Rasa Yang Tak Usai

Rasa Yang Tak Usai
Gombalnya Aksa


__ADS_3

Hari ini Aksa disibukkan dengan kegiatannya mengunjungi perusahaan mebel peninggalan sang kakek dan akan segera mengunjungi lahan yang telah dipersiapkan untuk pusat perbelanjaan yang akan segera dibangun disalah satu kabupaten di Jawa Tengah.


Sedangkan Raina hari ini mulai bekerja setelah subuh dia berangkat, hari ini dia bekerja atas namanya sendiri dan tidak ikut MUA lain, meskipun begitu hasil make up Raina sebenarnya sangatlah bagus, dia memang anak yang teliti dan dan sangat detail, untuk urusan melukis wajah, hingga dia terkenal mampu membuat sang mempelai wanita menjadi "mangklingi" dalam istilah jawa.


Dia terus mengasah bakatnya dan bertekad untuk bisa menjadi orang yang dikenal banyak orang melalui pekerjaannya.


"Bismillah semangat Raina, aku harus bisa menjadi orang yang setidaknya dikenal oleh banyak orang, dengan begitu aku akan lebih mudah menemukan keberadaan orang tua kandung ku."


Itulah kata-kata pagi ini sebelum dia berangkat, dia selalu menyemangati dirinya sendiri, karena dia berpikir akan lebih mudah menemukan kedua orang tuanya jika setidaknya dia dikenal banyak orang.


Orang tua angkatnya tidak memberikan clue apa pun tentang siapa dan dimana keberadaan orang tua kandung Raina, itulah sebabnya tujuan Raina untuk dikenal banyak orang semakin kuat.


Akhir-akhir ini itulah yang menjadi kekuatan Raina untuk selalu bertahan terhadap apa pun yang dia lalui, mimpinya untuk bertemu orang tua kandungnya membuatnya membulatkan tekad, setidaknya ada hal lain yang disibukkan dipikirannya selain memikirkan cintanya.


Raina melihat jam pada cincin pemberian Aksa, dia tersenyum mengingat hal manis yang dilakukan Aksa kemarin. Perasaannya menjadi menghangat dia menyentuh cincin itu, cincin yang disebalik sisinya terdapat namanya begitu jelas, meskipun huruf itu kecil menyesuaikan ukuran cincin itu.


Saat sedang asik memandangi cincin pemberian Aksa, ponselnya bergetar dan dia membaca notif pesan yang dikirimkan Aksa untuknya.


"Hari ini suhu kota Semarang terlalu panas, sepertinya aku membutuhkan mu."


^^^^^^"Maksud mas Aksa gimana? Apa hubungan ku dengan suhu yang panas mas?"^^^^^^


"Aku merasa terlalu gerah karena kepanasan, dan aku membutuhkan mu, karena kehadiran mu bisa membuat ku merasa dingin, dicuaca yang panas ini " Rain".


Aku membutuhkan kehadiran mu, "Hujan"."


^^^"Ku rasa bukan cuman kamu yang membutuhkan "hujan" saat ini mas, tapi semua orang yang sedang merasakan hal yang sama dengan mu dan juga seluruh semesta."^^^


"Selesaikan pekerjaan mu sore ini aku ingin mengajak mu ke suatu tempat, aku akan menjemput mu."


^^^"Siap komandan!!!"^^^


Seketika Raina merasakan wajahnya menjadi panas dan pipinya bersemu merah, ah sereceh itu hal yang bisa membuat dia bahagia, meskipun hanya gombalan, tetapi setidaknya saat ini perasaannya menjadi lebih baik lagi ditengah-tengah kesibukannya melukis wajah mempelai wanita.

__ADS_1


Raina menyelesaikan pekerjaannya dengan penuh semangat, bibirnya selalu mudah melukis senyum manis karena perasaannya saat ini sedang sangat bahagia. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu pujaan hatinya sore ini.


.....


"Apa sangat enak mom?"


"Heemm..."


Ana menjawab pertanyaan anak lelakinya dengan mulut penuh, sementara Dimitry hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat sang mommy makan dengan lahap, bukan makanan direstoran atau pun hotel berbintang, tetapi Ana sangat menyukai makanan pedas sehingga siang ini Dimitry sengaja meluangkan waktu pulang ke mansion untuk makan siang bersama sang mommy.


Nafsu makannya memang menurun pesat beberapa hari ini setelah dia terus memimpikan anak perempuannya setiap malam, membuatnya seolah dicekik, ingin rasanya dia menemui sang putri akan tetapi dia hanya bisa berangan-angan, karena keberadaannya sama sekali tidak dia ketahui.


Dimitry sengaja mengajak sang mommy untuk makan siang bersama hari ini, dia bukannya tidak tahu jika sang ibu sedang dalam kesedihan selama beberapa hari ini, akan tetapi Dimitry sengaja seolah-olah tidak tahu dan tidak membahas apa pun tentang princes, karena dia tidak ingin sang mommy bertambah sedih dengan terus mengingat princes.


