
Tidak seperti beberapa hari terakhir dengan cuaca panas yang terik, sore ini Raina yang sedang berkemas untuk segera pulang ke Mansion menghentikan gerakan tangannya, kala netra cantiknya menatap keluar jendela, bibirnya tersenyum simpul saat rintik hujan mulai turun mengguyur kota Moscow, dia membuka jendela, menghirup aroma debu yang tercipta karena tanah terkena air hujan.
Menghirup lebih dalam lagi membuatnya benar-benar tenang, entah kenapa dia sangat menyukai aroma ini, meskipun kebanyakan orang tidak menyukainya. Rasa penat yang selama beberapa jam hinggap, terasa sedikit berkurang. Merampungkan dua gaun sekaligus dalam satu hari ini, membuat tenaganya terforsir sangat keras.
Gaun itu akan segera di bawa ke Indonesia karena itu merupakan pesanan client-nya yang berada di sana. Sang daddy Alexander Avram masih melarangnya pulang ke Indonesia, dikarenakan Asahi.
Akhirnya dia menyelesaikan pekerjaannya disini. Meskipun sedikit tidak efisien waktu. Tetapi dia tidak mempunyai pilihan lainnya. "Huufffftt..... " Helaan nafas lelah terdengar dari bibir mungilnya.
Kepalanya tengadah menatap langit, kembali terlintas dibenaknya tentang bagaimana hidupnya beberapa hari ini. Tak bisa dipungkiri jika Ia lelah, tidak bisa bebas dan leluasa bergerak, semua serba terbatas.
"Kamu sedang apa mas... " Bibir mungil bervolume itu berucap, kala mengingat sejak kemarin sang suami belum membalas pesannya. Pikirannya berkecamuk, tetapi ia tidak bisa melakukan apa pun selain menunggu.
Raina terlalu takut jika ternyata Aksa memilih jalannya sendiri tanpa pertimbangan kedua orang tuanya. Karena hal itu bisa membahayakan keselamatan suami tercintanya.
Dia kembali mengecek room chat di ponselnya, masih saja belum dibuka pesan darinya. "Sesibuk itu kah?" Meskipun sangat merindukan Aksa, Raina tidak bisa egois, karena kenyataannya Aksa memang sesibuk itu.
Bekerja sebagai CEO dari Secret Hotel, Direktur perusahaan Ritel yang tersebar di berbagai negara serta beberapa resort membuat Aksa seperti orang yang gila kerja, meskipun dibantu dengan asisten serta ayahnya.
Entah apa tujuan Allard yang terlalu mempercayakan dan menyerahkan semua usahanya pada Aksa, meskipun dia masih menjabat sebagai direktur utama Secret Hotel. Seolah dia ingin berhenti dan hanya fokus pada pengawasan dan sang istri.
Mengingat bagaimana sibuknya dia saat masih muda dia merasa banyak kehilangan waktu bersama keluarga, membuatnya menyesali hal itu. Melihat kedua anaknya yang lebih dekat dengan sang istri, bahkan Allard terkesan menyia-yiakan putrinya yang saat ini telah bahagia hidup dengan prince mafia Allessandro Del Cano.
Raina bergegas mengambil tas kerja serta smartphone saat Cika sudah mengetuk pintu kerjanya. "Nona, apa anda ingin pulang sekarang?" Pertanyaan formal yang sebenarnya tidak Raina sukai. Tetapi Cika tetaplah Cika yang selalu menggunakan profesionalitasnya saat bekerja. Raina mengangguk kemudian berjalan keluar.
__ADS_1
Mobil porche hitam yang dikendarai oleh pengawal Raina tengah memasuki gerbang, tetapi Raina bingung ketika melihat ada beberapa mobil mewah yang memenuhi pelataran mansion sang daddy.
"Leon, apakah Daddy kedatangan tamu?" Untuk memangkas rasa penasarannya Raina menanyakan hal itu pada pengawalnya. "Sepertinya begitu nona, tapi saya tidak tahu mereka dari mana dan siapa. Maaf, untuk berjaga-jaga, nona masuk lewat pintu samping mansion, saya akan mengawalnya." Jawab Leon tegas.
"Kenapa? apa kau lupa jika kita sudah berada di mansion? ini sudah aman tidak perlu cemas." Ucap Raina tidak suka pada jawaban Leon.
"Melihat banyaknya mobil mewah, dan juga bodyguard dari tamu, saya bisa menyimpulkan jika tamu tuan besar kali ini bukan merupakan orang sembarangan. Terlebih lagi mereka semua bertato di bagian pergelangan tangan mereka, saya yakin jika mereka merupakan sekelompok mafia atau genk yang berkuasa." Leon berkata setelah sebelumnya mencari tahu melalui intercome pada anak buah Avram yang berada di mansion. Dia juga melihatnya dengan teropong yang selalu tersedia di mobil itu.
