
Raina menggenggam erat lengan kirinya yang terasa nyeri, lukanya kembali terbuka, tetapi bukan itu yang membuat dia menjadi linglung, melainkan karena kejadian sebelum dirinya mengambil minuman.
Flash Back
Selesai melakukan pekerjaannya Raina memenuhi permintaan Audy untuk tetap tinggal di pesta resepsi pernikahan Audy, dia duduk di kursi yang bertuliskan namanya.
Melihat sekeliling hampir semua tamu dari Indonesia dia mengetahuinya, karena sebagian dari mereka merupakan publik figur, baik para aktor, penyanyi maupun sutradara, berada dalam lingkup pekerjaan sebagai MUA, membuatnya mengenal lebih banyak orang.
Dia menatap sekeliling, di sana hanya ada tamu kehormatan dan semua orang kelas atas dan tokoh-tokoh penting, mungkin hanya dirinya yang dari kalangan rendah.
Raina menghela nafas panjang dan tersenyum miris, dia menertawakan dirinya sendiri yang seperti anak ayam kehilangan induknya, karena di sana dia benar-benar tidak ada yang mengajaknya berbicara, semua pengusaha dan istrinya seolah berlomba mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki, semuanya memakai barang dengan nilai yang fantastis.
Raina terdiam saat pandangan matanya menatap sosok yang sedang bersalaman dengan pengantin, netranya terus mengikuti kemana dua sejoli itu bergerak, hingga tanpa terasa lelehan bulir bening itu mengalir dengan sendirinya.
Dadanya terasa sesak, hatinya terasa nyeri, meskipun sebenarnya lengan kirinya yang terluka. Raina menunduk menyeka air mata yang dengan lancang turun tanpa diminta.
Di Sana sosok pria yang selama satu tahun terakhir ini berusaha dia lupakan dengan susah payah, terlihat didepannya berjalan beriringan dengan wanita yang dia khitbah satu tahun lalu.
Keduanya terlihat bahagia, bercanda ria dan tertawa bersama.
"Mengapa aku masih merasakan rasa ini ya Allah, sulit sekali melupakan salah satu dari ciptaan mu," Ucap Raina dalam hati. Bibirnya bergetar dia mengalihkan pandangan matanya kala tak sengaja bertatapan dengan netra Aksa dan Ica yang juga sedang bergabung dan terlihat tertawa bersama mereka.
Raina mengalihkan pandangannya dengan cepat, saat rasa nyeri itu kian terasa di hatinya, Raina menarik nafas panjang, dia mencoba membuang sesak yang menyergap. Dia menggigit bibir bawahnya dengan kuat berusaha menahan isakan.
Beberapa kali Dua keluarga itu terlihat bercakap-cakap membuat rasa iri itu menguasai hatinya, Berulang kali Raina mencoba melafadzkan istighfar. Mencoba membuat pengertian pada dirinya sendiri, bahwa apa yang dia lihat itu merupakan nyata, dan mimpi itu sudah benar-benar mimpi.
Salahkan jika dia masih berharap pada sosok Aksa, Raina mencoba berbincang pada Lita, tetapi kemudian sang asisten pamit undur diri untuk ke toilet. Hingga peristiwa yang membuat lukanya kembali menganga itu terjadi.
Flash Back Off
__ADS_1
Saat semua panik dan teriakan para wanita bersahutan karena melihat darah di lengan Raina yang merembes keluar bahkan saat ini sudah menetes ke lantai melalui jari-jarinya, Raina hanya berdiri kaku dan linglung, semua rasa berkecamuk di hatinya.
"Raina!"
Teriakan Dimitry yang ternyata juga hadir dalam pesta itu membuat semua memandang kearahnya. Aksa segera bergegas dan meraih bahu Raina, dia melihat dengan seksama darah yang mengucur di tangan kiri Raina, dia menatap netra Raina yang juga menatapnya dengan tatapan mata sendu dan berkaca-kaca.
"Rain, luka mu."
Raina sama sekali tidak menjawab ucapan Aksa, dia hanya menatap kedua netra yang sudah sangat lama dia rindukan, seolah mencari sesuatu di sana. Tetapi dia lekas tersenyum kecut saat menyadari apa yang dia harapkan tak lagi terlihat di sana.
