Rasa Yang Tak Usai

Rasa Yang Tak Usai
Ikhlas Yang Sesungguhnya


__ADS_3

Raina tersenyum dengan bibir bergetar, dia berusaha menahan isak tangis yang ingin segera pecah didepan Aksa. Entah apa maksud hatinya, berada didepan Aksa membuatnya ingin sekali mengeluarkan semua rasa sakit yang bercokol dihatinya.


"Rain, kenapa memblokir nomor ponsel ku? setidaknya dengarkan penjelasan ku terlebih dahulu, jika kau memang menyerah dengan hubungan kita, setidaknya jangan pernah menangis, maka aku akan dengan tenang melewati takdir yang memang mengharuskan kita berpisah. Jika keadaan mu semenyedihkan ini aku bahkan tidak yakin bisa menikahi wanita lain Rain."


Raina tergelak ucapan Aksa membuatnya mengerti jika sosok pria didepannya ini memang masih mencintainya, tetapi dia sama sekali tidak punya pilihan apa pun saat ini. Bahkan hanya untuk menelan ludahnya saja lehernya terasa tercekik.


"Bertahanlah Rain, sekali lagi aku akan berjuang mempertahankan mu, dengan syarat kau juga harus mau bersabar menunggu."


Aksa meraih jemari Raina, tetapi dengan cepat dia menepis tangan Aksa.


Raina tersenyum miris melihat keyakinan dimata Aksa. "Aku tidak akan mempertahankan hubungan yang menyakitkan mas, aku sudah terlalu malu berada disisi mu selama ini, aku baru sadar aku nggak bisa menggapai mu, aku hanya bisa memandang mu dari jauh."


"Rain, ku mohon satu kali lagi beri aku kesempatan untuk membahagiakan mu."


"Aku sudah memberikannya mas, bahkan aku harus terluka lebih dalam, hanya untuk bisa bertukar bahagia bersama mu dalam waktu yang sebentar."


"Rain, bukan ini maksud ku sayang."


Raina menggeleng hebat disertai deraian air mata yang membanjiri kedua mata cantiknya.


"Aku melihatnya mas, semua orang bersuka cita atas pertunangan mu, hanya aku yang tidak menyukainya. Apa kamu rela mengorbankan begitu banyak hati orang yang mencintai mu, demi untuk kebahagiaan mu mas?"


"Bulshit dengan mereka Rain, aku yang akan menjalaninya, kenapa harus mereka yang terluka."


"Karena mereka sama seperti ku, mereka mencintai mu mas,"


"Lalu bagaimana dengan ku? apakah hati ku bisa mereka ubah semaunya?"


"Aku bisa apa mas? Aku juga tidak kuasa, bahkan hanya untuk mengerti sekali pun terasa sulit."


"Maka dari itu bertahanlah dengan ku Rain!"


Raina tersenyum kecut mendengar ucapan egois Aksa. "Lalu bagaimana dengan mba Alina mas? kau juga akan melukainya. "


"Rain, sungguh ini menyakitkan."

__ADS_1


"Ya, aku tahu, tapi ini yang harus kita jalani mas."


"Aku enggak bisa Rain."


"Aku akan meminta restu dari mommy sekali lagi. Jika mommy merestui kita maka daddy juga sudah pasti merestui Rain."


Aksa terlihat sangat frustasi dengan keadaan ini.


"Atau aku akan tetap memilih mu, akan meninggalkan semuanya Rain, aku akan membuktikan jika aku benar-benar mencintai mu dengan segenap jiwa ku."


Raina menggeleng kuat, dia berusaha menetralkan perasaannya, dan menguasai keadaan. Menarik nafas panjang berulang kali. Kemudian berkata perlahan.


"Aku tidak akan pernah bersaing dengan wanita yang telah mempertaruhkan nyawanya hanya untuk melahirkan mu mas. Karena dia surga mu, dia adalah tujuan mu diakhirat nanti mas, aku tidak akan pernah pantas jika kau memilih ku dan mengabaikan ibu mu. Sampai kapan pun Anak laki-laki tetaplah menjadi milik ibunya."


Deg...


Kata-kata Raina seolah menjadi pukulan telak terhebat bagi Aksa. Dia hanya bisa melihat Raina dengan tatapan nanar, disertai matanya yang basah.


Sementara Raina memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri, hatinya teramat sakit, tetapi dia harus bisa membuat Aksa tidak meninggalkan orang tuanya.


"Aku mengerti mas, aku akan tetap baik-baik saja. Jangan sampai kau menyesal karena meninggalkan orang tua mu, Karena aku tau seperti apa sakitnya jauh dari orang tua."


