
Malam semakin terasa dingin, karena sejak sore hujan turun sedikit deras, Raina memindahkan gaun pengantin yang baru saja dia selesaikan. Dia menatap puas dengan mata berbinar, gaun ini dia desain dengan bentuk sederhana, tanpa hiasan dan accesories yang terlalu banyak, tetapi nyatanya para pengantinnya akhir-akhir ini lebih menyukai gaun yang simpel dan sederhana.
"Perfect, hufftt..." Raina tersenyum bangga akhirnya dia bisa menyelesaikan gaun itu tepat waktu, meskipun dia harus bekerja lembur. Raina melihat jam kecil yang tertera di jari manisnya, waktu menunjukkan pukul dua pagi, ternyata sudah dini hari, Raina menghela nafasnya kasar.
Dia duduk ditepi jendela yang dia buka dengan cara menggesernya, segera udara dingin dan hembusan angin membuat bulu halusnya berdiri, rasa dingin menusuk tulang seketika hadir dan dia menghirup oksigen banyak-banyak, memenuhi rongga paru-parunya, menghembuskannya perlahan.
Raina kembali melihat cincin yang juga berfungsi sebagai jam, dia tersenyum kecut saat mengingat siapa yang memberikannya. Pada awalnya dia melepas cincin itu yang lupa dia kembalikan oada Aksa, akan tetapi rasa gelisah dan tidak tenang karena rindu selalu menyiksanya, Raina akhirnya kembali memakai cincin itu dia memantapkan hati biarlah urusan hatinya hanya Allah yang mampu membolak balikkan hati seseorang, jika hingga saat ini dia masih mencintai Aksa, itu semua sudah merupakan garis hidupnya yang harus dia jalani.
"Gimana kabar kamu mas?"
"Aku baik, maaf hingga saat ini aku belum bisa melupakan mu."
Tiada satu hari pun saat dia merindukan Aksa, tanpa air mata. Dia menyentuh cincin yang hanya dibuat satu untuknya, sesekali memutarnya dengan senyum tipis yang terlihat miris.
Entah mengapa hatinya sulit berpaling, meskipun sudah tidak lagi saling menyapa dan bahkan berjumpa, Raina menatap langit yang masih saja terlihat pekat karena tertutup mendung.
Jika dia memiliki waktu senggang dan rindunya sudah tak lagi terbendung, Raina akan melewati rumah peninggalan kakek Aksa dan kemudian berputar untuk mengunjungi danau buatan yang sempat dia datangi bersama Aksa. Disana rasa rindunya sedikit terobati meskipun tanpa pertemuan.
.........
"Luke, tolong bekerjalah lebih keras lagi. Cari tahu dimana keberadaan kebun teh yang terdapat dalam foto itu, aku mau hasilnya dalam waktu dua minggu, kita sudah hampir satu tahun, dan belum menemukan keberadaannya."
__ADS_1
Dimitry kehilangan jejak Raina, dia berulang kali mengirimi pesan lewat IG lama Raina, tetapi karena Raina sudah sangat lama tidak membukanya, alhasil Dimitry menemui jalan buntu.
Alamat Raina yang berpindah dari kos-kosan lama tanpa ada yang tahu dimana yang baru, membuat Dimitry nyaris gila, dia bahkan meminta salah satu rekannya untuk mencari tahu melalui data pribadi Raina yang dia dapatkan dari memaksa Aksa untuk memberitahunya. Lagi-lagi dia harus menelan kekecewaan saat Raina tidak bisa dia temukan.
Dimitry berulangkali mendatangi kos-kosan lama Raina, tetapi nihil, Raina seolah sengaja bersembunyi dan tidak ingin ditemukan. "Where are you Riana, aku bisa gila jika tidak menemukan mu. Aku ingin memberikan kejutan pada mommy dihari ulang tahunnya."
Hingga saat ini Raina sudah dua kali berpindah tempat tinggal, berada di Indonesia membuat langkahnya serba terbatas, dia tidak bisa leluasa bergerak karena negara ini terkenal ketat dengan keamanannya, warga negara luar negri tidak bisa bersikap leluasa.
............
"Sedang apa kak?" Tanya Aksa yang saat ini berada di Spain karena dia merindukan dua keponakannya dan sekaligus ada pertemuan penting dengan para investor. Dia heran karena melihat Allessandro yang masih duduk tanpa bergerak sembari melihat foto perhiasan serta kalung yang berada dalam genggaman tangannya.
"Hemm... nothing, hanya sedang berpikir." Alle menjawab sembari melirik kemudian pandangannya kembali dia fokuskan ke layar tablet pintar didepannya.
"Ya memang,"
"Tunggu, sepertinya aku pernah melihat gelang ini, terlihat tidak asing, tapi dimana ya?"
"Seriously? kau pernah melihatnya? dimana? katakan!" Tanya Alle menggebu. Sekitar satu bulan yang lalu secara tidak terduga dia mendapatkan panggilan dari Alexander Avram untuk membantunya mencari tahu siapa pemilik perhiasan tersebut. Dan tanpa petunjuk apa pun membuat Alle sedikit kesal karena dia kesulitan mencarinya.
"Iya, aku pernah melihatnya, aku lupa." Aksa berusaha mengingat-ingat dimana dia pernah melihatnya, tetapi dia benar-benar lupa. Membuat Alle kembali menyandarkan punggungnya pada kursi.
__ADS_1
"Jika kemari, setidaknya bawalah Alina, apa susahnya membawa gadis itu ikut bersama mu dek?" Terlihat Cheyra berjalan menghampiri dua pria beda generasi itu.
"Kau tau kan dia seperti mommy, jadi tidak akan mau diajak berlibur hanya berdua saja."
"Tapi kalian disini tidak berdua ada kami berempat dan juga puluhan pelayan di mansion ini."
"Huh... " Aksa membuang nafasnya kasar, dia mendengar ucapan arogan sang kakak yang dengan sengaja memamerkan harta kekayaannya.
"Ya ya ya... lalu apa lagi? berapa banyak koleksi jet dan pulau pribadi mu kak?" Sahut Aksa sinis, sementara Cheyra yang merasa umpannya ditangkap tertawa keras karena dia berhasil memancing kemarahan Aksa.
"Slow baby, ingat sebentar lagi kau menikah, jangan selalu menghindar saat Alina meminta mu menemaninya berbelanja."
"Ahhh.... kau sungguh membosankan kak, aku kemari untuk berlibur, bukan untuk diejek, dasar keterlaluan."
"Hahaha kau saja yang terlalu baper. Eh dek, gimana kabar gadis lugu itu? lama aku tidak mendengar kabarnya."
"Entahlah.... sudah lah kak aku tak ingin membicarakannya."
"Tunggu, kak aku ingat dimana aku melihat dan memegang perhiasan dalam foto mu tadi."
Deg....
__ADS_1
....... Bersambung ........
Hay.... gimana semakin seru kan.. jangan lupa vote like n komen yaa.. mksih sayang kalian banyak-banyak.... 😘😘😘😘