Rasa Yang Tak Usai

Rasa Yang Tak Usai
Perlahan Bangkit


__ADS_3

Hampir satu tahun sudah sejak perpisahan menyakitkan yang entah kapan bisa membuat keduanya move on. Raina menyibukkan dirinya dengan bekerja, memang benar setelah dia mendapatkan luka terhebatnya nyaris satu tahun lalu, Raina mendapatkan hikmah diantaranya karirnya yang semakin hari kian menuju puncak.


Tak bisa dipungkiri sekarang dia mendapatkan banyak job dari para artis maupun pejabat ternama, mereka merasa puas dengan cara kerja dan hasil lukisan Raina. Bahkan saat ini perlahan dia membeli alat make up yang lebih lengkap dan bekerja sama dengan banyak WO maupun EO.


Raina mendapatkan sedikitnya tujuh karyawan tetap yang bekerja padanya saat ini, ucapan syukur saja dia merasa tidak cukup, dan perlahan dia bisa membantu beberapa anak panti asuhan yang memiliki nasib serupa dengannya. Karena dia tahu benar seperti apa rasanya jauh dari orang tua dan tidak bisa menemuinya.


Raina perlahan membeli baju pengantin sendiri, atau dia sengaja membuat desain gaun formal maupun semi formal untuk diperjual belikan maupun untuk disewakan.


Perlahan karirnya menanjak saat ini dia sedang berada disebuah lahan yang sedang dijual, lahan yang memang dahulu hanya tanah kosong dipinggiran kota Semarang, meskipun begitu letaknya sangat strategis dan selalu ramai selama dua puluh empat jam.


Dia berencana membeli lahan kosong itu untuk dijadikan butik sekaligus rumah untuknya tinggal, dia juga ingin membeli ruko yang berada disebelahnya untuk dijadikan kantor MUA. Perlahan dia mulai merangkak menaiki tangga kesuksesan. Harga tanah telah disepakati dan dia juga sedang berusaha mendapatkan ruko yang berada tepat disebelahnya.


Dua hari lagi lahan tersebut sudah mulai dibangun dia menginginkan membangun tiga lantai dan memiliki rooftop diatasnya dia ingin sekaligus membuat kafe agar para client-nya tidak kesulitan untuk bisa meeting bersama para kru yang dia miliki.


Ya, apa pun itu, dia sudah bertekad untuk segera terkenal melalui cara yang baik, untuk bisa menemukan dimana keberadaan orang tuanya. Segala cara dia lakukan dengan bekerja sangat keras siang dan malam. Membuat kesehatannya sering terganggu, meskipun begitu dia tetaplah seorang profesional bahkan tidak jarang sore masuk rumah sakit, subuh dia sudah berada ditempat kerja.


Dia memang keras kepala, tetapi dia selalu ingin menyibukkan diri, supaya tidak memiliki waktu luang yang terbuang percuma, bukan tanpa alasan, karena jika dia sedang sendiri dia selalu ingat sosok pria yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.


Seolah dia memang tidak memberikan pikirannya untuk termenung, Raina selalu keras kepala karena rindu itu begitu menyiksanya, bahkan dia nyaris tidak bisa fokus jika sudah masuk kedalam kerinduan yang sangat dalam.


Meskipun dia sudah memblokir nomor ponsel Aksa, dan dia membuat IG baru dan digunakan hanya untuk kebutuhan kerjanya saja. Raina sama sekali tidak berani membuka IG lamanya. Dia terlalu takut jika harus melihat kenyataan yang pasti bisa membuatnya goyah.


Raina bahkan sengaja tidak memfollow Alina beserta teman dekatnya, terlebih Aksa. Bisa dibilang dia sebisa mungkin membatasi hatinya untuk tidak mengetahui apa pun tentangnya. Dia hanya fokus kerja dan kerja. menyibukkan dirinya.


"Mba Rain, gaun pesanan anak bupati kota sebelah sudah siap?" Lita, Asisten Raina yang sudah hampir satu tahun ini bekerja padanya menanyakan gaun pengantin pesanan kliennya.


"Astaghfirullah Lit, aku hampir aja lupa kalau kamu nggak ngingetin, duh maaf ya, gimana ini tinggal dua hari lagi ya, tinggal masang payet aja sih Lit, aku kerjain nanti malam insayallah Lit, nanti malam juga kita nggak ada job kan." Jawab Raina sembari membenahi beberapa proposal kerjasama dengan para WO dan EO.

__ADS_1


"Iya mba nanti malam kita nggak ada job kok, bisa istirahat sampe besok, trus langsung kenikahan anak bupati kota sebelah."