Raina memangkas ucapan Aksa yang hanya sampai dibibir, dia tersenyum lembut, meskipun perasaannya hancur berantakan.


"Aku pamit, mulai saat ini jalani hidup mu dengan baik, jaga kesehatan mu, sayangi orang tua mu, dan terimalah jodoh yang telah dipilihkan oleh orang tua mu. Makasih udah membuat ku mengerti arti bahagia meskipun dalam waktu yang cukup singkat."


"Maaf, jika selama bersama ku, aku hanya bisa menorehkan luka, berjanjilah untuk tetap menyapa ku jika kita bertemu dikemudian hari."


Akhirnya meskipun dengan berat hati, Aksa menerima takdirnya yang selalu membuatnya seperti menaiki rolercoaster. Raina mengangguk, disertai air matanya yang kembali tumpah.


"Kau harus tau bahkan sampai detik ini aku masih sangat mencintai mu Rain."


"Mencintai tidak harus memiliki mas, karena hakikat tertinggi dari mencintai itu mengikhlaskan."


"Jika hakikat tertinggi dari mencintai adalah mengikhlaskan, aku akan berusaha untuk melepaskan mu, meskipun itu menyakitkan."

__ADS_1


"Terimakasih telah membuat ku mengerti arti dari kata ikhlas yang sesungguhnya. Mengikhlaskan mu menyakitkan, tapi bersama mu adalah sebuah ketidakmungkinan."


Raina kemudian pamit dan melangkah setelah mengucapkan salam pada Aksa, dia berjalan dengan ringan meskipun dengan kaki yang terpincang, dia merasa kehilangan separuh jiwanya, tetapi dia bisa apa, saat apa yang dia inginkan tidak dikehendaki oleh yang kuasa.


Tatapan matanya mengabur, karena air mata tak berhenti walau sejenak, Raina memilih masuk kedalam toilet, menangis sepuasnya, kemudian bersiap menghadapi kenyataan yang mungkin lebih terasa menyakitkan dari pada hari ini.


Menata kembali riasannya, memakai kaca mata pemberian Dimitry dan berjalan menuju loby untuk mengambil koper miliknya, dengan berat hati dia meninggalkan hotel yang telah mengukir kenangan pahit selama hidupnya.


......


Sepeninggal Raina, Aksa terduduk lemas dilantai disertai mata yang masih basah, hatinya terasa begitu sakit hingga nyaris mengorbankan ibu-nya, padahal selama ini dia sangat menyayangi sang mommy.


Tetapi ucapan Raina mampu membuat Aksa sadar dengan kekeliruannya. Dan memutuskan menjalani takdir yang sedang tidak berpihak padanya.


Ica dan Allard menghampiri putranya yang terduduk dilantai, Ica memeluk Aksa erat, dia tahu jika saat ini sang putra tengah mengalami patah hati terhebatnya.


Ya, Ica dan Allard mendengar semua pembicaraan Aksa dan Raina, hanya saja mereka memilih membiarkan keduanya berbicara dan menyelesaikan urusan mereka.


Aksa dibimbing kembali ke kamarnya, Raina mendudukkannya diranjang king size hotel. Sekali lagi dia memeluk sang putra erat, berusaha menyalurkan kekuatan. Aksa menangis tergugu dalam pelukan ibunya, dia menumpahkan semua rasa sakitnya, hingga membuat Ica terpukul, karena sepengetahuannya putranya tidak pernah menangis selama ini.


"Maafkan mommy Aksa, maaf mommy tau ini sangat berat dan menyakitkan."


Tak kuasa melihat putranya yang hancur, Ica pun akhirnya ikut menangis, keduanya larut dalam tangis hingga Aksa terlelap tidur dipangkuan ibunya.


............


Dimitry terlihat melanjutkan perjalanan, dia akan terbang menggunakan pesawat komersil biasa, karena dia tidak ingin keberadaannya diketahui oleh orang yang selama ini sengaja menguntitnya.


Dengan koper kecil yang dia seret serta tas punggung, kaca mata hitam dilengkapi topi hitam dia berjalan menuju keterminal keberangkatan bandar udara Soekarno Hatta.


Dia membuka ponselnya, menatap layar telepon pintar itu dengan hati menggebu dan merindu. "Bersabarlah, tunggu aku Riana, aku pasti akan menemukan mu dengan cepat."


......... Bersambung ..........


Hay....Enggak yau lagi ah... mewek terus nulisnya sampe ga selesai-selesai nulis 1 bab ini..... yang baca g mewek kali yaa...

__ADS_1


jangan lupa kasih vote, komen dan like yaa... kasih ulasan dan bintang kalau punya waktu β˜Ίβ˜Ίβ˜ΊπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2