Rasa Yang Tak Usai

Rasa Yang Tak Usai
Allessandro & Dimitry Yang Mengerikan


__ADS_3

Raina memeriksa ponselnya, harusnya dia kemarin kembali ke Indonesia, dan lima hari lagi memang dijadwalkan kembali ke korea. Pernikahan Audy memang diadakan di Korsel, membuatnya harus bolak balik Indonesia korea dalam waktu satu minggu ini.


Tetapi waktunya sudah terpotong tiga hari karena drama tersesatnya dia di sini, mengakibatkan dirinya terkena tembakan. Raina memeriksa jadwalnya yang sudah dirombak semuanya oleh Lita. Ya, Lita memang selalu bisa diandalkan dalam keadaan apa pun, keloyalannya pada Raina membuat Raina selalu memprioritaskan Lita dibanding karyawannya yang lain.


"Kerjaan di Semarang sudah dihandel anak-anak mba, nggak usah khawatir, mba fokus sama kesehatan mba Raina dulu aja." Ujar Lita yang mengerti dengan keadaan Raina, dia juga sembari mengotak atik ponselnya.


"Makasih banyak ya Lit, kamu selalu bisa di andelin banget." Jawab Raina jujur dengan mata menatap penuh syukur pada Lita.


"Iya mba, sama-sama. Mudah-mudahan mba Raina sudah sembuh ya untuk acara pernikahan mba Audy dua hari lagi."


"Amin Lit, aku harus pulih dengan cepat pekerjaan kita sudah menumpuk, beruntung sebelum berangkat gaun mba Audy sudah ku selesaikan. Tinggal nanti nyuruh anak-anak sekalian bawa kesini."


"Mba Audy kemarin udah bingung mba, cuman alhamdulillahnya mba udah ketemu, kalau nggak dia maksa aku yang ngerias."


"Polesan tangan mu juga semakin hari semakin alus Lit, besok kamu bantu handel ya Lit."


"Iya mba, yang penting mba Raina ngerias mb Audy, nanti untuk accesories dan mske up yg lain aku sama anak-anak mba."


"Makasih ya Lit."


"Sama-sama mba."


Keduanya terlihat sibuk pada ponselnya masing-masing, Raina tampak kaget dan tangannya bergetar saat dia melihat galeri pada ponselnya, di sana ada satu vidio yang terekam, dia memutarnya seketika rasa cemas itu menghampirinya.

__ADS_1


Saat pelariannya tanpa sengaja dia menekan camera pada ponselnya, dan itu merekam kejadian saat dia mencoba ingin menyelamatkan Arick, di sana terlihat jelas wajah para penculik. Saat itu Raina berusaha untuk menghidupkan senter tetapi karena gugup dia ternyata merekam beberapa orang yang berada disana.


Raina membuang ponselnya hingga terjatuh, disaat yang bersamaan muncul Dimitry dan Ananta yang otomatis terkejut melihat Raina membuang ponselnya dia melihat tangan Raina yang bergetar. Begitupun Lita yang tampak dengan apa yang dilakukan Raina.


Dimitry memungut ponsel itu, dan melihat pada layar yang masih menyala, dia melihat dengan seksama rekaman vidio itu, yang seketika membuat amarahnya memuncak. Dimitry mematikannya menggenggam keras ponsel itu hingga membuat buku-buku tangannya memutih.


Nafasnya naik turun pertanda dia sedang menahan amarah yang teramat besar. Dia takut Raina menyadari perubahannya, Dimitry berusaha meminimalisir emosinya, dia memasukkan ponsel itu di saku celananya, berjalan pelan kearah Raina.


"Tenangkan diri mu, kau sudah aman di sini, jika masih merasa takut, aku akan menambah jumlah pengawal."


Raina yang masih shock memilih menggeleng tanpa menjawab Dimitry. Hal itu membuat Ananta mendekat, dia memeluk erat Raina dalam pelukannya. Tangis Raina pecah saat itu juga. Dia berusaha untuk menahan rasa takut dan cemasnya selama tiga hari terakhir ini, meskipun mimpi buruk selalu menghantuinya.


Ana mengelus pelan punggung Raina yang bergetar, dia mencoba memberikan rasa nyaman pada Raina. "It's oke sayang, kau sudah aman bersama kami sekarang."


Ucapan Ana membuat tangis Raina sedikit mereda menyisakan isakan kecil yang membuat hidungnya memerah. Dimitry pamit undur diri dengan membawa serta ponsel Raina, dan dia berjanji akan menggantinya secepat mungkin, dengan ponsel terbaru dan tercanggih dari perusahaan yang dimiliki Alle.


