Rasa Yang Tak Usai

Rasa Yang Tak Usai
Suasana Yang Haru Biru


__ADS_3

"Sebenarnya apa yang kau inginkan tuan Dimitry, Mengapa aku harus berpenampilan seperti ini?" Raina terus saja mengomel saat Dimitry membawanya menuju pusat kecantikan. Sesaat dia lupa jika Raina merupakan seorang MUA.


"Jika hanya mau merias ku, kau hanya perlu mengatakan kita akan ke acara apa? aku bisa mengurus diri ku sendiri." Ucap Raina ketus. Membuat Dimitry seketika menepuk keningnya.


"Maaf, aku melupakan profesi mu Rain, kalau begitu urus saja, kita akan ke acara pesta ulang tahun seorang yang berpengaruh di sini." Putus Dimitry akhirnya.


"Hanya pesta ulang tahun, kenapa harus seheboh ini? lagi pula bukan aku yang akan menjadi pusat perhatian kan?" Ujar Raina dengan menggelengkan kepalanya. Dia tak habis pikir dengan Dimitry yang seolah-olah dialah yang berulang tahun dalam acara ini.


Dimitry sudah mempersiapkan semuanya mulai dari gaun, cluth, dan juga hils untuk Raina. semuanya bisa Raina terima tetapi Dimitry melupakan satu hal.


"Kau melupakan satu hal tuan Dimitry!" Ucap raina sembari menatap Dimitry penuh tanya.


"Apa itu?"


"Kerudung, penutup kepala ku? mana?" Tanya Raina dengan tangan yang terulur ke arah Dimitry.


"Oh god, aku melupakan satu hal itu Rain, maaf" Ujar Dimitry dengan pandangan mata memelas.


"Perfect, beruntung kita belum ke hotel, aku akan mengambilnya di dalam koper ku."


"Oke, baiklah."


Setelah berdebat via telpon, akhirnya Raina memutuskan untuk datang ke Rusia, meskipun seorang diri, karena Lita harus berada di sana untuk menghandel semua urusan pekerjaan di Raina's Gallery.


Drngan menggunakan pesawat komersil biasa, Raina terbang ke Rusia, meskipun Dimitry mengatakan akan menyediakan jet pribadi untuknya.


"Simpan kesombongan mu tuan Dimitry. Aku masih sanggup membayar tiket pulang pergi tanpa harus mengatur ulang semua jadwal penerbangan di dua bandara." Ucap Raina kala itu, dia tidak terlalu menyukai sikap arogan Dimitry.


Saat Raina sampai di bandar udara Domodedovo Moscow, dia dikejutkan dengan kehadiran Dimitry dilengkapi dengan pasukan elit miliknya, iring-iringan mobil yang membawa Dimitry dan Raina serta para pengawal membuat Raina terperangah.

__ADS_1


Seolah dia merupakan nona muda dari konglomerat ternama, sehingga harus di kawal dengan bodyguard khusus. Raina memilih diam, karena matahari nyaris tenggelam saat dia tiba, tidak membutuhkan waktu lama, hanya empat puluh menit iring-iringan itu segera tiba di mansion Dimitry, tetapi karena harus menuju pusat kecantikan untuk merias diri alhasil semua berhenti.


Tak cukup sampai di sana, Raina kembali terperangah saat dia melihat Dimitry dengan mudahnya mengatakan untuk mengosongkan semua yang berada disini saat itu juga.


"Hentikan sikap arogan mu itu tuan Dimitry. Tidak perlu mengusir orang lain hanya untuk membuat ku nyaman, aku bukanlah nona muda dari konglomerat ternama." Ucap Raina ketus saat Dimitry sama sekali tidak mendengarkan ucapannya.


"Diam dan mulailah berias, biarkan Luke yang akan mengambilkan koper mu, aku akan menunggu didepan." Ujar Dimitry sembari melenggang keluar dari ruangan ganti wanita.


Raina hanya menggelengkan kepalannya melihat tingkah arogan Dimitry. "Entah dari siapa dia mewarisi sikap arogannya itu." Dumel Raina, dengan bersiap.


Raina kembali dibuat takjub saat didepannya tersedia berbagai jenis dan brand dari berbagai macam produk kecantikan dari seluruh Dunia, tak bisa dipungkiri, dia sedikit senang saat melihat banyak sekali produk dengan high quality, yang belum bisa dia beli.


"Who are you tuan Dimitry." Tanya Raina dalam hati. Dalam hatinya dia masih bertanya-tanya siapa sebenarnya Alexander Dimitry.


Raina tidak membuang waktu, meskipun sebenarnya dia ingin berlama-lama untuk melihat dan mencoba berbagai produk kecantikan itu. Tetapi karena Dimitry hanya memberikan waktu kurang dari satu jam, membuatnya harus bergegas, terlebih dahulu dia menggugurkan kewajibannya, meskipun ditempat seadanya, dan kemudian mulai memoles wajahnya sendiri.


