
"Kalau kau secara sukarela mengatakan siapa dirimu, maka siksaanmu akan berkurang sedikit."
Ruang kerja Raja Shavir menjadi tempat interogasi yang ditonton oleh beberapa orang penting. Tersangka yang diinterogasi adalah tahanan yang kabur dari Penjara Sihir.
Tentu saja, apa yang diucapkan sang raja hanya kebohongan semata. Itu adalah salah satu trik untuk memancing tersangka membongkar rencananya.
"Aku tidak perlu bersikap sopan, 'kan?" Tak terduga, pria berambut merah gelap itu menatap langsung ke arah Raja Shavir dengan berani tanpa rasa takut. Ia tertawa sesaat. "Aku Zhil Reed, ketua suku Merah."
'Reed... berarti sama saja dengan kata "red", 'kan?' pikir Stella dalam-dalam, sesaat merasa heran. 'Marga yang unik.'
[Sedangkan kakekmu marganya "Whitey".]
'Hah? Yang benar saja!'
Balasan dari Thev membuat Stella tidak habis pikir. Apakah marga mereka ditentukan dari suku mana mereka berasal? Marga suku Putih adalah "Whitey", sedangkan suku Merah adalah "Reed". Mungkinkah marga suku Kuning adalah "Yellowy"?
Stella lantas menepis semua yang ia pikirkan. Bisa-bisanya dirinya berpikir yang sia-sia saat berada dalam situasi penting seperti ini.
'Fokus, Stella. Ini saat yang pen―'
"Aku menghancurkan kalian untuk balas dendam. Hahaha!"
Zhil menyerukan isi hatinya dan tertawa keras. Sorot mata merahnya yang penuh kebencian terpancar di hadapan semuanya.
"Sayang sekali kalian masih hidup. Dasar darah kotor!!"
Kening Raja Shavir mengerut kala mendengarnya. Ia lantas mengeluarkan aura mengintimidasi. "Apa maksudmu?" tanyanya dingin.
Zhil hanya tertawa keras sebagai tanggapan, sementara Stella entah kenapa merasa familier dengan situasi ini. Ia seolah-olah pernah ditekan dengan aura mengintimidasi seperti ini. Tiba-tiba kepalanya terasa sakit seolah ditikam sesuatu.
Deg.
"Itu bagus jika kau mengetahui posisimu. Aku juga tidak pernah menganggapmu sebagai putriku."
Deg.
"Saya juga tidak pernah menganggap Anda sebagai seorang "ayah". Jadi, kita impas."
Patss―!
"Haahh―! Haah, haahh!!"
Stella tiba-tiba merasakan sesak di dada. Keringat dingin bercucuran di tubuhnya. Raja Shavir dan yang lainnya segera menghampiri Stella yang tampak pucat.
"Stella!!"
Pandangan Stella buram. Kepalanya sangat pening seolah mau pecah. Ditambah ada begitu banyak potongan-potongan ingatan muncul di pikirannya. Semuanya bercampur menjadi satu.
'Sakit!!'
"Stella!" Raja Shavir memanggil putrinya dengan panik. Ia lantas menggendong gadis kecil itu. "Cepat panggil dokter!"
Creed yang berjaga di luar ruangan segera menjawab tegas, "Baik, Yang Mulia!"
Semuanya panik dengan yang baru saja terjadi, namun Leonard cepat tanggap dan langsung menahan Zhil dengan sihirnya agar pria itu tidak kabur.
"Hei, urus cucuku baik-baik," titah Leonard pada Raja Shavir, yang dibalas anggukan. "Biar aku yang mengurus benda ini."
Zhil kesal saat disamakan dengan benda mati. Ia hanya bisa berdecih di tempat.
"Aku ikut denganmu."
Zayden menawarkan diri dan disetujui Leonard. Mereka segera fokus pada urusan masing-masing.
...―――...
Waktu berlalu dengan cepat, kini langit malam mengelilingi semesta. Taburan bintang tampak seperti berlian di cakrawala.
Interogasi berlangsung dengan lancar. Raja Shavir akhirnya tahu alasan di balik ketua suku Merah itu menargetkan keluarganya untuk penyerangan. Di satu sisi, dia lega karena menemukan penyebab serangan tiga tahun yang lalu. Namun di sisi lain, perasaan ketakutan merayap di hatinya.
__ADS_1
Stella tidak kunjung bangun dari pingsannya.
"Sudah tengah malam, Yang Mulia." Creed melirik cemas sang raja yang masih setia duduk menemani Putri Stella. "Sebaiknya Anda juga istirahat."
"Aku tidak mau."
"Besok Yang Mulia juga bisa ke sini lagi, jadi mari istirahat dulu. Anda harus segar dan sehat untuk bertemu Tuan Putri."