Leon mengambil pistol glock yang terletak di dashboard depan dan menyelipkannya di bagian pinggang sebelah kiri, melajukan mobilnya melewati pelataran dan menuju pada pintu samping mansion.
Setelah memberikan perintah pada semua pengawal Raina untuk membuat sebuah benteng dengan tubuh mereka, Leon membuka pintu belakang dan dengan cepat menyampirkan jasnya pada kepala Raina, meskipun terkejut dan tidak suka dengan apa yang dilakukan Leon, tetapi Raina hanya diam saat sang pengawal mengatakan maaf.
Cika sendiri berjalan cepat mengamit tangan kiri Raina dan segera membawanya menuju lantai atas. Akan tetapi suara yang begitu lantang terdengar dari lantai satu tepatnya ruang tamu utama mansion Avram.
Semua mata menatap lebar kearah tangga, tak terkecuali Avram yang terlihat terkejut, bodohnya Raina yang malah memilih lewat tangga dari pada lewat lift, karena jika akan menggunakan lift pun ia harus lewat depan dan akan bertemu dengan para pengawal tamunya di bagian depan mansion.
Sejurus kemudian, Raina tersadar dari lamunannya, saat pria berbadan besar itu melangkah mendekat kearahnya. "Hai... senang melihat mu secara langsung Raina," Tanpa bisa dicegah Asahi terus berjalan maju mendekat pada Raina. Seketika itu kepanikan terlihat jelas diraut wajah Avram yang terlihat pucat pasi itu.
Meskipun dia seorang mafia, tetapi jika menyangkut Raina, dia akan selalu merasa takut. Harusnya Asahi tidak bertemu langsung seperti ini dengan Raina. Ya, tamu Avram petang ini adalah Asahi yang sengaja datang jauh-jauh dari Jepang.
Meskipun tubuhnya terasa kaku dan gemetar, Raina berusaha menguasai dirinya dan berdiri tegak, membuang jas yang disampirkan di kepalanya oleh Leon, meskipun memiliki tubuh yang kecil dengan tinggi badan rendah, nyatanya Raina yang telah terbiasa hidup keras seorang diri itu mengenyahkan rasa takutnya. Dia berbalik dengan tegas, menatap lawan bicaranya yang berada ditangga bawah.
"Selamat malam tuan, apakah saya mengenal anda?" Dengan mata menatap datar Raina menjawab sapaan Asahi tanpa rasa takut.
__ADS_1
"Hahaha.... kita memang belum saling mengenal nona, tapi kita akan segera akrab, terlebih setelah pernikahan nanti." Tawa menggelegar Asahi menyambut pertanyaan Raina. Ucapannya membuat Raina mengernyit heran, dan mengangkat alisnya sebelah, serta tersenyum miring.
"Pernikahan? pernikahan siapa yang anda maksud tuan?" Sungguh, jawaban dan ekspresi Raina membuat Asahi merasa tertantang, belum ada seorang wanita pun yang berani menatapnya dengan tatapan lurus tanpa menundukkan wajahnya. Terlebih jawaban Raina yang terkesan menantang.
"Hahaha.... Rupanya calon istri ku benar-benar berbeda, tapi tak apa, aku menyukai mu, justru aku merasa tertantang untuk menaklukkan mu di ranjang." Jawaban Asahi seketika membuat wajah Raina memerah menahan marah.
"Jaga bicara anda tuan Asahi, lagi pula siapa yang menyetujui pernikahan tanpa lamaran ini? apakah begini cara anda menghormati wanita?" Raina masih berusaha menahan amarahnya, meskipun sebenarnya dia sangat muak dengan perlakuan Asahi.
"Woah.... Rupanya kau mengetahui nama ku Nona, menarik... " ucap Asahi dengan pongah, dia berjalan mendekat naik kearah tangga dimana Raina telah berada di undakan ke Lima anak tangga, dan hal itu membuat semua bodyguard Raina cemas, terlebih Avram yang segera maju mendekat.
Asahi sampai tepat di anak tangga ketiga dan tinggi mereka nyaris sama, dia mengulurkan tangannya ingin menyentuh dagu Raina, tetapi dengan cepat Raina menepis tangan besar Asahi. "Jaga batasan anda!" Meskipun kecil nyatanya Raina mampu menepis tangan besar Asahi, dan hal itu membuat Asahi seketika merubah tatapannya pada Raina, dengan rahang yang mengeras dan tatapan nyalangnya.
"Kau gadis keras kepala!" Asahi meraih tangan kecil Raina, dan menariknya, tetapi ucapan keras seseorang membuatnya menghentikan tindakannya itu.
"Lepaskan tangan kotor mu darinya! "
Deg......
Semua orang sontak beralih menatap sang pemilik suara yang terlihat tengah marah dan menatap tajam kearah Asahi.
........ Bersambung ........
Hayoohhh... siapa dia....
__ADS_1
jangan lupa votenya yaa... like n comen juga biar semangaat nulisnya... mksih... βΊβΊβΊβΊπππ