
Setelah melihat gambaran samar ibunya dari mimpinya, terkadang Stella bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Apakah jika dia menemukan ibunya, dia akan langsung mengetahui bahwa orang itu adalah ibunya?
Dan sekarang, Stella mengetahui jawaban itu.
"Ibu...."
Alexa, yang diceritakan di dalam buku dongeng The Poor Princess, menghilang dari istana dan dikabarkan sudah meninggal. Semua orang juga mempercayai rumor itu. Tapi sebenarnya, dia ada di sini, terkurung di dimensi lain yang dipenuhi dengan es, juga sendirian.
"Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu?"
"Apanya?"
"Tidak ada. Aku hanya bergumam tadi," balas Stella sambil duduk berhadapan dengan peti itu. "Hei, naga. Kira-kira kenapa dia ada di sini?"
Naga hitam itu kembali menatap isi peti, mengamati wanita itu.
"Memangnya kau mengenalnya?"
"Iya. Namanya Alexa."
"Begitu."
Sang naga mengangguk mengerti, tetapi kalimat selanjutnya dari Stella membuatnya tersentak.
"... Ibuku."
"Apa? Ibumu?!"
Reaksi tidak terduga dari naga hitam itu membuat Stella menatapnya dengan pandangan menyelidik. Aneh rasanya saat makhluk bersayap itu menunjukkan reaksi terkejut seperti itu. Padahal selama Stella mengenalnya, naga itu tidak tertarik pada manusia. Dia hanya akan bereaksi pada kata "permainan" dan "buah kristal".
Karena merasa ada yang janggal, Stella pun bertanya, "Ada apa dengan reaksimu tadi?"
Sang naga langsung menjawab dengan lantang, "Tentu saja aku akan terkejut! Pantas saja firasatku mengatakan bahwa aku tidak boleh membunuhmu, ternyata karena ini!"
"Karena ini?"
"Ternyata karena kau adalah putri dari wanita itu."
Stella mengernyit, bingung. Naga itu berbicara seolah-olah dia mengenal ibunya.
"Apakah kau sudah mengenal ibuku?"
"Sangat kenal," jawab naga hitam itu dalam hitungan detik. "Karena dia adalah penjaga dimensi ini, sedangkan aku adalah penjaga Buah Kristal Merah."
"Hah?"
Stella membeo. Dia lagi-lagi dikejutkan dengan fakta tak terduga ini. Ibunya adalah penjaga dimensi ini? Sungguh mengejutkan.
"Hmm, berarti kau darah campuran, ya?"
"Apa?"
"Ada setengah darah bangsawan penyihir mengalir di tubuhmu. Dan setengahnya lagi darah keluarga kerajaan. Oh, ternyata kau seorang putri?"
Setelah sekian lama, Stella akhirnya mendengar kata itu lagi.
'Bangsawan penyihir.'
Itu menandakan bahwa ibu dan kakeknya adalah bangsawan penyihir berdarah murni. Pantas saja rambut kakeknya putih, ternyata karena dia berasal dari suku Putih. Stella salah mengira bahwa rambut kakeknya putih karena ubanan.
'Dan aku ... bangsawan penyihir berdarah campuran.'
Stella merenungkan gen yang mengalir di tubuhnya.
'Haruskah aku senang dengan fakta bahwa aku adalah aib bagi kaum bangsawan penyihir?'
...―――...
Tempat Stella berada saat ini terletak di bagian terdalam Pegunungan Aros, yang biasa disebut dengan dimensi bawah karena perbedaan waktu antara dimensi ini dengan dimensi di atasnya. Waktu berjalan lebih lambat di sini, begitu menurut penjelasan dari Thev, nama naga hitam itu.
__ADS_1
'Walau sudah mendengarnya berulang kali, tapi tetap saja aku tidak menyangka bahwa ibuku adalah penjaga dimensi ini.'
Thev menjelaskan bahwa dia mengenal beberapa orang dari bangsawan penyihir, salah satunya adalah ibunya, Alexa. Pada masa itu, hubungan para penyihir dengan monster yang ada di Pegunungan Aros sangat baik. Di antara mereka, ada beberapa penyihir yang bertugas menjaga suatu dimensi agar tidak terbuka dan mengacaukan dimensi yang lain.
