
Di malam yang panjang dan dingin, Stella duduk di balkon kamarnya, merasakan embusan angin malam seraya merenung, dia masih memikirkan perkataan Xylia siang tadi.
Xylia memang berambisi menduduki kursi "putri kerajaan" yang dimiliki Putri Stella karena ajaran dari ayahnya yang tamak, tetapi itu dulu, sebelum dia dilahirkan kembali setelah meninggal di dalam penjara dengan status "tawanan perang".
Alasan mengapa Raja Shavir dan Dhemiel bertindak kejam pada Putri Stella adalah karena terkena pengaruh sihir jahat yang ditanam di tubuh Xylia. Sihir jahat itu mengeluarkan kenyamanan kepada Raja Shavir dan Dhemiel ketika berada di dekat Xylia. Sementara itu, pengaruh sihir jahat itu membuat mereka tidak ingin berdekatan dengan Putri Stella dan membencinya.
Awalnya, Xylia tidak tahu mengenai sihir jahat yang ada di tubuhnya sampai hari kematiannya yang pertama datang. Namun, setelah dilahirkan kembali dan kembali ke masa lalu ketika umurnya 4 tahun, Xylia mengetahui dari Zhio bahwa ada sihir jahat yang ditanam di tubuhnya sejak dia lahir. Setelah itu, Zhio menghilangkan sihir jahat yang ada di tubuh Xylia, sehingga membuat Raja Shavir dan Dhemiel―yang dulunya dekat dengan Xylia―menjadi biasa saja ketika berdekatan dengannya, tidak seperti dulu yang merasa seperti ingin menempel dengannya.
Setelah sihir jahat yang ada di tubuh Xylia menghilang, Raja Shavir dan Dhemiel terbebas dari pengaruh sihir itu. Ketika mereka berdekatan dengan Stella, ada sebuah perasaan nyaman dan menenangkan yang mengalir di tubuh mereka. Itu karena di tubuh Stella terdapat sihir pemurnian yang sangat murni dan suci, begitu kata Zhio, yang disampaikan oleh Xylia.
Lalu, untuk alasan Raja Shavir yang sering bepergian dengan Xylia pada waktu-waktu sebelumnya, itu karena mereka terikat kontrak perjanjian.
Kehangatan, keharmonisan, kebahagiaan, dan kekeluargaan yang ditunjukkan Raja Shavir dan Xylia kepada publik hanya sandiwara semata, mereka tidak benar-benar seperti itu.
Kontrak yang ditandatangani oleh Raja Shavir dan Xylia adalah mengenai keselamatan anggota-anggota keluarga kerajaan, yang merujuk pada Dhemiel dan Stella.
Orang pertama yang mengajukan kontrak itu adalah Xylia, tepatnya setahun yang lalu, dan Raja Shavir menyetujui kontrak itu, karena menurutnya itu menguntungkannya.
Jadi, alasan mengapa alur buku dongeng berbeda dengan yang dijalani Stella adalah karena Xylia.
"Pantas saja si manusia es itu dan Dhemiel mendadak menjadi perhatian padaku. Jadi, di buku dongeng itu mereka terkena sihir jahat Xylia, makanya Putri Stella diasingkan."
Namun, Stella masih belum mengetahui "sesuatu" seperti apa yang membawanya masuk ke dunia buku dongeng ini dan membuat Xylia kembali ke masa lalu.
"Apakah ini berita bagus? Manusia es itu tidak akan membunuhku, Dhemiel menganggapku sebagai adiknya dan berusaha menjadi seorang kakak yang baik, dan Xylia juga tidak memiliki niat buruk padaku." Stella kembali berpikir. "Tapi, yang jadi masalahnya ada pada ayah Xylia...."
Di buku dongeng yang dibaca Stella, tertera dengan jelas bahwa pamannya―alias ayah Xylia―meracuni Xylia dan Putri Stella dituduh sebagai pelakunya. Orang itu akan melakukan apa saja demi mendapatkan apa yang diinginkannya, termasuk mengorbankan putrinya sendiri. Sudah jelas bahwa orang seperti itu sangat berbahaya.
