Rasa Yang Tak Usai

Rasa Yang Tak Usai
Rasa Kagum Dimitry


__ADS_3

Raina masuk kedalam butiknya, dia bergegas naik kelantai paling atas, sementara Budi membawakan semua koper milik Raina dan Lita, Lita juga diberikan kamar, tepatnya dilantai satu cafe yang berada tepat disebelah galery Raina, Cafe itu terdiri dari dua lantai, karena Raina menginginkan lantai atas dijadikan rooftop sekaligus meeting room, sehingga dia tidak akan kesulitan ketika akan mengadakan meeting dadakan dengan kru maupun klient-nya.


Dimitry dipersilahkan duduk dilantai dua cafe dengan pemandangan sore kota semarang, dia terlihat takjub dengan apa yang dimiliki Raina saat ini. Gadis itu sungguh pekerja keras, saat dia datang satu tahun yang lalu, Raina hanya tinggal di sebuah kos-kosan yang berjarak sekitar empat puluh menit dari tempat tinggalnya saat ini.


Dia melihat jenis tanaman hidup yang tertata rapi di setiap sudut ruangan, serta meja yang tersedia di atasnya terdapat bunga hidup, sungguh Raina gadis yang pintar merubah mood, kota Semarang memiliki suhu normal mulai dari tiga puluh sampai tiga puluh lima derajat saat musim panas tiba, tetapi berada di cafe ini, Dimitry sama sekali tidak merasakan itu, pemandangan sejuk dan asri karena dipelataran depan pun banyak pohon dan tanaman hias yang ditata sedemikian rupa.


Membuat suasana menjadi sejuk dipandang, Dimitry tidak tahu bakat seni adiknya diturunkan dari siapa, dia berkeliling melihat ruko dua lantai yang sudah disulap menjadi galery sekaligus cafe oleh Raina, terlihat dengan jelas selera seni Raina bukanlah hal yang sederhana.


Dia seolah mampu menciptakan suasana yang digemari anak muda, tak heran jika cafenya juga tidak pernah sepi pengunjung, cafe yang buka pada pukul sembilan pagi dan tutup jam sepuluh malam, dengan pekerja dibagi menjadi dua sif yakni sif pagi dan sore.


Dimitry bahkan menghitung berapa banyak jumlah karyawan yang dia temui, sungguh gadis ini menjelma menjadi gadis mandiri dan pekerja keras, sayangnya sikap Raina terlalu dingin pada pria mana pun.


"Mba, tamu kita kemana-mana, apa nggak papa?" Ujar Budi yang mengantarkan koper berisi alas kaki dan tas Raina.


Raina melongok melihat kebawah yang memang cafe dan galerynya dia desain lebih banyak menggunakan kaca. Dari sana dia bisa melihat Dimitry yang nasih terus melihat-lihat dan berjalan kesana kemari, dia bahkan terlihat menyentuh kaca dan beberapa kali menyentilnya dengan jemarinya.


"Entah apa yang sedang dia lakukan, biarin aja, selagi dia nggak bersikap aneh dan ngancurin barang-barang kita, liatin aja."


"Mba yakin? dia terlihat mencurigakan."


"Iya, dia bukan orang yang seperti itu, aku mengenalnya dari satu tahun yang lalu."


"Beneran mba? wah keren mba Raina punya temen bule, matanya bagus banget lagi." Cetus Tika salah satu pegawai perempuan Raina.


Sementara Raina hanya tersenyum mendengar ucapan pegawainya. Semua anak buah Raina terlihat heran dan terus menatap kearah Dimitry, cafe dan galery Raina heboh setelah kedatangannya yang membawa serta Dimitry yang memang memiliki wajah bule, mata berwarna biru dengan tinggai badan yang fantastis.


Para pegawai Raina tampak berbisik-bisik, dan terus histeris saat beberapa dari mereka ditatap dan diberi senyuman manis oleh Dimitry. Membuat Raina hanya mampu menggelengkan kepalanya jengah.

__ADS_1


Dia turun karena kondisi sudah semakin tidak terkendali, kehebohan karena kedatangan Dimitry membuat beberapa pegawai sedikit mengabaikan tamu yang datang. Bahkan beberapa gadis yang sedang menikmati minuman dan camilan pun dibuat histeris dengan keberadaan Dimitry.


"Sampai kapan anda akan membuat kehebohan di tempat ku mencari uang tuan Dimitry yang terhormat?" Ucap Raina dengan pandangan mata jengah.


Sementara Dimitry hanya tersenyum miring mendengar ucapan Raina. "Biarkan saja, toh aku tidak menyuruhnya membayar karena mereka sudah menikmati ketampanan ku bukan?" Jawabnya angkuh.


