
Subuh ini Raina lewati dengan hal yang tidak biasa, bagaimana tidak biasa jika kali ini dia melakukan ibadah wajibnya dengan berjamaah bersama dengan keluarga Aksa. Ya, mereka semua menginap di mansion sang ayah.
Entah pembahasan apa yang membuat para pria hingga nyaris sepertiga malam masih betah berada di kursi taman dengan berbincang. Sementara para wanita sudah membubarkan diri lebih awal. Setelah tanpa sengaja saat shalat tahajud Raina bertemu dengan Aksa yang juga sedang melaksanakan shalat sunnahnya.
Raina sedikit bertegur sapa pada Aksa sembari menunggu waktu subuh yang memang sebentar lagi tiba. Mereka tidak lama karena para maid sudah berduyun-duyun mulai membersihkan tiap sudut ruang dalam mansion besar itu.
Shalat subuh berjamaah yang di imami oleh Allard, dan baru kali ini Raina mendengar langsung suara merdu Allard yang membuatnya tercengang. Pantas saja nyonya Zantica begitu mencintai suaminya. Dibalik sikapnya yang arogan nyatanya dia memang pria yang memiliki banyak kelebihan.
Sarapan pagi berlangsung dengan hangat. Meskipun sedikit canggung akhirnya breakfast itu bisa selesai dengan banyak perbincangan didalamnya.
"Rain, apa setelah ini kau akan menetap disini nak?" Pertanyaan Ica memecah kesunyian setelah mereka semua merampungkan sarapan paginya.
"Em.... Raina belum tahu kedepannya akan seperti apa tante, tetapi untuk saat ini Raina tidak bisa meninggalkan pekerjaan di Indonesia, biar bagaimana pun juga itu yang telah membawa Raina hingga sampai dititik ini." Jawaban Raina membuat Ica menganggukkan kepala.
Tak ada pembicaraan khusus sebelum mereka benar-benar pamit pulang ke Korsel, hanya tepat sebelum rombongan Aksa akan meninggalkan mansion, Allard berucap pada sang ayah.
"Kami akan secepatnya berkunjung lagi kemari dengan cara yang pantas tuan Alexander." Ujar Allard sirat akan makna. Membuat Raina berpikir, tetapi sejurus kemudian dia menemukan jawaban, mungkin saja untuk urusan bisnis.
"Baiklah, saya alan menunggu kedatangan anda dan keluarga tuan Allard." Balas Avram tak kalah ramah sembari menepuk lengan partner bisnisnya itu.
Setelah semuanya pamit, Aksa berjalan kearah Raina yang berada telat disebelah Dimitry, sembari tersenyum hangat dia berujar pada Raina. "Buka kembali block nomor ku pada ponsel mu Rain." Seketika hal itu membuat Raina mengerutkan keningnya. Untuk apa pikirnya, tapi ia hanya bisa menganggukkan kepalanya. Tak ingin berpikir lebih jauh karena Aksa sudah menghitbah Alina Parveen.
"Lihatlah putra kita sayang, sepertinya dia tidak ingin pulang dan betah berlama-lama disini." Belum sempat Raina menjawab ucapan Aksa, Allard kembali menyambar dengan perkataan yang membuat semua orang berhasil menatap kearah kedua manusia yang kedua pipinya sedang memerah alami.
"Aku yakin, semalam doa yang kalian langitkan sepertinya akan segera menjadi kenyataan." Kali ini Cheyra yang ikut menimpali ucapan sang ayah. Ya, seseorang yang secara tidak sengaja melihat keduanya semalam saat tengah melakukan shalat sunnah adalah Cheyra dan sang suami Alle, akan tetapi Alle lebih memilih masuk kedalam kamar terlebih dahulu. Berbeda dengan Cheyra yang malah sibuk mengabadikan momen keduanya saat tengah sama-sama mengangkat tangan dan memohon untuk dirinya masing-masing.
.........
Aksa melemparkan tuxedo dan ponselnya keranjang, sejurus kemudian dia juga melemparkan tubuhnya ke tempat tidur king size dikamarnya. Bayangan saat dia bertemu Raina kembali terlintas. Saat setelah dia selesai melakukan tahajud dikediaman Raina.
__ADS_1
Tak bisa dipungkiri, perasaannya sangat senang, terlebih lagi saat mengingat Raina dia melihat ponselnya yang sayangnya Raina masih belum juga mengabulkan permintaannya untuk membuka block di ponselnya.
