
Setelah mendengar jeritan Stella yang masih tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di depan kamarnya, suasana di sekitar Raja Shavir berubah menjadi sangat mencekam.
"Begitukah cara seorang putri kerajaan berbicara di hadapan seorang raja?"
Suara tajam Raja Shavir terdengar, nadanya tegas dan lantang.
Stella, yang berada di dalam gulungan selimut, seketika tersentak kala mendengar suara seseorang yang dikenalnya. Keringat dingin langsung mengalir di sekitar wajahnya. Beberapa saat kemudian, Stella menormalkan ekspresinya. Dari dalam gulungan selimut, Stella menyeka keringatnya yang mengalir, kemudian berusaha menenangkan dirinya.
"Sangat bagus memasuki istana seseorang tanpa izin dari pemiliknya," balas Stella tak kalah lantangnya.
'Hush, pergi sana! Aku butuh ketenangan!' lanjutnya di dalam hatinya, mengusir orang-orang yang berada di depan kamarnya secara tak langsung.
Sementara itu, di depan kamar Stella, suasananya menjadi lebih mencekik. Bahkan Suzy dapat melihat bahwa wajah Raja Shavir perlahan menjadi gelap. Namun anehnya, pangeran kecil di samping sang raja malah terkikik dengan bahagia, seolah-olah telah menantikan kejadian hari ini terjadi.
Tidak tahu mengapa, mendengar Stella berbicara tak sopan di depan ayahnya sendiri membuat Dhemiel ingin tertawa. Biasanya, hanya dirinya saja yang berani berbuat seperti itu di hadapan ayahnya, tetapi sekarang saudarinya juga berbuat hal yang sama.
'Inikah yang dinamakan hubungan darah? Hahah, sekarang wajah Ayah pasti sangat buruk,' batin Dhemiel seraya tertawa kecil.
Rambutnya yang berwarna hitam sedikit bergoyang ketika dia berjalan lebih dekat ke arah pintu kamar Stella. Matanya yang berwarna biru dengan gradasi ungu menunjukkan minat yang mendalam tentang pemilik kamar yang ada di balik ruangan di depannya.
"Hei, Stella yang begitu tidak punya sopan santun! Ayo, keluarlah! Kita makan bersama!" ucapnya dengan seruan, mengabaikan tatapan peringatan dari ayahnya mengenai panggilan yang disematkan Dhemiel pada Stella.
Dari dalam kamar, Stella merasakan perasaan kesal menggerogotinya kala mendengar Dhemiel memanggilnya dengan panggilan yang tidak elegan.
'Sabar, sabar. Dia hanya anak kecil, tidak perlu terlalu marah,' batin Stella, berusaha tidak terlalu emosi, namun tatapannya yang meredup berubah menjadi berapi-api. 'Bagaimana aku bisa sabar kalau ada seorang anak kecil yang berani menjelekkan namaku? Si Dhemiel si*lan ini! Kalian sudah menghabiskan waktu bersama Xylia sebelumnya, tapi kenapa sekarang malah berbalik ke arahku? Kenapa?!'
Tak tahan dengan berbagai pemikiran yang berkecamuk di kepalanya, Stella pun membalas dengan seruan, "Kakak Dhemiel yang kurang ajar! Kau bisa makan sendiri tanpaku, 'kan? Kau, 'kan, sudah besar dan bukan anak kecil lagi!"
Di luar kamar Stella, Dhemiel memiliki ekspresi aneh di wajahnya kala mendengar panggilan "Kakak Dhemiel yang kurang ajar" keluar dari bibir Stella, sedangkan Suzy dan beberapa pelayan yang masih berada di sana seketika berusaha menahan tawa mati-matian.
"Berani sekali kau mengataiku!" sahut Dhemiel dengan nada amarah.
Tak kalah dengan Dhemiel, Stella juga menimpali dengan nada amarah yang dibuat-buat, "Bukankah kau yang duluan berbuat begitu padaku? Aku hanya membalasmu saja!"
__ADS_1
"Tapi, aku seorang pangeran! Malahan aku adalah seorang Pangeran Mahkota!" ucap Dhemiel, menyombongkan gelar besarnya.
"Aku seorang putri! Terlebih, aku adalah seorang Putri Pertama!"
Stella balik menyombongkan gelar besarnya juga.
"Lalu kau mau apa, hah?"
"Keluarlah! Berani sekali kau mengataiku tanpa menunjukkan wajah menyebalkanmu di depanku!"