"Aku harus berhati-hati," ucap Stella, kemudian mengambil alat tulis dan mulai menulis semua yang terjadi hari ini di kertas. Ketika Stella menulis beberapa kalimat, tangannya berhenti. "Apa aku harus membatalkan rencanaku sebelumnya?"
Rencana yang dimaksud Stella adalah rencananya bertahan hidup di istana sambil mengumpulkan harta dan koneksi dari seseorang yang berpengaruh, setelah itu pergi dari istana dan berusaha mencari jalan pulang ke dunianya. Itu adalah rencananya untuk menghindar dari kematian.
Namun, semuanya berubah.
Jadi, apakah dia perlu menjalankan rencananya?
"Hm ... aku sudah punya senjata, aku juga sudah melangkah sejauh ini, jadi lebih baik kalau aku tetap menjalankan rencanaku."
Stella memutuskan bahwa dia akan tetap menjalankan rencananya, kemudian dia kembali menulis.
Swoosh―
Angin berembus dengan kencang. Perlahan, seseorang muncul di samping Stella, tepatnya di tepi balkon kamarnya.
__ADS_1
"Maaf mengganggu waktumu, Tuan Putri."
Suara seorang anak kecil terdengar. Stella menoleh, menatap ke arah anak kecil laki-laki berambut merah yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Tatapan dingin dan tajam dari Stella segera dilayangkan pada anak laki-laki itu.
"Aku sudah bilang padamu sebelumnya: kau tidak boleh masuk ke istana seseorang dengan seenaknya."
Anak laki-laki itu menjawab dengan malas, "Aku tidak peduli."
"... Lalu kenapa kau datang?" Stella mengubah topik pembicaraan, dia tidak ingin terlalu larut dalam kekesalan yang didapatnya dari Zhio. "Kalau tidak penting, pergi sana."
Zhio, yang berdiri di samping Stella, tiba-tiba menanyakan pertanyaan yang tidak terduga.
"Ibumu berasal dari keluarga mana?"
Deg!
Stella tersentak, matanya bergetar. Dia tidak menyangka jika Zhio akan menanyakan pertanyaan itu.
Akhirnya, setelah terdiam selama beberapa saat, Stella menjawab dengan wajah tanpa ekspresi, "Aku tidak tahu. Memangnya itu penting?"
"Penting? Hm ... mungkin?" Zhio tampak berpikir. Dia juga tidak tahu apakah pertanyaannya penting atau tidak. Lalu mata birunya beralih menatap Stella. "Aku hanya penasaran. Kau pasti sudah dengar dari Xylia tentang sihir pemurnian yang ada di tubuhmu."
"Ya."
Stella terdiam. Sejujurnya, dia tidak mengetahui apa pun mengenai ibunya di dunia ini, jadi dia tidak tahu harus mengatakan apa.
"Anehnya, hanya ada satu keluarga yang memiliki sihir pemurnian yang suci seperti punyamu." Kata-kata Zhio mengambil alih perhatian Stella. "Itu adalah keluarga bangsawan penyihir, keluarga penyihir pertama yang sudah punah."
"... Bangsawan penyihir?"
"Ya."
***
Sementara itu, di dalam gedung Mansion Ic, tepatnya di sebuah ruangan rahasia, beberapa penyihir tingkat tinggi dan sekelompok orang-orang dengan jubah berwarna hitam berkumpul di sana. Lambang pedang berwarna emas dengan bentuk menyilang menjadi tanda dari sekelompok orang-orang berpakaian hitam itu.
Di antara mereka, ada seorang pria berpakaian bangsawan berdiri di sana. Rambutnya yang berwarna cokelat terlihat, dipadukan dengan warna matanya yang seperti daun. Tidak salah lagi, dia adalah Levon.
