Rasa Yang Tak Usai

Rasa Yang Tak Usai
Pertemuan Yang Menyakitkan


__ADS_3

"Rain, apa kau punya waktu, nanti jam dua siang?" Tanya Aksa sembari jantungnya berdetak cepat, dia sangat antusias karena ingin mempertemukan kekasihnya dan kedua orangtuanya.


"Emm... ada apa mas? aku di Jakarta, bukankah tadi aku sudah memberitahu via WA?" Jawab Raina santai.


"Iya Rain aku membaca pesan mu, maka dari itu bisakah kau meluangkan waktu jam dua siang ini?"


"Y-ya mas insyaallah bisa, mau bertemu dimana?"


"Kamu nginap dimana Rain?"


"Dihotel zeus mas,"


"Kenapa bisa pas banget? aku juga dihotel zeus Rain, alhamdulillah jarak kita tidak jauh."


"Mas Aksa juga disini? kebetulan banget."


"Iya, nanti jam dua direstoran rooftop kita ketemu ya, ada yang ingin bertemu dengan mu juga."


"Siapa mas?"


"Emmm penasaran kan? makanya jangan telat datangnya yaa."


"Iya deh iya."


"Ya udah aku tutup telponnya sampai ketemu nanti sayang."


"iya mas... "


Raina menghela nafasnya perlahan, sesaat kemudian dia lupa dan menepuk dahinya.


"Ya Allah, aku lupa kaki ku lagi sakit, tapi enggak papa lah mudah-mudahan bisa nepati janji sama mas Aksa. Toh nggak jauh juga tempatnya."


Sementara dilain kamar, Aksa sedang tersenyum-senyum sendiri dia penasaran menantikan bagaimana nanti kedua orang tua dan kekasihnya bertemu. Aksa memang tidak pernah mengatakan tentang siapa keluarganya pada Raina.


Raina hanya tahu jika Aksa seorang direktur utama sebuah perusahaan ritel besar tetapi dia tidak pernah tahu jika Aksa dan keluarganya merupakan sosok yang sangat berpengaruh di Korsel.


Sembari bersiul-siul Aksa pergi mandi untuk bersiap bertemu sang kekasih meskipun hatinya sedikit terasa tidak nyaman. Tetapi rasa senang karena ingin mempertemukan kekasih dan orang tuanya mengalahkan rasa gundah selama satu bulan ini.


.........


Raina datang sedikit terlambat ke restoran, dikarenakan kakinya yang memang sedang sakit, dia melangkah dengan kaki pincang, karena kakinya terasa sangat berdenyut.


Saat Raina mendekat ketiganya tengah berbicara serius dengan raut wajah Aksa yang tampak muram dan menahan marah. Meskipun tampak terkejut karena ternyata Aksa membawa kedua orang tuanya, Jantung Raina semakin berdegup kencang menyadari siapa yang akan dia temui. Raina memberanikan diri menyapa Aksa, karena aksa tidak menyadari kedatangan Raina.


"Mas Aksa," Raina manggil Aksa yang langsung terlihat gelagapan tetapi dia segera berdiri dan menggeserkan kursi untuk Raina, sementara itu terlihat kedua orang tua Aksa melihat kearahnya dengan seksama.


"Rain kau datang, kenalkan ini mommy dan daddy ku." Aksa memperkenalkan kedua orang tuanya pada Raina, dan Raina segera mengulurkan tangan untuk menyalami keduanya, Raina mencium kedua tangan orang tua aksa, meskipun kakinya terpincang dan hal itu membuat Aksa dan orangtuanya terkejut.

__ADS_1


"Raina tante," Ujar Raina memperkenalkan diri pada Ica, dan dibalas anggukan kepala serta senyum penuh ketulusan.


"Ya, saya Ica, ibunya Aksa."


Raina berpindah mendekat kearah Allard, dia pun mengulangi memperkenalkan dirinya. Berbeda dengan Ica yang sangat welcome, Allard sedikit datar menanggapi Raina.


"Duduklah Rain."


"Iya mas, makasih." Jawab Raina dengan segan karena Aksa memperlakukannya dengan baik, dia mendorong lagi kursi saat Raina akan duduk.


"Kaki mu kenapa? kenapa tidak mengatakan pada ku jika kau terluka hem?" Ujar Aksa cemas.


"Nggak papa mas, cuma tadi pas dateng nggak sengaja nabrak orang pas jalan, cuma keseleo kok nanti juga sembuh." Raina mengatakannya dengan pelan karena dia malu diperhatikan sedemikian rupa oleh Aksa dihadapan kedua orang tuanya.


"kok bisa nabrak sih yang? lagian nggak papa gimana diperban gitu."


"Benaran nggak papa mas, ini cuma biar pemulihannya cepet aja, dan biar bisa jalan juga, namanya kecelakaan mas nggak ada yang tahu."


"Udah kedokter?"


"Udah mas tadi yang nabrak aku sekalian manggilin dokter."


"Syukur deh kalo gitu."


"Aku udah pesen makan buat kita semua, ujar Aksa mengalihkan pembicaraan."


"Iya mas makasih ya." Jawab Raina malu-malu. Pipinya saat ini sudah terasa sangat panas dan bersemu. Dia sedikit tidak nyaman saat interaksinya dengan Aksa ditatap sedemikian rupa oleh irang tua Aksa.