"Bagaimana kalau aku tidak mau? Bukan urusanmu! Lagi pula, aku tidak ingin melihat wajah menjengkelkanmu! Pergi sana!"
"Kau berani...!"
"Tentu saja! Apa ada masalah?"
Setelah itu, terjadilah perdebatan antara Dhemiel dan Stella, sedangkan Raja Shavir tidak bisa berkata apa-apa ketika menonton adegan konyol yang dibuat oleh Dhemiel dan Stella.
Beberapa saat kemudian, perdebatan tidak berguna yang terjadi antara Stella dan Dhemiel masih berlanjut dengan panas. Mengabaikan semua orang, Raja Shavir perlahan melangkah menuju pintu kamar Stella, kemudian membukanya.
'Tamatlah! Sekarang mataku mungkin masih belum normal!' batin Stella, keringat dingin meluncur dengan deras di pelipisnya.
...―――...
Tap, tap, tap.
Suara langkah kaki seseorang bergema di dalam kamar Stella, diikuti dengan langkah kaki orang lain. Stella bisa langsung menebak bahwa yang memasuki kamarnya saat ini adalah Raja Shavir dan Dhemiel. Meskipun tahu siapa yang datang, Stella tetap tidak mengubah posisinya, ia masih berada dalam gulungan selimut.
Sementara itu, Raja Shavir mengernyit dengan heran kala melihat ada gulungan besar selimut di atas ranjang Stella, sedangkan Dhemiel segera mendekati Stella yang berada di atas ranjang, kemudian mulai menusuk-nusuk bagian selimut secara acak.
"Hei, Stella yang tidak begitu sopan," panggilnya, masih dengan panggilan yang sama. "Kenapa kau ada di dalam selimut? Jangan-jangan, kau mau main petak umpet denganku, ya?"
'Tsk.'
__ADS_1
Stella berdecak di dalam hatinya.
'Perkataanmu konyol sekali, Kakak Dhemiel yang kurang ajar,' balas Stella di dalam hatinya, tidak berniat berbicara langsung dengan Dhemiel.
Dhemiel yang tidak mendapat balasan apa pun dari Stella segera menajamkan tatapannya, tanda tidak suka.
"Kau tidak mau menjawab?" ucapnya lagi sembari menusuk-nusuk selimut. "Eh, apa ini bukan Stella? Kalau begitu, di mana dia?"
Pandangan Raja Shavir mengarah pada Dhemiel, kemudian beralih pada gulungan selimut di depannya. Tangannya terulur, menyibak selimut putih yang menutupi seluruh tubuh Stella.
Stella, yang terkejut karena selimutnya tiba-tiba ditarik oleh seseorang, segera memahami situasinya. Dia pun menutup matanya dengan kecepatan penuh, kemudian berpura-pura tertidur.
Ketika selimut itu ditarik, Raja Shavir dan Dhemiel mendapati Stella yang sedang "tertidur" dengan pulas, keduanya serentak mengangkat alis.
"Dia tertidur dalam sekejap mata?" ucap Dhemiel dengan sedikit tidak percaya, sedangkan Raja Shavir memikirkan hal yang lain.
'Aneh. Kenapa rambutnya jadi hitam? Apa kemarin aku salah lihat?' batin Raja Shavir dengan pandangan bingung.
Kemarin malam, dia jelas-jelas melihat bahwa rambut anak itu berubah menjadi pirang, tetapi mengapa sekarang kembali menjadi hitam?
Di tengah heningnya suasana di dalam kamar, suara ceria seseorang tiba-tiba terdengar.
"Muridku yang cantik! Guru tampanmu ini da ... tang...."
Jesriel, yang datang secara tiba-tiba dengan nada ceria dan tersenyum lebar, seketika mematung ketika melihat dua tokoh besar kerajaan berada di depannya.
Jesriel yang mulanya berniat mengunjungi kamar Stella guna mengingatkan gadis itu bahwa ada latihan berpedang pagi ini setelah selesai sarapan, tiba-tiba menjadi kaku. Senyum lembarnya sirna.
Stella, yang mendengar suara Jesriel, langsung membatin dengan prihatin, 'Oh, Guru. Sekarang kita sedang tertimpa kesialan. Hiks. Kita senasib.'
――――――――――――――
hoho~ Stella dan Dhemiel makin akrab aja :D
__ADS_1
btw, aku udh tambahin deskripsi Dhemiel, ya hehe.
TBC!