Lalu seorang penyihir mendatangi Levon. "Duke Fictin, apakah yang Anda katakan sebelumnya adalah kebenaran?" tanyanya.
Levon segera mengangguk. "Ya. Sihir jahat yang ada di tubuh Xylia sudah hilang, dan pengaruhnya terhadap Yang Mulia Raja dan Pangeran Dhemiel juga sudah tidak bekerja lagi. Ini karena Stella. Dia memurnikan sihir jahat itu. Karena itu, kita harus menyingkirkannya!" jawabnya dengan mencampurkan kebohongan dan kebenaran, seolah-olah hal itu adalah kesalahan Stella.
Penyihir itu tampak berpikir, sebelum akhirnya mengangguk setuju. "Ya, kita harus menyingkirkan anak itu. Jika tidak, maka rencana yang kita susun selama ini akan gagal."
__ADS_1
Levon tersenyum puas kala mendengar penyihir itu menyetujui usulannya, di dalam hati dia menyeringai.
"Kalau begitu―" Sang penyihir menatap sekelompok orang-orang berpakaian hitam, kemudian memberi perintah. "Singkirkan Putri Stella Al-Teona Evergard. Ingat, jangan sampai ketahuan."
"Baik, Ketua!"
Namun, sebelum sekelompok orang-orang itu menjalankan perintah sang penyihir, suara ledakan yang memekakkan telinga terdengar.
Boom―
Di luar, terlihat dengan jelas bahwa sebagian bangunan yang ada di Mansion Ic runtuh. Tanah bergetar karena tertindih reruntuhan bangunan.
Di dalam ruang rahasia, Levon dan yang lainnya tampak panik. Dengan terpaksa, mereka keluar dan melihat apa yang sedang terjadi.
Di halaman Mansion Ic, seorang pria tua melayang di sana. Rambut hitamnya berkibar. Mata ungunya menatap dingin ke arah orang-orang yang perlahan mendekatinya. Wajahnya memiliki keriput karena usianya yang hampir mencapai 70 tahun, namun itu tidak membuat ketampanannya pudar.
"Berani-beraninya kalian menyakiti cucuku! Gara-gara kalian, cucuku tersiksa, baik di masa lalu ataupun di masa sekarang! Aku akan membalas perbuatan kalian!!"
Suaranya yang dingin namun penuh dengan emosi terdengar, menggema di seluruh wilayah Mansion Ic.
Sang penyihir, yang disebut sebagai penyihir tertinggi di Mansion Ic, menatap orang yang membuat keributan di wilayahnya. Seketika matanya membelalak kaget kala melihat wajah orang itu.
"Itu, itu...! Itu Yang Mulia Raja terdahulu!"
Suaranya yang bergetar namun lantang terdengar, mengagetkan orang-orang di sekitarnya.
"Bagus kalau kau mengenaliku." Pria tua itu menyeringai. Dia mengangkat tangannya, kemudian bola api yang berukuran raksasa muncul. Hawa panas segera menyebar ke berbagai arah. "Sekarang, waktunya untuk membalaskan dendam cucuku. Rasakan ini!!" Dia pun melemparkan bola api yang ada di tangannya, sehingga menimbulkan bunyi ledakan yang lebih mengerikan dari yang sebelumnya.
Boom!
Seluruh bangunan yang ada di Mansion Ic seketika runtuh dalam keadaan terbakar. Asap tebal mengepul ke udara, memenuhi daerah di sekitarnya. Tidak ada yang tersisa selain beberapa penyihir yang tumbang di atas tanah.
Malam itu, beredar kabar bahwa Mansion Ic hancur berkeping-keping karena serangan dari seseorang yang tidak diketahui.
――――――――――――――
ayok main tebak-tebakan: siapa pria tua itu?
**yg mau follow akun ig Stella dipersilakan^^
@stella_evergard** ^^
TBC!
__ADS_1