"Di Jawa Tengah tante."


"Oh... di Jawa Tengah, dikota mana?"


"Tepatnya dipegunungan terpencil tante, di kota Batang."


"Owh... Batang, tante belum pernah kesana, tante juga asli Semarang."


"Ah... iya tante Aksa udah cerita,"


"Terus di Jakarta ngapain?"


"Kerja tante, ada job dadakan."


"Ohh kerja, kerjanya apa?"


"Cuma tukang Make Up tante." Tutur Raina sedikit malu, dia sadar jika keluarga Aksa merupakan keluarga berada dan dia bukanlah orang yang pantas.


"Wah, bagus donk... "

__ADS_1


"Orang tua kamu di Jawa Tengah?" Kali ini giliran Allard yang bertanya dengan wajah datar, sembari menyesap kopi hitamnya.


"Orang tua saya eemm... " Raina bingung harus menjawab bagaiman tentang orang tuanya.


"Orang tua Angkat Raina udah nggak ada dad, sementara orang tua kandungnya dia enggak tahu dimana." Sambar Aksa menjelaskan, dia tahu jika Raina bingung menjawab pertanyaan Allard. Sementara Allard terlihat terkejut, Ica justru menatap sendu wajah gadis cantik didepannya.


"Oh.. maaf Om nggak tau kalau... "


"Tidak papa om, memang begitu adanya saya, maaf jika itu membuat om dan tante tidak nyaman, saya... "


Raina tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Aksa memotongnya dengan seenak hatinya.


"Namanya Raina Ghiska Zoya, dia bekerja sebagai MUA sejak kelas dua SMP, karena dia harus membiayai hidupnya sendiri, kedua orang tua Angkatnya meninggal, sementara orang tua kandungnya dia tidak pernah tau. Maka dari itu aku minta izin dan restu mommy dan daddy untuk menikahinya."


Ucap Aksa dengan percaya diri, dia meraih tangan Raina dan menggenggamnya erat. Sembari tatapan matanya menatap yakin kearah Raina dan berpindah pada kedua orangtuanya.


Ctar....


Sendok yang berada ditangan Ica tergelincir saat mendengar ucapan Aksa, sementara itu Allard terlihat mengepalkan tangannya diatas meja, mencoba menahan amarah atas sikap Aksa yang seenaknya.


"Mas...." Protes Raina yang juga terkejut mendengar ucapan Aksa.


"Syuuut diamlah aku sedang berjuang, bantu aku oke." Jawab Aksa dengan kerlingan mata yang membuat Raina melotot.


"Aksa," Ica memanggil nama anaknya dengan suara bergetar menahan marah. "Bukan seperti ini perjanjian kita nak."


"Mom, izinkan aku kali ini untuk memilih jalan hidup ku sendiri tanpa diatur oleh kalian. Selama ini aku selalu menurut apa pun yang kalian inginkan untuk ku. Tapi ku mohon kali ini biarkan aku memilih calon istri ku sendiri."


"Aksa!" Panggil Allard dengan suara lantangnya, membuat Raina berjingkat karena terkejut. Seketika tubuhnya menjadi gemetar karena takut, dia sama sekali tidak berani memandang kearah kedua orang tua Aksa, dan hanya berani menunduk sembari gemetar.


"Dad ku mohon, ini hidup ku dan aku yang akan menjalaninya dad."


"Kita sudah sepakat hanya untuk bertemu saja Aksa, kau tidak bisa mengabaikan kesepakatan kita dan perusahaan Dennison group." Tukas Allard meradang.


Raina melepaskan tangan Aksa dari genggamannya, dia memberanikan diri berdiri dan berbicara untuk memutus perdebatan panas itu.


"Maaf om tante, saya tau saya sangat tidak pantas menjalin hubungan dengan mas Aksa, saya sadar diri dimana posisi saya, saya sudah mengatakan berulang kali padanya, untuk menyudahinya, tetapi mas Aksa sama sekali tidak mau."


Ucap Raina dengan suara bergetar, semua rasa bercampur aduk dihatinya saat ini.


"Mas, maaf tapi spertinya hubungan kita sudah tidak bisa dilanjutkan lagi, makasih sudah membuat ku bahagia meskipun sebentar. Maaf aku nggak bisa lagi bersama mu."


Ucapan Raina menusuk hati Aksa, dia melihat kearah Raina yang sudah berkaca-kaca, hatinya teramat sakit mendengar ucapan kekasihnya.


"Rain, enggak Rain, nggak boleh..."


Raina melihat kearah Aksa, dia tersenyum kemudian memberanikan diri untuk pamit. "Maaf om, tante saya permisi mau bersiap kerja satu jam lagi, terimakasih sudah mau bertemu saya, dan maaf, jika om dan tante tidak berkenan." Ucap Raina sembari berdiri menyalami kedua orang tua Aksa, dia berbalik disertai air matanya yang meluruh, kemudian dia pamit Undur diri dengan langkah terpincang-pincangnya.

__ADS_1


......... Bersambung .........


Mewek g mewek g... ya mewek laahh yg nulis aja mewek loohh... Vote dan Komen banyak2 yaa... mksih...


__ADS_2