Meskipun seorang MUA, dia tak lantas suka bersolek dengan membuat dirinya sendiri menor, Raina menyukai segala sesuatu yang bersifat sederhana, dia hanya memakai produk yang memang sudah dia ketahui kehalalannya untuk dia pakai.


Gaun dengan nilai puluhan juta jika di rupiahkan itu, membuat Raina enggan memakainya, tetapi ketukan di pintu serta panggilan yang ditujukan untuknya dari Dimitry membuatnya seketika memutuskan untuk memakai gaun itu, karena sudah tidak lagi mempunyai waktu untuk berdebat.


Gaun berwarna hitam dengan model simpel, meskipun brand ternama, rupanya Dimitry sedikit faham dengan selera Raina, hingga dia memesankan gaun dengan model sesederhana mungkin.


Raina mengaplikasikan pashmina berwarna nude yang dia buat simpel dengan mengikatnya kebelakang, dipadukan dengan hils hitam dan cluth yang senada dengan pashmina yang dia kenakan.


Raina keluar dari ruang ganti, diiringi tatapan Dimitry yang seolah tak ingin berpaling, dia terlihat kagum pada gadis cilik didepannya ini. Meskipun dia harus sedikit merombak gaun itu supaya tidak kepanjangan saat dipakai Raina, tetapi saat ini dia terlihat puas dengan apa yang dia usahakan sehari sebelumnya.


"Ayo, katanya tidak banyak waktu kenapa malah melamun." Tutur Raina sembari menyeret koper meskipun akhirnya koper itu berakhir ditangan Luke.


"Y-ya, ayo kita berangkat sekarang." Ujar Dimitry dengan suara bergetar, dia mencoba menahan rasa haru yang datang tiba-tiba.

__ADS_1


......


"Di hotel mana pestanya?" Berulangkali Raina melontarkan beberapa pertanyaan, hingga dia mengingatkan Dimitry. Tetapi Dimitry hanya terdiam sembari sesekali menjawab. "Kau akan mengetahuinya jika kita telah sampai."


"Bukankan kita harus mempersiapkan kado? kata mu ini pesta ulang tahun kan?" Tanya Raina sekali lagi.


"Tidak perlu repot mempersiapkan kado ulang tahun, karena kehadiran mu sudah merupakan kado teristimewa bagi yang sedang berulang tahun." Jawaban Dimitry membuat Raina mengerutkan keningnya heran, dia memilih diam karena mengira jika jawaban Dimitry hanya bualan semata.


Tiba di mansion, Raina terperangah, melihat begitu megahnya mansion dengan lima lantai yang berdiri kokoh didepannya. Dekorasi pesta yang terlihat mewah sudah membuat hal ini semakin jelas, jika yang sedang berulang tahun ini merupakan seorang konglomerat sekaligus orang yang berpengaruh di Moscow.


"Tuan, ini..... "


"Turunlah," Dimitry membuka pintu Raina, dan mengulurkan tangan, meskipun Raina tidak menyambutnya, karena dia menjaga batasannya, dan itu bukan hal besar bagi Dimitry.


Semua orang terlihat menatapnya dengan pandangan heran dan penuh tanya, membuat nyali Raina seketika menciut, terlebih saat dia melihat kedua orang tua Dimitry datang menyambutnya.


Saat Raina masih bingung dengan kondisi dan situasi ini, sang pembawa acara mengatakan jika kehutan spesial untuk nyonya Ana Alexander telah tiba.


"Kita sambut kehadiran putri dari tuan Alexander Avram dan juga nyonya Ananta Alexader, Perkenalkan nona Riana Alexa atau yang biasa kita kenal dengan nama Raina Ghiska Zoya."


Ucapan pembawa acara yang didampingi oleh Luke itu, membuat semua tamu undangan terperangah tak terkecuali objek yang dituju yakni Sang pemilik acara Ananta Atmaja dan juga Raina sendiri.


Diantara riuhnya tepuk tangan, Raina hanya bisa terdiam dengan pandangan mata kosong, dia masih menganggap semua ini hanyalah bualan Dimitry, tetapi tangis dan jeritan pilu Ana, serta pelukan yang tiba-tiba itu membuat tubuh Raina terguncang.


Tangis Ana tak lagi bisa terbendung, dia nyaris bersimpuh, jika saja Raina tak menyangga tubuhnya. Raina yang masih menganggap ini tidaklah nyata itu hanya tersenyum bodoh, sembari sesekali menatap ke arah Dimitry yang mengangguk mantap.


"Anak ku.... Princess... Ri-riana.. A-Alex-xa... " Ucap Ana terbata denga pelukan yang semakin erat. Tangis ana pecah membuat Raina kebingungan, dengan yang terjadi saat ini.


"Nyonya, maaf tapi saya Raina, bukan Riana,.... "

__ADS_1


....... Bersambung .......


Ehemm.... maleman dikit nulisnya biar konsen... yuk komen dibanyakin... apa g menarik ya sampe komenan sepi amat.... ☹️☹️☹️


__ADS_2