Rasa Yang Tak Usai

Rasa Yang Tak Usai
Air Mata dan Luka


__ADS_3

Jantung Raina terasa diremas berhenti berdetak sesaat, selanjutnya berdegup tak beraturan, kakinya serasa tak lagi bertulang, air mata kembali menumpuk dipelupuk matanya. Tubuhnya hampir saja limbung jika dia tidak cepat bersandar pada dinding pembatas.


Tanpa banyak kata, dia meminta izin ke kamar mandi setelah perkenalan singkatnya dengan Alina. Sesaat setelah pintu tertutup, tubuhnya meluruh kelantai, rasa sakit pada pergelangan kakinya tak lagi dirasa, karena hatinya jauh lebih sakit.


Dia mencoba menahan laju air mata, meski nyatanya isakan itu keluar seiring tubuhnya yang berguncang hebat. Dia membungkam mulutnya dengan telapak tangannya sendiri agar isakannya tak terdengar dari luar.


Sungguh hatinya teramat sangat sakit, dia berusaha mengikhlaskan tetapi rasanya sulit. Apakah dia masih bisa bekerja profesional setelah mengetahui orang yang akan dia make up merupakan calon istri dari kekasih hatinya. Ya, seniornya mengatakan jika dia harus mempersiapkan acara pertunangan, yang tak lain pertunangan Alina, dia tidak berani memikirkan kebenaran tentang siapa calon tunangan Alina.


'Apakah hanya kebetulan juga Aksa dan kedua orang tuanya berada disini?' Batin Raina semakin terasa nyeri saat dia mengingat kembali pertemuan dua keluarga yang dia saksikan dengan kedua matanya sendiri.


Raina mencoba terus menahan laju air mata, ini sudah tugasnya, disini dia bekerja, harusnya dia bisa berkerja secara profesional bagaimana pun keadaannya. Raina menyudahi tangisnya, meskipun apa yang dia perjuangkan tak lagi bisa dia raih. Setidaknya masih ada kedua orang tua kandungnya yang harus dia cari. Hal itu membuatnya membulatkan tekat.


Dia bangun dari duduknya dengan kaki tertatih, menuju wastafel untuk mencuci mukanya dan mengaplikasikan foundation sedikit tebal untuk menutupi mata sembab dan bengkaknya. Raina juga memakai eyeshadow untuk membuat matanya terlihat lebih berbinar ceria.


Setelah berdehem beberapa kali untuk mengetes suaranya yang parau, dirasa sudah lebih baik Raina menegakkan tubuhnya, memandang kearah cermin didepannya mencoba senyum terbaiknya meskipun itu terlihat sangat datar.


Raina keluar dan tersenyum sebaik mungkin, dia berjalan tertatih menuju dimana Alina duduk. "Maaf ya mba Alina, tadi tiba-tiba lerut terasa enggak nyaman, hehe," Ujarnya sembari tertawa palsu.


"Iya mba nggak papa kok,masih ada waktu satu setengah jam lagi kan."


"Iya mba, bisa kita mulai sekarang? mba Alina?"


"Bisa mba, saya mau make up yang tidak terlalu tebal ya mba, yang natural aja."


"Baik mba, sesuai keinginan mba Alina."


Raina memakai masker dan memulai pekerjaannya, dia berusaha bekerja sebaik dan semaksimal mungkin, meskipun nyatanya yang dia rias merupakan calon tunangan Aksa.


Di sisi lain, saat Raina menjatuhkan bulu mata yang masih didalam wadahnya, dia mengambil dan melihat dibawah meja ada undangan yang terjatuh, dan disana tertuliskan nama 'Aksa Dennison Lee dan Alina Parveen'.

__ADS_1


Tangan Raina bergetar saat dia memungut undangan mewah itu, dia mencoba memberanikan diri memberikan pada Alina.


"Mba ini undangannya terjatuh."


"Oh iya mba, tadi kelupaan karena tersisa."


"Calon tunangan mba Alin orang jauh ya mba."


"Iya mba, orang Korsel, tapi masih ada darah Indonesia juga sih." Jawab Alina sembari tersenyum penuh binar kebahagiaan. Raina bisa melihat jika dimata itu ada cinta saat dia membahas tentang pertunangannya.


Raina tidak menjawab ucapan Alina, dia hanya mengulas senyum lembut dibibirnya, meskipun berbanding terbalik dengan hatinya yang sedang terluka parah.


Raina menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, masih tersisa setengah jam lagi sebelum acara dimulai, dia membantu Alina memakai gaun dan hijabnya, setelah semua selesai, Raina hendak pamit tetapi masih ada hiasan kepala yang belum terpasang dan dia mengambilnya untuk dipasangkan sebagai sentuhan terakhir pekerjaannya.