Akhirnya, dengan puluhan bujukan logis yang diucapkan Creed, Raja Shavir meninggalkan kamar putrinya dengan perasaan berat. Pintu kamar pun ditutup, menyisakan kegelapan di dalam ruangan. Keheningan meraja sejenak.
"Stella." Lalu terdengar suara seorang laki-laki yang memanggil nama sang putri lembut. Dia bersembunyi di balkon sebelum akhirnya menampakkan diri. "Mereka sudah pergi," jelasnya seraya mengamati sekitarnya, memastikan jejak langkah orang-orang sudah menjauh dari kamar.
Mendengar itu, gadis kecil yang berbaring di atas ranjang membuka matanya perlahan. Sepasang mata merah cerah itu tidak memiliki emosi sama sekali. Stella, yang sudah sadarkan diri beberapa jam yang lalu, bangun dari tempat tidurnya dan berjalan pelan menuju meja belajarnya.
Dia duduk di bangku, mengambil pena bertinta dan selembar kertas, kemudian mulai menulis di atas kertas kosong itu.
"Oh, kita akan mulai sekarang?" Laki-laki tadi, Ester, berdiri di belakang Stella, membaca satu per satu kalimat di surat itu. Ia lantas tersenyum. "Aku senang ingatanmu sudah kembali."
"Aku juga," balas Stella singkat, setelahnya melipat surat itu dan memasukkannya ke amplop, lalu menyegelnya dengan cap kerajaan. Ia menoleh ke Ester. "Bisakah kau memberikannya ke Rielle?"
Ester mengangguk. "Tentu saja. Tapi besok."
"Aku mau sekarang."
"Mana bisa begitu. Aku harus menginap dulu di sini."
Stella menatap laki-laki itu jengkel. "Tidak ada yang mengizinkanmu menginap di sini. Antarkan surat ini atau enyah dari hidupku," ancamnya ganas.
Ester panik sendiri mendengar ancaman Stella. "Baiklah, akan kuantarkan suratnya." Dia mengambil alih surat itu dan cemberut. "Padahal aku masih ingin ada di sini."
"Nanti," sela Stella, kemudian hening sejenak. Sepasang mata merah dan biru itu saling tatap, menyampaikan isi hati masing-masing melalui pandangan. "Nanti kau bisa bersamaku lagi."
"Benarkah?" tanya Ester antusias.
"Hm. Aku janji."
Ester tersenyum sebentar dan mendekat, lalu memajukan wajahnya dan memiringkannya ke samping, mencium pipi lembut itu cukup lama. Lagi, Stella mendapat kecupan di pipinya. Tidak seperti sikapnya sebelumnya, kali ini dia biasa-biasa saja.
"Sebenarnya satu saja tidak cu―"
"Pergi," usir Stella acuh tak acuh.
"Baik." Ester menjauh dan menuju balkon. Sebelum pergi, dia melambaikan tangan. "Selamat malam, Stella."
"Malam."
Setelah Ester benar-benar menghilang dari pandangan, Stella berjalan ke tempat tidurnya, kemudian melambaikan tangannya sekilas.
"Niggy."
Swuuushh!
Nigreous, iblis bayangan yang dimiliki Stella, muncul dari kegelapan. Bayangan hitam yang dulunya tak terbentuk itu kini memiliki wujud manusia, meskipun masih dalam bentuk bayangan.
Stella memandang Niggy sesaat dan tersenyum tipis. "Kau sudah berkembang rupanya."
Niggy mengangguk sebagai jawaban, ini jelas menandakan kalau dia masih belum bisa berbicara.
"Aku punya satu tugas untukmu." Mata merah Stella berubah tajam. "Awasi semua istana sampai penjara-penjara bawah tanah. Laporkan padaku semuanya, bahkan detail sekecil apa pun."
Niggy mengangguk lagi.
"Ah, dan untuk informasi ketua suku Merah yang ditangkap ayahku, cari tahu motifnya menyerangku tiga tahun lalu." Stella lantas memainkan jari-jarinya. "Bila perlu gunakan kemampuan cuci otakmu. Paham?"
Setelah dirasa cukup, Stella melambai dan iblis bayangan itu pun menghilang.
"Wah, mengerikan." Thev muncul di samping Stella, mengepakkan sayap hitamnya. "Ingatanmu kembali dan kau langsung bergerak cepat."
Stella duduk di tempat tidurnya dan memasang wajah tanpa ekspresi. "Hm. Tak kusangka aku membuang waktu yang berharga selama tiga tahun."
__ADS_1
"Tapi―"
"Anak macam apa yang senang mengetahui ibunya sekarat dan waktu tiga tahun untuk mencari penawar racun malah terbuang sia-sia?"
Kalimat menyakitkan itu menikam jantung Stella, padahal itu adalah ucapannya sendiri. Thev diam, mengiyakan. Naga hitam kecil itu tahu bahwa tuannya sedang dalam suasana hati yang buruk.
