
Calon tunangan. Calon tunangan.
Calon tunangan. Calon tunangan.
Calon tunangan. Calon tunangan.
Kata-kata itu terus bergema di pikiran Stella, menguasai isi kepalanya. Tatapan matanya menjadi kosong. Tubuhnya membatu dengan sedikit retakan di wajahnya.
Apa aku sedang bermimpi?
Tidak ada yang menduga bahwa alasan Raja Shavir memanggilnya adalah untuk bertemu dengan calon tunangannya, yaitu anak laki-laki berambut merah muda yang pernah dia tolong!
Tidak. Seharusnya bukan seperti ini. Bukankah seharusnya yang diperkenalkan sebagai tunangan Putri Stella adalah Xander? Tapi kenapa bisa jadi begini?!
"Ayah, ini tidak lucu," kata Stella sambil tertawa tanpa nada.
"Ayah serius."
"Mana mungkin dia―apa?!"
Stella menaikkan suaranya setelah mendengar ucapan Raja Shavir yang tidak terdengar main-main. Wajahnya langsung menjadi pucat.
"Kenapa kau kaget seperti itu?"
Raja Shavir bertanya dengan heran, ia menarik-turunkan alisnya.
"Memang peraturannya sudah seperti ini. Para pangeran dan putri yang sudah berusia 5 tahun akan bertunangan secara tidak resmi dengan orang yang sudah ditentukan. Pertunangan resmi akan diselenggarakan saat sudah berumur 15 tahun dan boleh dibatalkan dua tahun setelahnya," jelas Raja Shavir, yang membuat Stella seperti disambar petir. "Memangnya kau tidak tahu? Ini adalah salah satu peraturan di Kerajaan Evergard bagi anggota keluarga kerajaan."
Aku sama sekali tidak tahu!
Stella berteriak histeris di dalam hatinya. Dia tidak pernah diajari tata krama bangsawan oleh siapa pun, jadi dia juga tidak mempelajari peraturan-peraturan yang ada bagi anggota keluarga kerajaan. Jujur saja, sekarang Stella merasa menyesal karena tidak mempelajari semua peraturan itu!
Dengan wajah sedih, Stella menatap ayahnya.
"Ta-tapi, Ayah...!"
"Tenang saja. Setelah berumur 17 tahun, kalian bisa memilih ingin melanjutkan pertunangannya atau tidak," kata Raja Shavir dengan tenang.
"Benar, Tuan Putri. Pertunangannya hanya bersifat sementara," sambung Ester, yang juga berkata dengan tenang.
Bibir Stella bergetar karena ingin mengumpati mereka. Ia terpaksa menelan semua keluhannya, sementara mulutnya komat-kamit, mengatakan kata-kata mutiara di dalam hatinya.
Si*lan! B*r*ngs*k! Mati saja kalian! Kep*rat! Baj*ng*n! F*ck!!
"Nah, kalau begitu―"
Raja Shavir menurunkan Stella yang masih mengumpat di dalam hati dari pangkuannya, lantas mendorong Stella agar berdiri di dekat Ester.
"―Anggap saja dia adalah temanmu. Kalian harus rukun, ya."
Apa-apaan ini?!
"Ayo kita berjalan-jalan, Tuan Putri," ujar Ester seraya menarik tangan Stella, membawanya pergi dari kantor Raja Shavir.
"H-hei! Lepaskan aku!"
Stella menjerit dan memberontak, tetapi Ester tidak bergeming dan tetap menarik tangannya. Sedangkan Raja Shavir melambaikan tangannya, tidak berniat membantu putrinya.
Aku ingat kalau aku juga seperti itu dulu, batinnya sambil mengingat kenangan masa kecilnya yang kelam bersama mantan tunangannya.
__ADS_1
***
Angin dingin yang membekukan berembus. Sisa-sisa kepingan salju mencair karena terkena sihir penghangat yang melindungi seluruh istana dari musim dingin. Dua orang anak kecil sedang berjalan mengelilingi taman mawar milik Raja Shavir.
"Ini hanya untuk sementara waktu, Tuan Putri."
"Berhentilah berbicara. Kau berisik."
Ya, mereka adalah Stella dan Ester, yang sedang mengakrabkan diri dengan terpaksa―itu, sih, menurut Stella. Ester terus mengatakan kalimat itu sebagai penghiburan, tapi Stella membalasnya dengan dingin, masih tidak terima dengan persetujuan yang dibuat ayahnya bersama Ester tanpa menanyakan pendapatnya.
"Tuan Putri tenang saja. Saya―"
"Bicara dengan santai saja."
"Baiklah, jika itu yang diinginkan Tuan Putri."
Penurut sekali.
"Aku tidak menyukai Tuan Putri, karena sudah ada orang yang kusukai."
"Lalu kenapa kau mau menerima pertunangannya?"
Stella berteriak, melotot tajam ke arah anak laki-laki itu, sedangkan Ester memberi jawaban dengan tampang santai.
"Karena pertunangan ini sangat menguntungkan pamanku."
"Jawaban macam apa itu?"
Merasa semakin kesal, Stella berjalan mendahului Ester.
Padahal dia sudah punya orang yang disukai. Tapi bisa-bisanya...!
Pats!
Stella berseru. Langkahnya berhenti. Matanya berbinar karena sebuah ide cemerlang baru saja melintas di kepalanya.
