
Raina saat ini sedang berada dalam mobil mercedes benz hitam seri terbaru, bahkan hanya milik Aksa ini seri paling terbaru di kota Semarang, Aksa membelinya belum lama ini, sengaja karena dia merasa akan sering berkunjung ke Semarang, mengingat hubungannya dengan Raina yang LDR.
Raina bersikukuh ingin mengantar kepergian Aksa ke Korsel meskipun perasaannya menjadi carut marut karena harus kembali memintai rindu yang entah kapan harus berakhir.
Dalam perjalanan Aksa membuka dompetnya, mengeluarkan debit card tanpa limit berwarna hitam berhiaskan emas dan bertahtakan berlian didalamnya, Dubai first royale master card adalah kartu kredit yang dikeluarkan oleh Dubai dan tidak semua pengusaha bisa memilikinya, hanya pengusaha yang benar-benar kaya dan telah memenuhi pendapatan perbulan yang telah ditetapkan oleh Dubai first.
Aksa memberikan kartu itu pada Raina yang hanya termenung melihatnya, dia tidak mengetahui maksud Aksa memberiksn kartu itu padanya.
"Ini ambil lah, untuk mu."
"Hah, untuk apa mas?"
"Untuk mu, gunakan saja sesuai keinginan mu, jangan kerja terlalu keras Rain, ingatlah juga kesehatan mu."
"Mas, ini berlebihan aku tau kita sepasang kekasih, tapi untuk masalah ini ku rasa mas Aksa tidak harus melakukan sejauh ini mas."
"Rain dengar,... "
"Enggak mas Aksa, tolong jangan rubah prinsip ku, kita masih sepasang kekasih mas belum menikah, jadi biarkan saja seperti itu, cincin dari mu saja sebenarnya sudah cukup membebani ku mas, tolong ngertiin aku. Aku cuma ingin meraih mimpi ku dengan usaha ku sendiri, aku ingin membuktikan kalau aku bisa mas, tolong jangan hancurkan harga diri ku mas, ku mohon."
Aksa tergelak mendengar penuturan Raina, baru kali ini ada wanita yang menolak diberi uang dan barang, biasanya para wanita akan sangat menyukainya, bahkan malah ada beberapa wanita yang sengaja mencari sugar daddy hanya untuk memenuhi semua kebutuhan sosialitanya.
Meski begitu dalam lubuk hati terdalamnya dia merasa bangga dengan apa yang dilakukan Raina, itu artinya dia bukanlah wanita murahan yang mau dibeli dengan uang, yang merelakan semuanya dengan uang.
"Tapi aku memiliki hutang pada mu Rain, bagaimana mungkin aku melupakan itu. kau juga melukai harga diri ku malam itu Rain."
__ADS_1
"Mas, tolong itu tidak lah seberapa jangan menyebutnya hutang, anggap saja aku mentraktir mu, meskipun pada kenyataannya semuanya terbuang percuma, tapi biarkan kali ini aku merasa senang, kapan lagi aku bisa mentraktir orang kaya seperti mu mas, hem?"
"Sebangga itukah kau bisa mentraktir ku Rain huh?"
"Iya dong sangat," Jawab Raina polos dengan senyuman angkuhnya membuat Aksa terkekeh pelan.
"Kau terlalu keras kepala Rain, baiklah tapi berjanjilah pada ku, jika kau dalam kesulitan kau harus menghubungi ku pertama kali, mengerti?"
Raina menggangguk mantap, "Baiklah mas, aku juga tidak punya siapa pun untuk tempat ku berkeluh kesah selain kamu mas, he he he." Ujar Raina sembari tertawa renyah membuat Aksa semakin gemas, dia mengacak pelan puncak kepala Raina dengan sayang tak lupa senyum lebar tersungging dibibirnya.
Aksa menatap dalam netra Raina, disana terlihat jelas banyak sekali sedih, senang dan bingung menjadi satu, tapi melihat ekspresinya dia seolah menutupi jika dia sedang tidak baik-baik saja, Aksa meraih kedua bahu Raina, membawa tubuh kecil ringkih itu dalam pelukannya, meskipun ada supir, tetapi Aksa mengabaikannya.