"Bagaimana bisa ponsel mba Raina yang mahal itu dibilang ketinggalan zaman, bagaimana drngan ponsel ku." Ucap Lita lirih sembari melihat dan membolak balikkan ponsel miliknya yang tipe-nya berada jauh dibawah ponsel Raina.


Semantara Raina tak lagi memikirkan ponsel itu, rasa cemas memenuhi perasaannya, meskipun saat Dimitry keluar dia sembari mengatakan pada para penjaga yang berada didepan untuk selalu waspada.


Selang beberapa menit, terdengar langkah kaki beberapa orang tetapi tidak masuk kedalam ruang perawatannya, Lita melihat keluar dan pengawal didepan bertambah sepuluh orang, berbadan tegap, tinggi dan berotot besar, membuat Lita seketika bergidik.


.......

__ADS_1


Dimitry bergegas menemui Alle yang sedang berada di hotel milik keluarga Dennison. Dia menjadikannya kantor pusat sementara, saat dia berada di Korsel seperti sekarang.


Sementara Cheyra dan beberapa pengawal elit tetap berada di rumah sakit menunggui Arick yang sebentar lagi diperbolehkan pulang.


"Aku minta bantuan anda tuan Alle, bisakah anda menambah pengawal di rumah sakit?" Ujar Dimitry yang masuk kedalam ruangan Alle, dia memberikan ponsel Raina dan memperlihatkan vidio yang berdurasi hanya kurang dari dua menit itu.


Alle meraihnya dan seketika itu juga matanya melebar, tangannya mengepal erat dengan mata yang memerah.


"Aku akan mencari terlebih dahulu dua orang ini, aku yakin dia juga yang melepaskan tembakan pada di lengan Raina."


"Good, aku akan mengurus mafia kecil di Vietnam itu, aku akan sedikit bermain dengan mereka, supaya mereka sadar dimana seharusnya posisi mereka. Aku akan membuat mereka menyadari kesalahannya. Aku berjanji hal ini tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidupnya, bahkan keluarga besarnya sekalipun." Ucap Dimitry dengan mata memerah dan tangan mengepal kuat disertai getaran, dia sudah berusaha menetralisir amarahnya, tetapi terbiasa hidup dilingkungan hitam, membuatnya terkadang hilang kendali."


"Aku serahkan genk itu lada mu Dimitry, dan genk yang berada di Gangnam, sedang diurus oleh Daddy, jika kau butuh bantuan katakan saja pada kami."


"No, aku masih sangat sanggup jika hanya mengurus genk kecil seperti itu, bukan hal yang sulit, aku bahkan bisa memastikan tidak menyentuh mereka secara langsung, agar dia tahu seberapa besar pengaruh ku, dan dia telah salah telah mengusik ketenangan kita."


"Deal, aku suka cara kerja mu tuan, mereka juga harus tahu, jika mereka bermain-main dengan orang yang salah, sepertinya aku sudah terlalu baik pada mereka belakangan ini, membuat mereka besar kepala karena masih bisa berkembang tanpa tahu dimana seharusnya batasan itu." Alle yang berusia lebih matang, dia menyikapinya lebih tenang, tetapi bukan berarti dia memaafkan kesalahan yang telah diperbuat oleh tiga kelompok yang sengaja bersatu untuk menyerangnya.


"Jadi, anda kembali menjadi seperti dulu tuan Allessandro?"


"Hahahaha......, Bukan kembali, aku hanya sedang tertidur sebentar, tetapi jika hanya mengurus mereka aku tidak perlu repot-repot kembali, karena sebagian anak buah ku masih lah setia, dan dia bersedia mengurusnya untuk ku tanpa aku harus turun tangan sendiri."


Tanpa mereka sadari percakapan keduanya didengar oleh Aksa yang saat itu ingin menemui sang kakak ipar. Ternyata, seorang dimitry dan kakak iparnya memanglah pria-pria mengerikan, jika saja tidak ada pawangnya masing-masing, Aksa yakin keempat mafia termasuk Allard dan Maxime sudah menggila saat mendengar Arick diculik dan Raina yang terluka.

__ADS_1


........... Bersambung ............


Aku Up lagi nihh.... Btw Minggu depan aku sedikit sibuk mengurus beberapa acara, jadi mohon maaf kalau sewaktu-waktu belum bisa Up yaa, aku kasih tau lebih awal biar kalian nggak nyariin... tapi aku tetep berusaha Up buat kalian kok tenang aja. ☺☺☺ jan lupa vote, like n comen yaa... 😘😘😘🙏🙏🙏🙏


__ADS_2