
Setelah perdebatan alot yang nyaris membuat pertengkaran antara Allard dan sang putri, akhirnya Ica yang mendengar teriakan suaminya itu berlari dan masuk kedalam kamar Aksa.
"Baiklah, ku rasa itu merupakan jalan terbaik untuk saat ini, kita lihat enak bulan kedepan seperti janji mu dengan Alina. Daddy hanya tidak ingin membuat hubungan pertemanan mommy mu menjadi renggang, karena dia teman akrab mommy kalian." Tutur Allard akhirnya mencoba bersikap netral, karena bagaimana pun juga Aksa merupakan putranya.
.........
Cheyra melangkah keluar dengan sedikit dongkol karena sang ayah masih saja memberikan harapan palsu pada kedua orang tua Alina, padahal jelas-jelas Aksa sangat terbebani oleh hal ini.
"Sudahlah mas, jika memang Aksa tidak bisa mencintai Alina, kita tidak bisa memaksanya. Hal ini berbeda dengan kita dulu. Kita juga sama-sama melihat Aksa yang sudah sangat berjuang untuk melupakan Raina dan mencintai Alina, tetapi mungkin memang mereka tidak ditakdirkan untuk berjodoh."
"Ya, aku hanya mengulur waktu agar mereka tidak terlalu kecewa dengan keputusan sepihak kita. Lagi pula Alina terlihat sangat mencintai putra kita sayang."
Ica menghela nafas lelahnya, dia yakin setelah ini hubungannya dengan sang sahabat akan berbeda, tetapi dia menyadari satu hal disini. Cinta Aksa dan Raina memang benar-benar tulus, meskipun mereka sudah tidak lagi bersama dan saling memberi kabar, tetapi mereka masih sangat saling mencintai. Terlebih dia juga pasti akan lebih berat pada Aksa dari pada sahabatnya.
"Aku tidak akan menyakiti putra kita lebih dari ini mas."
"Apa kau mengatakan hal ini karena Raina sekarang telah berhijab?" Tanya Allard dengan tatapan menyelidik.
"No, aku benar-benar melihat cinta yang begitu tulus dari keduanya, bahkan mereka rela berpisah karena keegoisan kita, tapi mungkin Allah tidak menjodohkan Aksa dengan Alina,"
"Apa kau menyangsikan jawaban atas sholat istikharoh mu sayang?"
"Didalam mimpi ku, aksa memang bersama dengan seorang wanita berhijab, akan tetapi aku tidak melihat jelas wajahnya, dia hanya terlihat dari belakang mas."
Allard mengangguk mengerti maksud sang istri. Kemudian dia beranjak untuk menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda karena kedatangan calon besannya tadi.
........
Genap dua hari Raina berada di Moscow, dan hari ini dia ingin meminta izin untuk kembali ke Indonesia, karena pekerjaannya sudah menunggu. Dia tidak bisa terlalu lama dalam euforia kembalinya dia pada keluarganya. Dalam sarapan pagi ini Raina bermaksud mengutarakan maksudnya kembali ke Indonesia.
"Mom, dad Raina ingin mengatakan sesuatu."
__ADS_1
"Ya, bicaralah sayang." Jawab Avram dengan menghentikan kunyahan stik wagyu yang berada dalam mulutnya.
"Raina ingin kembali ke Indonesia siang ini!"
"What?"
Klotak,
Uhuk-uhuk...
Avram yang masih berusaha menelan makanan dalam mulutnya itu nyaris tersedak, karena mendengar ucapan Raina. Sementara Dimitry terlihat panik dengan berteriak. Dan Ana yang tiba-tiba saja menjatuhkan sendoknya hingga bunyi nyaring terdengar di ruangan itu.
"Nak, apa kau tak nyaman tinggal disini?" Ana menatap netra Raina dengan penuh tanya. Diikuti tatapan Avran dan juga Dimitry.
"No mom, dad aku hanya merasa harus tetap menjalani kewajiban ku. Pekerjaan ku telah menunggu, panggilan telepon terus berdatangan, mereka belum bisa ku tinggal terlalu lama dad."
"Kalau begitu biarkan mereka terus menghubungi mu lewat telpon!" Sahut Dimitry.
"Nak, tapi kami masih belum puas bersama mu."
"Mom, ikutlah dengan ku, tapi tunggu. Aku yakin mommy tidak akan betah tinggal drngan ku. Aku hanya mempunyai dua ruko kecil yang ku jadikan sebagai tempat usaha sekaligus tempat tinggal ku mom. Kehiduoan disini sudah sangat nyaman."
