
"Nama ku Arick, kau sendiri siapa?" keduanya berkenalan sembari terus berjalan cepat karena mereka khawatir akan ada yang mengejarnya lagi. Setelah saling mengenal nama keduanya tidak lagi berbicara dan fokus mencari arah jalan keluar dari hutan itu.
"Aku tidak mengenal tempat ini kak, tapi ku rasa kita lebih baik berjalan kearah selatan."
"Bagaimana kau bisa yakin? berapa umur mu?"
"Aku? Delapan sebentar lagi sembilan tahun kak." Sedikit terkejut Raina mendengar ucapan anak itu, dia mengira umurnya masih sekitar enam atau tujuh tahunan.
"Pantas tinggi badan mu nyaris sama dengan ku, kedua orang tua mu pasti bibit unggul." Ucap Raina sembari mencairkan suasana meskipun dia merasa rasa sakit dilengannya kian menggigit dan juga dia merasa tubuhnya menjadi lemah.
"Kak kau yakin baik-baik saja, kau terkena tembakan dari mereka."
"Kau serius? bagaimana bisa suara tembakannya tidak ku dengar hanya suara sangat kecil tadi." Arick yang terbiasa dengan pistol dan peluru tertawa miring mendengar ucapan Raina.
"Karena pistol itu memiliki peredam, jadi tidak terdengar." Saat itu juga kedua mata Raina melotot. Bagaimana bisa anak kecil ini mengerti tentang hal-hal demikian.
"Ah entah lah, kita harus bergegas, kata mu dia merupakan gerombolan yang sangat banyak."
"Ya, dia memang sangat banyak kak, meskipun mata ku ditutup tapi aku bisa mendengar dan merasakan perubahan hawa panasnya." Jawab Arick yang memang lebih peka dan sensitif, hal itu diturunkan dari sang ayah yang merupakan seorang mafia ternama di daratan Eropa membuatnya terlatih akan hal-hal demikian.
"Kenapa dia menculik mu? Apakah orang tua mu sangat kaya?" Tanya Raina penasaran.
"Entahlah, lebih tepatnya aku tidak tahu, karena memang beberapa hal kadang sulit dimengerti untuk orang awam."
"Huh, jadi maksud mu kau bukan orang sembarangan? sombong sekali." Jawab Raina sedikit geram dengan jawaban anak laki-laki ini, sifat sombong dan arogannya turun temurun dari kedua kakeknya.
"Akh.... "
Raina melenguh saat lengan kirinya terbentur ranting pohon yang menjulur kejalan.
__ADS_1
"Kau tak apa kak?"
"Ya, tak apa, kau bisa jalan sendiri kan?" Jawab Raina karena sepertinya tangan kanannya harus memegangi lengan kirinya yang terluka.
"Ya, tentu saja, aku bukan orang lemah."
"Good," Raina tak menyahut gurauan Arick karena dia merasa tubuhnya mulai tidak baik-baik saja.
.........
"F*ck.... " Maxime memecahkan guci besar yang dia dapatkan dari lelang dipasat gelap, meskipun harganya setara dengan beberapa villa yang dia miliki. Mendengar berita dari sang asiten jika cucunya Arick diculik oleh sekelompok orang membuatnya benar-benar murka.
Saat itu juga dia mengerahkan segala kemampuan dan kekuatannya untuk mencari keberadaan Arick. Dibantu dengan anaknya Daza Del Cano. Meskipun beberapa kali terlibat konflik dengan sang kakak, tetapi saat ini Daza sudah bisa menerima takdirnya, jika dia memang harus melupakan sosok Cheyra yang sekarang telah menjadi kakak iparnya.
"Beraninya menculik cucu kesayangan ku, apa mereka mencari mati? lihatlah, bahkan hingga keluarga anak buahnya akan benar-benar aku musnahkan." Maxime menggila saat itu juga dia terbang ke Korsel untuk turut mencari sang cucu.
"Siapkan jet tempur ku, aku ingin segera tiba diKorsel."
..........
"Cari keberadaannya segera, selidiki apa pun yang berhubungan dengan para penculik, kita akan segera menemukan pelakunya dari kelompok mana. Berani benar dia membuat cucu ku menderita." Titah Allard meradang, dia tak lagi bisa bersabar mengingat sang cucu yang kini tidak jelas keberadaannya. Hingga pagi menjelang, masih belum jelas dimana titik keberadaan Arick.
