
Iring-iringan mobil porche mewah sampai di mansion keluarga Alexander. Gerbang tinggi menjulang itu seketika terbuka tanpa harus diperintah lagi. Mobil yang dikendarai Luke itu sampai pada pintu utama mansion megah yang terdiri dari lima lantai itu.
"Welcome back princes, Bagai mana kabar mu?" Avram adalah pria pertama yang menyambut kedatangan Raina, dia turun dari mobil bergegas menghampiri sang ayah yang telah merentangkan tangannya. Tetapi seketika tubuh pria paruh baya itu terheran saat Raina terlebih dahulu meraih tangan kanannya, menyaliminya dengan ta'zim. Setelahnya dia menyambut pelukan sang ayah yang dia rindukan.
Avram memeluknya erat seraya melayangkan kecupan-kecupan ringan dipuncak kepala sang putri dengan sayang. Kemudian dia beralih pada sang ibu yang terlihat berkaca-kaca. 'Ah... ternyata seperti ini rasanya memiliki keluarga yang utuh.' Batinnya.
"Selamat datang sweetie... Bagaimana perjalanan mu?" Ucap Anna seraya tak henti-hentinya memeluk serta mencium seluruh wajah Raina. Sambutan itu membuat hatinya menghangat seketika. Kedua netra cantiknya mengembun dan terlihat berkaca-kaca.
"Baik, aku baik.... " Raina tak laginmeneruskan kalimatnya karena kedua irisnya terlihat menurunkan cairan bening, dia terharu atas sikap hangat kedua orang tuanya.
Setelah penyambutan yang penuh haru, karena sudah hampir lima bulan tidak bersua, keempatnya melepas rindu diruang keluarga yang berada dilantai dua. Anna meminta Raina untuk segera beristirahat karena dia yakin putrinya itu pasti lelah.
"Baiklah mom, aku akan nail ke kamar dulu, tapi nanti sore aku ingin melihat bagaimana persiapan untuk acara besok." Ucapnya disertai senyuman.
"Kau tidak lelah sayang?" Kali ini Avram menyahut pembicaraan keduanya.
"No dad, aku sudah sangat tidak sabar ingin melihat persiapannya. Terimakasih sudah memberikan semuanya untuk ku." Tutur Raina lembut.
Avram mengangguk dengan senyum tersungging dibibirnya. "Itu bukan hal yang sulit sayang. Apa lagi kau bersikukuh untuk hanya menggunakan uang mu, dan menolak pemberian daddy." Avram terlihat murung usai mengatakan hal yang terakhir.
"Aku tau mungkin ini sedikit melukai perasaan kalian, tapi ku harap Daddy juga memahami ku, aku hanya ingin membuktikan pada diri ku sendiri jika aku mampu berdiri tegak diatas kedua kaki ku. Ini adalah pencapaian terbesar ku selana aku hidup dua puluh tahun ini dad. Meskipun pada kenyataannya aku tetap membutuhkan bantuan kalian untuk menangani semuanya." Ujarnya dengan nada bergetar.
Raina tidak menyangka jika dia akan bisa berada di titik ini. Sungguh Allah sangat bermurah hati padanya meskipun di awal perjuangannya sangatlah berat.
__ADS_1
...........
Disinilah saat ini Raina, di sebuah ballroom hotel megah yang berada dipusat kota Moscow, tempat acaranya akan digelar. Awalnya Raina hanya menginginkan grand opening di dekat rumah mode yang telah siap dibangun. Akan tetapi Avram nyatanya memiliki pemikirannya sendiri. Hingga berakhir dihotel mewah ini.
Semua dekorasi sudah terpasang sempurna, meskipun masih ada beberapa pekerja yang menyelesaikan tahapan finishing. Tetapi semuanya sudah terlihat sangat indah, mewah dan elegant menurutnya.
Dekorasi dengan nuansa Putih dan gold serta perpaduan sedikit sentuhan warna pastel yang menambah kesan feminim, karena memang tema dari acara ini merupakan grand opening rumah mode Raina serta peluncuran terbaru perhiasan Alexander Jewelry.
Lampu kristal yang terpasang memanjang menambah kesan glamor di event itu. Terlebih Raina sendiri yang memesan bunga hidup sebagai penghias ruangan. Sungguh hatinya tak henti mengucap syukur atas pencapaiannya kali ini.
"Why?" Tanya Dimitry yang heran melihat kediaman Raina. "Apakah semua ini tidak sesuai keinginan mu?"
