Rasa Yang Tak Usai

Rasa Yang Tak Usai
Raina's Beautiful & Fashion Gallery


__ADS_3

Siang ini Raina ditemani oleh Lita, sementara Avram dan Ananta telah kembali ke Rusia, meskipun Ana bersi keras enggan pulang tanpa membawa serta keinginan terbesarnya, tetapi karena Avram yang berkata tegas untuk segera kembali alhasil dia mengikuti sang suami.


"Lit, besok kita balik ya. Tugas kita sudah selesai disini, maaf membuat mu kerepotan mengurus accesories dan menyelesaikan tugas ku." Ujar Raina segan.


"Mba udah beneran sembuh? masih keliatan pucet loh mba." Jawab Lita khawatir.


"Nggak apa Lit, aku nggak nyaman berada di negara orang lama-lama."


"Iya deh mba, aku ngikut apa kata mba Raina aja, aku juga udah kangen makan seblak hehehe."


"Selalu ya kamu, nggak busa jauh dari makanan." Ucap Raina sembari tersenyum.


Raina meminta Lita untuk segera memesan tiket pesawat penerbangan besok pagi, tanpa sepengetahuan Dimitry maupun orang lain. Dia tidak ingin kepulangannya diketahui, karena dia ingin pulang dengan tenang, tanpa huru hara. Sudah banyak waktunya yang terbuang di sini, juga hatinya yang terus sakit membuat semua pikiran dan plan yang sudah dia buat seketika hancur.


............


"Kau serius, ini asli bukan?" Ucap Dimitry dengan suara dan tangan bergetar, dia rasa senang, terkejut dan haru menjadi satu, tetapi yang paling mendominasi adalah rasa senang dibandingkan yang lain.


Tak henti mulutnya mengulas senyum disertai gelengan kepala pelan, air matanya meleleh sungguh kali ini dia merasa beban yang selama ini dia pikul seketika telah hilang, rasa lega dan mendominasi hati dan perasaannya.


Dia mengambil ponsel dan men dial nomor 1 pada ponselnya yang saat itu juga langsung terhubung dengan sang ayah.


"Dad.... Aku punya kabar baik untuk mu dan mommy. Aku akan kembali dengan membawa kejutan untuk kalian berdua."


Tanpa menunggu jawaban Avram yang masih bingung diseberang sana, Dimitry menutup panggilan pada ponselnya. Dia bergegas meminta Luke untuk mengurus semua yang dia inginkan. Tanpa ingin ditolak dengan alasan yang mendasar lagi.


"Aku akan ke rumah sakit, kau selesaikan semua yang ku minta pada mu."


"Baik tuan, sesuai perintah anda."


....


"Aku berharap kepulangan kita tidak ada rintangan apa pun Lit."


"Iya mba, pekerjaan kita sudah sangat menumpuk, tapi yang paling penting mba Raina sehat dulu, sementara ini cukup mantau pekerjaan ku sama anak-anak aja mba."


"Iya Lit, aku akan bantu sebisa ku, sayangnya aku belum bisa jahit sendiri, cuma bisa desain, tangan kiri ku belum terlalu bisa bebas bergerak."


"Udah mba istirahat dulu, biar cepet pulih."

__ADS_1


Tanpa diketahui Dimitry, pagi ini Raina dan Lita sudah berada di bandara, dan siap untuk terbang ke Indonesia, keduanya memang sengaja tidak memberitahu siapa pun.


........


"****"...


Dimitry mengumpat, saat kedatangannya ke rumah sakit tidak menemukan keberadaan Raina maupun Lita, karena keduanya sudah di Bandara.


Dia meraih saku jasnya dan mendial nomor ponsel Raina, namun disaat yang bersamaan Raina menjadi terkejut karena Panggilan dari Dimitry. Dia segera menggeser krusor berwarna merah pada layar ponselnya, membuat Dimitry kembali mengumpat serta menendang tempat sampah yang terbuat dari stainless itu hingga melayang membentur meja.


Dia kembali mendial nomor pada ponselnya yang langsung terhubung dengan ahli IT kepercayaannya.


"Segera lacak nomor ponsel yang ku kirimkan pada mu."


"Baik tuan."


"Right now". Titah Dimitry tegas tanpa ingin dibantah.


Selang lima menit dia mendapatkan telepon yang mengatakan jika sinyal ponsel Raina berada di bandara, membuat Dimitry berlarian menuju mobilnya dengan cepat.


"Rain, kenapa kau tak mengatakan jika akan kembali ke Indonesia."


"Luke siapkan jet pribadi ku segera, gunakan kekuasaan kita, terbang ke ke Indonesia."


"Baik Tuan." Meskipun sedikit bingung dengan perintah sang tuan yang tiba-tiba, tetapi Luke dengan cepat melaksanakan perintah sang tuan.


..........