"Bodo amat dengan pesta ulang tahun, aku akan pergi ke markas Eternal Flame besok."
"Besok?"
"Hm," jawab Stella singkat. "Mulai besok, aku tidak perlu berpura-pura lagi."
...――― ...
Pagi harinya, Stella melewati sarapan pagi.
Dia mengunci pintu kamarnya dan sebuah kertas bertuliskan "Aku ingin istirahat, jadi jangan ganggu aku" tertempel di pintu kamarnya.
Di dalam ruang kamar yang disinari cahaya matahari, sosok gadis kecil "pengganti Stella" duduk di tempat tidurnya. Siapa pun yang melihat pasti mengira kalau itu adalah Stella yang asli.
Di lain tempat, Rielle dikejutkan dengan kedatangan sang komandan, begitu juga Leonard yang kaget melihat cucunya datang menemuinya. Seingatnya cucu perempuannya itu pingsan dan belum sadarkan diri.
"Stella?" tanya pria tua itu tak percaya, menghampiri Stella. "Ini sungguh dirimu?"
Stella tersenyum tipis. "Iya, Kakek," jawabnya lembut, kemudian mengambil sesuatu dari dalam sihir penyimpanannya. Itu adalah sebuah kertas yang isinya ada gambar sebuah botol ramuan berwarna biru pekat. Dia menunjukkan gambar itu ke Leonard. "Apakah botol ramuan ini termasuk dalam daftar hadiah yang disediakan untuk pemenang Turnamen Guild Internasional?"
Leonard mengamati gambar yang diperlihatkan Stella, mengingatnya, lantas mengangguk ragu. "Sepertinya begitu. Sudah lama aku tidak mengecek daftar hadiahnya, tapi pasti ada."
Stella berkata tegas, "Aku ingin benda ini ada di daftar hadiahnya. Kakek harus memastikannya. Harus."
Leonard sedikit kewalahan dipandangi seperti itu. "Baik, baik. Tapi kau duduk dulu, sini."
Stella pun duduk di samping Leonard, Rielle segera mengambil minuman dan camilan, sementara keduanya berbincang.
"Kau sudah sehat?" tanya Leonard mengawali percakapan, tersirat kekhawatiran di mata merahnya.
"Ya," jawab Stella singkat sambil mengangguk.
"Apa ayahmu tahu kau ada di sini?" Melihat Stella yang menggeleng membuat Leonard menghela napas. "Ada apa? Kau pasti mencariku karena ada sesuatu."
Leonard tahu kalau cucu perempuannya itu tidak akan mendatanginya duluan jika tidak ada hal yang mendesak, sama seperti dulu.
"Ingatanku kembali," kata Stella, mengejutkan Leonard. "Aku marah saat tahu ada ingatan palsu diberikan Ayah padaku."
"Tapi, Nak, itu semua pasti ada alasannya. Mungkin saat itu dia bingung harus bagaimana," ujar Leonard berusaha menenangkan cucunya yang emosi. "Dia juga tidak ingin kehilangan dirimu saat itu. Makanya dia berbuat begitu. Nanti coba tanyakan alasannya. Ya?"
Stella menggertakkan giginya. "Tapi gara-gara ingatan palsu si*lan itu, Ibu jadi kritis!"
Leonard membelalak kaget. "Apa?"
"Ibuku kritis, Kakek!" ulang Stella emosi, merasakan sesak di dadanya. "Tiga tahun! Tiga tahun itu waktu yang berharga untuk mencari penawar racun Ibu. Tapi aku malah... aku malah tertawa tidak jelas gara-gara ingatan palsu itu!"
Akhirnya Stella meluapkan kegundahan di hatinya. Mata merahnya berair, siap menumpahkan air mata yang terbendung. Bibir mungilnya bergetar, berusaha menahan tangis.
"Sekarang..., sekarang aku harus mulai lagi dari awal untuk mencari penawar racunnya... aku tidak terima! Aku sangat kesal dan marah!" Stella menghapus air mata yang mengalir di wajahnya dengan kasar, namun butiran bening itu malah tidak berhenti mengalir dari kelopak matanya. Dia terisak pelan. "Bagaimana ini? Ibu... ibuku butuh bantuanku hiks, hiks...."
"Ibu?"
Deg! Seketika Stella menegang. Dia mengenali pemilik suara ini.
"Ibu masih hidup?"
"Apa maksudnya, Stella?"
Di ambang pintu, Stella melihat Raja Shavir dan Dhemiel berdiri termenung, di belakang keduanya ada Rielle yang tampak gelisah.
――――――――――――――――
hai, lama tidak berjumpa. cuma mau bilang kalau mungkin ROTPP bentar lagi akan tamat, yah mungkin? sebenernya nanti ada konflik baru lagi sih :D #digebuk
__ADS_1
Tbc.