Rasa Yang Tak Usai

Rasa Yang Tak Usai
Tepi Danau


__ADS_3

Udara dingin kota Semarang subuh ini menjadi saksi bagaimana bahagianya kedua insan yang sedang terlelap, semilir angin sejuk yang membuat keduanya mengeratkan selimut, meskipun dalam waktu lima menit berikutnya keduanya terbangun saat mendengar suara adzan subuh berkumandang, Raina lekas melipat selimut dan juga bersiap-siap mengambil mukena dari bahan parasit yang selalu dia bawa kemana pun karena bentuknya yang kecil sehingga praktis untuk dibawa.


Tidak berbeda dengan Aksa yang juga menggeliat meregangkan ototnya, meskipun dingin pagi ini cukup menusuk, tetapi dia tetap harus bangun untuk segera melaksanakan shalat subuh. Dia membuka tenda dan melihat kearah tenda yang berada tepat disebelahnya yang ternyata juga terbuka dan terlihatlah seorang gadis cantik yang sudah sejak lama dia kagumi.


"Morning Rain, apa tidur mu nyenyak tadi malam?" Tanya Aksa pada Raina yang baru saja keluar dari tenda yang berada tepat disebelahnya.


"Morning mas, alhamdulillah nyenyak, mas Aksa gimana, bisa tidur di alam bebas kayak gini?" Balas Raina, keduanya memang tengah berkemah dipinggir danau yang berada di daerah kota semarang, tetapi letaknya sedikit berada didataran tinggi, dan danau itu memanglah danau buatan pada awalnya, tetapi ternyata pemiliknya mampu membuatnya menjadi layaknya danau asli.


"Kita shalat dulu?"


Raina hanya mengangguk dan keduanya menuju mushola terdekat yang berada disana. Raina mengambil wudhu sekaligus menggosok gigi dan mencuci wajahnya begitu pula yang dilakukan Aksa, keduanya kemudian menjalankan kewajibanya dengan Aksa yang menjadi imam.


Perasaan Raina menjadi berdesir kala surat alfatihah itu dibacakan, kemudian disusul dengan surat pendek. Hatinya menjadi tentram dan dia tidak menyangka ternyata banyak makmum masbuk yang mengikuti keduanya shalat subuh.


Selesai shalat keduanya kembali ke tenda masing-masing, kemarin sore Aksa memberi kejutan Raina dengan pemandangan danau buatan yang terbentang didepannya, serta alat-alat alat berkemah yang lengkap dengan kompor dan juga pemanggang, begitu pula dengan persediaan makanan dan minuman yang lengkap, Raina menjadi takjub dengan kemampuan Aksa mempersiapkan semuanya secara mendadak tetapi sangat teliti dan lengkap.


Aksa kemudian mendirikan dua tenda ukuran kecil kemudian dia juga memasang tenda penghubung ditengahnya yang menghubungkan antara tenda miliknya dan milik Raina, sehingga terlihat seperti rumah dengan dua kamar. Raina merasa senang akhirnya dia bisa merasakan tidur diluar ruangan, karena sejujurnya Raina sangat menyukai alam.


Setelah menaruh mukena, Raina bergegas membenahi sedikit riasannya hanya dengan menabur bedak dan lipstik, dia juga menyisir rambutnya mengikatnya ala ekor kuda, kemudian dia keluar dan di sana Aksa sudah menunggunya lengkap dengan sepatu sport dan jaketnya.

__ADS_1


Raina tersenyum kemudian dia kembali ke tenda mengambil sepatu couple dan jaket yang sama dengan yang dipakai Aksa, dia kemudian keluar lagi.


"Sudah siap? kita lari kecil sebentar memutari danau, setelah itu membuat sarapan oke?"


"Baiklah tuan seperti yang anda inginkan." Jawab Raina membuat Aksa tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Raina.


Keduanya berlari kecil mengitari danau buatan itu, Angin sejuk yang berhembus ringan menambah nyaman saat menghirup udara pagi yang benar-benar masih fresh, embun pagi yang menempel pada dedaunan membuat sepatu mereka basah, tetapi hal itu justru membuat Raina senang, dia beberapa kali berhenti dan menemukan rumput putri malu, membuatnya lupa dan bermain sebentar dengan tanaman liar itu.


Aksa hanya bisa tersenyum melihat kepolosan Raina, dia benar-benar menyukai semua yang ada pada Raina. Matahari pagi sudah mulai menampakkan sinar jingga di ufuk timur keduanya berhenti dan melihat betapa kuasanya Tuhan semesta alam yang menciptakan langit dan bumi beserta seluruh isinya.


Raina mengambil beberapa foto matahari terbit dan juga siluet Aksa yang sedang memandang matahari terbit, begitupun juga dengan Raina, dia meminta Aksa mengambil foto dirinya yang sedang tersenyum kearah matahari pagi.


keduanya sarapan pagi seadanya, Aksa membawa satu paket menu panggang, yang berisi daging dan juga sayur-sayuran beserta sosis dan roti.


Keduanya makan dengan lahap ditemani hangatnya mentari pagi, dan terkadang Aksa menggenggam erat tangan Raina yang terasa dingin karena rasa yang terlalu dingin.


Raina juga membuat dua cangkir white coffe, saat Aksa menyesapnya dia terdiam beberapa saat coffe buatan Raina sungguh sangat membuatnya merasa pas dan ini sesuai dengan seleranya yang memang pecinta kopi.


"Kopi ini memiliki rasa yang pas,"

__ADS_1


"thanks mas Aksa"


"Aku ingin jika kita sedang bersama, kamu yang bertanggungjawab untuk membuatkan kopi untuk ku Rain,"


"Hah? baiklah"


Meskipun terkejut dengan permintaan Aksa, Raina tetap menganggukkan. Tetapi semenit kemudian tubuhnya menjadi kaku.


Deg...


Cup,


Jantung Raina berpacu dengan kuat dan cepat, tubuhnya melemas seketika hingga sosis besar dalam tangannya terjatuh.


"Mas Aksa... "


......... Bersambung..........


Hay cinta ku... gimana menarik g sih cerita ku kali ini?? jawab ya guys... ☺☺☺

__ADS_1


__ADS_2