Di umur remaja mendekati dewasa, Alexa melaksanakan tugasnya dengan rajin. Dimensi bawah dijaga olehnya dengan berlapis-lapis sihir, setelah itu dia bertemu kembali dengan Thev, yang saat itu tidak memiliki tugas apa pun.
["Apa yang kau lakukan di sini, Thev?"]
["Aku hanya sedang berjalan-jalan. Aku belum diberi tugas sama sekali."]
["Kalau begitu, maukah kau membuat perjanjian denganku?"]
Itulah awal mula Buah Kristal Merah terikat dengan dimensi bawah, yaitu melalui sebuah perjanjian antara seorang bangsawan penyihir dengan seekor naga.
Thev menjaga Buah Kristal Merah dari orang-orang yang ingin memburu buah itu sekaligus menepati janjinya. Tapi tak disangka bahwa dia akan melanggar janjinya pada hari ini, dan itu pun karena seorang manusia yang ternyata adalah putri dari Alexa.
'Tapi kenapa Ibu bisa ada di sini? Thev bilang kalau dia tidak pernah bertemu lagi dengan Ibu setelah membuat perjanjian. Jadi, kenapa Ibu bisa ada di sini?'
Mengapa Alexa, yang menghilang dari Istana Everlexa, ada di dimensi bawah dengan keadaan kesakitan seperti itu? Dan apa-apaan dengan peti tempatnya berbaring? Seolah-olah mengatakan bahwa Alexa adalah mayat hidup yang terbaring di dalam peti mati.
'Siapa yang membuat Ibu seperti ini?'
Ibunya jelas diracuni.
Thev juga setuju dengan pendapatnya. Naga hitam itu mengatakan bahwa ada racun pelumpuh bernama "Lakshire" di dalam tubuh ibunya. Itu adalah racun yang menggerogoti nyawa seseorang secara perlahan-lahan dan membuat semua organ di dalam tubuh meleleh, sehingga orang yang terkena racun itu tertidur dalam kondisi tubuh membiru, tapi masih bernapas.
Lakshire tidak bisa disembuhkan dengan sihir, apalagi jika racun itu sudah menggerogoti tubuh selama bertahun-tahun. Dan ini sudah lima tahun berlalu sejak ibunya diracuni.
'Beruntung waktu di dimensi bawah berjalan lambat, jadi sepertinya di sini baru beberapa bulan berlalu sejak Ibu diracuni.'
Siapa pun orang yang menempatkan ibunya di dimensi bawah, Stella merasa sangat berterima kasih pada orang itu. Dengan begitu, racun Lakshire bisa disembuhkan karena belum terlalu lama menggerogoti tubuh ibunya.
Tapi masalah lain datang.
"Tidak ada penawar racun Lakshire di sini."
"Apa?"
"Penawarnya hanya tumbuh di wilayah iblis, itu pun sangat langka."
'Tidak mungkin. Penawarnya hanya ada di wilayah iblis?!'
Hanya dengan mendengar namanya saja sudah membuat pikiran imajinatif Stella membayangkan tentang "iblis" yang seram, ganas, kejam, brutal, dan tidak memiliki simpati pada makhluk lain.
'Kenapa keberuntungan dan kesialan datang di saat yang bersamaan? Haha.'
Stella tertawa masam. Mustahil baginya untuk pergi ke wilayah iblis di saat situasinya dengan wilayahnya sendiri sangat tidak stabil.
'Apa aku beritahu mereka saja, ya? Tapi hubunganku sedang tidak baik dengan mereka sekarang....'
Pilihan saat ini sangat sulit.
Menyelamatkan ibunya dengan cara memberitahu keluarganya tentang Alexa yang masih hidup agar bisa mencari penawar racun Lakshire bersama-sama.
Atau....
Mencari jalan keluar lain karena masih merasa tersakiti dengan mereka yang tiba-tiba tidak menganggap kehadirannya.
...―――...
