam hidupnya.
Tanpa terasa satu bulan sudah berlalu, Aksa dengan kesibukannya dan Raina pun sama, mereka masih saling bertukar pesan atau vidio call ketika rindu sudah memuncak, keduanya bersama-sama saling mendoakan satu sama lain.
Aksa sadar jika dia sudah seharusnya mengunjungi sang kekasih tetapi karena kesibukannya membuatnya masih tetap berada di Korsel, meskipun terkadang dia harus ke luar negri. Raina merupakan sosok yang tidak posesif sehingga membuat Aksa bersyukur atas hal itu.
Sampai suatu ketika Raina mendapatkan masalah karena ternyata pihak orang tua mempelai sudah memesan MUA lain, sementara Raina sudah berada di sana dan sudah memulai merias mempelai wanita.
"Siapa dia put? mami kan sudah bilang yang merias kamu itu bude mu, bukannya wanita udik ini, lihat saja penampilannya sama sekali tidak mencerminkan dia seorang MUA, apa lagi dia tidak memakai ritual-ritual jelang paesan."
"Tapi mi, dia MUA pilihan ku, aku udah liat hasil make up-nya selalu bagus, mami per... "
"Enggak put, kamu harus nurut sama mami."
"Heh, mbak pergi sana, aku sudah memesan MUA handal yang kualitasnya sudah tidak perlu diragukan lagi, lagian kamu enggak memakai ritual menjelang paesan, bisa-bisa pernikahan anak ku berantakan nanti, sana pergi."
Kata-kata kasar seperti itu sering Raina dapatkan, tetapi kali ini sungguh sangat membuatnya malu, karena dia dimarahi didepan banyaknya saudara dan kerabat yang hadir, dan sontak saja membuat MUA yang sudah dipesan oleh mami mempelai wanita mengejeknya, mengejek hasil make up-nya yang bahkan baru dimulai. Raina menyusun semua peralatannya dan dia memutuskan untuk pulang, hari ini benar-benar membuatnya lelah. Sangat-sangat lelah.
Sekuat hati Raina menahan tangisnya, hingga saat dia berada dijalan dengan mengendarai maticnya, air matanya sudah tidak dapat lagi dia bendung, Raina memutuskan menghentikan laju kendaraannya pandangan matanya yang mengabur karena dipenuhi air mata.
Setelah sedikit puas, Raina melajukan kembali perjalanannya ke tempat kos, dia menaruh semua peralatan make Up dan baju pengantinnya, dia memilih langsung menelungkupkan diri dikasur busa yang telah beberapa tahun ini menemani tidurnya.
Lagi kejadian tak terduga yang teramat sangat membuatnya malu, terlebih lagi pihak MUA saingan Raina tadi sempat mengambil gambar dan vidio dirinya saat sedang dimarahi orang tua mempelai wanita.
Raina takut karirnya akan hancur jika vidio itu tersebar disertai bumbu dan fitnah yang kejam. Dia tidak memiliki bakingan dari siapa pun, semua kliennya memesan karena melihat vidio yang dia abadikan di media sosial miliknya dan beberapa rekomendasi dari mempelai yang sudah memakai jasanya.
Raina berselancar di dunia maya, dia melihat apakah vidio tadi sudah diunggah atau belum, Raina berharap mereka tidak memperkeruh semuanya. Tetapi alangkah terkejutnya dia saat melihat pertemuan dua keluarga pengusaha yang saat ini sedang menjadi topik pembicaraan.
Disana tersiar kabar jika keluarga Aksa dan Alina membuat pertemuan tertutup membahas pertunangan antar anaknya. Lutut Raina seolah tidak bertulang, dia menjatuhkan ponselnya, dadanya bergemuruh hebat disertai air mata yang kembali mengalir.
__ADS_1
Semua pikiran buruk berkecamuk dipikirannya, dia sudah tidak bisa berpikir jernih saat ini, hatinya menjadi porak poranda saat disana terlihat Aksa yang sama sekali tidak memberikan klarifikasi apa pun dan hanya tersenyum.
Antara karir dan cintanya kembali di uji, tetapi dia mengingat ucapan Aksa jika dia tidak boleh meninggalkan Aksa dalam keadaan apa pun juga harus percaya sepenuhnya pada Aksa.
Hal itu yang mampu membuat hati Raina sedikit terhibur, dia juga mengkonfirmasi pada Aksa, dan Aksa memberikan jawaban yang sangat melegakan hatinya.
