Rasa Yang Tak Usai

Rasa Yang Tak Usai
Saat Amin Ku Dan Amin Mu Menjadi Satu


__ADS_3

Gemerlap acara launching Rumah mode dengan brand Raina serta perhiasan milik Alexander itu berjalan dengan lancar, meskipun ada sedikit masalah saat acara tengah berlangsung. Tetapi semua mampu ditangani oleh tim elit milik Alexander. Raina juga menyampaikan sedikit sambutan yang kemudian dilanjutkan oleh sang ayah. Avram mengatakan jika brand rumah mode milik Raina, merupakan hasil jerih payahnya sendiri tanpa ada dia dibelakangnya.


Bahkan Avram dengan bangga mengatakan jika kerja kerasnya selama ini seolah sia-sia karena putrinya menolak pemberian apa pun darinya. Hal itu sontak membuat para tamu undangan sempat tidak percaya hingga pada saat Dimitry memutarkan vidio kilas balik tentang perjalanan karir Raina, sejak saat itu semua mata menatap kagum kearahnya.


Saat itu diantara riuhnya tamu undangan, Raina mencuri tatap kearah Aksa yang sejak tadi terus menatapnya dengan tatapan sendu. Sudah enam bulan sejak keputusannya untuk menyudahi hubungan yang tidak menguntungkan itu dia putuskan.


Tetapi hingga saat ini harapan terbesarnya masih belum bisa dia gapai. Aksa tersenyum hangat saat secara tidak sengaja netranya menangkap jika Raina juga menatap kearahnya. Tatapan itu seolah berbicara seperti apa kerinduan yang menggunung selama ini.


Usai acara itu berakhir Avram secara langsung mengundang keluarga Dennison dan Del Cano untuk bertandang kemansionnya. Meskipun hubungan keduanya tidak terlalu dekat belakangan ini, Avram berusaha untuk mengucapkan rasa terimakasih atas semua sumbangsihnya dalam menemukan kembali putrinya Raina.


........


"Selamat datang tuan Allard dan tuan Del cano. Maaf mengundang anda larut malam. Saya ingin membicarakan masalah yang terjadi dibelakang."


Tanpa sepengetahuan Raina, pasukan elit milik Alexander tadi berhasil melumpuhkan beberapa orang penelusup yang masuk keacara Raina.


Dibantu dengan anak buah terbaik milik Allessandro Del Cano yang memang sudah bersiap atas perintah sang tuan. Bukan tanpa sebab mengingat siapa yang memiliki acara membuatnya harus membawa serta anak buah terbaiknya.


"Kita berbincang ditaman samping saja tuan Allard, maaf saya masih sedikit khawatir jika putri ku mendengarnya." Avram membawa tamunya ketaman samping mansion beserta Alle dan Aksa yang juga mendapatkan undangan khusus.


"Baiklah, biarkan para wanita menikmati waktunya didalam ruangan, udara malam tidak bagus untuk mereka." Sahut Allard sembari terkekeh.


"Terimakasih tuan Allard dan juga tuan Alle, saya tidak bisa membalas kebaikan kalian, sejak dulu saya selalu merepotkan anda." Ujar Avram dengan sedikit kikuk karena mengingat sang putri yang masih saja menatap ke arah Aksa.

__ADS_1


"Any time tuan Alexander. Saya malah senang bisa membantu anda, karena seperti inilah seharusnya." Turur Allard dengan bahasa yang lebih santai.


Berbeda dengan Dimitry yang sejak tadi menatap kearah Aksa dengan pandangan sulit diartikan. Sementara Aksa merasa canggung karena netra Dimitry tak pernah lepas darinya sejak tadi. Dia mencoba bersikap normal dengan tetap menatap para tertua yang berada disana.


"Entah seperti apa jadinya acara tadi jika saja anak buah anda tidak mengulurkan tangan. Sekali lagi saya benar-benar berterimakasih pada anda tuan."


"Jangan berterimakasih pada ku tuan. Karena tanpa informasi dari Aksa, saya pun juga tidak mengetahui apa pun pada awalnya." Saat itu juga pandangan Avram beralih pada Aksa yang hanya tersenyum dan mengangguk ringan.


"Dia masih terus menempatkan seseorang untuk menjaga Raina, meskipun mereka sama sekali tidak pernah bertukar kabar. Tetapi nampaknya putra ku masih terus menempatkan putri anda pada tempat yang tidak bisa dijangkau wanita mana pun."


Sontak ucapan Allard membuat Avram dan Aksa menatap kearahnya. Aksa merasa malu karena dia ketahuan tengah begitu mengagumi Raina. Hingga saat ini.