"Daddy mu selalu sibuk akhir-akhir ini Dim, bantulah dia sebisa mungkin, aku tidak ingin dia kelelahan, usianya sudah tidak lagi muda, aku menghawatirkan kesehatannya."


Ujar Ana dengan menatap lembut sang anak, kemudian menaruh garpu dan pisau, Ana meraih red wine yang berada didepannya dan menyesapnya sedikit demi sedikit.


Sejak menikah dengan Alexander Avram, Ana memang mengikuti suaminya dan tidak lagi menjadi muslimah seperti sebelum dia menikah. Itu adalah pilihan hidupnya setelah berperang batin cukup lama.


Avram berkata sembari berjalan masuk ke ruang makan keluarga, dengan wajah yang dibuat seolah marah.


"Avram, kau pulang rupanya, bukankah kau bilang akan makan siang bersama client mu?"


Ana sengaja mengalihkan pembicaraan, dia tidak ingin terlalu ketahuan jika dia mencemaskan suaminya.


"Sepertinya kau akan segera memiliki adik diusia mu yang sudah tidak muda lagi Dim,"


"Oh dad, come on aku bisa gila jika harus memiliki adik diusia ku sekarang."


Jawab Dimitry sarkas, dia tahu jika sang daddy hanya bercanda.


"Tapi dia meragukan keperkasaan ku Dim, sepertinya aku harus membuktikan pada mommy mu jika aku masih mampu memiliki anak lagi, bahkan sepuluh orang."

__ADS_1


Sontak saja ucapan Avram membuat Ana terbatuk-batuk karena tersedak makanannya, dia meraih air mineral dalam gelas panjang, dan meneguknya hingga tandas, sementara Dimitry malah tertawa terbahak-bahak, mendengar ucapan daddy-nya yang sangat tidak masuk akal.


"Kau keterlaluan Avram, malam ini tidurlah bersama Dimitry!" Balas Ana cuek sembari melanjutkan memakan salad buah karena dia merasa kenyang memakan makanan berat.


"Oh ayo lah honey, sepertinya Dimitry sangat menginginkan adik."


"What?" Dimitry yang tidak terima langsung berteriak dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


"Aku akan meninggalkan kalian berdua, karena obrolan kalian sudah masuk ranah dewasa, sementara aku belum cukup umur." Tutur Dimitry membuat kedua orang tuanya saling pandang kemudian tertawa bersama.


Dimitry pergi meninggalkan meja makan, dia bergegas naik kelantai atas dimana kamarnya berada. Keluarga ini sebenarnya sangat suka bercanda, dibalik nama besar seorang Alexander Avram, pria yang sangat ditakuti sekaligus disegani karena dia merupakan seorang mafia Rusia.


Ketika sedang bercanda Ana lah yang sering menjadi bulan-bulanan kedua pria beda generasi itu, meskipun begitu suasana hangat jelas terlihat dikeluarga ini.


....


"Aku menunggu mu di depan gedung Rain, jika sudah selesai keluarlah, tidak usah terburu-buru aku baru saja sampai."


"Baiklah, 10 menit lagi aku keluar mas, aku beres-beres alat tempurku sebentar ya."


Mobil Mercedrs benz seri terbaru itu meluncur membelah sore kota Semarang yang sangat padat, hingga keduanya harus rela terjebak kemacetan, karena jam pagi dan sore memang jalanan sangat ramai oleh orang-orang yang berangkat dan pulang kerja maupun sekolah.


Meskipun matahari sudah berganti dengan malam, keduanya masih dalam perjalanan dan berhenti di masjid untuk menunaikan kewajibannya.


"Sebenarnya kita mau kemana mas?" Tanya Raina yang sudah kesekian kalinya karena pertanyaannya tidak dijawab sama sekali. Aksa hanya tersenyum manis dan berkata.


"Nanti kau juga akan tahu Rain, tunggulah, atau kau bisa tidur jika terasa lelah."


Jawaban itu membuat Raina mengerucutkan bibirnya, dia masih belum terlalu mengenal kota ini dengan baik, karena dia juga merupakan perantau, jadi dia memilih diam sembari menatap jalanan yang tampak sedikit lengang setelah melewati kemacetan.


"Kita sudah sampai, ayo turun!" Ajak Aksa, sementara Raina terperangah melihat apa yang ada didepannya saat ini, tidak tepatnya dimana dia berada saat ini.


......... Bersambung ..........

__ADS_1


Hay Readers ku yang baik... sehat semua kan... aku Up kemaleman semoga review dari admin g lama ya... jangan lupa kaih vote like n comen ditunggu... ☺☺☺


__ADS_2