Aksa meraih bahu Raina, dia ingin membawanya ke rumah sakit sesegera mungkin, tetapi saat tangan Aksa meraih bahu Raina, seketika itu juga tangannya ditepis oleh Dimitry yang langsung menatapnya tajam dan menghunus.
"Urus saja wanita mu dengan benar, jangan biarkan dia kembali melukai Raina untuk yang kesekian kalinya."
Deg...
Ucapan Dimitry membuat semua orang yang berada di sana menjadi terkejut, seolah apa yang di ucapkan Dimitry merupakan hal yang salah.
Darah yang mengucur dengan deras membuat pandangan Raina mengabur dan badannya terasa ringan, hingga tanpa sadar tubuhnya ambruk, beruntung Dimitry meraihnya dengan cepat.
Aksa hanya bisa terdiam sembari melihat telapak tangannya yang berwarna merah karena terkena darah Raina, tangannya bergetar saat itu juga, memang benar Raina yang terluka, tetapi kenapa justru hatinya yang tercabik-cabik.
........
"Mba, udah sadar ya Allah mba, kali ini rintangannya sedikit sulit ya mba,"
Ucap Lita dengan mata berkaca-kaca tak kuasa, menahan tangisnya.
Raina hanya bisa tersenyum melihat sikap Lita, hatinya sedikit menghangat, karena mendapatkan perhatian dari Lita. Dia telah berada di rumah sakit lagi, dengan infus yang tertancap dipunggung tangan kanannya.
__ADS_1
Lengan kirinya kembali dijahit ulang, karena benturan itu menyebabkan perdarahan dan beberapa jahitan di sana menjadi rusak. Saat itu juga Dimitry berteriak dengan lantang memanggil tim dokter untuk segera menangani Raina.
Sedangkan Alle dan Allard hanya bisa diam melihat seberapa panik dan merahnya Dimitry karena Raina kembali terluka, meskipun itu kejadian tanpa kesengajaan, terapi tetap saja membuatnya murka.
Dimitry terduduk didepan ruang tindakan dengan setelan tuxedo mahalnya yang telah berlumuran darah, dia meminta Luke untuk menghubungi sang ayah dan mommy-nya.
Kali ini Dimitry tak lagi bisa untuk tetap diam saja saat Raina terluka, tidak seperti satu tahun yang lalu, dia hanya bisa terdiam saat Raina terluka atas sikap Aksa dan keluarganya.
"Aku berjanji, tidak akan melihat mu meneteskan air mata sedikitpun, aku tidak akan membiarkan mu dihina dan direndahkan lagi." Ucap Dimitry geram.
......
Aksa duduk terdiam sembari menikmati rokok ditangannya, ditemani kopi pahit dia memandang kearah kota Seoul dari Penthousenya. Kejadian tadi membuatnya gusar. Ucapan Dimitry seolah menyadarkannya, bagaimana selama ini perasaan Raina yang terluka atas kejadian satu tahun lalu.
Di sana yang paling terluka adalah Raina, tanpa sengaja malam ini dia telah kembali membuat Raina terluka meskipun itu kejadian tidak disengaja. Setelah kejadian itu Aksa langsung pergi meninggalkan hotel dan kembali ke penthouse-nya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia meninggalkan Alina dan meminta sang mommy untuk mengantarnya.
.....
Keresikan paginya, salah satu petugas laboratorium rumah sakit terlihat tercengang, saat dia melihat lembar kertas hasil test DNA.
"Woah... Daebak, hasilnya mencengangkan."
Dia kembali melipat dan memasukkannya ke dalam stop map. Untuk segera di serahkan pada yang berkewenangan dalam hal ini.
...
"Tuan, hasil tes DNA atas nama Raina sudah keluar."
......... Bersambung...........
__ADS_1
Hai semua,,, maaf ya baru bisa up lagi, aku udah bilangkan kalau mau urus acara.... sampai satu minggu kedepan masih belum selesai... makasih πππβΊβΊβΊπππ