"Ah... Benarkah begitu Aksa? Bukankah dia sudah memiliki seorang tunangan? apakah...." Avram tak bisa melanjutkan ucapannya, dia tidak bisa menutupi rasa penasarannya. Dengan fakta yang baru dia ketahui ini.


"Anda benar tuan, tapi sejak tadi sore semuanya sudah berakhir. Banyak hal yang membuat mereka berdua tidak bisa dipaksakan untuk bersama." Penuturan Allard itu membuat Avram dan juga Dimitry menatap tak percaya dengan pernyataan Allard barusan.


"Maaf tuan Alexander, pertunangan Aksa bukan lah perjodohan bisnis, melainkan itu persetujuan dari para wanita, yaitu istri ku yang kebetulan memang bersahabat dengan ibunda Alina Parveen." Allard menjelaskan tentang kondisi yang sebenarnya.


"Oh... Benarkah? wah... ku kira merupakan perjodohan karena bisnis tuan. Maaf saya tidak mengetahui alasan sebenarnya."


Allard mengangguk maklum, karena memang disini dia tidak mendapatkan keuntungan apa pun atas pertunangan Aksa. Sementara Aksa hanya diam mendengarkan percakapan para tetua yang semakin malam semakin menarik karena mereka membahas tentang informasi dunia hitam yang saat ini tengah hangat.


Beberapa kali dia mencuri kandang kearah dalam mansion, netranya berusaha mencari keberadaan Raina yang sejak dia datang belum terlihat.

__ADS_1


.....


Sementara itu, Raina sibuk menyelesaikan rancangan gaun pesanan salah satu publik figure di Indonesia yang memang harus selesai dalam waktu dekat. Meskipun dalam keadaan lelah tidak menyurutkan semangatnya untuk merampungkan desainnya.


Tepat pada waktu sebelum subuh tiba Raina terbangun dan dia bergegas melangkah kekamar mandi. Setelahnya dia masuk kedalam mushola kecil yang ternyata sudah dibuatkan oleh sang ayah. Telat disamping kamarnya yang langsung terhubung melalui pintu dikamar pribadinya. Mushola itu sendiri juga bisa diakses melalui lorong lantai dua. Karena dilantai dua memanglah merupakan kamar Dimitry dan Raina juga terdapat beberapa kamar tamu.


Tetapi langkah kakinya terhenti dan dia tertegun melihat pemandangan didepannya. Seorang pria dengan perawakan tinggi, dengan tubuh proporsional meskipun tidak seperti kakak iparnya yang memiliki tubuh lebih besar. Tetapi badannya tak kalah berotot dengan Alle.


Pria itu tengah bersimpuh dalam keadaan sujud yang cukup lama, Raina sengaja tidak mengusiknya sama sekali. Dia hanya menempatkan dirinya kemudian menempatkan diri dibagian belakang dan gegas menunaikan ibadah sunnahnya.


Saat keduanya mengangkat tangan secara bersamaan, pemandangan itu terlihat indah dan menyejukkan hati siapa pun yang melihatnya. Hal itu tidak di sia-siakan seseorang yang langsung mengabadikan momen tersebut melalui kamera diponselnya.


Entah doa apa yang sedang dilangitkan oleh keduanya, hingga terlihat sangat husyuk sampai tak menyadari keberadaan seseorang yang tengah menatap haru kearah keduanya. Dia hanya berharap semoga apa pun yang kedua manusia ini langitkan didengar dan dikabulkan oleh sang pencipta semesta. Karena bukankan Dia lebih menyukai mahluknya yang terus memujinya, disaat yang lain tengah terlelap dalam alam mimpi.


"Astaghfirullah....." Ucap Aksa sembari mengelus dadanya karena rasa terlejut. Saat keduanya tengah selesai Aksa berbalik dan dia seketika menjatuhkan dirinya kembali kebelakang karena rasa terkejutnya, saat netranya menemukan keberadaan Raina yang juga terlihat baru selesai menjalankan ibadah sunnahnya.


"Rain... "


Raina hanya tersenyum sembari mengangguk kearah Aksa, dan sungguh bisakah saat ini juga Aksa menghalalkannya. Senyuman Raina benar-benar berbahaya, karena mampu membuatnya mengalihkan seluruh dunianya dan hanya terpusat pada sosok yang memiliki senyuman manis didepannya ini.


"Mas.... "


Sungguh... panggilan Raina saat ini membuat hatinya berdesir hebat, jantungnya tak lagi berdegup normal seolah berloncatan.

__ADS_1


....... Bersambung ......


Hayooolohhh baper g tuh... 😂😂🤣🤣🤣 komenin donk ☺☺☺☺


__ADS_2