["Tidak apa-apa. Kau tidak bersalah, jadi jangan menangis."]
Seseorang yang seumuran dengannya berkata dengan lembut dan hangat, sambil menepuk-nepuk punggungnya dengan pelan, yang bergetar karena terisak.
["... Kalau kau kembali lagi menjadi Xylia yang jahat, usahamu selama ini akan sia-sia. Aku juga tidak ingin menderita karena kau."]
Suara yang dingin namun ekspresi wajah yang terlihat malu-malu itu menghangatkan hatinya saat itu. Makna tersirat dari kata-kata simpati itu tertangkap olehnya, yang sangat ingin memperbaiki hubungan mereka.
Jika saja dia bisa menjadi orang terdekat putri itu, dia mungkin akan sangat bahagia sampai rasanya tidak ingin menikah dengan siapa pun selain berhubungan dengan sang putri.
Tapi....
__ADS_1
Takdir berkata....
Lain....
["Aku kesepian di sini, Xylia. Tolong kembalilah menjadi Xylia yang kukenal. Ayo kita memulainya dari awal lagi, bersama-sama."]
Senyuman sedih itu, yang terukir di wajah cantik seperti boneka, entah kenapa membawa perasaan putus asa yang mendalam.
Kesepian....
Apakah dia kesepian sekarang?
Pats!
"Haahh ... haaahh...!"
Xylia membuka matanya lebar-lebar. Napasnya memburu dan jantungnya berdebar kencang. Mimpi itu, yang selalu muncul setiap malam, kali ini muncul dengan suasana yang berbeda. Adegan terakhir dari mimpi itu membuatnya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tidak mungkin. Apakah aku sedekat itu dengan putri itu? Apa saat itu aku gila? Bisa-bisanya aku dekat dengan musuhku sendiri."
Dia bergumam dengan wajah jijik yang tampak kentara, namun entah mengapa lubuk hatinya merasa hampa. Dia tidak lagi merasakan perasaan puas setelah mengambil perhatian raja dan pangeran seperti biasanya. Beberapa hari belakangan ini, hatinya dipenuhi perasaan bersalah yang sangat dalam, yang entah ditujukan untuk siapa.
"Kenapa ... aku jadi sedih begini? Hanya gara-gara putri terbuang itu!"
"Wah, apa akhirnya kau mengumpat, Xylia?"
Saat itu, suara manis seseorang membuat Xylia kaget dan menoleh ke asal suara dengan cepat. Di sana, di balkon kamarnya, seseorang dengan rambut merah mencolok berdiri sambil menatapnya dengan senyuman.
"Lama tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu?"
'Hah? Siapa orang ini....'
Xylia, yang menatap Zhio dengan bingung, berdiri dari tempat tidurnya dan menghampiri anak laki-laki itu.
"Kau siapa?"
"Apa? Tentu saja ini ak―HAH?!"
Zhio, yang baru saja pulang dari misinya, memandang Xylia dengan mata terbelalak kaget.
"B-bagaimana bisa ... di tubuhmu...."
Dia tergagap sambil menunjuk-nunjuk Xylia dengan mata bergetar.
"Apa yang ada di tubuhku?"
"Bagaimana bisa mana ayahku ada di tubuhmu?!"
――――――――――――――
Bonus - Dialog Unfaedah
Author: "Gamau tau, pokoknya kamu, Zhio, harus bisa sembuhin Xylia!! Titik!"
Zhio: "Baru pulang dimarahin, ngajak berantem?!" (entah knp iklan😂)
Author: "Kamu sih!! Ngapain hilang, hah?!"
Zhio: "Kan yang buat naskahnya elu Thor!"
Author: "Dahlah jan ngegas, ini bulan puasa."
Zhio: "Hiya, hiya. Btw, kukan berusaha~"
Author: "Gamau tau pokoknya harus bisa sembuhin Xylia!"
Zhio: "Habis entu minta tehaer oghe."
Tehaer pala kau😃 dahlah gabut, untung belum imsak😌 janlup vote, like, dan komen ya😢 btw, gimana cover ROTTP kali ini?
TBC!
__ADS_1