"Oke deh nanti malam aku garap insyaallah jadi Lit,"


"Mba ada DM nih, dia minta di rias pas acara Preewed dan ku bales kalau jauh nggak bisa soalnya kita job banyak banget setelah bulan ini, dan dia jawab lagi kalau bagus dan cocok dia mau sekalian untuk acara pernikahannya."


"Dari siapa sih Lit?" Ujar Raina sembari mengerutkan keningnya.


"Dia belum bilang sih mba ini dari asistennya, kalau mau baru nanti dia kasih tau bosnya siapa." Jawab Lita ikutan heran.


"Dih, bisa gitu ya, masak mau cari MUA nggak nyebutin langsung. Aneh banget, tapi kenapa menurut ku dia orang penting ya Lit."


"Iya juga sih ya mba, dia kayak sengaja nutupin siapa bosnya."


"Kalau jadwal kita kosong, dan bisa kita ambil aja Lit. Mana tau dia memang irang berpengaruh, bisa sekalian buat promosi secara nggak langsung untuk kita."


"Oke Lit, abis itu kalian makan malam dulu, jangan sampai telat."


"Baik mba."


Raina memang selalu teledor dengan makannya, tetapi untuk para karyawannya dia selalu tidak pernah lupa mengingatkan, karena baginya para karyawan tetap maupun tambahan adalah tanggungjawabnya.


Dia hanya memiliki tujuh karyawan yang berada dikantor yang dia sewa, dan puluhan karyawan tambahan. Karyawan tambahan ini merupakan karyawan yang dia pekerjakan jika memang jobnya sangat padat, dan untuk MUA yang berada dalam naungan namanya, dia sendiri yang memilih dan melatihnya, hingga dia merasa puas dan dijadikan karyawan.


Raina menaiki ruko yang dia sewa untuk dijadikan galeri busana pengantin, disana dia membuat dan mendesain beberapa gaun yang nyaris selalu laku jika dia membuat desain baru. Langit malam ini dilengkapi dengan gerimis yang sejak sore sudah awet menemani. Raina membuka jendela menatap pelataran parkir yang tergenang sedikit air hujan.


Dia mendongak menatap langit, tidak terlihat bintang maupun bulan disana tangannya menjulur menadah air hujan, secara tiba-tiba perasaannya menjadi gelisah, rindu itu kembali datang, membuat hatinya berkecamuk dan gelisah. Ternyata merindu tanpa memiliki suatu hubungan lebih menyesakkan, karena tidak ada harapan untuk bertemu apa lagi segedar melepas rindu.

__ADS_1


Kembali liquid bening itu menetes, mata sayu gadis yang kini bertubuh ringkih dan kurus, karena nyaris satu tahun dia menyiksa dirinya dengan kerja keras dan tersiksa menahan rindu yang tak berujung.


"Mas, maaf aku merindukan mu, aku tau ini tidak pantas, tapi apa lah daya ku yang tidak bisa mengendalikan perasaan ku." Raina tergugu dalam tangis, semakin dia berusaha melupakan Aksa, semakin dia terus mengingat pria itu.


......


"Dapat dari mana foto ini Dim?" Tanya Avram yang langsung terbeliak saat kedua netranya menatap foto perhiasan yang pernah dia buat puluhan tahun yang lalu.


"Aku ingin mengkonfirmasinya terlebih dahulu dad." Jawab Dimitry datar sembari melihat ekspresi sang daddy.


"Meskipun sedikit berbeda dan itu dipakai dileher, tapi aku masih bisa mengenali barang yang pernah aku buat hanya satu Dim." Jawab Avram sembari bangun dari duduknya.


"Baiklah, dady tidak perlu mencarinya, karena jika benar ini buatan daddy, makan aku sudah menemukan keberadaan Riana dad. Tunggulah dengan santai dan jangan beri tahu pada mommy dulu, kita kasih kejutan buat mommy."


"Kau serius Dim? kau tidak mau memberitahukan pada ku terlebih dahulu?"


"Nanti dad, aku masih belum sepenuhnya memastikan, nanti aku akan bawa kehadapan mu beserta tes DNA jika memang dia Riana."


"Oh god.... aku bersyukur jika memang itu benar. Aku berharap itu benar tidak seperti beberapa gadis yang kau bawa pada ku beberapa waktu lalu."


"Sorry dad, maka dari itu aku akan memastikannya terlebih dahulu."


"Thanks son, kau memang putra ku." Jawab Alexander Avram sembari memeluk putra kebanggaannya.


........ Bersambung .......


Hai-hai, maaf ya kemarin g Up, aku sangsi ama level yang nggak kunjung naik.. makanya jangan lupa vote, like n comen yaa.. makasih.....

__ADS_1


__ADS_2