Terlihat dia masih bisa menghubungi Raina dengan ponselnya. Aksa menghela nafasnya kasar. Salahnya dia tidak mengatakan jika hubungannya dengan Alina Parveen telah kandas.
Pertunangannya telah dibatalkan tepat sebelum kedatangannya ke Moscow. Saat itu keluarga Alina menanyakan keputusan yang telah Aksa pertimbangkan selama kurang lebih enam bulan ini.
Tanpa ingin menutupi semua perasaannya Aksa menuturkan apa yang dia rasakan dengan jujur. Bahwa hingga saat ini dia belum mampu mencintai Alina, meskipun dia audah tidak lagi berhubungan dengan Raina kemarin.
Kata maaf adalah hal pertama yang dia ucapkan pada Alina yang saat itu tak kuasa menahan laju air mata yang berdesakan ingin keluar. Hingga membuatnya merasa bersalah. Tetapi Aksa tak ingin memperkeruh dengan terus menunda keputusan yang memang seharusnya dia ambil sejak setengah tahun lalu.
Meskipun dengan berat hati, tapi akhirnya keluarga Alina mau menerima keputusan itu. Tetapi Aksa sadar hubungan keluarganya tidak akan lagi bisa sama seperti sedia kala. Dan untuk itu Aksa meminta maaf pada sang mommy yang terlihat kecewa dengan peristiwa ini, akan tetapi dia sadar jika memang putranya tak bisa mencintai Alina layaknya dia mencintai Raina.
.......
Aksa :
Dimitry mengerutkan keningnya saat sia mendapatkan pesan dari Aksa. Dia tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Kemudian mengetikkan balasan.
Dimitry :
[Selamat siang tuan Aksa, maksudnya anda ingin berbicara melalui ponsel saya? ]
Aksa :
[Ya, Jika anda berkenan]
Dimitry :
[Baiklah, tinggu sebentar, saya akan mencari Raina ke kamarnya]
__ADS_1
"Rain, .... " Dimitry menyodorkan ponselnya lada sang adik, dan hal itu membuat Raina terheran. Tetapi saat melihat siapa tulisan yang tertera diponsel sang kakak membuatnya memahaminya.
"Assalamualaikum mas... "
"Waalaikumsalam Rain, kenapa kau belum juga membuka block no ku di ponsel mu?" Pertanyaan Aksa membuatnya berpikir keras apakah tidak apa jika dia membukanya. Terapi itu artinya dia akan berkomunikasi lagi dengan Aksa. Dan itu tidak boleh terjadi. Karena dia sudah bertunangan dengan Alina Parveen. Saat isi kepalanya penuh dengan pertanyaan hatinya. Aksa kembali berujar.
"Aku akan menjelaskan semuanya setelah kau membuka blocknya Rain. Oleh karena itu bukalah saat ini juga." Tutur Aksa lembut yang membuat Raina semakin dilema. Karena memang Raina tidak mengetahui jika hubungan antara Aksa dan Alina telah berakhir.
"Baiklah.... "
Setelah panggilan berakhir, Raina kembali memberikan ponsel sang kakak padanya. Dimitry menelisik perubahan air muka Raina yang sangat kentara. "Haruskah aku menjadi perantara kalian?" Tanyanya dengan tatapan menggoda sang adik.
"A-aku bingung kak,"
"Kenapa masih bingung? bukalah kau akan segera tau."
"T-tapi.... "
"It's oke semuanya tidak seperti yang sedang kau bayangkan dalam pikiran mu Rain. Makanya dengarkan penjelasan darinya. Aku yakin setelah ini kau akan benar-benar gembira."
"Kak... tapi ini salah, aku tidak boleh.... "
"No, kau tidak salah sayang. Makanya jangan mengambil kesimpulan, dengarkan penjelasannya, hem? "
Raina mengangguk faham dengan apa yang diucapkan sang kakak, sejurus kemudian dia mengotak atik ponselnya, dan setelah block dibuka, puluhan chat masuk kedalam ruang percakapannya dan itu hanya berasal dari satu kontak. Yakni Aksa. Raina menggeleng dengan tatapan herannya. Sementara dia membuka dan membaca satu persatu. Dimitry berlalu dari hadapannya sembari mengacak puncak kepala sang adik dengan gemas, disertai kekehannya.
........ Bersambung ........
Malem All... maaf ya agak telat Up-nya... jan lupa tinggalin komen.... βΊβΊβΊπππ
__ADS_1