"Tuan, sudah saya konfirmasi jika penculik pertama berasal dari kelompok kecil yang berkembang di gangnam."
"Kau yakin? bukankan di Gangnam hanya kelompok kecil saja? berani benar mengambil cucu ku, apa dia tidak tahu siapa keluarganya?"
"Persiapkan semuanya, termasuk pasukan elit yang kita miliki, saat ini juga kita menuju Gangnam." Titah Alle pada anak buahnya yang telah bercampur dan berbaur dengan anak buah Allard sang ayah mertua.
Meskipun gangnam memang memiliki sekelompok gangster tapi dia rasa pemimpinnya tidak akan seberani ini padanya, tapi besar kemungkinan jika dia bekerja sama dengan mafia-mafia yang lain.
__ADS_1
Atau kah memang ini sebagai pancingan karena kejutan lebih besar telah disiapkan, Alle yakin jika hanya beberapa kelompok saja tidak akan berani, mengingat siapa keluarga Del Cano dan Dennison, Secara tidak langsung pernikahannya dengan Cheyra memperkuat kekuasaannya tidak hanya di daratan Eropa, melainkan Asia, dan hal itu telah diketahui oleh beberapa kelompok mafia yang tersebar di seluruh penjuru dunia, karena Maxime pernah membuat acara perjamuan khusus mafia hanya ingin memberitahu jika sang prince mafia yakni Allessandro Del Cano telah menikahi anak dari Mafia penguasa Asia pada sepuluh tahun yang lalu.
Iring-iringan mobil mewah dan truk yang berisi pasukan elit milik keluarga Dennison dan Del Cano bergerak menuju Gangnam. Para wanita hanya bisa menangis saat melihat iring-iringan mobil itu meninggalkan mansion megah Allard, mulutnya tak henti merapalkan doa sembari mengantar kepergian suami mereka untuk mencari keberadaan Arick.
Ica menggiring Cheyra kedalam, mengajaknya shalat untuk meminta petunjuk dan terus meminta untuk keselamatan semua keluarganya. Keduanya tak henti mengucapkan dzikir dan doa untuk Arick.
.......
"Kak, sadarkan diri mu, jangan menutup mata." Ujar Arick menggoyangkan lengan kanan Raina supaya tetap tersadar, keduanya istirahat duduk dibawah pohon besar yang dia temukan. Terlihat Raina beberapa kali memejamkan matanya karena dia merasa matanya sangat berat untuk tetap terjaga.
"Sebentar lagi pagi kak, kita harus berjalan sedikit lagi untuk mencapai jalur utama." Keduanya menggigil hebat karena rasa dingin yang menusuk tulang, bahkan bibir mereka tak henti bergemeletuk.
Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Raina berjalan sempoyongan dibantu dengan Arick untuk sampai pada jalur utama. Meskipun kemungkinannya kecil untuk bertemu orang lain, tapi setidaknya dia harus mencobanya untuk menyelamatkan diri.
Saat Matahari mulai menghangat dan keduanya sudah tidak lagi sanggup berjalan, mereka menemukan tempat seperti mercusuar yang telah terabaikan keberadaannya, Arick membawa Raina kesana untuk bersembunyi, bukan tidak mungkin jika musuh itu menggunakan drone, maka keberadaannya akan diketahui.
Sampai didalam gedung mercusuar yang sudah tidak lagi berfungsi, Arick segera naik lebih tinggi, berusaha mencari sinyal dengan daya ponsel yang tinggal lima persen saja. Arick bersyukur karena ternyata usahanya tidak sia-sia, dia menemukan sinyal dan dia segera berusaha menghubungi sang ayah, meskipun dia tidak mendapatkan sinyal internet dan hanya ada sinyal sellular biasa.
Tut... tut... tut....
Pada dering kelima panggilannya terjawab.
"Hallo dad, it's me,"
"A-arick, kau kah itu son?"
"Ya, aku tak tau aku dimana, cari keberadaan ku segera melalui sinyal ponsel ini, karena sebentar lagi baterainya habis, aku menunggu dad, segera bawa haly juga saat menjemput ku." Tut... tut... tut... Panggilan terputus karena ponsel Raina sudah kehabisan baterai.
......... Bersambung .........
__ADS_1
Yey, aku dobel Up malam ini, jangan lupa vote besok hari senin yaa ku tunggu,,, mksih βΊβΊππππππ