"What? huh... sungguh anda sangat narsis sekali, aku tidak menyangka jika ternyata Alexander Dimitry mempunyai bakat terpendam."


Dimitry tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Raina, dia menoleh dan berbalik, berjalan pelan ke arah Raina, menatap dalam netra cantik gadis itu dengan mata berkaca-kaca, tetapi kemudian dia beralih menyentuh dinding kaca cafe lantai dua dan mengetuknya beberapa kali.


"Kaca ini sangat tipis." Ucapnya sembari mengetuk beberapa kali.


"Itu sudah termasuk tebal tuan, untuk apa anda mengomentari tempat ku mencari uang."


"Tebal kata mu? bahkan ini masih bisa hancur hanya dengan sekali pukulan ku."


"Huh.... anda benar-benar menyebalkan."


"huhuhu...." Raina tergugu karena ucapan Dimitry yang menurutnya lucu. "Aku hanya orang biasa tuan, kalau kau lupa, jadi aku tidak memiliki musuh yang akan menembak ku." Jawab Raina remeh.


"Kau terlalu ceroboh Rain, lihat lengan kiri mu, kau bahkan tidak tahu jika itu luka tembak, menyedihkan sekali."


Raina menyentuh lengan kirinya yang terasa berdenyut karena obat pereda nyerinya sudah hulang fungsi karena sejak siang dia belum sempat meminumnya.


"Ini? jika saja aku tidak tersesat, dan tidak bertemu anak tuan Allessandro del Cano, mungkin ini tidak terjadi,"


"Maka dari itu, mulai saat ini jangan lagi menganggap remeh keamanan mu Rain. Kemari, aku ganti perban mu, lihat, sejak tadi smeua karyawan dan pengunjung melihat heran kearah lengan mu, cukup katakan pada mereka kau terluka saat terjatuh pada sesi foto preweed. Supaya mereka tidak banyak bertanya dan berspekulasi yang macam-macam." Ujar Dimitry tegas, dia menarik tangan kanan Raina dan membawanya ke lantai tiga.

__ADS_1


"Jangan sembarangan menyentuh ku tuan. Kau bukan muhrim ku."


"Huh? muhrim? apa itu?" tanya Dimitry penasaran.


Raina menghela nafas panjangnya, dia lelah menjelaskan oada Dimitry yang dia ketahui memang bukanlah seorang muslim.


"Sudahlah, intinya jangan menyentuh ku, aku bisa mengganti perban sendiri." Jawab Raina cepat disertai dia menurup pintu kamarnya dan membiarkan Dimitry berdiri didepan pintu dengan pandangan heran.


"Gadis keras kepala." Ujarnya dengan sedikit mendumel dan berjalan kearah lantai dua, dia melihat koleksi gaun yang di desain oleh Raina sendiri.


...........


Seoul Korsel.


Aksa tampak murung, semua pekerjaan dia limpahkan pada Ki Tae, konsentrasinya menghilang setelah dia mengetahui jika Raina telah kembali ke Indonesia tanpa sepengetahuannya.


Ucapan Dimitry berulangkali berputar dalam ingatannya. Benar, tanpa disengaja beberapa kali Alina telah melukai perasaan Raina, meskipun dia tidak sengaja. Bahkan luka terdalam berasal darinya dan keluarganya.


"Maaf Rain, maafkan aku.... aku bodoh, pengecut."


"Haahhhhh..... "


Aksa berteriak dia menghamburkan barang yang berada diatas meja kerjanya, bahkan laptop dan tabletnya melayang dan berakhir di lantai. Suasana hatinya sangat kacau. Rasa rindu menyeruak masuk, tetapi dia tidak bisa berbuat apa pun.


Rasa bersalah mendominasi, hatinya terasa sakit saat melihat betapa kecewanya tatapan Raina kemarin. Meskipun tanpa ucapan, dia tahu jika saat itu Raina berusaha meyakinkan hatinya dengan mencari jawaban. Tetapi Aksa justru menatapnya dingin.


Cheyra yang berada didepan pintu snag adik hanya bisa menatapnya iba, ingin rasanya dia mengatakan pada orang tuanya uuntuk membatalkan pertunangan antara Aksa dan Alina, tetapi Alina juga gadis yang baik, Raina tak kuasa menatap adiknya yang saat ini bersimpuh dengan jas dan dasi yang sudah tak berbentuk, dia berulang kali memukul tembok dan dadanya sendiri, untuk menghalau rasa sesak yang datang menyeruak seketika itu.

__ADS_1


......... Bersambung .........


Siang All.... aku Up cepet nih... mudah2an nanti mlam bis aUp lagi yaa... jangan lupa kasih vote, like n comen yaa... mksih... 😘😘😘😘🙏🙏🙏☺☺☺


__ADS_2