"Akhirnya...... aku bisa menghirup lagi udara yang selama seminggu ini ku rindukan..." Ucap Lita dengan sedikit menguap, rasa kantuk membuat matanya sedikit berair.


"Kau ini, seolah kita beberapa tahun tidak pulang." Jawab Raina dengan gelengan kepala dan senyum melihat tingkah Lita.


"Kita langsung terbang lagi kan mba, aku udah capek banget rasanya."


"Iya Lit, nunggu tiga puluh menit untuk pindah pesawat dan bagasi aja."


"Iya mba.... "


Raina berjalan perlahan menuju ruang tunggu dengan tangan kiri yang digendong, karena sebenarnya lukanya belum sepenuhnya sembuh dan masih basah.

__ADS_1


Keduanya memilih menunggu di foodcourt karena Lita merengek perutnya lapar, dan memang keduanya belum sempat sarapan sebelum mengudara.


Dilain tempat saat Raina menaiki pesawatnya untuk segera terbang, Dimitry memilih langsung terbang menuju Ahmad Yani, dengan kekuasaanya semua bisa dia lakukan.


"Aku yakin kau belum landing Rain, aku akan menunggu mu."


Ucapnya dengan nada penuh harap. Dimitry berjalan mondar-mandir dengan ponsel yang selalu dia genggam, menunggu laporan pesawat yang digunakan Raina. Dimitry sengaja menunggu kedatangan Raina, karena dia tidak tahu alamat Raina yang sekarang, membuatnya sedikit kesulitan menemui gadis keras kepala itu.


..........


Raina melangkahkan kakinya ringan, dia menghirup udara yang siang ini yang sedikit gerimis, berulangkali ucapan rasa syukur dia panjatkan, karena masih diberikan umur panjang masih bisa kembali ke tanah air, meskipun dengan kondisi terluka.


"Setidaknya aku masih hidup dan masih bisa bekerja saat ini." Ucapnya pelan nyaris tak terdengar oleh Lita. Rasa haru menyeruak di hatinya, lika liku perjalanan hidupnya membuat Raina selalu merasa bersyukur masih diberikan umur panjang hingga saat ini.


Keduanya berjalan ke depan untuk mencari jemputan, karena Lita sudah menghubungi salah satu anak buahnya untuk segera menjemputnya. Sementara kru yang datang untuk membantunya saat pernikahan Audy sudah pulang terlebih dahulu.


"Itu lit Budi udah nungguin, yuk masuk." Raina membantu Lita mendong troli yang berisi koper mereka. Meskipun sebelah tangannya terluka, tetapi dia tidak akan membiarkan Lita mendorong troli sendiri.


Keduanya masuk setelah koper berhasil dimasukkan Budi ke bagasi belakang. Saat Raina hendak menutup pintu mobil ditarik dari luar. Sepasang mata menatap tajam ke arahnya, membuat Raina membeliak saat menyadari siapa yang berusaha menghalanginya.


"Tuan Dimitry? Untuk apa anda di sini?".


"Aku ikut." Ujar Dimitry tanpa ingin dibantah. Dia segera memutar tubuhnya dan masuk ke pintu depan, duduk disebelah Budi.


Dimitry merubah rencana awal yang ingin segera menarik Raina, dia memilih mengikuti kemana Raina pergi.


"silahkan jalan." Titahnya meskipun ketiga orang yang berada di dalam mobil civic itu terlihat heran dengan keberadaannya saat ini.


"Mba dia..... "


"Jalan Bud, biarin aja dia duduk, asal nggak buat onar aja, nanti kita turunin kalo dia aneh-aneh." Ucapan Budi terpotong saat Raina berucap. Mobil civic putih itu melaju dengan kecepatan sedang membelah sore kota Semarang.


Budi memarkirkan mobil didepan galery Raina yang baru, ruko dengan tiga lantai itu terlihat kekinian. Lantai satu merupakan galery butik koleksi gaun pengantin sekaligus kantor MUA, lantai dua merupakan tempat kerja pribadi Raina, sementara lantai tiga dijadikan tempat tinggal untuknya dilengkapi dengan kamar tidur dan fasilitas lainnya.


Disebelahnya terdapat cafe kekinian dengan pilihan menu dengan desain modern perpaduan dengan klasik. Raina memang menyukai gaya desain ruangan seperti ini. Simpel tanpa terlalu banyak pernik. Dilengkapi dengan tanaman hidup dan air mancur.


Dimitry terlihat tertegun saat membaca tulisan dengan nama 'Raina's beautiful and fashion gallery'. Dia memandang takjub pencapaian Raina dalam satu tahun ini membuatnya menatap Raina dengan mata berkaca-kaca.


.......... Bersambung ............

__ADS_1


Malem semua.... maaf ya kemarin Off lama,,,, insyaallah mulai hari ini Up rutin lagi... makasih yang udah setia nungguin Up ku.. sayang kalian banyak-banyak..... 😘😘😘🙏🙏🙏🙏


__ADS_2