Raina kembali bisa menata hatinya sore ini, dia merasa lapar karena sejak tadi tidak ada asupan apa pun masuk kedalam perutnya, Raina memutuskan untuk keluar dan membeli makan bersama teman satu kosnya sekalian menghibur diri dengan berjalan-jalan disekitar kawasan kosnya.
.....
Seoul Korsel
Aksa membanting tas kerja yang dia bawa, setelah pertemuan itu, dia benar-benar merasa dibodohi oleh ayahnya yang memanfaatkan keadaannya, kesibukannya membuatnya lengah dan tidak mengetahui apa pun yang telah direncanakan orang tuanya.
Aksa tidak lagi ingin membicarakan apa pun setelah perdebatannya dengan sang daddy yang tidak akan pernah dia menangkan, Aksa memilih ingin pergi sebentar, menenangkan gejolak jiwa mudanya, dia tidak ingin lepas kendali dengan orang tuanya, akhirnya dia meminta Ki Tae untuk mempersiapkan penerbangannya menuju Spain.
Selama sepuluh tahun hubungan keduanya membaik bahkan tak jarang Aksa bertukar pikiran dengan sang kakak ipar yang terkenal bengis, meskipun begitu, Aksa selalu menyukai kepribadian Alessandro yang nota bene merupakan orang yang bijaksana.
Alle tidak akan membuat keputusan sepihak seperti ayahnya yang selalu semena-mena jika membuat keputusan. Kejadian hubungan yang merenggang antara Cheyra sang kakak dengan sang ayah, tidak lantas membuat Allard menjadi jera dan memperbaikinya.
Tapi justru Allard semakin yakin jika keputusannya menjodohkan anak-anak mereka memang merupakan hal yang benar. Tentu saja itu merupakan dukungan dari sang istri yang sudah terlebih dahulu meminta petunjuk pada Allah, melalui ibadahnya.
"Hai keponakan Uncle, apa kabar kalian berdua hem?"
"Uncle!!"
"Yey Uncle datang, mom dad, uncle Aksa datang."
Kedua anak laki-laki dan perempuan yang berbeda usia lima tahun itu berlarian ke arah Aksa yang audah merentangkan kedua tangannya untuk menyambut sang keponakan.
__ADS_1
Aksa menggendong keduanya bersamaan, dan bergantian mencium pipi gembul Arick dan Ashila. Meskipun Arick terlihat beberapa kali menghindar dari ciuman Aksa. Aksa merupakan idola Ashila sehingga saat ini dia benar-benar senang Aksa berkunjung ke-mansionnya di Spanyol.
"Apa kabar yang ku dengar itu benar dek?"
"Kabar apa?"
"Rencana perjodohan mu dengan Alina Parveen, dia wanita yang mirip dengan mommy kan? bukankan dulu kau mengaguminya?"
"huh... " Aksa mendengus mendengar perkataan kakak perempuannya. "Entahlah kak, mengagumi dan mencintai itu dua hal yang berbeda, aku tidak bisa menikahi wanita yang hanya ku kagumi tetapi tidak ku cintai"
"Wah... jika kau tiba-tiba bicara tentang cinta, nampaknya kau sudah menjadi pria dewasa saat ini dek." Ujar Cheyra dengan meledek sang adik yang masih saja dianggapnya anak-anak.
"Apa kau mencintai wanita lain dek? siapa dia? anak pengusaha mana?"
Sontak pertanyaan Cheyra membuat Aksa melirik malas ke arahnya.
"Apakah harus anak pengusaha, atau pun dia harus mempunyai keturunan yang jelas kak?"
"Apa maksud mu, tentu saja, karena daddy dan mommy pasti akan mempertimbangkan hal itu untuk bisa menikah dengan mu dek."
"hufftt... spertinya tujuan ku kemari hanya sia-sia saja." Jawab Aksa sembari berjalan menuju taman belakang untuk bisa bermain dengan hewan peliharaan Allesandro. Sementara Alle hanya tersenyum miris melihat raut wajah sang adik ipar.
Disana terlihat jauh pancaran semangat yang belum pernah terlihat sebelumnya, dan Alle bisa melihat itu, dia yakin jika Aksa telah memilih wanitanya sendiri. Alle berjalan menghampiri Aksa.
"Jadi, siapa gadis yang telah berhasil membuat seorang pewaris Dennison group menjadi galau?"
........ Bersambung .........
Hay... semua up-nya mepet bgt ini soalnya anank lg pada rewel tp msih berusaha Up buat kalian... jan lupa ksih semngat aku juga yaa.. mksihh...
__ADS_1