"No kak, semua ini lebih lebih dari apa yang ku inginkan. Makasih kak sudah mempersiapkan semua ini untuk ku." Ujar Raina seraya menggenggam erat jemari Dimitry.
Puluhan gaun Pernikahan dan acara-acara penting telah terpasang dalam manekin dan semuanya dimasukkan kedalam kotak kaca berjejer memanjang, Raina menikmati keindahan hasil karya tangannya sendiri. Dia bahkan seperti tidak percaya jika bisa sampai berada di titik ini. Avram membuat acara ini seolah menjadi pameran barang antik yang memiliki nilai jual tinggi.
............
Acara yang ditunggu-tunggu pun tiba, semua para tamu undangan telah memenuhi ballroom hotel itu, dengan menempati kursi masing-masing sesuai nama yang telah tertulis diatas meja. Avram juga mengundang beberapa reporter ternama untuk meliput jalannya acara ini.
"Kak, a-aku.... "
"Hey... tenanglah... aku akan selalu ada disamping mu Rain, percaya dirilah... " Tukas Dimitry berusaha menenangkan Raina yang terlihat sangat gugup, bahkan jari jemarinya terasa sedingin es.
__ADS_1
Malam ini Raina tampak memukau dengan gaun berwarna peach, gaun rancangannya sendiri itu dia buat dengan aksen menjuntai pada lengannya dan memutar pada bagian pundak hingga menutupi perutnya. Dengan riasan soft yang tidak terlalu tebal tetapi mampu membuatnya semakin terlihat cerah memukau. Tingginya yang tidak seberapa itu dilengkapi dengan hills tujuh centi yang menunjang penampilannya.
Avram dan Anna terlihat tengah menyambut beberapa tamu yang telah hadir terlebih dahulu. Hingga sang pembawa acara memanggil namanya, dan saat itu dia keluar dari balik tirai dengan Dimitry yang juga terlihat tampan dengan setelan tuxedo berwarna senada dengan gaun Raina.
Tepuk tangan menggema di ruangan itu. Raina berjalan debgan menggandeng tangan Dimitry, berjalan sebentar dan berakhir duduk pada kursi yang telah disiapkan. Netra cantiknya mengedar, meskipun detak jantungnya tak beraturan tetapi dia berusaha menguasai audiens menatap keseluruhan dan dia menemukan keberadaan pria yang telah lama tak pernah ia jumpai.
Disebuah meja bulat yang berada didepan keluarga Dennison dan Del Cano terlihat serasi dengan pasangan masing-masing. Raina menundukkan kepalanya sebagai bentuk hormat pada Allard dan juga Alle beserta istri. Tak sengaja tatapan matanya beradu dengan netra hitam milik Aksa. Keduanya saling diam tetapi seolah saling menyalurkan rindu. Hanya sebentar kemudian Raina memutus kontak tatapannya dan memilih fokus dengan acara.
Tak berselang lama, dia juga menemukan keberadaan keluarga Alina Parveen yang terlihat dikursi paling jauh dari panggung. Ya, Dimitry telah mengaturnya sedemikian rupa berdasarkan kedekatan dengan keluarga Alexander.
Raina diminta menyapa para tamu undangan penting, dia ditemani Dimitry mendatangi satu per satu meja yang dianggap penting, menurut Dimitry. Saat sampai pada meja Dennison, Raina segera menyalami Ica dengan senyuman mengambang.
"Selamat ya Rain, atas pencapaian mu ini." Tutur Ica dengan memeluk Raina. "Iya tante terimakasih sudah berkenan hadir.
Saat sampai pada kursi yang diduduki Aksa, keduanya sempat terlihat salah tingkah. Tetapi sebisa mungkin Raina mengatur ekspresinya. "Selamat Rain... Akhirnya kay sampai dititik ini, dengan kedua kaki mu sendiri, aku bangga pada mu." Ucapan Aksa seketika membuat hatinya berdesir hebat. Nyatanya pesona seorang Aksa masihlah sangat berpengaruh meskipun Raina sudah berusaha melupakannya selama nyaris satu setengah tahun ini.
"Aku telah memenuhi janji ku Rain..., ku harap apa yang telah ku pertaruhkan dan ku perjuangkan disepertiga malam ku secepatnya menjadi kenyataan."
Deg....
Ucapan Aksa membuat Raina mematung seketika dengan jantungnya yang berpacu tak menentu.
........ Bersambung ........
__ADS_1
Hay... Aku Up lagi kasih komen dong βΊβΊβΊβΊπππ