Aksa mengecup sayang puncak kepala dan kening Raina beberapa kali dia menyalurkan sedikit kekuatan yang dia miliki, melihat kedua netra polos Raina membuatnya merasa Iba, gadis sekecil dia harus hidup keras untuk menghidupi dirinya sendiri, dan juga harus bersaing secara ketat, Aksa tau menjadi MUA sekelas Raina tidaklah mudah, banyak persaingan yang tidak sehat, tetapi itu merupakan seleksi alam yang ketat dia tidak bisa melakukan apa pun.
"Kuat dan sehatlah terus Rain, kejar mimpi mu, aku akan selalu mendukung setiap langkah mu sayang," Ucap Aksa sembari memeluk Raina, sementara Raina hanya menganggukkan kepalanya berusaha menahan tangis, entah mengapa perpisahan kali ini membuatnya merasa berat, tetapi dia sadar akan kondisi dan situasi yang ada dihadapannya.
Tapi dia berjanji akan memantaskan diri untuk Aksa, meskipun dia tidak mempunyai keluarga utuh, tetapi setidaknya dia harus bisa menjadi seseorang yang bisa dibanggakan oleh kekasihnya, dia sadar jika gerbangnya terlalu tinggi tetapi setidaknya dia memiliki tangga untuk bisa menggapainya.
Tekadnya sudah bulat, dia harus berjuang lebih keras lagi untuk mewujudkan mimpinya menjadi seseorang yang dikenal khalayak ramai, untuk meraih dua hal yang dia inginkan, yaitu menemukan keberadaan orang tuanya dan juga untuk memantaskan diri bersama Aksa.
"All, apakah keputusan ini tidak terlalu terburu-buru menurut mu? apa kita tidak menunggu pendapat Aksa terlebih dahulu?"
"Aku yakin dia akan setuju, dia hanya sedang mengagumi, tapi tidak benar-benar serius ingin bersama wanita itu Ica, dia harusnya bersyukur bisa mendapatkan calon istri seperti Alina Parveen."
"Aku juga berharap begitu All, semoga semuanya berjalan sesuai rencana seperti Cheyra dan Allesandro."
__ADS_1
"Putri kita yang keras kepala saja mau menerima pilihan kita Ica, apa lagi Aksa yang selama ini selalu menurut pada mu, dia tidak akan mungkin bisa menolak pilihan mu sayang."
Ica tersenyum mendengar kalimat Allard suaminya, kehidupannya tidaklah mudah selama ini, tetapi dia selalu percaya jika dia dan suaminya bisa menjalani apa pun jika masih terus berpegang dan memohon pertolongan pada Allah.
.....
"Dimitry, apakah kau sudah menyetujui kontrak kerja dengan perusahaan Dennison group?"
"Sudah dad, semuanya sudah beres hanya tinggal menunggu persiapan untuk bisa masuk pasar Korsel, tuan Aksa juga sudah mengajukan proposal pembuatan cabang perusahaan berlian kita dad."
"Good aku berharap dia secerdas dan segesit seperti ayahnya, jadi kita tidak akan merugi."
Dimitry mengangguk sembari menyesap red wine yang berasa di dalam gelas panjang di tangannya. Keluarga ini memang Ateis, Ana Atmaja dulunya memang beragama Islam, tetapi setelah menikah dengan Avram dia sama sekali tidak pernah taat sejak saat itu.
"Aku tau kau juga berusaha mencari Riana, bagaimana perkembangannya apa kau menemukan titik terang Dim?"
Dimitry menggeleng pelan, "Belum dad, hanya saja aku sangat penasaran dan ingin berkunjung ke Indonesia, dimana pengasuh Riana tinggal, aku ingin benar-benar memastikannya sendiri."
"Aku tidak tau jelasnya didaerah mana Dim, hanya mommy mu yang tahu, tapi aku belum kuasa menanyakannya pada mommy mu, kau tau sendiri bukan dia selalu menangis jika mengingat princes."
"Ya dad aku tau, aku akan perlahan menanyakannya dan akan ku cari sendiri, satu bulan lagi sepertinya jadwal ku sedikit renggang, aku harus benar-benar mencarinya sendiri supaya puas." Ujar Dimitry sembari netranya menerawang jauh kedepan.
....... Bersambung .......
Selamat malam sayang kuh... rindu komen kalian tapi yang komen sepi amat dah...
__ADS_1
jadi takut minta vote sama like nya.. 😓😓😓