"No sweetie maksud kami, bisakah tinggal lebih lama lagi disini? Daddy akan membuat semua usaha mu lebih besar dari sekarang."
"Dad, aku mengerti tujuan Daddy tidak ingin melihat ku susah, tapi aku skan lebih bangga jika itu merupakan hasil jerih payah ku sendiri. Aku hanya tinggal memperbesar lagi. Insyaallah semua akan baik-baik saja."
"Daddy lupa jika Riana ini merupakan gadis keras kepala yang sekaligus pekerja keras. Aku bangga dengan pencapaiannya saat ini. Tahun lalu saat aku mencarinya, dia masih bertempat tinggal di kos-kosan kecil dan belum memiliki apa pun." Ucap Dimitry membuat Avram dan Ana terdiam.
"Baiklah, kau boleh kembali ke Indonesia, dengan syarat yang daddy ajukan." Putus Avram akhirnya.
"Syarat? apa itu?" Tanya Raina srmbari menatap ayahnya.
__ADS_1
"Kau harus menerima protokoler keluarga Alexander."
"Maksud Daddy?"
"Akan ada beberapa pengawal yang akan terus berada disekeliling mu, kau lihat Dimitry, jika dia keluar dari mansion ini, maka akan ada mobil lain yang juga keluar mengikutinya."
"No dad, aku bukan siapa-siapa meskipun aku anak biologis mommy dan daddy. Tapi menurut ku selama ini aku selalu hidup sendiri, akan sangat tidak nyaman jika kemana-mana selalu ada pengawal." Ucap Raina dengan wajah sedikit ditekuk.
"Nak, kau tau kan, keluarga kita merupakan keluarga yang cukup terkenal karena siapa Daddy dan juga kakak mu? Kami sudah terbiasa dari dulu seperti ini, Mommy tidak yakin jika kau keluar dari manaion ini akan seperti dulu lagi. Karena setelah pengumuman jika kau merupakan putri kami, tidak hanya satu dua orangvyang segera menjadikan mu sebagai incaran untuk dijadikan jaminan, karena musuh daddy mu bukan hanya satu dua kelompok." Tutur Ana dengan penuh pengertian.
Raina terdiam mendengar ucapan sang Ibu, dia mematung sesaat kemudian dia menatap Dimitry. "Bisakah kakak saja yang menjadi pengawal ku? aku tidak nyamab berada didekat pria yang tidak ku kenal."
"Maka itu artinya kau akan merampas kesenangan ku drngan para wanita ku Rain." Ucap Dimitry ketus seolah marah. Tetapi justru membuat bola mata Raina membulat sempurna.
"Maka berhentilah bermain-main dengan para wanita mu, ingat kak, aku juga wanita." Ucapan Raina membuat Dimitry terbungkam dan disuaul tawa sang ayah yang menertawakan tingkah keduanya jika saedang berdebat.
"Mereka tidak benar-benar berada dismping mu sayang, mereka hanya memperhatikan mu dari jarak jauh atau dari jarak yang telah ditentukan, jika sewaktu-waktu kau dalam bahaya, mereka baru akan benar-benar berada dismping mu seperti parasit." Tukas Avram dengan pandangan meneduhkan.
.........
Setelah perdebatan pagi yang cukup menguras emosi, akhirnya siang ini Raina berada dalam jet oribadi milik Dimitry, dia bersiap terbang ke Indonesia dengan diantar langsung oleh sang kakak dan beberapa pengawal yang sudah ditentukan oleh Avram.
"Tenanglah, aku akan mencari beberapa pengawal wanita untuk mu, tapi harus menyeleksinya dulu secara ketat." Ucap Dimitry yang sejak tadi membaca kegelisahan dalam benak Raina yang terus melihat kearah belakang dimana enam orang berbadan tinggi besar yang akan mengikutinya kemana pun.
"Benarkah kak? tapi aku merasa lebih enak oergi sendiri kemana pun. Aku terbiasa pergi tiba-tiba."
"Mulai sekarang belajarlah menjadi princes Alexander yang baik dan penurut." Ucap Dimitry sembari mencubit pipi Raina yang tengah mengembung karena cemberut.
........ Bersambung ........
Yey... Aku Up lagi... jan lupa mampir ke sosmed ku ya... dan like n comennya ku tunggu βΊβΊβΊπππ
__ADS_1