Pintu terbuka datang dua wanita paruh baya yang terlihat sangat akrab. "Hai sayang, sudah selesai make up-nya? Wah lihatlah, calon menantu ku sangat cantik sekali." Ica ibu dari Aksa terlihat sangat bahagia dan berbinar melihat calon menantunya yang cantik jelita. Menggunakan gaun berwarna putih tulang dipadukan dengan pasmina coklat muda, dia terlihat sangat cantik dan segar.


"Tangan MUA-nya aja kali Ca yang penuh megic," Tukas Lala ibu kandung Alina, membuat Alina sedikit manyun karena sang ibu lebih memilih memuji sang MUA dari pada putrinya sendiri.


Tetapi tidak dengan Raina, dia terlihat mengangguk ramah dan berterimakasih atas pujian kedua wanita paruh baya itu.


"Terimakasih tante sudah mau memakai jasa saya." Ucap Raina ramah, dia tersenyum tetapi saat Ica menatap lekat netranya dia berusaha mengalihkan pandangannya dan menghindari tatapan Ica.


"Ayo sayang segera bersiap acara udah mau dimulai. Tamu undangan juga sudah berdatangan." Lala menarik atensi Alina dan membantu putrinya berjalan keluar. Sementara Ica menatap iba kearah Raina yang sedang menutup tas dan koper peralatan kerjanya.


"Rain.... " Raina menghentikan aktivitasnya dan menatap lembut kearah Ica.


"Iya tante, ada yang bisa dibantu?" Jawab Raina berusaha menetralkan nada suaranya agar tidak terdengar bergetar.


"Maaf, maafin tante dan Aksa, tante... "

__ADS_1


"Iya tante Raina tahu," Ica tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Raina memotong dengan menjawab Ica sembari tersenyum, meskipun bibirnya bergetar, dan liquid beningnya sudah tertumpuk dan siap untuk terjatuh.


"Raina sadar, setinggi apa pembatas antara Raina dan Aksa, Raina juga sudah mengerti jika akan seperti ini pada akhirnya, perbedaan kita sangat banyak tante, dan pada akhirnya hubungan kami hanya cukup sampai disini."


Tutur Raina sembari menoleh dan menunduk saat air matanya terjatuh tanpa bisa dia tahan lagi.


Ica dilema, satu sisi dia harus melanjutkan pertunangan ini, satu sisi dia merasa bersalah, apa lagi jika melihat sikap dan tutur kata Raina yang masih sangat sopan dan menjaga sikapnya meskipun dia telah dilukai.


Ica meraih kedua bahu Raina, memeluk gadis kecil dan ringkih itu, sembari mengelus punggung Raina, berusaha menguatkan gadis yang tengah terluka itu.


Sementara Raina hanya bisa pasrah dan diam, meskipun bibirnya bergetar mencoba menahan isakan, dia mengelap air matanya berulang kali. Tak ingin terlihat lemah dan dikasihani oleh orang lain.


"Rain, maaf.. tante, om dan Aksa sudah melukai perasaan Raina, tante berharap Raina bisa mengerti, karena kedua keluarga telah menjodohkan Aksa dan Alina jauh sebelum kalian bersama." Tutur Ica tak terasa air matanya ikut meleleh saat dia memandang Raina yang sudah sangat kesulitan menahan isakan dan tangisnya.


Dan Raina hanya mampu mengangguk berulang kali, karena suaranya tercekat, dan dia yakin jika dia berbicara tangis itu akan semakin pecah.


"Mungkin kalian belum berjodoh, tante berdoa semoga kamu bisa mendapatkan laki-laki lain yang lebih baik lagi Rain." Ica berusaha terus menguatkan Raina, dia mengulurkan tangannya dan menghapus air mata Raina.


"Tante pamit keluar dulu, jaga diri baik-baik, jaga kesehatan dan tante doakan semoga Raina bisa sukses." Sekali lagi Ica menepuk lembut kedua bahu Raina, yang hanya mampu mengangguk dan menunduk. Dia sudah tidak tahu lagi seperti apa rupa wajahnya saat ini.


Setelah kepergian Ica, Raina kembali meluruh, dia menelungkupkan tangannya menangis tertahan, dadanya terasa sesak, kepalanya terasa pusing. Dia tidak boleh seperti ini dikamar orang lain. Raina memunguti sisa sampah dan membuang bekas tisu dan kapas yang dia gunakan untuk merias, sembari sesekali mengelap air matanya yang terus berjatuhan.


Raina keluar dari kamar Alina dan disaat yang bersamaan dia berpapasan dengan Allard dan Dimitry yang tengah berbicara sembari berjalan menuju balroom tempat acara dimulai. Dia mengangguk menyapa keduanya, dan saat dia menegakkan tubuhnya kedua matanya membola saat disana berdiri tegak sosok pria yang telah memberikan dia kebahagiaan dan luka secara nyaris bersamaan.


"Rain.... "


........... Bersambung ............


Masih edisi mewek terus kali ah...

__ADS_1


tapi jangan lupa vote, like n comen ya..


makasih... 😘😘😘😘


__ADS_2