"Ini dia!" ucap Stella seraya mengayunkan tinjunya ke depan dengan gembira.
*W*oho~! Sekarang aku tahu cara membatalkan pertunangan ini!
Berdiri di belakang Stella, Ester bergumam dengan bingung, "Tuan Putri kenapa, ya?"
Ester memundurkan langkahnya, hendak menjauhi tuan putri itu yang sedang tertawa seorang diri, tetapi tanpa diduga Stella berbalik dan menghampirinya. Wajahnya terlihat berseri-seri sekaligus mencurigakan.
"Hei, hei! Namamu Ester, 'kan?"
"Iya. Ke-kenapa?"
"Apa kau bisa memberitahuku ciri-ciri orang yang kau sukai? Aku ingin bertemu dengannya!"
"Bisakah kau bertemu dengannya?"
Ekspresi Ester langsung menjadi cerah setelah mendengar ucapan Stella, sejujurnya dia juga sangat ingin bertemu dengan orang itu.
"Tentu saja! Aku, 'kan, seorang putri!" jawab Stella dengan percaya diri, gembira karena Ester sudah masuk ke perangkapnya.
Rencana pertama, temui anak perempuan itu dan bawa dia ke hadapan Ayah!
Stella menduga bahwa anak perempuan yang disukai Ester adalah anak dari salah satu bangsawan yang ada di wilayah kerajaannya, jadi dia ingin bertemu dengannya dan membawanya ke hadapan Raja Shavir.
__ADS_1
Lalu Stella akan mengatakan pada ayahnya dengan dramatis bahwa pria itu tidak boleh menghancurkan masa depan Ester hanya untuk urusan politik. Ester berhak hidup dengan orang yang dia sukai dan tidak ada yang boleh menghancurkan "cinta" mereka, ataupun memisahkan mereka.
Uhuk, pidatoku geli banget.
Stella merinding ketika menghafalkan ulang pidato dengan unsur ceramah yang akan dia katakan di hadapan ayahnya. Tapi dia harus melakukan itu untuk membatalkan pertunangannya mumpung belum diresmikan.
Kalau Ayah tetap tidak mau membatalkannya, aku akan membawa-bawa nama Ibu dan kisah cinta mereka. Heheheheh.
Stella tertawa maniak di dalam hatinya, lalu mendesak Ester agar memberitahunya siapa orang yang dia sukai.
"Jadi, katakan padaku ciri-ciri anak perempuan yang kau sukai itu!"
Tatapan tegas dari Stella membuat Ester mengangguk dengan wajah serius, kemudian ia mulai memberitahu Stella ciri-ciri anak perempuan itu.
"Dia punya rambut pirang yang bersinar seperti emas. Bahkan sinar matahari pun dikalahkan oleh rambut emasnya yang indah," kata Ester sambil memperagakan bagaimana indahnya rambut orang itu.
Tunggu, tunggu! Jangan-jangan Xylia?!
Stella menjadi bersemangat. Itu pasti sangat mudah untuk membujuk ayahnya jika orang yang disukai Ester adalah Xylia.
Dia pasti akan bilang kalau mata Xylia sangat indah seperti batu zamrud, 'kan? Pasti!
Berbanding terbalik dengan isi pikirannya, Ester melanjutkan dengan nada yang lebih dramatis daripada sebelumnya.
"Sepasang mata merahnya yang menawan bersinar seperti batu rubi, seolah-olah ada batu itu sendiri tertanam di sana. Kulit putihnya yang cerah sangat cocok dengan ekspresi dinginnya yang sedingin es. Dia benar-benar...! Benar-benar sangat can―!"
"Pfffttt―! Ohok, ohok! Ohok, ohok!"
Bibir Stella berkedut hingga bergetar, lalu ia terbatuk hebat.
"Ada apa, Tuan Putri?"
Ester bertanya dengan heran. Padahal tuan putri di depannya tidak memakan apa pun yang membuatnya tersedak, tapi kenapa dia terbatuk seperti itu? Itulah yang mengganjal di pikirannya.
Sementara itu, Stella tidak henti-hentinya batuk. Bahunya gemetar karena berusaha meredam mulutnya agar tidak terbatuk. Wajahnya menjadi merah, sadar bahwa orang yang disukai Ester adalah dirinya sendiri, apalagi setelah mendengar deskripsi berlebihan yang diberikan Ester tentangnya.
Ja-jadi itu aku?! Apakah ada lubang di sini? Aku ingin bersembunyi sekarang juga!
***
"Kenapa wajahmu merah seperti itu, Tuan Putri?" tanya Ester seraya menyentuh pipi Stella dengan salah satu tangannya.
Rasa panas segera menyebar di telapak tangannya. Ester kaget dan panik.
"Astaga! Tuan Putri demam!"
Wajah Stella semakin memerah hingga menjalar ke telinganya. Ia segera menepis tangan Ester yang masih menyentuh pipinya.
"Ja-jangan ganggu aku lagi!"
"Hah?"
"Jangan ikuti aku!"
Stella segera berbalik, lalu berlari dengan sangat cepat. Sosoknya perlahan menghilang dalam satu kedipan mata.
"Tu-tuan Putri!"
"Diam di sana!" teriak Stella dari kejauhan, sedangkan Ester hanya bisa memandangi bayangan Stella yang telah memudar.
__ADS_1
――――――――――――――
TBC!